
Tiga bulan telah berlalu, Ipek pun sudah melewati masa idahnya. Dan tentu Ipek sudah di perbolehkan apabila ada yang akan melamarnya atau bahkan menikahinya.
Di meja makan Ipek dan keluarganya tengah makan bersama. "Pek, nanti malam akan adan keluarga sahabat Abi yang akan datang untuk memperkenalkan kamu dengan putra sahabat Abi, dan nanti kalo mereka cocok dan kamu juga cocok. Secepatnya akan diadakan taaruf dan secepatnya kalian akan menikah." Abi memecah kebisuan di meja makan itu. Yang awalnya hanya suara gesekan dari sendok dan piring.
Ipek langsung mengangkat wajahnya dan matanya berkaca-kaca. Ini yang ditakutkan oleh Ipek akhirnya terjadi hidupnya diatur-atur oleh keluarganya. Kebagiaanya seolah hanya keluarganya yang tahu. Tanpa mereka tahu bagai mana perasaan sesungguhnya. Bisa dibilang perjodohan pertama mereka memang berhasil. Itu semua karena Wahid yang mencintai Ipek sejak lama sehingga ia bisa menerima sifat Ipek yang banyak kekuranganya. Namun apa di pernikahan kedua Ipek dengan perjodohan akan sama hasilnya Ipek bisa mencintai suaminya begitu pun suami Ipek. Entah Ipek tetap merasa hidupnya terlalu banyak diatur-atur sehingga ia sendiri tidak merasakan kebahagiaan itu.
"Kenapa Abi tiba-tiba memutuskan itu. Apa Abi memikirkan kebahagiaan Ipek? Apa Abi tidak ingin bertanya Ipek maunya apa?" isak Ipek yang sudah tidak tahan dengan semua ini. Benar-benar hidupnya kali ini sugguh jauh dari kata bahagia.
"Tidak perlu bertanya. Abi sudah tahu yang kamu inginkan adalah hidup dengan laki-laki be'jad seperti Clovis ia kan? Abi tidak akan pernah setuju dengan pilihan kamu. Sekali pun Wahid memberikan wasiat diakhir hidupnya, Abi tidak akan pernah melepaskan kamu untuk laki-laki itu. Biarkan dia mencari wanita yang sebanding dengan masa lalunya. Jangan kamu yang jadi wanita pemu'as naf'sunya. Abi tidak rela dan tidak ridho dia jadi anggotan keluarga kita. Dan Abi berharap bahwa kamu mengerti keputusan Abi. Percayalah Pek itu demi kebaikan kamu." Abi dengan yakin menolak Clovis menjadi calon menantunya dan juga menolak wasiat almarhum suami Ipek, yang bisa sajah Clovis atau temanya yang memaksa Wahid untuk membuat wasiat itu.
Ipek yang sudah tidak selera makan pun pergi kekamarnya tanpa berpamitan dulu. Ia pasrah dengan jalan hidupnya. Ipek kali ini sudah benar-benar pasrah dengan kebahagiaan dihidupnya. Dalam hatinya sudah gelap gulita tidak ada cahaya kehidupan yang bisa memberikan bahagia.
Umi sebenranya tidak tega melihat Ipek akhir-akhir ini sering merenung dikamarnya. Namun Umi juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika Abi sudah memutuskan keputusanya.
****
Sedangkan di tempat lain pun Clovis tengah mempersiapkan lamaran untuk nanti malam. Eh... bukan lamaran hanya saja Clovis akan menepati janjinya begitu Ipek selesai masa idah, ia akan mendatangi rumahnya untuk memenuhi tantangan Abinya Ipek dan juga membuktikan bahwa omonganya konsisten dan juga tidak lepas dari tanggung jawab atas dasar wasiat almathum Wahid.
