
"Cukup, kamu melempar kesalahanmu pada adik saya. Secara tidak langsung kamu mengatakan adik saya memperkosa kamu, dasar gadis murahan! Denger yah. Adik saya nggak akan melakukan hal sehina itu. Semua terjadi paling juga karena kamu yang menggoda Rio, sehingga Rio tergoda dan meniduri kamu lalu kamu memanfaatkannya. Aku yakin anak yang ada dalam kandunganmu bukan anak Rio. Kamu menjebak Rio agar dia yang bertanggung jawab sebab Rio kaya raya, sehingga kehidupanmu bisa terjamin!" Sekarang giliran Ka Luna yang menghina habis-habisan Ody.
Kali ini Ody sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Terserah mau dikatakan cengeng atau apa yang jelas ia menangis, karena semua yang dituduhkan oleh Mamih dan Kak Luna tidak benar.
"Cuih... air mata buaya, air mata ini juga yang telah kamu gunakan untuk mendapatkan simpati dari Rio?" tanya Mamih semakin menjadi dan semakin menyudutkan Ody.
"Saya nggak tau maksud Anda bicara seperti ini itu apa? Asal Anda tau awalnya saya pun tidak mau menikah dengan anak Anda. Andai Mas Rio tidak melecehkan saya, saya juga nggak akan berdiri di rumah ini dengan setatus istri pemilik rumah ini." Ody lagi-lagi mencoba berkata dengan jujur, dan tidak lemah walaupun hinaan sudah membaut hatinya sakit.
"Haha... maling mana ada yang mau ngaku. Dasarnya pela'cur akan tetap jadi pela'cur! Di mana ada kesempatan pasti kamu akan ambil." Ka Luna pun kembali mengeluarkan kata-kata yang kasar dan sangat menyakit kan.
Ody pun membuka ponselnya sebenarnya ia tidak ingin menunjukan rekaman vidio pemerkosaanya, tetap Mamih dan Kak Luna yang memaksa Ody melakukan itu. Untung vidio itu belum Ody hapus dan sekarang bisa Ody gunakan untuk menutup mulut mertua dan Iparnya.
"Ini vidio yang saya ambil dari CCTV rumah ini dari sini kalian bisa liat siapa yang menjebak dan siapa yang terjebak. Bukan hanya pemerkosaan yang telah saya terima, tetapi kekerasan juga saya terima. Saya juga ada laporan hasil visum mau saya ambilkan juga, agar Anda bisa melihatnya? Dari vidio ini bisa menjawab semua tuduhan Anda." Ody menyodorkan ponselnya dan langsung disambar oleh ka Luna.
Mereka pun melihat adegan di mana Ody mendapatkan kekerasan Seksual oleh Rio.
Mamih nampak syok dengan vidio yang Ody perlihatkan, dan juga terlihat mamih memegangin dadanya nampak nafasnya tersenggal..
Buuukkk... Mamih jatuh pingsa.
Ka Luna pun langsung panit, apa lagi Ody langsung gemetar.
"Mih... Mamih bangun Mih..!" Suara tangisan dari Ka Luna.
Ody langsung lari ke luar rumah dan meminta sopir Mamih dan Pak Yono untuk menggotong Mamih. Mereka pun langsung membopong Mamih dan langsung melarikanya kerumah sakit. Ody di rumah pun tidak tenang sebab semuanya karena ulahnya. Padahal Rio sudah mewanti-wanti dirinya untuk diam sajah dulu. Namun karena Ka Luna dan Mamih yang memojokan Ody terus menerus, sehingga ia pun terpaksa meladeni Ipar dan Mertuanya.
"Ya Alloh, selamatkan Mamih." Ody berdoa dalam hatinya, berkali-kali ia lafalkan doa untuk kesembuhan Mertuanya.
Ody mencoba menghubungi Rio tetapi tidak diangkat oleh Rio.
"Ya Alloh apa Mas Rio marah. Lalu apa yang terjadi dengan Mamih." Ody bolak balik memikirkan nasib keadaan mertuanya. Dia bingung mau mencari tahu keadaan mertuanya dari siapa sedangkan Rio dihubungi nggak ada yang mengangkatnya dan juga dia tidak tau nomer Ka Luna.
