Beauty Clouds

Beauty Clouds
Ucapan Terima Kasih



Hai... Pembaca setia othor, khususnya Beauty Clouds. Othor ucapkan terima kasih yah, karena sudah ikutin kisah Ody dan Rio beserta teman-temanya. Mungkin kalian di awal cerita ini banyak banget menemukan tulisan yang salah dan typo. Othor minta maaf karena ini adalah hasil karya othor yang pertama. Bahkan untuk menemukan alur cerita yang masuk, baru di bab beberapa, di bab awal othor sadari masih banyak kekuranganya.


Terima kasih yang tidak terhingga buat dukunganya sampai saat ini, novel ini sudah TAMAT, buat semua. Buat yang kasih kritik dan saran. Sampai saat ini othor belum lepas dari tulisan yang bagus dan benar, masih banyak salah, tapi lagi-lagi kalian memaklumi kesalahan othor, terima kasih sekali lagi.


Othor enggak bisa merangkai kata yang manis, dan juga enggak bisa memberi hadiah berupa materi, tapi othor selalu berdoa buat para Readers othor di manapun dalam buku othor yang manapun. Kalian diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki.


Tunggu bonus babnya yah. Othor masih ngerjain novel baru soalnya.


Mohon dukunganya yah buat buku othor yang baru.



Pelangi Tanpa Warna



Cuplikan Bab...


"Apa ini?" tanya Lexi, tanganya berusaha meraih benda yang, Lucas lemparkan.


"Foto," jawab Lucas, bokongnya ia letakan dengan kasar di atas kursi, berhadapan dengan Lexi.


"Iya gue tau Bambang, anak baru lahir juga tahu kalo ini foto (Tanganya mengoyang-goyangkan benda tipis itu) Masalahnya ini foto siapa dan buat apa?" tanya Lexi dengan mata menatap jengah pada Lucas yang menurutnya ganteng, padahal dalam kenyataanya ia tetap yang paling ganteng, dan terbukti di puja-puja oleh banyak kaum hawa.


"Dia adik tiri gue, tepatnya anak pelakor, loe buat di merasakan apa yang ibu gue rasakan! Buat dia hamil! Lalu campakan dia begitu saja! Biar dia rasakan bahwa dunia ini kejam. Kalo perlu buat dia menginginkan kematianya," jawab Lucas, nadanya yang penuh dendam mampu membuat Lexi paham betul sebagaimana kemarahanya.


"Sudah loe selidiki kebenaranya? Takutnya nanti loe salah informasi malah nyesel lagi, anak pelakor berati masih satu darah loh sama loe. Apa loe enggak nyesel adik satu darah sama loe gue mainin? Kalo gue sih di minta nidurin cewek berapa ajah tidak akan menolak, tapi takunya nanti loe nyesel di akhirnya," ucap Lexi mengingatkan Lucas, sebelum bertindak setidaknya pastikan semua info yang di dapatnya adalah kebenaran.


"Kakek gue yang bercerita, tidak mungkin kakek bohong. Untungnya apa coba kakek bohong? Lagian loe lihat ajah gue sama dia ajah jauh beda, sudah jelas dia anak dari wanita lain. Wanita yang merebut suami mamihku dan membuat mamih depresi karena terlalu cinta sama laki-laki tidak tahu diuntung itu." Lucas berbicara dengan emosi yang meluap-luap.


"Imbalannya apa kalo gue berhasil meniduri adik tiri loe, dan sampai hamil lalu gue campakan?" tanya Lexi dengan senyum menyeringai.


"Cuih... Perhitungan sekali loe, lagian gue kasih yang masih ting-ting. Bukanya berterima kasih malah minta imbalan," sungut Lucas, tetapi tentu Lucas sudah menyiapkan imbalan untuk Lexi. Yah, Lucas bukan tipe orang yang tidak tahu berterima kasih. Terlebih rencananya terlalu beresiko salah ambil setrategi bisa-bisa malah dia kena amuk warga dan niat buruknya tercium oleh pihak berwajib.


"Enak saja, bibit gue unggul-unggil. Selama ini tidak ada satu pun yang aku biarkan bibit unggulku bersemayan di rahim mereka. Andai harganya sesuai makan adik tirimu lah, wanita pertama yang menampung calon keturunan gue. Meskipun tidak akan pernah diakui oleh keluarga 'Rajaya' keluarga gue hanya akan mengakui anak yang lahir dari pernikahan sah dan wanita pilihan yang menurut mereka cocok menjadi pendamping gue," jelas Lexi, tentu seharusnya Lucas sadar itu. Keturunan dari keluarga Rajaya tidak main-main kalau ia ingin adiknya ia hamili harus berani membayar dengan nilai yang cukup untuk menambah pundi-pundi asetnya.


"Baiklah gue tahu maksud loe. Kebun kelapa sawit senilai satu hektar, siap panen gimana?" tanya Lucas dengan senyum kemenangan, ia tahu bahwa Lexi tidak akan menolaknya.


"Deal! Gue akan jalankan tugas dari Tuan muda," ucap Lexi. Ia bahkan sudah membayangkan penyatuan dengan Elin, gadis yang fotonya masih ada di genggaman tangannya. Yang Lexi lihat, gadisnya cantik ada kemiripan malah dengan Lucas. "Ah mungkin saja karena mereka satu ayah, sehingga mirip itu wajar, sedangkan yang beda bapak beda emak ajah yang mirip banyak," batin Lexi mencoba menepis apa yang mengganjal dalam fikiranya.




