
Setelah hampir satu jam Zawa yang memimpin di ron'de ke dua kini Arzen maupun Zawa mencapai kli'maksnya secara bersamaan.
Aaaahhh... leng'kuhan panjang terdengar dari keduanya menandakan mereka mencapai garis finish secara bersamaan.
"Gila permainan kamu hebat sayang. Kamu benar-benar istri luar biasa, aku tadi mengira kamu akan menyerah di tengah permainan, tetapi kamu bisa membuktikan kalo kamu itu tidak hanya jago di teori tetapi prktek pun aku dibuat kalah, dengan permainan kamu," ucap Arzen tidak henti-hentinya memuji kepiawaian Zawa.
Zawa tersenyum dengan bangga, ia ingin membalas dengan berkata panjang kali lebar menandakan bahwa ia memang istri yang hebat, tetapi tenaganya yang baru ia isi seolah sudah habis lagi. Sendi-sendinya seolah tidak.saling mengikat sehingga tulang belulangnya serasa mau copot.
Jangan ditanya lagi bentuk tempat tidur mereka, bahkan selimut dan bantal sudah saling berterbangan entah kemana.
Arzen menutupi tubuh po'los istrinya dengan selimut tebal begitu pun dirinya. Kali ini cukup dua episode, mungkin akan di lanjut pertem'puranya besok pagi, itu pun kalo kondisi Zawa memungkinkan. Sebab Arzen sedikit banyak tahu apabila wanita di malam pertama besok paginya akan terasa nyeri dan bahkan bengkak di bagian kema'luanya. Apalagi permainan bu dokter bener-benar menjiwai sampai tanpa henti dan itu bisa sajah besok pagi bengkat kema'luanya.
Kalo memang tidak memungkinkan untuk nambah lagi tidak masalah toh sudah dapat dua putaran sajah sudah sangat pu'as bagi Arzen.
Kini Arzen pun menyusul Zawa yang lebih dulu pergi ke alam mimpi, mereka tidur dan saling berpelukan seolah takut ada yang mengambil kalo bu dokter tidak dipeluk.
****
Di lain tempat,
Chandra, Aarav dan Clovis masih menikmati malam mereka dengan bermain game. Ketika dua temanya tengah bermain dengan pun'cak gunung, ketiga cogan yang bersetatus jomblo masih mernikamti ke jombloanya dengan dunia gamenya.
"Ngomong-ngomong habis Arzen yang nikah lanjut siapa lagi nih?" Chandra memecah kesunyian ketika Aarav dan Clovis sedang fokus dengan ponsel pintarnya.
"Kayaknya sih Clovis," jawab Aarav yang dari tanda-tandanya akan Clovis lebih dulu secara dia sudah ada wanita incaran sedang si duda jangankan calon bini teman kencan ajah masih nyari. Sementara Aarav ia masih ada harapan dan mengharapkan Emly, dan tentu Aarav juga masih mencari Emly setidaknya untuk tahu di mana anaknya berada. walaupun sudah tiga tahun berselang tidak ada kabar secuil pun mengenai Emly dan anaknya. Namun Aarav tidak menyerah dia terus berusaha mencari informasi keberadaan Emly. "Mungkin dari kisah teman-teman gue semua, kisah percintaan gue yang paling panjang dan paling sulit untuk bersatu," batin Aarav, sembari meletakan ponselnya karena sudah cape juga bermain game sejak tadi.
"Berati itu tandanya mereka terlalu sayang dengan Ipek dan takut kalo loe nyakitin putrinya makanya mereka posesif banget sama putrinya, tapi ngomong-ngomong loe ngaji udah sampe mana, udah bisa baca Al-quran? Hafalan surat pendek gimana?" tanya Chandra mengetes kesiapan Clovis.
"Entah lah, sepertinya gue pun nggak yakin bisa nikahin Ipek. Tantangan gue terlalu berat, tembok pembatasnya terlalu tinggi. Untuk hafalan surat sudah lumayan lah, dan bacaan sholat pun sudah lumayan lancar, tapi memang untuk membaca Al-quran gue masih belum bisa baru di iqro tiga bro. Sulit ternyata membaca Al-quran." Clovis pikir akan dengan mudah dia menyelesaikan tantangan dari Abinya Ipek tetapi rupanya untuk membaca Al-quran saja ia tidak yakin bisa melakukanya dalam waktu tiga bulan.
