
Setelah dua hari Aarav melakukan penyelidikan. Hari ini ia akan menemui Rio di rumah sakit. Ia akan berusaha berbica dengan Rio dan juga Tuan Hartono. Pasalnya dalam kasus Ody, ada banyak pihak yang dirugikan. Terutama Zawa. Aarav sudah menyelidiki dari asisten rumah tangga Zawa, sopir dan juga para pekerja yang membantu Zawa membuka praktik di rumah sekaligus sebagai klinik kandungan.
Dari saksi itu Aarav semakin terbuka pintu hatinya. Sebab ternyata memang benar yang dikatakan Zawa. Emly saat itu tengah hamil. Andai perkataan Zawa memang benar adanya, berati ucapan Zawa yang lain juga sangat memungkikan benar juga. Bahwa Emly lah dibalik dalang ini semua. Namun, Aarav memanh belum bisa membuktikan dengan bukti-bukti yang akuran, tetapi setidaknya dari para pekerja di rumah Zawa bisa menjadi tambahan bukti bahwa Zawa tidak bersalah seratus persen, dan polisi bisa mempertimbangkan hukumanya.
Akan lebih baik lagi kalo Tuan Hartono dan Rio memaafkan Zawa dan menyelesaikanya secara kekeluargaan. Namun nampaknya hal itu tidak akan terjadi. Kecuali kalo ada mukjizat bagi Zawa.
Rio pun kini semakin membaik, kondisi tidak selemah kemarin-kemarin. Bahkan Rio sudah mau makan dan kini masih menjalani terapi pada psikiater, yang selama ini mendampingi terapinya, agar trauma di ingatanya sedikit berkurang.
Rio bahkan tatap memutuskan untuk berhenti menjadi dokter. Ia sangat ketakutan dikala menghadapi pasien-pasienya. Takut mereka akan meninggal seperti Angel itu yang membuat ia masih menjalani terapi lanjutan.
Rio juga selama dua hari ini selalu berusaha menemui Ody meskipun Ody masih belum mau bertemu.
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit Aarav melihat ada seorang wanita setengah tua menggendong anak bayi dan mencoba mengentikan mobilnya.
Aarav awalnya ingin mengacuhkan wanita tua itu, tetapi hatinya tergerak dan kembali memundurkan kendaraanya.
"Mau kemana Bu?" tanya Aarav setelah membuka kaca jendela mobilnya.
"Tuan cucu saya panas, dan saya akan ke rumah sakit. Boleh saya meminta tumpangan?" ucap Mbok Zuha dengan bergetar. Yah, wanita yang ditolong adalah Mbok Zuha. Asisten rumah tangga Emly, dan bayi yang tengah digendong Mbok Zuha adalah anak Emly dan Aarav.
Aarav yang melihat pun iba terlebih bayi yang ada dalam gendonganya terlihat masih merah. Mungkin saja belum lama dilahirkan.
"Ayo naik, kebetulan saya akan ke rumah sakit Hartono. Cucu ibu bisa dipriksa disana!" Aarav membukakan pintu mobil untuk Mbok Zuha.
Dengan terburu Aarav menginjak pedal gasnya dan langsung menuju rumah sakit Hartono.
Sesampainya di rumah sakit Aarav langsung meminta perawat menangani Bayi perempuan yang sejak tadi menangis. Bahkan suara tangisanya sangat lemah.
Aarav memandangi bayi perempuan itu dan seolah memiliki ikatan batin.
"Bu cucunya kenapa? Lalu orang tuanya kemana?" tanya Aarav pada Mbok Zuha.
"Tidak tau Tuan, tiba-tiba sajah muntah-muntah. Untuk orang tuanya. Anak Mbok jadi korban pemerkosaan dan sekarang anak Mbok sudah meninggal dan untuk ayah bayi ini tidak tau keberadaanya di mana. Mbok juga sebenarnya kesulitan mengasuh cucu Mbok, karena terbatasnya biyaya untuk kebutuhanya dan Mbok sendiri sudah terlalu tua untuk mengasuh seorang bayi. Namun, mau Mbok titipkan di panti asuhan juga tidak tega, takut nasibnya tidak bagus." Mbok Zuha memang mengarang cerita agar Aarav iba dan mau merawat anak Emly. Pasalmya ia mau membuangnya pun takut aksinya diketahui oleh orang lain.