Clovis pun akan datang dengan Ustadz yang membimbing Clovis belajar islam, dan tentu ada Arzen yang dengan telaten mengajari Clovis untuk mengaji, dan lebih mengenal Allah. Selain Ustadz, Arzen memang orang yang banyak mengajarkan Clovis tentang islam. Untung sang nyonyah tidak marah apabila waktu kebersamaan mereka sering diganggu oleh Clovis. Yah Zawa selama ini mendukung apa yang Clovis lakukan, dan justru yang bikin Clovis semangat ia belajar mengaji jadi berdua dengan Zawa. Itu juga yang bikin jadi iri, baik Zawa maupun Arzen selalu romatis. Sehingga nanti apabila Clovis sudah berumah tangga ingin bersikap sama seperti Arzen yang sangat memuliakan istrinya itu.
Malam hari dengan persiapan yang sudah Clovis anggap sempurnya, ia akan datang dengan Ustadz dan Arzen saja. Mungkin kalo memang niat baiknya di terima Clovis akan datang dengan personil yang lebih banyak lagi.
Dengan bermodalkan niat yang baik dan tentunya nekad, yah dikatakan nekad sebab Clovis sangat tahu betul bahwa apabila pedoman mendapatkan hati Abi dengan patokan ilmu agama sudah tentu ilmu Clovis jauh untuk mendapatkan restu itu.
Namun apabila diikut dengan kesungguhan dan keseriusanya. Clovis serius dengan cintanya dan ia berjanji tidak akan membuat Ipek sedih, Clovis akan berusaha dengan sungguh-sungguh kalo dia akan membahagiakan Ipek.
"Loh kok banyak mobil Vis, apa di dalam sana lagi ada acara?" tanya Arzen dengan heran. Kenapa di halaman rumah Ipek yang baru mereka tahu ternyata keluarga Ipek benar-benar sultan terlihat dari hunianya yang sudah kelihatan mewah dan megah.
"Enggak tau Zen, ini bener kan alamatnya yang ini?" Clovis kembali bertanya pasalnya takut kalo alamatnya yang Arzen dapat dari Tama salah.
"Bener Vis ini sama tuh, lagian Tama nggak mungkin bohong lah, dia kan sohib gue jadi tidak akan bohong dong," ucap Arzen dengan sangat percaya bahwa alamat rumah yang ia datangi memang rumah Ipek.
"Kalo gitu kita masuk ajah Zen, Vis. Kita cek siapa tau memang ini rumahnya, sekalian mungkin memang sedang ada acara dan kita kan bisa sekalian silahturahmi," balas Ustadz agar tidak berlama-lama bernegosiasi dengan kebenaran alamat langsung di buktikan sajah biar langsung ketahuan.
"Vis, calon mertua loe orang penting kayaknya yah, kok mau masuk rumahnya saja sulit banget," ucap Arzen yang baru menemui pengamanan super ketat ketika akan masuk kerumah orang. Bahkan diminta tanda pengenal diri dan juga meminta izin dari Abi dulu untuk memastikan bahwa beliau mau atau tidak menemui tamu-tamu itu.
Clovis hanya menjawab dengan gidigan bahu, ia tengah gerogi malah Arzen bertanya seperti itu dan berhasil membuat Clovis semakin deg-degan takut apabila tidak direstui.
"Mas, kata Abi di minta tunggu sebentar soalnya di dalam ada calon keluarga besan," ucap Security yang menemui Abi untuk mengabarkan ada tamu yang ingin bertemu.
Clovis, Arzen dan Pak Ustadz pun saling berpandangan. Mereka seolah bertanya apa calon besan yang di maksud adalah calon suami untuk Ipek atau untuk Abang Ipek. Sungguh perasaan Clovis sudah campur aduk. Bahkan persiapan yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari langsung hilang semua. Hafalan surat dan doa-doa yang ia hapalkan untuk persiapan test, apabila ia nanti di test oleh abinya Ipek pada berterbangan sehingga sepertinya apabila di test nanti Clovis akan gagap tidak bisa menjawab.
