
Ipek yang semalaman murung karena pata hati, pagi ini sudah kembali ceria. Itu semua karena Ody yang tiba-tiba menelepon dan mengatakan akan mengajaknya berbelanja. Sebagai perempuan, sudah pasti Ipek juga sebenarnya sangat rindu belanja, bahkan hanya untuk cuci mata. Hampir dua tahun ini ia sangat jarang melakukanya kebiasaanya dulu.
Ipek membersihkan tubuhnya dengan bersenandung. Tentu setelah badanya yakin bersih dan wangi kini Ipek bersiap untuk meluncur kerumah Ody.
"Loh... loh... mau kemana lagi?" tanya Umi. Tentu heran, bukanya semalam putrinya bersedih karena dipecat oleh bosnya. Namun pagi ini kenapa justru bersemangat sekali.
"Ipek mau jalan-jalan Mi, mau shopping," jawab Ipek dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Belanja sih belanja makan dulu dong tuan pitri," balas Abang Ipek nomor dua karena yang nomor satu sudah menikah dan tidak tinggal bersama mereka lagi. Sementara nomor tiga dan empat tengah mengurus bisnisnya di luar negri. Kaka nomor dua mengurus bisnis yang berada di dalam negri tentunya dibantu abi dan kaka nomor satu. Maka dari itu papih sebenarnya melarang Ipek untuk membuang-buang waktunya seperti dua tahun kebelakang. Tentu agar Ipek mau belajar berbisnis dan membantu mengurus bisnis keluarganya. Namun, Ipek tidak tertarik dengan usaha yang keluarganyan jalankan sehingga ia menolak dan memilih menjadi OG dan berpura-pura menjadi warnga biasa.
"Nanti ajah deng Bang di rumah Mba Ody," ucap Ipek dengan enteng. Tentu sajah membuat yang lain geleng-geleng kepala kebiasaan Ipek memang gitu. Makanan di rumah sajah banyak malah milih makan di tempat lain.
Sebelum berangkat tentu Ipek berpamitan dengan Abi, umi dan Abang Ipek.
Tidak memakan waktu lama kini Ipek telah sampai di rumah Ody. Setelah minta izin Pak Yono, Ipek pun diizinkan masuk. Terlebih Ipek dan Pak Yono adalah soulmate otimatis langsung masuk jalur pintas.
"Assalamualaikum," ucap Ipek ketika masuk ke rumah Ody, yang memang pintunya sudah terbuka.
"Walaikumsallam," balas Hendra, yang saat itu tengah duduk di ruang tamu. Hendra yang melihat ada tamu langsung berdiri dan menjabat tangan Ipek.
"Loh siapa?" tanya Ipek, yang merasa belum kenal dengan adik Ody.
"Oh, saya Hendra, Mbak. Adiknya Mba Ody," jawab Hendra dengan sopan menjawab pertanyaan Ipek.
"Oh, kenalin saya Ipek, temanya Mba Ody," balas Ipek tak kalah sopan.
"Ngomong-ngomong, Mba Ody ada?" tanya Ipek yang nggak melihat Ody.
"Ada Mbak, nanti yah Hendra panggilkan. Tadi sih bilangnya mau siap-siap. Mungkin sekarang sudah selesai," balas Hendra. Ia pun pamit dan memanggil Ody di kamarnya. Benar sajah ody sudah siap dengan dandanan sederhananya, tetapi tetap mempesona.
"Ipek," pekik Ody seolah sudah menjadi kebiasaanya apabila bertemu dengan Ipek yaitu berpelukan dan cepika-cepiki. "Hendra, benaran nggak mau ikut?" tanya Ody memastikan lagi.
"Iya Mbak, Hendra di rumah sajah."
"Ya sudah, kalo kamu mau di rumah sajah. Mba berangkat yah." Pamit Ody pada Hendra.
Mereka pun menaiki taxi, menuju mall terbesar di ibukota. Sepanjang perjalanan mereka gunakan untuk bercerita apa sajah yang banyak terjadi semenjak Ody memutuskan untuk berhenti bekerja. Ody pun menceritakan alasan Hendra yang tinggal denganya, karena memang ibu Ody sudah meninggal. Ipek pun ikut sedih dengan kepergian ibu Ody dan tentunya mengucapkan bela sungkawa.
Setelah melewati jalan yang lumayan padat. Ya intinya Jakarta pasti padat terus jalananya.
