Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kelaparan



"Zawa oh Zawa mari kita bersenang-senang malam ini," ucap Arzen sembari mendekatkan diri ke arah Zawa yang tengah berdiri karena bajunya yang besar membuat ia geraknya terbatas.


Arzen menekat dan justru memeluk dan menyebunyikan wajahnya di punggung leher Zawa. Sehingga Zawa mer*mang karena sentuhan bulu-bulu halus dari rambut yang ada di dagu Arzen. Bu dokter mencoba menghirup nafas dalam dan membuangnya. Agar ia tidak terpancing dulu oleh pemanasan yang Arzen berikan.


"Sayang, ayo bukain dulu zippernya, baju ini berat," rengek Zawa dengan membuat mimik wajah sesedih mungkin agar Arzen mau membantunya.


Arzen melepas pelukanya. "Kasihan juga Zawa yang keberatan pasti dengan gaun itu," batin Arzen. Ia pun langsung menarik Zawa agar duduk dipankuanya sedangkan ia duduk di bibir ranjang.


"Aawww..." pekik Zawa ketika dia merasakan benda keras menusuk di bawah sanah.


Hahaha... dalam hati Arzen tertawa renyah. "Itu yang tadi kamu bilang kecil, bu dokter," kekeh Arzen di dalam hatinya ia tahu bahwa Zawa memang mungkin tadi tengah bercanda dengan Intan, tetapi yang terpenting dia akan menghukum Zawa karena sudah berkata sembarangan, terlebih mengatainya burungnya yang kecil


"Kenapa harus di pangku seperti ini sih sayang? Kenapa nggak berdiri saja biar tidak ada yang bangun," protes Zawa yang merasa tidak nyaman dengan posisi duduknya.


"Udah mau dibantu nggak? Kalo mau, udah diam cukup di nikmatin saja." Arzen tidak mau dengar penolakan dari Zawa.


Namun sudah lama Zawa duduk di pangkuan Arzen, belum juga suaminya membantu membukakan Zipper yang dikatakan Intan lalu buat apa Arzen malah mematung. "Sayang kamu ini kenapa malah tidak buru-buru membuka zippernya aku udah gerah pengin mandi." Zawa lagi-lagi protes itu semua karena Arzen yang sangat menyebalkan, justru menatap Zawa dengan lapar.


"Oh... sorry aku lupa abisan punggung kamu itu bagus banget, aku jadi nggak sabar pengin buru-buru menikmatinya," Arzen terus saja mengoda Zawa sehingga ia tersenyum dalam rasa malu-malu.


Arzen yang kasihan karena Zawa sudah kegerahan sehingga ia pun akhirnya segera membukakan zippernya. Dengan gerakan di bikin sepelan mungkin Arzen menarik zipper ke bawah. Dan....terpampanglah punggung mulus Zawa yang sejak tadi mengganggu pikiran Arzen. Rasanya pengin ia melahap istri barunya sekarang juga, tetapi Arzen bertekat tidak akan buru-buru ia akan menggunakan waktunya dengan sebaik mungkin dan tidak akan bermain dengan cara menyakiti istrinya.


Cup... Arzen mengecup punggung mulus istrinya yang sangat menggoda. Seolah melambai-lambai ingin di kecup.


Bushhh... wajah Zawa memerah dan mere-mang seketika tubuhnya di kala Arzen mengecup bagian sensitif'nya.


"Sayang aku mau mandi dulu yah, terima kasih untuk bantuanya," ucap Zawa buru-buru bangun dari duduknya dan segera masuk ke kamar mandi. Suaminya sampai geleng-geleng kepala dengan Zawa yang siang tadi seolah menantang tetapi giliran udah sampai malam tiba malah seolah ketakutan.


Sedetik kemudian Arzen tertawa, "Hahaha... bukanya tadi Zawa masuk kamar mandi nggak bawa pakaian," batin Arzen sembari tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi nanti melihat istrinya dengan hanya berbalut handuk yang minim. "Ah... otak ini kenapa bisa semesum ini sih, ini semua gara-gara pengaruh dari empat penjahat kelamin itu, otak suci gue jadi ternodai," gerutu Arzen yang kembali ke mode kalem, dan menyalahkan ke empat sahabatnya.


