Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kepanikan



Arzen terus memperhatikan Ipek.


"Ipek." Arzen memanggil Ipek, yang tengah duduk di sofa dengan menghafal ayat-ayat suci.


"Iya." Ipek meletakan kitab kecil yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi dan akan ia baca ketika ada waktu senggang. Ipek datang ke samping ranjang Arzen. "Apa ada yang butuh bantuan?" tanya Ipek dengan suara sangat lembut.


Selama ia tinggal tiga tahun di pesantren Abahnya ia bisa sedikit berkata lembut, walaupun sifat jahil dan kocaknya masih tetap ada, naluri yah kalo sudah bawaan orok agak sulit untuk menghilangkanya.


"Bukan butuh bantuan, aku perhatiin kamu dari kemarin selalu membaca kitab suci, aku liatnya damai banget. Nanti kalo aku sudah sembuh apa aku boleh ikut belajar dengan kamu. Jujur aku melihat kedamaian di diri kamu. Berbeda dengan aku yang merasa hampa. Hatiku nggak tenang terus," lirih Arzen, ia berusaha curhat dengan sahabatnya itu.


Ipek meletakan bokongnya di kursi yang ada di samping ranjang Arzen. "Aku senang dengernya, kamu mau belajar, karena murni dari diri kamu. Jarang-jarang loh hidayah datang pada diri kita. Aku suka kamu mendapatkan hidayah itu. Nanti kalo kamu sudah boleh pulang. Kamu ikut aku yah, pulangnya ke pesanten Abah aku. Di sana nanti kamu bisa belajar bersama aku. Aku juga jadi bisa memantau kesembuhan kamu." Ipek berkata dengan sangat berantusuas.


"Tapi aku nanti ngerepotin kamu lagi. Mana aku tidak punya uang untuk membayar semuanya. Biaya rumah sakit juga jadi aku merepotkan kamu. Jujur aku nggak enak banget sama kamu." Tentu kalian tahu bagaimana diposisi Arzen, disaat kesulitan ekonomi. Namun Tuhan masih menguji keimananya, dan ada teman yang dengan suka rela membantunya. Pasti ada rasa sungkan dan takut akan merepotkan dengan keadaanya yang mungkin saja akan lama untuk proses penyembuhanya.


Ipek menyunggingkan senyum lembutnya yang membuat hati Arzen jadi tersentuh. "Zen aku sudah menganggap kamu itu teman terbaik aku. Kamu bahkan dulu rela mengorbankan hubungan kamu dengan Zawa saat itu, demi menjaga kehormatan aku. Bagi aku bantuan kamu saat itu adalah nilai tertinggi yang tidak bisa aku nilai dengan materi. Jadi anggap aku juga sahabat kamu. Yang kamu bisa bercerita hal apapun itu. Percayalah nanti aku juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan aku sudah tidak sabar ingin membuat telingamu panas dengan curhatan aku," kekeh Ipek yang mana ia mulai kembali ke mode kocaknya.


"Aku jadi nggak sabar pengin dengar kisah hidup mu yang sudah banyak mengajarkan kamu arti semuanya. Sampai kamu seperti ini sekarang. Jujur ketika pertama aku liat kamu. Tidak terfikirkan sedikit pun bahwa wanita cantik, sholehah, itu kamu Pek, cewek yang dulu super nyablak, dan dulu juga terkenal gendut sampe Clovis keras bagai batu menolak kamu. Tapi aku penasaran gimana reaksi Clovis kalo liat kamu yang sekarang. Aku ajah tertarik loh sama kamu," kelakar Arzen jujur tanpa saringan sedikit pun pada mulutnya.


"Aduh aku jadi GR ditaksir sama Arzen. Tapi aku nggak mau kalo ada yang suka atau cinta sama aku karena fisik. Aku mau cari yang menerima aku apa adanya. Dari nyablaknya aku, atau fisik yang mungkin dua atau tiga tahun lagi aku kembali ke mode gembrooot. Dia masih mau terima aku apa adanya. Makanya tiga tahun ini aku belajar melupakan Clovis dan akan menerima laki-laki yang datang ke padaku dengan ketulusan hatinya. Aku takut kembali kecewa karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Itu sangat sakit Zen. Bahkan luka hatiku belum sepenuhnya sembuh. Sakitnya masih terasa sampai saat ini, walaupun rasa itu telah berlalu sudah lebih dari tiga tahun." Ipek mulai curhat bak air yang mengalir. Bahkan air matanya masih mengalir setiap mengingat sakit hatinya.