"Sabar Bro gue dukung semoga Abi sama Abang-Abangnya Ipek luluh hatinya sehingga loe nggak usah susah payah berjuang lagi, tapi Ingat kalo sudah dapat anaknya jangan disakitin, bahagiain tuh anaknya jadiin ratu. Gue rasa Abi dan keluarganya Ipek hanya takut kalo Ipek bakal sedih dan tidak bahagia dengan pernikahanya dengan loe. Secara sepak terjang loe selama ini terkenal buruk dan sangat tidak manusiawi, jadi mereka seperti ada rasa takut kamu mengulang kelakuan buruk itu dan membuat anak dan adik mereka menderita. Kalo gue sih ngerti gimana perasaan Abinya Ipek itu tandanya beliau sangat sayang dengan putrinya jadi ingin yang terbaik buat Ipek. Intinya semua ada di loe sih Vis. Gimana loe nunjukin sama keluarganya untuk memperlakukan putrinya dengan baik. Setidaknya seperti Almarhum suaminya yang kelihatanya sangat sayang banget sama Ipek. Kamu juga harus kaya gitu nunjukin kalo Ipek pasti bahagia dengan pilihanya dan kamu nggak nyakitin Ipek. Nanti juga luluh dengan sendirinya." Chandra yang lebih berpengalaman menasihati Clovis, sementara Aarav pun hanya menyimak.
Karena memang pada kenyataanya kisah Aarav pun hampir sama dengan Clovis di mana Aarav pun tidak direstui oleh keluarga Emly dulu, karena miskin apabila Clovis karena tingkah lakunya yang terkenal buruk. Aarav di tolak karena miskin. Maka dari itu Aarav bekerja keras karena ingin menunjukan ia layak dan mampu membahagiakan putrinya.
"Iya Ndra gue janji kalo, nantinya gue diizinin menikah denga Ipek gue janji demi langit dan bumi gue akan membahagiakan Ipek lahir batin. Gue nggak akan memyentuh lagi dunia gelap gue yang sudah lama gue tinggalin gue hanya akan fokus dengan kebahagiaan Ipek. Gue pastiin Ipek hanya akan menangis karena bahagia. Tidak akan gue biarkan dia menangis karena kesedihan. Namun untuk bisa meyakinkan orang tua dan Abangnya sangat sulit." Clovis sangat bersemangat untuk membahagiakan Ipek.
"Tapi loe ngerasa nggak sih Chan, Vis, Ipek itu sekarang-sekarang kaya tidak bersemangat gitu, dia seperti banyak fikiran. Tadi ajah pagi gue liat dari dia pertama datang di rumah Rio wajahnya udah sedih banget. Udah gitu malamnya nggak datang lagi. Mungkin nggak sih dia dilarang keluarganya, secara Abinya juga wajahnya kaya ditekuk gitu sepanjang acara mereka kayak yang lagi ada masalah," tanya Aarav, biarpun ia dan Ipek maupun keluarganya tidak terlalu dekat tetapi Aarav tahu bagaimana wajah-wajah orang yang bahagia dengan benar-benar bahagia atau pun orang yang pura-pura bahagia.
"Sama lah gue juga ngelihatnya gitu, jadi tadi gue juga nggak banyak ngobrol sama Ipek buat ngehargai perasaan Abinya, takutnya nanti Ipek jadi di marahin juga kan kita jadi nggak enak sama Ipek," balas Chandra setuju dengan perasaan Aarav. Sementara Clovis menjadi merasa bersalah dengan semua yang terjadi dengan Ipek.
Dia jadi kefikiran dengan nasib Ipek apakah orang tuanya memperlakukan Ipek dengan buruk atau memang Ipek tengah bersedih karena mengingat suaminya.
"Tunggu Pek, aku akan buktikan sama keluargamu bahwa aku juga bisa membahagiakan kamu," ucap Clovis, berjanji dalam hatinya. Baru kali ini ia benar-benar seniat ini untuk bisa membuktikan dan menyakinkan keluarga orang demi bisa menghalalkan wanita yang bahkan setatusnya janda. Tidak hanya itu Clovis merasa sedih ketika Ipek juga sedih dan murung. Rasanya hatinya sesak melihat wanita yang dulu ia sangat membencinya menjadi murung.
"Ya Allah semoga Engkau mempermudah niat baik hamba dan juga hamba bisa membuktikan pada Abah dan keluarga Ipek yang lain bahwa hamba memang layak untuk membahagiakan Ipek. Semoga hamba selalu bisa mberikan kebahagiaan bagi wanita yang sangat hamba cintai." Doa Clovis di dalam hatinya dengan bersungguh-sungguh.
#Selamat berjuang bambang Clovis...