Terlebih tadi Abah juga sudah menasihati hendaknya melakukan malam pertama sesuai yang islam ajarkan. "Aku nggak boleh ngikutin nafsu syetan, aku harus menuntun Zawa untuk mengikuti sesuai ajaran islam. Aku imam bagi dia jadi aku harus bisa membawa dia kejalan yang lebih baik lagi. Arzen pun kembali bersiap untuk membersihkan diri setelah Zawa selesai dan setelah itu mengikuti apa yang sore tadi abah ajarkan.


"Sayang... aku boleh minta tolong nggak?" Zawa dari dalam kamar mandi memanggil Arzen dengan berteriak.


"Aku nggak bawa baju ganti, tolong kamu ambilkan yah sayang," balas Zawa dengan suara lebih di pelankan.


Arzen pun terkekeh dan tentu bangga bahwa tebakanya benar, "Aku nggak tahu sayang, kamu keluar ajah ambil sendiri lagian kita udah halal nggak bagus kalo kamu malu-malu," balas Arzen sengaja agar ia bisa melihat wajah Zawa yang malu-malu dan bikin c*ndu.


Benar saja tidak lama kemudian Zawa pun keluar dengan handuk kecil di kepalanya dan hanya memakai bathrobe berwarna putih.


Gleeggkkk... lagi-lagi Arzen menelan ludahnya. Benar-benar godaan sekali, Arzen berusaha menyadarkan lamunanya, niatnya mengerjai Zawa malah dia yang berkali-kali terhipnotis dengan tingkah istrinya. Arzen pun buru-buru memasuki kamar mandi dan membersihkan diri dan segera mengikuti apa yang Abah ajarkan. Arzen memang masih banyak membutuhkan bimbingan seperti yang Abah lakukan. Beliau guru yang tidak pernah lelah mengingatkan muridnya agar selalu berada di jalan'Nya.


Ada rasa bangga dan bahagia masih selalu diingatkan oleh beliau padahal Arzen sudah tidak menjadi murid beliau. Sehingga Arzen tidak merasa sendiri. Karena keluarga Ipek juga sudah menganggap dirinya keluarga.


Arzen keluar dengan pakaian yang sudah lengkap lagi-lagi sarung dan kaos oblong tipis berwarna putih menjadi andalanya. Ia meminta Zawa untuk mengabil air wudhu dan menjalankan sholat berjamaah seperti yang Abah ajarkan tadi.


Zawa pun mengikuti saja apa kata imam biar pernikahan mereka berkah. Setelah melaksanakan sholat dua rakaat kini Arzen pun mendoakan istrinya dengan doa yang tidak lupa Abah ajarkan juga. Setelah semua yang abah ajarkan ia sudah amalkan.


Arzen merapihkan peralatan sholat begitu pun dengan Istrinya merapihkan semua peralatan masing-masing.


Ada kebisuan di antara mereka bingung mau mengobrol apa karena semua sudah di lakukan kini tinggal waktunya menunggu menuju puncak.


"Sayang kamu lapar nggak sih? Kok aku lapar yah," ucap Zawa sebari mengelus perutnya.


Arzen melihat jam di pergelangan tanganga. "Udah mau jam sebelas yank, laper banget yah?" tanya Arzen yang lupa memang mereka belum makan lagi terakhir makan waktu make up itu pun hanya sedikit.


Zawa mengangguk dengan wajah dibikin masam.


"Ya udah kita pesan ajah yah, kayaknya kalo cari di luar juga percuma yank, karena ini udah malam. Kamu mau makan apa biar aku pesankan?" tanya Arzen sembari menekan nomor pelayan hotel untuk memesan makanan buat mereka.


Zawa pun dengan wajah gembiranya menyebutkan makanan yang ingin ia makan. Arzen sampe kaget, mendengar jejeran nama makanan yang Zawa tulis di kertas memo.


"Bener-bener bu dokter mau setok energi buat lembur ini mah," batin Arzen tetapi tetap dipesankan. Buat jaga-jaga juga siapa tahu tengah pertempuran energi habis bisa langsung di isi lagi. Arzen terkekeh dengan fikiran konyol'nya....