Cukup lama ketiga laki-laki itu menunggu tamu-tamu yang ada di dalam itu berpamitan pulang. Seolah mereka di dalam sana malah terkesan memper lama pertemuanya sehingga Clovis dan teamnya merasa tidak diinginkan. Pukul sembilan suara canda tawa yang menandakan bahwa orang-orang yang berada di dalam sana tengah membagi kebahagiaanyan. Suasana di dalam yang bisa Clovis tangkap memang sangat akrab dan sangat bahagia. Clovis jadi minder dengan semunya. Yah, dia tidak percaya diri dengan semua yang ia miliki dan keluarga Ipek miliki. Terlebih dari segi ilmu agamanya.
"Vis gimana ini mau tetap nunggu atau pulang saja, kayaknya mereka masih lama obrolanya?" tanya Pak Ustadz yang mungkin sudah lelah menunggu lebih dari satu jam di depan rumah mewah itu, mana banyak nyamuk lapar dan juga haus.
"Sebentar lagi gimana Pak Ustadz. Udah nunggu lama masa malah ditinggal pulang," jawab Clovis meminta pengertianya sebentar sajah, sedangkan ia juga sebenarnya cape menunggu adalah hal yang paling membosankan. Mungkin hanya Arzen yang anteng-anteng saja tidak merasa bosan menunggu, pasalnya ia saling bertukar chat dengan istrinya. Sehingga ia tidak sadar bahwa waktu menuggu sudah lebih dari satu jam.
Setelah menunggu lebih dari satu jam setengah akhirnya tamu yang cukup banyak dan semua yang hadir rata-rata berpakaian menunjukan bahwa mereka sangat paham agama. Tidak hanya ahli agama dan juga pastinya kaya raya. Clovis dan Pak ustadz pun berdiri dari duduknya untuk menyapa tamu-tamu itu padahal mereka tidak saling mengenal, tetapi bukanya budaya kita mengajarkan untuk tetap bersopan santun shingga lebih baik dinilai sopan dari pada dinilai sombong.
Abi pun nampak ikut keluar dan menghantarkan tamu-tamu itu yang terlihat sangat akrab. Sungguh hati Clovis sangat sakit ketika seolah kehadiranya tidak terlihat. Andai ini bukan bagian perjuangan laki-laki yang ingin mendapatkan restu dari keluarga perempuan yang di cintainya. Clovis akan pergi meninggalkan rumah mewah itu.
Lagi-lagi ketiga laki-laki itu masih harus menunggu karenya sang empunya rumah seolah masih enggan untuk melepas tamunya berpulang.
Ketiga laki-laki yang duduk di pojokan terelas rumah pun hanya menarik nafasnya dan membuang pelan mencoba tetap bersikap sabar meskipun dalam hatinya sudah ingin meledak kemarahanya.
Sebenarnya Clovis bukan orang bodoh ia tahu bahwa Abinya Ipek tidak menerima mereka sebagai tamu. Hanya Clovis ingin memenuhi ucapanya bahwa ia akan datang untuk menemui mereka ketika masa idah Ipek telah selesai. Bukankan seorang laki-laki omomganya yang dipercaya.
"Aduh maaf yah Mas tadi ada tamu jadi nunggu lama deh, ayo masuk-masuk!" Abi akhirnya menghampiri tamunya yang tidak diinginkan itu. Yah, sapaanya sangat terlihat terpaksa hal itu tentu berbeda jauh dengan tamu-tamu yang barusah berpamitan untuk pulang.
Namun tidak masalah, bagi Clovis itu biasa ketika kita belum begitu mengenal seseorang memang seperti itu akan dingin dan seolah cuek, tapi percaya lah setelah kenal mereka bisa berbalik seratus delapan puluh derajat baiknya.
"Iya tidak apa-apa Bi, kami maklum kok." Arzen yang menjawab sebagai orang yang memang lebih dekat dengan Abi, Arzen pun yang lebih banyak berinteraksi dengan beliau. Sedangkan Clovis dan Pak Ustadz akan ngobrol andai memang suaranya dibutuhkan. Bukan karena sombong tetapi mereka sadar diri bahwa Abi seolah tidak menginginkan obrolan dengan mereka.
#Clovis jangan berkecil hati yah, tetep semangka jangan pernah tergoda dengan yang lain....