Aarav nampak menimang ucapan wanita tua yang ada di hadapanya. Terlebih melihat kondisi wanita itu memang benar adanya ia tampak seperti orang yang kurang beruntung dalam segi ekonomi.
"Terima kasih Tuan... terima kasih, saya tidak tau mau mengucapkan apa selain terima kasih." Mbok Zuha merain tangan Aarav dan menciumi punggung tangannya sebagai ucapan terima kasih dan Aarav pun hanya membalas dengan anggukan dan senyum lebarnya.
Setelah cukup lama menunggu dan Aarav pun banyak berbincang dengan Mbok Zuha, bahkan Aarav lupa menemui Rio karena terlalu fokus dengan kondisi bayi malang itu.
"Pagi Pak Aarav. Bayi ini ternyata mengalami alergi pada susu formula, sehingga dia mutah-mutah terus. Nampaknya Pak Aarav atau Ibu harus cari Ibu susu untuk bayi itu. Kalo tidak kondisinya akan semakin lemah." ucap seorang dokter yang menangani anak Emly.
"Di rumah sakit tidak ada ASI Dok, atau Ibu yang mau menyumbangkan ASInya?" tanya Aarav ia panik dan sulit cari ide.
"Untuk sementara nanti kami usahakan dari ibu-ibu yang menyusui bayinya di rumah sakit ini, tetapi alangkah baiknya kalo Pak Aarav menemukan ibu susu sendiri. Sehingga lebih terjamin nutrisinya."
"Baik lah saya akan tetap mencari ibu susu untuk Mayra, tetapi untuk sementara tolong ambilkan dari stok rumah sakit ini dulu." Aarav akan berusaha mencari ibu susu untuk bayi yang baru ia ketahui namanya ternyata Meyra.
Setelah Baby Mayra dipindahkan keruangan rawat inap dan Mbok Zuha yang menemaninya. Aarav baru ingat tujuanya ke rumah sakit ini.
Di perjalanan menuju lantai atas Aarav bertemu Intan. Aarav pun baru ingat bahwa Ody baru melahirkan dan anaknya meninggal dunia. Otomatis air susunya pasti bisa disumbangkan untuk Baby Mayra.
"Dok... Dokter Intan tunggu!" Aarav berbalik mengejar Intan.
Intan pun berhenti dan menunggu Aarav.
"Ada apa? Tumben, kayaknya penting banget?" tanya Intan dengan nada mengejek.
"Ody gimana keadaanya?" tanya Aarav basa basi. Tidak enak apabila langsung nodong Asi untuk Baby Meyra.
"Ody, dia baik! Kenapa loe tanya-tanya Ody. Hay, ingat Ody masih istri sah bos loe, jangan cari-cari kesempatan yah!" ancam Intan mengira Aarav akan mendekati Ody, dengan maksud lain.
"Hay... santai Nona, lagian gue nanyain Ody bukan mau nikung dia dari sahabat gue sendiri. Anti yah gue main tikung. Dengerin dulu makanya!" dengus Aarav. "Barusan gue ketemu Bayi yang baru lahir, ibunya meninggal dunia dan ternyata tuh bayi ada alergi susu formula. Gue kefikiran Asi Ody kan pasti mubazir karena Baby Angel nggak ada. Aku kefikiran untuk saranin Baby Mayra menjadi anak susu Ody. Kira-kira Ody mau nggak." Aarav berharap bahwa Ody mau membantu Baby Mayra.
"Oooo... Kayaknya sih dia pasti mau, tapi nanti coba gue telpon dia. Menanyakan langsung sama Ody. Secarakan keputusan ada sama dia. Nanti kalo Ody mau gue langsung temui dia dengan Baby Mayra, ia kan namanya Mayra?"
"Iya namanya Mayra ada diruangan Vip. Aku berharap banget Ody mau, dan kalo dia mau juga bisa mengadopsi anak itu sebagai ganti Baby Angel, agar tidak terlalu kesepian hari-hari Ody." Aarav pun menceritakan kronologi Baby Mayra yang mana neneknya tidak cukup materi dan tenaga mengingat umurnya yang sudah tua, untuk mengasuh baby Mayra.
Intan pun mengembangkan senyumnya. Selama ini Ody masih murung dan banyak melamun. Bisa sajah setelah bertemu Baby Mayra dan mengadopsinya menjadi Ibu susu untuk Mayra. Ody kembali ceria dan senyumnya kembali seperti dulu.