
Rio menidurkan kepalanya diatas bantal, yang Ody letakan diatas pahanya.
Biarpun dalam dada Ody bergemuruh, tidak fokus karna wajah tampan Rio yang berada tepat dibawah wajahnya.
Ody memulai memijat kepala Rio, dengan lembut.
Rio memejamkan matanya menikmati pijatan Ody, yang menurutnya sangat nyaman, pas sehingga bisa mengurangi rasa sakit dikepalanya.
Rio juga merasa aneh, akhir-akhir ini ia sering menginginkan didekat Ody, padahal sebelumnya Rio sangat membenci Ody. Bahkan untuk berpapasan sajah Rio merasa muak. Namun, justru sekarang dirinya yang menarik diri untuk selalu bisa berdekatan dengan Ody.
Rio membuka kedua matanya dengan pelan, melihat wajah Ody, yang ternyata kalo diperhatikan secara detail, wajah Ody tidak kalah cantik. Manis, mungkin lebih tepat seperti itu sehingga dipandang tidak membosankan.
"Kenapa Anda menatap saya seperti itu tuan? Apa ada sesuatu diwajah saya?" tanya Ody sambil mengusap wajahnya dengan sebelah tanganya. Ody merasa malu diperhatikan terus oleh Rio.
Rio tidak menjawab pertanyaan Ody, ia justru tertawa melihat tingkah Ody yang malu-malu.
"Kenapa kamu malu, aku tatap?" tanya Rio semakin gemas dengan raut wajah Ody yang memerah.
"Iya,...Anda lihatnya kesana, jangan kewajah saya." ujar Ody sambil menunjuk kelain arah.
"Ok....ok..." Rio tidak memalingkan wajahnya, tapi ia memilih memejamkan matanya lagi, menikmati pijatan Ody.
Ody merasa lega setelah Rio memejamkan matanya, ia jadi lebih fokus memijatnya.
"Tuan, boleh saya bertanya?" ucap Ody dengan pelan takut membuat Rio marah.
"Tanya apa?" balas Rio singkat, menandakan ia memberikan izin Ody untuk bertanya.
"Kenapa akhir-akhir ini sikap Anda berubah, apa Anda sudah tidak marah lagi dengan saya? jujur saya merasa sikap Anda aneh." ucap Ody mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku juga nggak ngerti, jangankan kamu, aku sendiri pun merasa aneh dengan sikapku sendiri." jawab Rio jujur, karna memang ia sendiri merasa aneh dengan sikapnya.
"Lalu untuk sakit kepala Anda, apa Anda sudah tau penyebabnya?" tanya Ody lagi.
Rio menggeleng lemah, "Dari semua pemeriksaan yang saya jalanin, semuanya menunjukan hasil yang bagus." jawab Rio dengan lemah.
Ody hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Untuk beberapa hari kalo sakit kepalaku belum sembuh juga, kamu nggak usah datang kerumah sakit, Aarav akan mengurus semuanya, sehingga Bu Dewi nantinya tidak marah denganmu. Terus masalah gajih juga akan sama dengan dirumah sakit." Ujar Rio memberika perintahnya pada Ody.
"Baik Dok," jawab Ody paham.
Hampir satu jam Ody memijit Rio, kini kakinya berasa kebas.
"Aduh kakiku pegal sekali." bantin Ody sambil meringis menahan kebas dikakinya.
"Kenapa?" tanya Rio yang kebetulan membuka matanya dan melihat Ody yang meringis.
"Kakiku semutan." jawab Ody pelan.
"Astaga! kenapa diam ajah," tanya Rio, ia pun bangun dan duduk.
Ody memindahkan bantal, dan memijit kaki mulusnya.
Rio yang melihat kaki mulus Ody menelan salivanya, "Mulus banget sih kakinya." batin Rio.
Setelah kakinya mendingan Ody bangun dari tempat tidur dan berjalan, bolak-balik agar melancarkan peredaran darahnya.
Rio menggeser duduknya dan memperhatikan Ody.
"Gimana, udah enakan?" tanya Rio.
"Udah, nggak pegel kaya tadi," jawab Ody sambil terus berjalan pelan.
"Anda gimana, apa sudah ada perubahan?" tanya balik Ody.
"Setidaknya nggak terlalu sakit seperti tadi." jawab Rio jujur.
"Kalo gitu, saya pijit lagi Tuan agar cepat membaik. Anda ada praktek pagi kan." saran Ody.
"Boleh," jawab Rio pasrah.
Merekapun kembali keposisi sebelumnya, dan Ody melanjutkan memijitnya.
Rio tertidur dipangkuan Ody, saking enak pijitan Ody sampai Rio tak sadar tertidur.
Setengah jam berlalu," cukup Dy, udah enakan," ujar Rio, memberika perintah agar Ody menyudahi pijitanya.
Ody berhenti memijat.
"Anda serius Dok, sudah baikan," tanya Ody memastikan.
"Udah, sekarang aku mau mandi, kamu siapkan keperluaku seperti saat kamu masih kerja disini." perintah Rio.