Cuplikan bab


Perasaan Zifa semakin tidak karuan, ketika ia semakin dekat dengan rumahnya. "Setop!!!" Seketika itu juga motor yang dikendarai Kemal langsung berhenti.


Sraaakkk... suara ban motor yang bergesekan dengan aspal yang sudah banyak yang mengelupas, karena rem dadakan yang Kemal lakukan.


Tanpa peduli bahaya atau tidak, Zifa langsung turun meskipun motor Kemal belum berhenti sempurna, gadis itu berlari ke arah rumahnya. Air matanya sudah jatuh. Yah, Zifa sudah sangat yakin orang-orang itu mendatangi rumahnya. Zifa terus berlari padahal jarak rumahnya dengan motor Kemal berhenti lumayan jauh, tetapi gadis bertubuh jangkung dan kurus itu terus menggunakan sisa tenanganya untuk segera sampai di rumah reyotnya.


Kaki Zifa seketika seolah menjadi tidak bertulang, ketika dia melihat ada bendera kuning berada di depan rumahnya. Padahal jarak Zifa masih tiga rumah lagi dari rumah orang tuanya, tetapi ia sudah bisa menyimpulkan bahwa kabar duka memang dari rumahnya. Namun siapa yang meninggal? Itu yang sekarang ada di pikiran Zifa.


Kak Zara atau ibunya? Zifa berusaha menyeret kakinya dengan sisa tenanganya, air mata dan rasa sesak di dadanya sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Inikah kado ulang tahun dari Engkau, Tuhan," jerit Zifa dalam hatinya, ingin ia memakin Tuhan, memaki takdir yang seolah tengah bercanda dengan dirinya.


"Zifa yang sabar yah, kamu harus kuat, kamu harus tetap tegar." Itu ucapan-ucapan dari sebagian warga yang datang ke rumah duka. Zifa bahkan tidak bisa membalas ucapan duka itu. Bibirnya seolah kaku dan tidak bisa digerakan.


Begitu sampai di ambang pintu. "Ibu??? Apa yang terjadi dengan Ibu? Kenapa bisa Ibu meninggal?" batin Zifa dengan penuh sesak, Zifa tahu tubuh yang terbujur kaku di tutup dengan kain batik adalah ibunya, sebab Kak Zara ada di samping ibu. Meskipun mungkin kakanya tidak tahu betul apa yang terjadi dengan wanita yang sudah melahirkanya, tetapi wajah sedih kakaknya itu sangat terlihat, seolah mengatakan bahwa ia juga beduka dengan kepergian ibunya.


"Kamu yang sabar yah, semua ini pasti ada hikmahnya." Kemal menuntun tubuh Zifa yang seolah tidak ada tulangnya lagi dan duduk bersimpuh di samping tubuh ibunya yang sudah terbuju kaku itu.


Perlahan Zifa membuka kain putih penutup wajah ibunya. Wajah pucat, dengan bibir membiru menadakan bahwa wanita yang telah melahirkanya memang benar-benar sudah berpulang. Ini bukan mimpi, inilah kado yang Tuhan siapkan untuknya. Seketika tangisnya Zifa pecah ketika ia sadar bahwa ia sudah di tinggal meninggal dunia oleh ibunya.


"Hihihihikkkk... Ibu kenapa Ibu ninggalin Zifa, Ibu Zifa tidak sanggup hidup sendirian tanpa Ibu yang menemani Zifa. Apalagi harus merawat Kak Zara. Zifa tidak sanggup," rancau Zifa menangis memeluk tubuh kaku ibunya.


Kemal yang memang mengikuti Zifa pun mengusap pundak Zifa, sebagai tanda bahwa ia seolah memberikan kekuatan pada Zifa agar gadis yang baru merayakan ulang tahun ke tujuh belas tahun itu kuat, untuk menghadapi ujian yang Tuhan bebankan pada pundaknya.


Zifa setelah merasakan bahwa ada tangan kekar yang mengusap pundaknya untuk memberikan kekuatan pun tahu siapa gerangan yang melakukan itu. Kemal, yah temanya itu tengah berusaha memberikan dukungan kekuatan, agar Zifa kuat melewati cobaan ini.


Namun cobaan ini buka sekedar ia kehilangan ibunya. Bukan sekedar ia ditinggal meninggal oleh orang yang melahirkanya. Melainkan Zifa juga harus merawat kakaknya yang mengalami down syindrome, dan juga kondisi kakanya, Zara sekarang kondisinya sedang hamil, tanpa tahu siapa yang telah menghamilinya.


Zifa kembali menatap kosong tubuh ibunya. "Apa yang terjadi dengan ibu, bukankah ibu tadi pagi berangkat kerja dalam keadaan sehat. Bahkan karena ada niat menemui Abas, anak majikanya. Ibu lebih terlihat bersemangat. Apa mungkin Abas membunuh ibu?" batin Zifa tidak bisa menerima kematian ibunya begitu saja.


Yuk ikuti perjuangan Zifa untuk menemukan keadilan untuk kematian Ibunya dan kakaknya yang diperk*sa, oleh pria misterius.


Jangan lupa kalian mampir di dua novel itu yah.


Dan buat yang belum mampir di kisah Cyra yuk Ramaikan..


(Jangan Hina Kekuranganku)