Kini mereka mulai menelusuri toko-toko yang ingin mereka cari barangnya.
"Udah napa Mba, nggak usah diganti toh nanti juga Ipek bakal belanja, anggap ajah uang itu buat belanjanya," balas Ipek, yang bahkan ia sendiri lupa bahwa uangnya belum Ody ganti seluruhnya.
"Engga bisa gitu dong namanya juga hutang ya harus dibayar. Belanjaan kan juga Mba udah janji buat bayarnya. Jadi Mba nggak mau kalo kamu nolak gitu. Namanya nggak ngehargai orang gitu," sungut Ody, tentu tidak suka karena Ipek menolak pemberianya.
"Ya udah deh, gimana Mba Ody ajah enaknya," balas Ipek, mengalah. Namanya juga bumil memang suka gitu sensitif.
Barang-barang satu persatu sudah mereka dapatkan dan kini mereka tengah menikmati makan siang. Biarpun tengah asik berbelanja perut tetap nomer satu terlebih Ody tengah hamil, otomatis bawaanya lapar terus. Semenjak tadi sajah entah sudah berapa ia membeli makanan ringan sebagai pengganjal perut. Ipek juga yang tadi pagi belum sarapan, ketika sudah waktunya makan siang tentu terasa perih perutnya.
"Mba Ody merasa nggak sih dari tadi itu ada yang ngikutin kita?" tanya Ipek sembari berbisik, karena ia merasa ada orang yang selalu ngikutin mereka dan dari gerak geriknya terlihat sekali bahwa mereka memang tengah memata-matai Ipek dan Ody.
"Loh, enggak. Siapa memang yang ngikuti kita?" tanya Ody, ia semakin takut dan ingin tau siapa pelakunya.
"Coba Mba Ody duduk geser ke samping Ipek," bisik Ipek pada Ody, dan Ody langsung bergesel dengan Ipek untuk segedar menggeser tubuhnya agar ia bisa melihat orang-orang yang dicurigai Ipek.
"Mba Ody, coba liat deh Orang yang pake topi itu, dua orang itu dari kita masuk mall sudah ngikutin kita. Mba Ody liatnya jangan mencurigakan," bisik Ipek.
"Kebetulan ajah kali Pek," jawab Ody yang tidak mau ambil pusing.
"Masa kalo kebetulan dia dibelakang kita terus. Kita makan dia juga ikut makan. Rasanya kalo kebetulan nggak masuk akal Mba," cicit Ipek yang tetap dengan pendirianya, bahwa orang-orang itu pasti ada maksud tertentu.
"Mba udahan ajah yuk belanjanya. Kita lanjutkan belanjanya kapan-kapan lagi. Beneran deh Ipek itu curiga sama orang-orang itu. Takut nanti malah mereka mencelakai kita," rayu Ipek dan akhirnya Ody pun menyetujuinya. Jujur Ody juga takut sebenarnya.
Dengan mengendap-endap Ody dan Ipek mencoba mengelabuhi orang-orang tadi. Untungnya mereka berhasil kabur tanpa ketahuan oleh dua orang tadi.
Benar sajah dugaan Ipek, sepertinya orang-orang itu sengaja memata-matai Ody dan Ipek. Buktinya ketika Ody dan Ipek sudah naik ke taxi dan berhasil menyelinap kabur dari orang-orang itu. Mereka mengepalkan tangannya dan mengayunkan diudara menyerupai sebuah tonjokan.
"Aduh Pek, untung kamu peka. Liat deh mereka sepertinya kesal sekali ketika kehilangan jejak kita," ujar Ody sembari mengelus-elus dadanya yang sudah sedikit lega.
"Iya Mba, abisan mereka itu terlalu mencolok untuk sekelas memata-matai," balas Ipek. Tentu Ipek sangat penasaran siapa orang-orang itu. Setahu Ipek ia tidak mempunyai musuh. Begitupun Ody setahu Ipek tidak ada musuh.
"Apa ini jangan-jangan ulah Clovis," gumam Ipek, karena yang masuk akal melakukan semua itu kalo memang incaranya dirinya pasti Clovis. "Aku harus mencari tahu dalang dibalik semua ini," batin Ipek dengan hati yang panas.
Terlalu sakit apabila yang berada dibalik semuanya adalah ulah laki-laki yang dia sukai.
...****************...
Mampir juga kekarya novel aku yang satu lagi judulnya "Jangan Hina Kekuranganku" Ceritanya juga nggak kalah seru loh..------