Beauty Clouds

Beauty Clouds
Puasa Sunah



Ketika Zawa dan Intan tengah berdebat karena perihal puasa yang dianjurkan dokter Intan, tiba-tiba Arzen masuk dengan beberapa kantong makanan yang ia bawa.


"Kenapa Tan, kok rame amat?" tanya Arzen dengan suara yang lembutnya, dan menyejukan.


"Ini Zen bini loe, suruh puasa malah nawar terus kan demi kebaikan dia juga, tapi malah nggak mau kayaknya," ucap Intan dengan menyalahkan Zawa.


Zawa hanya diam saja ketika Intan mengadu ke suaminya.


"Puasa apa emang, senin-kamis atau puasa sunah apa?" tanya Arzen, setahu Arzen tidak ada puasa selama satu minggu setelah menikah, apa memang Arzen yang belum tahu atau gimana.


Intan menepuk jidatnya, dia lagi bahas hubungan badan, ini malah bahas ke ibadah yang lain.


"Loe beli makan apa Zen, gue udah lapar banget debat sama bini loe, rasanya pengin makan orang." Intan berdiri dari duduknya di samping Zawa dan akan makan di sofa.


Arzen menyodorkan beberapa kantong makanan dan dia memisahkan satu kantong berisi bubur untuk Zawa. "Ini kamu pilih ajah mau makan yang mana," ucap Arzen.


Intan yang memang lapar pun mengambil dan membawa kantong makanan itu ke sofa ia lebih baik makan dan mengisi energi dulu baru ia akan menjelaskan apa itu puasa yang ia maksud.


"Makan dulu sayang, biar cepet sembuh," ucap Arzen dengan membuka kotak bubur untuk Zawa.


"Loh kok bubur sih sayang, aku kan nggak lagi sakit," protes Zawa, sepertinya suaminya pilih kasih. Makanan untuk Intan kelihatanya enak-enak, sedangkan dia makananya dikasih bubur.


"Kamu lagi sakit sayang, makanya bubur dulu yah!" rayu Arzen biar Zawa jangan protes mulu.


"Aku itu sakit yang ininya loh yang. Makan nasi padang pun nggak akan bermasalah. Kecuali sakit lambung baru boleh aku di kasih makan bubur." Zawa terus protes, terlebih melihat makanan Intan yang sangat menggiurkan. Ayam bakar dan menu makanan lain yang membuat ludah langsung mengiler.


"Ya kamu nggak ngomong atuh sayang, ya udah yah sekarang makan bubur dulu baru nanti makan yang kaya Intan.".Arzen kembali merayu Zawa agar tidak protes lagi.


Sementara Intan yang memang jahil pun sengaja makan di bikin pamer agar Zawa tergoda. Benar sajah beberapa kali Zawa menelan ludaknya ketika Zawa makan iga bakar yang menjadi makanan favorite Zawa. Intan pun terkekeh, "Rasain loh emang enak makan bubur. Biar pun makan di suapin ayang tetap ajah kalah nikamat sama makanan gue," batin Intan dengan terkekeh puas.


Sebenarnya Intan udah nggak betah di kamar pengantin ini bawaanya emosi terus terlebih karena memang Arzen terlalu membucinkan Zawa. Makan di suapin, kan Intan yang jomblo jadi merasa terzolimi masa ia bisa-bisanya mereka tebar keromantisan di depan makhluk yang jomblo.


"Sayang pengin pipis," ucap Zawa dengan manja. Intan yang ada di sofa tidak jauh dari sana tentu muak mendengarnya. Intan menirukan omongan Zawa dengan bibir dibuat semonyong mungkin, tetapi tentu tidak menimbulkan suara itu karena Intan meledek Zawa.


Arzen pun memapah Zawa ke kamar mandi. Dan Zawa menyengir kesakitan ketika Zawa membuat air kecil perih dan rasanya mantap. "Kenapa lagi sayang?" tanya Arzen dengan cemas.


"Tahan yah, maaf gara-gara aku kamu jadi kesakitan seperti ini, janji deh nanti nggak macam-macam lagi mainya lebih kalem dan nggak maksa lagi," ujar Arzen yang merasa sangat bersalah.