Ody pun akhirnya memutuskan untuk datang kerumah sakit milik keluarga Hartono. Mungkin sajah Mertuanya di bawa kesanah, secara rumah sakit itu milik keluarganya. Ody berangkat menggunakan taxi.
****
Sementara itu di rumah sakit milik keluarga Hartono terjadi kepanikan ketika Istri dari pemilik rumah sakit datang dalam keadaan pingsan
Begitu pun dengan Papih, beliau kaget ketika Luna mengabarkan bahwa Mamih pingsan. Setelah mengalami serangkaian pemeriksaan akhirnya Mamih di pindahkan keruangan khusus pemilik rumah sakit, di mana disana fasilitasnya sangat lengkap, dan juga nyaman.
Dokter yang menangani Mamih mengatakan bahwa sakit jantung mamih kambuh dan untuk saat ini masih bisa tertolong, tetapi dokter menyarankan agar tidak membuat pikiran mamih tegang.
"Ka Luna memang apa yang terjadi kenapa Mamih bisa sampai seperti ini?" tanya Rio dengan cemas, pasalnya ia sangat menyayangi Mamihnya dan lagi Rio tau bahwa keluarganya sangat menjaga kondisi mamih.
"Istri kamu... istri kamu.... yang membuat Mamih jadi seperti ini!" Ka Luna menuding Ody yang membuat Mamih jadi seperti ini.
"Maksud Ka Luna?" Rio pun kaget kenapa Kakanya bisa tahu Ody.
"Mamih syok kertika istrimu menunjukan vidio di mana kamu memperkosa pembantu itu." Ka Luna menjelaskan kembali maksud dari omonganya.
Rio yang mendengat penuturan Ka Luna langsung emosi dan mengepalkan telapak tanganya dengan kuat. Dia tidak menyangka bahwa Ody akan melakukan itu semua. Karena perbuatanya kini ia hampir sajah kehilangan nyama mamihnya.
"Ternyata kamu memang ular berbisa Ody. Aku kira kamu baik dan benar-benar menyayangiku tetapi kamu justru hampir menghilangkan nyama mamihku." Rio mengeratkan giginya sampai terdengar bunyi dari gigi yang saling beradu.
"Ka Luna, Papih dan Rio menunggu mamih dengan cemas. Pasalnya sampai saat ini mamih belum sadar. Mereka sangat takut akan terjadi sesuatu dengan mamih. Rio berjanji apabila terjadi sesuatu dengan mamih dia akan menghukum Ody dengan harga yang setimpal kemarahanya sudah sangat diujung kepala.
Sementara Ody baru sampai di rumah sakit milik keluarga suaminya itu. Dengan langkah yang setengah kesusahan karena perut yang sudah membesar Ody menghampiri Resepsionis rumah sakit.
"Malam Mba ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu wanita yang tengah berjaga.
"Iya Mba, apa Nyonyah dari pemilik rumah sakit ini dilarikan kesini yah?" Ody menyampaikan niatanya.
"Oh iya betul Mba. Ngomong-ngomong Anda siapa yah?"
"Saya masih Familly dari pemilik rumah sakit ini, kalo boleh tau Mamih dirawat diruangan mana yah. Saya ingin menjenguknya." Ody menyembunyikan jati dirinya di mana ia sebenarnya menantu dari pemilik rumah sakit ini.
"Oh Nyonyah Hartono dirawat di ruangan khusus dilantai atas dekat dengan ruangan kerja Tuan Hartono."
"Oh baik lah Mba, saya ucapkan banyak terima kasih." Ody pun berjalan menuju lift dan akan menuju ruangan yang petugas resepsionis beri tahu.
Begitu Ody sampai di depan ruangan yang di maksud, ia tidak berani masuk, karena ia merasa bersalah dan takut dengan reaksi keluarga suaminya terlebih Rio. Entah apa yang ingin Ody jelaskan dengan peristiwa ini. Niatnya hanya membela tetapi justru terjadi malapetaka.