
Satu minggu ini menjadi hari yang sangat mendebarkan buat Ipek. Keluarga Wahid sudah melaporkan kepolisi atas menghilangnya Wahid. Kedua Abang Ipek yang berada di luar negri pun sama telah mencari Wahid di Kairo langsung. Bahkan orang tua Wahid dan Abi dua hari lalu telah menyusul ke luar negri, untuk mencari keberadaan suami Ipek.
"Umi bagai mana kalo memang Wahid telah menikah lagi. Dan sekarang ia menghindar dari Ipek, untuk mengunjungi istri mudanya seperti yang ada di novel poligami gitu?" Ipek sudah sangat putus asa, sebab menurut para karyawan Wahid, bosnya sudah pulang ke Indonesia dan urusan usaha Wahid pun sudah tidak ada masalah. Lalu selama tiga minggu Wahid berkomunikasi dengan Ipek suaminya di mana? Enggak mungkin kan kalo Wahid tengah ngeprenk Ipek, yang mana sampai melibatkan polisi.
"Hust... kamu nggak boleh berpikiran jelek begitu deh. Kamu berdoa yang baik-baik saja, ingat nak Wahid itu sayang banget sama kamu, nggak mungkin dia menduakan kamu. Dia pasti nggak akan tega membuat kamu bersedih seperti ini." Umi selalu memberi semangat pada Ipek. Umi pun sama sedih ketika melihat Ipek bersedih seperti ini.
Bahkan Ipek menjadi murung nggak selera makan, dan juga Ipek merasa ketakutan kalo suaminya akan menduakan cintanya.
"Emang Ipek itu nggak boleh bohagia yah Mi? Kenapa setiap Ipek jatuh cinta selalu berakhir sakit hati. Emang salah yah kalo Ipek jatuh cinta?" Pertanyaan yang seharusnya tidak Ipek lontarkan, tetapi saking perustasinya Ipek sampai berpikiran kurang jernih.
"Tidak ada yang salah sayang, namanya cinta datangnya boleh sama siapa saja, tidak ada kecualian. Tapi kembali lagi sama jodoh, yang Allah atur. Mungkin kamu belum ada jodoh dengan nak Wahid," ucap Umi sembari terus menenangkan Ipek.
Yah, kali ini Ipek mencoba mengikuti nasihat Uminya, Ipek kembali yakin bahwa Wahid tidak menikah lagi demi mencari wanita yang lebih baik lagi darinya. Pasalnya kalo Wahid mau melakukanya ia akan melakukanya sejak dulu, sebelum menikah dengan Ipek. Karena mempermainkan pernikahan sama saja berbuat dosa, sedang Wahid orang yang tahu ilmu agama.
****
Dua hari telah berlalu pagi hari yang tidak pernah bisa di lupakan untuk Ipek. Di mana Abi memberi kabar bahagia, tetapi juga sekaligus kabar buruk. Wahid sudah di temukan di negara S, dan yang membuat Ipek kaget dan tidak menyangka ternyata Wahid di negara itu tengah terbaring di rumah sakit. Hal itu di sebabkan karena dua minggu lalu Wahid mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sarafnya bagian pungung terjepit dan kondisinya lumayan parah, mengakibatkan tubuh Wahid lumpuh setengah badanya sehingga Wahid tidak bisa berbuat apa-apa.
Ipek yang bahagia bercampur sedih pun memutuskan akan menyusul suaminya dan akan membantu merawat suaminya di negara tersebut. Namun Abi melarang, karena dari keputusan keluarga Wahid akan di pulangkan ke Indonesia, dan akan menjalani pengobatan di negara mereka.
Ipek pun akhirnya setuju dan akan menunggu suaminya di Jakarta. Dia berjanji akan merawat suaminya sampai sembuh, lalu mereka akan hidup bersama-sama sebagai pasangan suami istri yang paling bahagia. Memiliki banyak anak dan hidup sederhana yang penting saling mengasihi.
Keesokan harinya Ipek pun langsung menuju rumah sakit, ketika Abi mengabarkan bahwa Wahid telah berhasil di pindahkan ke rumah sakit di Jakarta.
Ipek dan Umi langsung menuju rumah sakit itu, ia tidak sabar ingin melihat Wahid.
