Beauty Clouds

Beauty Clouds
Perjanjian Nikah



Setelah acara makan-makan selesai, paman berpamitan dengan Ody untuk pulang, Ody pun mengantar aman dan ibi sampai ke terelas depan rumah Rio. Ody juga tidak lupa meminta maaf atas sikap Rio, yang mungkin sajah menyakitkan buat paman serta bibi. Memang, Ody sendiri sebenarnya sering merasa sakit hati dengan sikap Rio, yang kadang semena-mena.


"Paman, Bibi, Ody mohon maaf yah, kalo di acara tadi ada kataatau perbuatan, terutama dari dokter Rio yang membuat kalian sakit hati." ucap Ody dengan tulus.


"Iya nggak apa-apa kami maklumin, memang sifat dokter Rio kan gitu." jawab paman menenangkan hati ody, walaupun mungkin saja paman merasakan rasa yang sebaliknya, tetapi agar Ody tidak kepikiran, paman mencoba menutupinya.


"Kalo gitu paman, dan bibi pamit yah, kamu disini jaga diri. Bersikaplah yang baik, bagaimanapun Rio sudah menjadi suami kamu, jadi kamu harus bisa bersikap layaknya seorang Istri, meskipun Rio tidak menganggap kamu sebagai istrinya, tapi setidaknya kamu tetap menghormati dia, ingat surgamu ada didalam ridho suamimu." Nasehat paman sebelum berpamit pulang.


*Pernikahan yang hebat tidak terjadi karena cinta yang kamu miliki diawal,tapi seberapa baik dirimu untuk terus membangun cinta itu sampai akhir.


Sebenarnya Ody risih ketika mendengar nasehat pernikahan, sebab hanya membuat Ody teriris ajah hatinya, mengingat pernikahan yang dijalani haya perjanjian hitam di atas putih. "Masihkah ada surga buatku? Kalo pernikahaan yang aku jalani saja hanya sebatas Nikah Kontrak." lirih Ody.


Setelah paman dan bibi pulang, serta mereka sudah tidak nampak lagi dari rumah Rio. Ody kembali masuk kedalam, bingung apa yang akan Ody lakukan setelah ini. Ody ikut bergabung dengan Intan, Chandra, dan Ipek, tampaknya mereka sedang becerita seru, walau pun sebenarnya Ody tidak begitu paham dengan apa yang mereka bahas. Namun, ketika mereka tertawa Ody pun ikut tertawa, walau sebenarnya dalam hatinya nggak ingin tertawa.


Sementara Ody ngobrol di ruang tamu. Rio dan ketiga cogan mengobrol di taman belakang. Entah sedang membahas apa mereka ditaman, yang Ody lihat mereka sangat seriuz, tampak dari kejauha.


Ody yang sudah mulai risih dengan make up dan kebaya, berpamitan ke kamar untuk berganti pakaian, dan pastinya Ody juga pengin buru-buru ngehapus makeupnya.


Setelah menghapus Make Upnya, Ody tidak langsung keluar, Dia justru merebahkan tubuhnya. Entah apa yang ia harus lakukan setelah pernikahan ini. Kini justru Ody mengingat lagi nasibnya beberapa bulan kebelang. Andai saat itu dirinya tidak terlalu percaya dengan Doni, mungkin saat ini, nasibnya tidak seburuk ini.


Setidaknya saat ini, mungkin Ody bisa menggunakan uang hasil kerja kerasnya di negara orang untuk memulai usaha, dan tidak meninggalkan kampung serta keluarganya ke ibukota.


Saat ini, yang membuat Ody tetap optimis akan adanya rencana Alloh, yang mungkin saja akan lebih indah dari kejadian buruk yang menimpanya beberapa bulan ini.


* Bersabar itu air mata.Bersabar itu sakit,yang belum terobati.Bersabar dalam menentukan sikap.Bersabar untuk semua takdir Alloh. Bukankah bersandar hanya kepada Alloh.Dari setiap pengorbanan,Alloh pasti akan berikan balasan.Tak akan pernah sia-sia semua keaabaran di jalan Alloh.*


Keinginan Ody agar bisa bertemu Doni, serta Cindi pun belum terlaksana. Jakarta memang luas, tetapi nggak ada salahnya Ody menginginkan pertemuan ketiganya secara tidak sengaja. Sebenarnya Ody mulai curiga, dengan alasan bahwa surat tanah yang belum ketemu, bisa jadi hanya sebuah alasan belaka. Bisa saja memang itu alasan Doni, agar tidak mengembalikan hak Ody.