Arzen hanya mengangguk-anggukan kepalanya menandakan ia sangat paham berada di posisi Ipek. Karena ia juga merasakan rasa yang sama, gimana ia mencoba menyerahkan jodohnya pada Tuhan, disaat dia benar-benar.di dalam hatinya mengaharapkan cintanya diperstukan dengan Zawa di mahligai pernikahan. Namun takdir mempermainkan semua rasa itu. Bedanya Apabila Ipek Clovis yang tidak membalas cinta Ipek karena fisik dan yang lainya. Kalau Arzen saling bersambut perasaanya, tetapi ia harus merelakan rasa itu tak tau ujungnya, karena Zawa yang harus menanggung hukuman atas perbuatan yang bukan kelakuanya.


Arzen ingin bercerita dengan Ipek, tetapi ia ragu.


"Jujur yah, aku penasaran banget dari pertama melihat kamu, tapi kayaknya sekarang saat yang tepat. Jadi ayo ceritakan. Nanti aku balik menceritakan kisaj menyedihkan dari aku. Pasti kamu menertawakan lemahnya aku. Aku ajah kalau ingat itu pengin terawa sebegitu hancurnya hatiku." Ipek terkekeh dengan perjalanan hidupnya sendiri.


"Jadi aku dulu atau kamu dulu yang mau cerita?" tanya Arzen dengan teekekeh.


Ipek diam seolah tengah berfikir hal yang sangat berat. "Kamu saja lah. Kisah aku garing tapi menyentuh, rasanya lebih menarik cerita kamu," ucap Ipek seolah ia adalah penilai yang handal.


"Arzen menarik nafas kasar dan membuangnya dengan perlahan. Ia kini siap memulai ceritanya. "Kamu udah tau belum kalo Ody kecelakaan, dan anaknya meninggal?" tanya Arzen mengawali ceritanya.


Ipek melotot bahkan seolah biji matanya akan loncat begitu sajah. "Serius, kapan?" tanya Ipek yang merasah payah banget berita sepenting ini ia tidak tahu.


"Mungkin ceritanya dimulai dari situ saja yah. Soalnya salah satu yang membuat aku pergi dari pertemanan mereka adalah karna kasusus ini. Tiga tahun yang lalu, Ody kecelakaan dan ternyata setelah ditelusuri opeh polisi, mereka menetapkan Zawa sebagai tersangkanya. Jujur aku sempat marah sekali sama Zawa, tapi seiring berjalanya waktu dan Zawa terus meyakinkan aku bahwa bukan dia pelakunya, dan dia tidak merasa sebagai otak dari kejahatan itu. Aku juga menangkap ada kenjanggalan dalam kasusus ini. Aku memutuskan menemui Rio, Intan, Aarav untuk membantu mengusut ulang kejadian itu, tapi justru aku jadi bersitegang dengan Rio. Bahkan Rio sempat melayangkan tinjuan sama aku." Arzen mejeda ceritanya, rasanya masih kecewa berat dengan keberadaan teman-temanya.


"Terus gimana selanjutnya. Jujur Ipek baru tahu kabar ini dari kamu Zen. Aku merasa payah banget tidak tahu berita sebesar ini." Ipek merasa gagal jadi sahabat. Karena keegoisanya ingin kabur dari Clovis. Sampai disaat teman-temanya terjadi masalah ia tidak bisa membantunya.


"Aduh ko tiba-tiba kepala aku jadi pusing yah Pek." Arzen memegangi kepalanya yang jadi berdenyut dengan kencang, dengan wajah meringis seolah sangat sakit kepalanya.


Ipek pun panik, ia segera berlari mencari dokter atau perawat, untuk membantu Arzen.


#Aduh Arzen kamu kenap, othor jadi deg-degan...