Arzen pun kembali menuntun Zawa kepembaringan dan merebahkan dengan hati-hat, setelah Zawa meminum obat yang di bawakan oleh Intan kini Arzen meminta Zawa istirahat.


Arzen mendekati Intan yang tengah rebahan di sofa dengan bermain game.


"Tan, tadi kondisi Zawa gimana? Terus maksud puasa yang loe bilang puasa apa?" tanya Arzen dengan berbicara lebih dipelankan lagi agar tidak membuat Zawa yang lagi tidur bangun lagi. Intan pun menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.


Intan lalu bangun dan meletakan ponsel di meja dengan malas ia harus menjelaskan lagi pada Arzen dan tentunya semuanya demi kebaikan Zawa juga. Andai Arzen tidak mendapatkan penjelaskan ditakutkan malah meminta jatah lagi pada Zawa nanti malah jadi lebih parah lagi kondisi temanya itu.


"Kondisi Zawa sebenarnya tidak terlalu parah, tapi cukup sampai membuat demam tentu itu sangat sakit. Dan gue bilang puasa itu loe jangan meminta hubungan dulu minimal sampai Zawa bener-bener tidak merasakan sakit atau pun pegal di tubuhnya.


Arzen pun mengangguk anggukan kepalanya dan mengerti dengan apa yang Intan katakan.


"Jadi Zawa sakit karena kegitan kita semalam?" tanya Azen dengan malu-malu.


Intan pun menatap dengan malas. "Menurut loe, Arzen, Zawa sampai seperti itu kenapa? Ya karena kerjaan kalian yang nggak ada remnya. Makanya kalo main itu di pikirkan jangan kasar kasihan tuh anak orang sampai kaya gitu," omel Intan dan Arzen pun hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, semua karena memang Arzen pun merasa permainanya terlalu kasar untuk pemula seperti Zawa. Seharusnya Arzen bisa mengingatkan agar semuanya tidak terjadi seperti ini tetapi semuanya sudah terjadi dan kini harus ditaati omongan Intan agar Zawa cepat sembuh.


"Enggak apa-apa deh puasa lagi dulu saja puasa sampai bertahun-tahun bisa masa sekarang tidak bisa," batin Arzen. Lagian hanya satu minggu kok, pasti bisa.


"Gue pulang dulu Zen nanti itu salep dioleskan ke luka yang di kema'luan Zawa dan obat juga kalo masih meriang minum ajah tapi kalo udah tidak meriang nggak usah di minum nggak apa-apa," ucap Intan sebelum ia pulang kerumahnya untuk tidur lagi di kamar empuknya.


"Loe mau pulang emang Tan?" tanya Arzen memastikan.


"Iya lah, gue juga ngantuk Arzen, masa loe pada tidur lagi gue disini bengong. Mau tidur di sofa mana enak. Udah kaya asisten rumah tangga ajah gue," balas Intan.


"Ya udah tidur ajah bareng Zawa sanah dari pada pulang dulu, perjalanan lumayan jauh loh," tawar Arzen yang kasihan apabila Intan harus pulang-pulang dulu untuk bisa tidur. Sedangkan disini saja bisa tidur bareng Zawa.


"Kalo gue tidur di sini loe di mana?" tanya Intan, dia sih mau-mau sajah tidur di mana saja asalkan bisa tidur.


"Gue mau ke cafe dulu ajah, kalian istirahat ajah biar pada sehat." Arzen pun bersiap mengambil pakaian yang ada di koper dan berganti pakaian lalu akan mengecek cafenya, dan Intan langsung menuju tempat tidur pengantin baru itu. Dia dengan bersemangat mau nyoba gimana enaknya tempat tidur untuk pengantin baru itu.


"Hehehe... siapa tau sekarang nyoba kasur pengantin, tahun depan juga bisa merasakan kekuatan kasur ini," gumam Intan tetapi ia semenit kemudia sudah merangkai mimpi menyusul Zawa, sahabatanya.