
Sementara Rio dan Wahid mereka sudah selesai berbicara. Ipek dan Clovis malah belum selesai dalam pembahasanya. Ipek yang niat awal tidak mau meladeni Clovis ternyata malah terbawa juga. Sehingga mereka tanpa sadar saling bertukar pertanyaan, terus menerus.
Rio yang memang akan kembali keruanganya justeru di kejutkan oleh Clovis dan Ipek yang berada di lorong ruanganya.
"Loh, kalian kenapa masih ada di sini? Kenapa malah ngobrol di tengah jalan kaya gini. Cari tempat ngobrol sana! Cafe kek, atau mentok kantin kan ada.," ucap Rio sekalian meledek dua insan yang tengah bernostalgia.
Ipek nampak terkejut dengan kedatangan Rio, dia bahkan panik bak orang yang ketahuan selingkuh. "Loh Dok, Anda sudah selesai dengan Abang?" tanya Ipek masih dengan wajah yang panik.
"Sudah dong. Aku kan cuma konsultasi bukan lagi kencan jadi nggak sampe lupa waktu," kekeh Rio, ia sangat senang melihat ekpresi malu Ipek dan juga Clovis. Sang Casanova itu sekarang punya rasa malu.
"Apaan sih loe mah Yo, gue lagi ngobrol biasa ajah ko sama Ipek," jawab Clovis dengan wajah merah karena malu, Clovis juga ternyata sama dengan Ipek malu seolah mereka berdua telah di grebeg oleh warga karena ketahuan berselingkuh. Wajahnya sangat lucu.
"Abang gimana Dok? Udah kan ceritanya, yang dikeluhin apa? Kondisisnya baik-baik sajahkan?" tanya Ipek dengan cemas, dan mencoba mengalihkan topik obrolan.
"Kalo soal curhat rahasia dong, karena itu menyangkut urusan sesama laki-laki, tapi nanti aku pasti bantu untuk berkoordinasi dengan dokter yang menangani Clovis. Pasalnya ini menyangkut kesehatan, sehingga nanti aku mungkin akan sering berkomunikasi dengan suami kamu Pek. Biar aku tahu perkembanganya apa saja." Rio meminta izin pada Ipek, yah agar Ipek tidak curiga nanti baik ia maupun yang lainya sering berkomunikasi dengan Wahid, tentu mereka mengira itu berkoordinasi mengenai kesehatanya.
"Kalo soal itu Ipek malah senang, tandanya Abang sudah nyaman dengan Dokter, tapi Abang akan baik-baik saja kan Dok?"
"Soal baik-baik saja sejauh ini baik, tapi kita nggak bisa melihat kedepanya seperti apa. Kadang yang sehat saja bisa tiba-tiba jatuh sakit dan berpulang. Maka seperti Wahid pun pasti ada kemungkinan untuk sembuh dan ada kemungkinan juga untuk berpulang. Aku bukan menakut-nakuti, tapi kamu harus siap dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada Wahid. Selain mendoakan dan mengupayakan kesembuhanya kamu juga harus siap dengan semua hal paling buruk." Rio berkata demikian karena tidak ingin Ipek terlalu kecewa apabila kesehatan Wahid makin memburuk.
"Iya Dok, Ipek juga sudah belajar untuk Ikhlas, tapi tidak bisa bohong kadang ada rasa ingin menentang takdir, ingin Abang sembuh seperti dulu lagi," lirih Ipek dengan wajah sendu.
"Iya aku tahu berada diposisi kamu sebagai mana sulitnya, dan aku acungin dua jempol buat kamu Pek, yang selalu tampil tenang padahal hati kamu tidak berkata demikian. Semoga kamu kuat yah, dan masalah kamu segera ada jalan keluarnya. Kamu juga bisa merasakan kebahagiaan lagi." Rio hanya bisa memberikan semangat dengan doa. Karena memang yang Ipek butuhkan adalah suport untuk doa dan dukungan dari mereka.
"Iya terima kasih yah Dok, kalo begitu saya pamit dulu yah Dok. Takutnya Abang butuh bantuan Ipek. Mas Ipek pamit dulu." Ipek tidak hanya pamit pada Rio, tetapi juga tentu pamit dengan Clovis. Yang panggilanya kali ini bukan Tuan atau pun nama sesuai yang di minta Clovis melainkan pangilan Mas. Hal itu dilakukan karena memang Ipek juga tidak enak apabila memanggil nama saja sedangkan jarak umur mereka terpaut jauh.