Ditengah lamunan Ody, pintu dibuka, dan ternyata itu Ipek dan Intan yang masuk.


"Lagi ngapain?" tanya ipek basa basi.


"Nggak ngapa-ngapain hanya rebahan ajah. Cape dari tadi pake kebaya sama make up, nggak biasa juga, jadi risih pengin buru-buru make daster," ucap Ody jujur.


Ipek duduk disamping Ody, begitupun Intan yang memilih duduk dikursi pelastik yang ada di kamar Ody.


" Nggak pengin keluar, untuk sekedar mengobrol, mungkin?" tanya Intan.


"Nggak deh pengin istirahat, kepalaku juga lumayan pusing, banyak banget yang mengganggu pikiran aku." lirih Ody dengan mimijat lembut tengkuk kepalanya.


"Ya udah kalo kamu pengin istirahat, aku pulang dulu ajah," ujar Intan pamit.


"Iya tar jam tiga aku kan juga harus ke rumah sakit, ada kerjaan yang kemarin belum aku selesain," jawab Intan.


"Ya udah kalo Dokter mau pulang, Dokter juga harus istirahat dulu, cape pasti dari pagi udah bantuin Kami buat acara ini. Makasih banyak yah Dok, sudah mau meluangkan waktunya untuk membantu aku Make Up, dan juga udah mau meminjamkan aku kebaya. Besok kalo kebayanya sudah, di laundry saya bawa kerumah sakit yah," ucap Ody dengan tulus.


"Iya sama-sama, kamu jaga diri yah, jangan terlalu banyak fikiran nanti malah sakit, nggak bisa kerja, nanti biyaya uang kuliah adikmu gimana?" jawab Intan, sekalgus memberikan kekuatan buat Ody.


"Setidaknya masih ada keluargamu yang bergantung sama Kamu, maka kamu harus jaga kesehatan, makan, dan istirahat yang teratur." tambah Intan. "Satu lagi, masalah kebaya nggak usah kamu kembaliin, kamu simpan ajah sebagai kenang-kenangan kamu nikah, secara kamu nggak ada gaun atau kebaya yang Rio berikan. Sebagai gantinya kebaya itu aku kasih buat kamu, anggap ajah Rio yang kasih."


"Makasih Dok, kebayanya pasti akan aku simpan sampai kapanpun," jawab Ody dengan tulus.


"Sama-sama, ya udah aku pulang dulu,"pamit Intan.


Kini di kamar hanya ada Ody dan Ipek, keduanya tengah ngobrol ringan, serta rebahan.


Pintu kamar diketuk, Ody pun membukanya, ternyata Aarav yang mengetuk.


"Ada yang bisa saya bantu asisten Aarav?" tanya Ody begitu mengetahui bahwa Aarav yang mengetuk.


"kamu dipanggil Rio kerunganya, mungkin ada yang mau dibahas," jawab Aarav dengan santai.


Ody pun mengangguk, dan mengikuti Aarav keruangan Rio, setelah pamit dengan Ipek pastinya.


Rupanya teman-teman Rio pun sudah pulang ke rumah masing-masing, hanya tersisa asisten Aarav yang memang sudah beberapa hari ini selalu menginap di rumah Rio .


Ody memasuki ruangan Rio dengan perasaan yang nggak karuan, cemas dan pastinya banyak pertanyaan kenapa sebenarnya Rio memanggilnya.


"Duduk!!"ucap Rio dengan dingin. Ody pun duduk ditempat biasa.


Ini surat perjanjian nikah yang sudah aku buat untuk kamu tanda tangani, baca, dan pahami, kalo ada poin yang kamu tidak setuju bisa di bicarakan lagi, serta kalo ada yang mau kamu tambah bisa sebutkan nanti pengacara saya akan menambahkannya," ucap Rio sembari memberika map yang berisi surat perjanjian Nikah.


Seolah jantung Ody berhenti sejenak. Apa yang Ody takutkan nampaknya akan terjadi, pernikahan ini akan membuat dirinya menderita.


Ody menerima map yang Rio berikan, dan membaca isi dari surat tersebut. Lagi-lagi air matanya tidak bisa diajak kerja sama. Ody berusaha menyembunyikan tangisnya, ia tidak ingin Rio iba dengan nasib.


*Ridholah dengan semua takdir Alloh.Jika ridho dengan takdir yang mengecewakan kita,maka Alloh akan menyiapkan anugerah besar tersembunyi yang akan ditampakan pada waktunya.*


...****************...


#Terimakasih buat yang sudah mampir.❤