Begitu sampai di halaman rumah sakit, Ipek tidak langsung turun pasalnya ini rumah sakit dulu ia pernah bekerja.
Yah rumah sakit keluarga Hartono menjadi pilihan Abi dan orang tua Wahid untuk merawat suami Ipek. Memang rumah sakit ini bertaraf internasional sehingga menjadi rekomendasi untuk proses penyembuhan Wahid.
Perlahan Ipek berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu. Ipek seolah de javu dengan momen ini di mana ia dulu sering berlalu lalang di rumah sakit ini sebagai office girl.
Ruang VIP menjadi tujuan Ipek. Ia tidak lantas langsung masuk ketika berada di depan pintu ruangan itu. Di mana di dalam sana ada suaminya. Ipek masih takut melihat kondisi Wahid. Bagaimana kondisi suaminya saat ini apakah masih baik-baik saja atau justru suaminya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
Umi mengusap punggung Ipek. Beliau tahu bahwa Ipek tengah cemas.
Ipek pun mengangguk dengan lembut. Ia mencoba menerima takdir ini semua. Ipek juga tidak mau terlihat sedih di depan Wahid pasti nanti ia akan merasa sedih juga kalo Ipek sedih.
Dengan tangan bergetar Ipek mencoba membuka pintu kamar kelas VIP itu di sana terlihat Abi dan Papah dari Wahid, tengah menjaga Wahid. Terlihat sekali lelah dari keduanya.
Begitu Ipek masuk Wahid pun mencoba menolehkan kepalanya kearah Ipek. Meskipun Ipek tahu itu sangat sulit dan mungkin juga sangat sakit pasalnya ada raut wajah Wahid yang mencoba menahan sakit.
Setelah bersalaman dengan Abi dan Papah mertua, Ipek menghampiri Wahid. Ipek bersalaman dengan Wahid meskipun tangan Wahid kaku dan penuh dengan alat medis. Ipek juga mencium kening suaminya cukup lama, sampai tanpa sadar air mata Ipek jatuh membasahi pipi Wahid.
Siapa pun yang melihat momen itu pasti sangat terenyuh hatinya pemandangan yang sangat menyayat hati. Tidak ada obrolan hanya kebisuan.
Ipek tidak bisa berkata-kata apapun itu. Ia sangat sedih menyaksikan suaminya dalam kondisi tidak berdaya seperti ini.
Umi, Abi dan Papah mertua Ipek pun meninggalkan pasangan suami istri itu, mereka membiarkan Ipek dan Wahid melepas kangen.
Kini mereka tinggal berdua di ruangan itu, tidak ada lagi orang tua mereka.
"Ka-mu a-pa ka-bar?" tanya Wahid memecah kebisuan diantar mereka. Walaupun suara Wahid terbata. Seolah ia kesusahan mengucapkan kalimat itu.
Ipek yang notabenya gampang menangis ketika mendengar pertanyaan itu bukanya menjawab malah ia terisak sembari memeluk tubuh ringkih Wahid.
Wahid tidak bisa membalas apa-apa ia hanya pasrah menyaksikan kesedihan istrinya.
"Maaf-maafkan Ipek..." Entah apa maksud Ipek berkata demikian yang jelas hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Padahal dalam benak Ipek ia banyak yang ingin diucapkan tetapi justru kata maaf yang keluar.
"I-pek eng-ga sa-lah. A-bang ya-ng sa-lah." Wahid berusaha membuat Ipek tidak bersedih lagi. "Ja-ngan nang-is, A-bang pas-ti sem-buh."
Ipek pun seketika itu melepaskan pelukanya.
"Janji yah, Abang akan sembuh. Ipek udah nungguin Abang pulang, kita mau bulan madu, tapi Abang sakit. Nanti kalo Abang sembuh kita bulan madu sekaligus umroh yah." Ipek coba manarik bibirnya mengembangkan senyum terbaiknya. Senyum yang ditunjukan buat suaminya seorang.
Wahid mengangguk lemah. "A-bang jan-ji." Wahid pun mencoba memberikan senyum terbaik meski harus berusaha ekstra untuk mengembangkan senyumnya. Badan yang kaku membuat Wahid sulit berkomunikasi.