Ipek setelah berpamitan ia langsung berjalan dengan tergesa menuju ruangaan suaminya. Sementara Rio menatap tajam Clovis dengan banyak pertanyaan.
"Sejak kapan panggilan loe dan Ipek jadi Mas? Kalian diam-diam saling merajut kasih yang dulu belum usai?" tanya Rio untuk mengetes Clovis, padahal kalo mau saling kembali menyimpan rasa Rio rasa tidak masalah. Toh sepertinya Wahid pun tidak masalah dengan hal ini. Justru yang Rio tangkap dari obrolan mereka Wahid memberikan kesempatan buat Clovis untuk membahagiakan Ipek. Entah dengan cara bagaimana Clovis dan Wahid melakukanya. Apakah dengan meminta Clovis menikahi Ipek atau ada cara lain yang Wahid pikirkan. Rio hanya ingin yang terbaik dengan mereka.
"Loe, belum mau balik ke kantor loe kan. Yuk keruangan gue ada yang mau gue omongin. Soal Ipek." Rio meminta Clovis keruanganya guna membicarakan permintaan Wahid.
"Apaan sih Yo, gue sama Ipek itu tadi cuma say hay doang. Enggak ada macam-macam. Kenapa loe jadi posesif gini sih. Gue juga tahu kali Ipek sudah punya suami, enggak mungkin lah aku macam-macam sama istri orang. Gue memang dulu bejad bahkan bobrok banget, tapi bukan berarti gue nggak tahu hukumnya ngeganggu istri orang yah." Clovis nampaknya salah paham dengan maksud omongan Rio. Dia mengira Rio akan memberikan siraman rohani mengenai sikapnya tadi yang kepergok ketahuan ngobrol dengan istri orang.
"Bawel loe ah. Baper banget! Ayok buruan keruangan gue, kalo enggak mau ikut , nyesel loh." Rio akan meninggalkan Clovis, nanti juga kalo penasaran dia nyusul, begitu kira-kira yang Rio pikirkan.
Benar saja Clovis pun menyusul Rio. " Yo, tunggu Yah! loe sengaja yah mau bikin gue penasaran. Padahal loe nggak ada yang penting yang mau loe sampein kan?" tanya Clovis dengan terus mengejar Rio yang berjalan lebih cepat dari biasanya.
"Ya terserah kalo loe tidak percaya. Kan yang nyesel juga nantinya loe, gue mah nggak ngefek loe mau balik ke, mau ikut gue. Keputusan ada ditangan loe," balas Rio dengan santai.
Namun Clovis malah semakin dibuat penasaran dengan kabar apa yang akan di sampaikan oleh Rio.
"Awas ajah nanti kalo kabarnya nggak bermutu. Gue nggak mau lagi berteman sama loe!" ancam Clovis dengan bersungut.
"Ok, tidak masalah, toh memang semua ada di tanga loe, tapi awas saja yah nanti kalo kabar ini kebalikanya,. Sangat berkualitas unggul, loe harus jadi pengasuh May selama satu bulan." Rio tentu tidak mau kalah dengan ancaman Clovis. Apalagi Rio yakin bahwa kabar ini adalah kabar yang Clovis tunggu tunggu.
"Gimana ngasuh May, gue punya anak ajah belum yang ada May yang ngasuh gue," oceh Clovis, sekarang mereka sudah ada di ruangan Rio.
"Udah buruan loe mau ngomong apa! Gue sibuk banget nih, jadi ayo buruan kamu ngomong!" titah Clovis yang berlaga sok sibuk banget.
"Orang mah minum dulu Vis, ini udah main todong kabar ajah. Keselek nanti, lagian tenggorokan aus dari tadi ngoceh terius." Rio malah sengaja dilama-lamain buat ngerjain Clovis.
"Rio, loe minum di Hongkong apa? Lama banget. Ah, gue mah sebenarnya udah tahu kalo loe cuma ngerjain gue doang. Pake segala bawa nama Ipek pula. Puas kan loe. Udah berhasil ngejain gue, " sungut Clovis dia akan beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rio.
"Tadi Wahid bilang dia pengin ngobrol-ngobrol sama loe. Dia juga tahu kalo loe adalah cowok yang sudah buat istrinya gagal move on. Dia ingin bertemu dengan loe untuk membahas hubungan kalian." Rio langsung menyampaikan pesan dari Wahid, tanpa basa-basi langsung pada topik pembahasan.
"Hah serius?" tanya Clovis dengan penuh tanda tanya pasalnya ia mengira kalo ini hanya akal-akalan Rio saja. Clovis bahkan seperti orang yang kehilangan banyak darah pucat dan terkaget heran sampai bengong.