Ody pasrah sajah, toh udah biasa selama beberapa bulan terakhir ia yang menyiapkan semuanya.
"Gimana Neng, apa Tuan Rio udah mendingan," tanya Mbok Karti masih dengan perasaan khawatir.
"Udah ko Mbok, tuh Dokter Rio lagi bebersih katanya mau kerumah sakit." jawab Ody apa adanya.
Tidak berselang lama Aarav datang.
"Gimana udah aman," tanya Aarav sama Ody yang sedang mengobrol dengan Mbok Karti.
"Aman, makanya mau berangkat kerja." jawab Ody sambil tersenyum samar.
"Berati Obatnya ada dikamu Dy," ucap Aarav sambil tertawa.
"Apaan sih, cuma kebetulan ajah," jawab Ody dengan malu.
Rio turun dari tangga dengan muka yang sudah fresh. Berbeda sekali dengan barusan yang masih muka bantal. Rio menuju meja makan, sebenarnya masih malas untuk sarapan. Rio menatap menu sarapan yang baginya tidak menarik.
"Mbok, nggak ada menu lain yah?" tanya Rio dengan lesu.
"Nggak ada tuan, Mbok hanya masak ini sajah." jawab Mbok Karti sambil menujukan menu makanan dimeja.
"Pengin makan soto Mbok," rengek Rio seperti anak kecil.
"Udah ini ajah banyak menunya ada ayam goreng, sama tumis kacang panjang. Biasanya ajah makan apa ajah nggak protes, manja amat." ucap Aarav.
"Nggak tau, nggak kepengin makanan ini. Penginya soto ajah," ucap Rio sambil manyun.
"Repot banget sih kaya orang ngidam ajah," ucap Aarav sepontan.
Rio dan Ody yang mendengar ucapan Aarav pun tertegun.
"Masa sih ngidam, kalo Rio ngidam berati aku hamil, tapi aku nggak ngerasain kaya orang hamil." batin Ody.
"Masa sih kaya orang ngidam, emang kalo pengin seauatu harus orang ngidam." tanya Rio.
"Ya engga semua kepingin disangkutin sama ngidam, cuma kebanyakan begitu," jawab Aarav masih cuek, ia masih fokus dengan sarapanya, sedangkan Rio tidak ikut sarapan.
Justru Rio mual ketika makan. Keinginanya makan soto, dipaksa makan yang lain malah mual.
"Ody kamu udah sarapan?" tanya Rio yang melihat Ody sedang duduk diruang tamu.
"Saya sudah sarapan Tuan," jawab Ody sopan.
"Makan lagi sini, makanan masih banyak nih," ajak Aarav karna memang makanan masih banyak, Rio memilih hanya menatap makanan sajah. Nanti ia akan mampir dipenjula soto ajah. Rasa kepinginya sudah sangat tinggi sehingga terbayang-bayang terus penampakan soto.
"Engga usah Pa Aarav, saya masih kenyang. Silahkan Anda lanjutkan ajah," tolak Ody dengan sopan.
Setelah Aarav selesai sarapan, mereka berangkat kerumah sakit.
Awalnya Rio tidak mengizinkan Ody balik kerumah sakit. Rio ingin Ody dirumahnya ajah bantu-bantu Mbok Karti, selebihnya istirahat sampai jam kerjanya berakhir, tapi Ody menolak. Ody kepikiran teman-teman satu teamnya pasti mereka bekerja sangat berat apabila salah satu team nggak ada, mereka akan kerja lebih keras. Akhirnya Rio membiarkan Ody kembali bekerja dirumah sakit.
"Nanti kita beli soto dulu yah, Rav." ucap Rio agar Aarav behenti dilestoran untuk membeli soto.
"Masih kepengin juga tuh soto," tanya Aarav mengejek.
"Ya pengin lah, kan gue juga belum sarapan." jawab Rio dengan jutex.
Aarav berhenti dilestoran ternama.
"Ody kamu turun, belikan soto, 3 bungkus pake nasi." perintah Rio.
Ody turun dan mengambil uang yang Rio sodorkan. Sepuluh menit Ody sudah kembali.
"Ini tuan," Ody memberikan 3 bungkus soto beserta nasi, dan juga kembalian ke pada Rio.
Rio menerima dan mengambil satu bungkus soto lengkap dengan nasi.
"Ini buat kamu," Rio memberikan satu bungkus soto buat Ody, dan juga kembalianya dimasukan sekalian kedalam plastik soto.
"Hah.... nggak usah tuan, saya nggak pengin makan soto." tolak Ody kaget ketika Rio menyodorkan satu bungkus soto untuknya.
"Udah terima pamali kalo nolak rezeki," ujar Aarav sambil melirik Rio.
Ody akhirnya mengambil pemberian Rio. "Makasih tuan," ucap Ody dengan tersenyum samar.
Rio hanya mengangguk.
"Baru nyium aromanya sajah sudah membuat lapar." batin Rio yang menyium aroma soto.
***Semua orang dapat mengubah hidup mereka, asalkan ia mau mengubah sikapnya***
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa dukunganya, like ,comen,vote ,kasih gift, dan tekan favorite yah ..❤❤