
Rio dengan tubuh sempoyongan keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah sakit. Rasanya tubuhnya sudah seperti melayang. Cobaan bertubi-tubi, emosi yang terus terpancing, istirahat yang sangat kurang membuat tubuhnya lemas. Dari kemarin malam sampai saat ini dia belun sesuap pun tubuhnya masuk makan, sehingga badanya menjadi lemas.
Rio mencoba tetap kuat ia akan melihat Ody, namun ditengah lorong rumah sakit, pandanganya sudah gelap dan kepalanya tiba-tiba berdenyut.
Booookkkk... tubuh Rio jatuh kelantai rumah sakit kebetulan saat itu lorong yang Rio lewati tidak terlalu ramai.
Seketika itu terjadi kepanikan di sana. Rio langsung diboyong ke ruangan khusus petinggi rumah sakit, dan langsung mendapatkan pertolonga. Setelah menjalani beberapa tes, Rio dipastikan hanya butuh istirahat. Sementara Mamih tengah istirahat di rumah Rio, dan Ka Luna beserta Mbok Karti dan beberapa asisten rumah tangga di rumah Mamih tengah mempersiapkan acara pengajian buat Baby Angel di rumah Rio.
Ody di rumah sakit pengawasanya di serahakan pada dokter Intan dan dokter Rio. Mereka yang mengawasi perkembangan Ody. Terlebih Rio yang justru ikutan drop dan sepertinya Rio juga tertekan mentalnya karena meninggalnya buah hatinya. Sehingga rasa bersalah terus menghantuinya.
Setelah melewati masa kritis, hari ini kondisi Ody terus membaik. Intan yang tengah menemani Ody pun merasakan jari tangan Ody bergerak.
"Ody... Alhamdulillah... Ody... kamu sadar Ody?" Intan sangat senang pasalnya ia sejak kemarin ikut bersedih menyaksikan Ody lemah seperti ini. Ody yang biasanya rame dan selalu ceria justru menerima nasib seperti ini. Intan juga sangat kesal dengan Rio, Intan tidak menyangka Rio tega melakukan itu pada Ody.
Ody mengerang merasakan sekujur tubuhnya yang terasa sakit, dan kepala yang berat. Ia menyesuaikan cahaya yang menembus retina matanya. Ody mencoba mengingat ingat apa yang terjadi pada dirinya, tetapi semakin ia mencoba mengingat semakin sakit kepalanya.
Dahi Ody mengernyit mana kala melihat seisi ruangan yang penuh dengan peralatan medis.
"Dok memang apa yang terjadi dengan saya?" tanya Ody dengan suara sangat lemah.
"Apa kamu beneran tidak mengingat apa pun yang terjadi sama kamu dimalam kemarin?" Intan kembali bertanya untuk mengetes memory Ody.
Ody diam sejenak, ia kembali mencoba mengingat apa yang terjadi dengan dirinya di malam kemarin. Kali ini Ody sedikit mengingat kejadian demi kejadian kemarin malam.
"Mas Rio." Ody mengingat Rio yang meninggalkannya. "Bayiku." Ody kembali mengingat kejadian ia tertabrak.
Ody meraba perutnya dengan tangan bergetar.
"Rata!" batin Ody
"Kemana anakku Dok?" Ody sudah mulai sepenuhnya mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Intan bingung akan menjawab apa. Sebab cepat atau lambat Ody juga akan tau bahwa buah hatinya sudah di surga.
"Dy, tolong tenang! Semuanya akan baik-baik saja, yang terpenting kamu tenang dan jaga emosi kamu. Kamu baru sajah sadar dan bangun dari koma. Jadi kamu nggak boleh kaya gini." Intan mencoba menenangkan Ody, ia memeluk Ody dengan hangat, dan Ody pun sedikit lebih tenang.
Intan akan menceritakan semuanya, tetapi tidak sekarang. Kondisi Ody masih sangat lemah
"Ody kamu lebih baik pikirkan kesehatan kamu dulu, kamu itu masih sangat lemah dan ringkih. Gimana kamu mau merawat anak kamu kalo kamu sajah sangat ringkih seperti ini." Intan mencoba mengalihkan pertanyaan Ody. Intan tahu, sebenarnya Ody sudah memiliki firasat yang buruk.
"Dok, apa dokter Intan mengira saya lemah? Sehingga dokter takut kalo menceritakan yang sesungguhnya terjadi saya akan pingsan dan kembali koma?" Ody terus medesak Intan agar mau menceritakan yang semua terjadi.
Intan semakin dibuat bingung. "Kenpa tidak ada yang kemari? Setidaknya ada keluarga Rio yang datang kesini satu orang sajah," batin Intan Intan takut akan salah bicara dan mengakibatkan situasi semakin meburuk dan ia disalahkan lagi. Terlebih terlalu banyak kejadian buruk yang menimpa keluarga Rio.
"Jadi benar kan Dok, apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi?" Ody kali ini mulai terisak semakin kencang.
Intan hanya bisa memeluk Ody untuk memberikan kekuatan. Ody butuh bahu untuk bersandar dan seseorang yang saling menguatkan. Intan tanpa sadar ikut manangis membayangkan kejadian buruk seperti Ody menimpanya.
"Aku benci sama Rio, aku benci Dok, gara-gara dia hidupku hancur. Gara-gara dia aku kehilangan anakku. Kenapa dia jahat sama aku Dok? Apa salah aku?" Ody meluapkan kekesalanya.
"Sabar sayang, aku akan selalu dipihakmu. Dari dulu sampai sekarang aku tetap temanmu dan kamu boleh meminta bantuan apa pun dari aku." Intan selalu ada di pihak Ody. Karena Intan lebih tau gimana perjuangan Ody sampai ditahap ini. Dan lagi karena kemarahan Rio, Ody kembali mendapatkan ketidak adilan.
"Dok, apa anak aku benar-benar sudah meninggal? Tolong jawab aku Dok! Aku butuh jawaban yang pasti. Aku pasti kuat Dok." Ody terus menekan Intan. Padahal Ody sudah menebak bahwa anaknya sudah meninggal. Namun, Ody juga masih berharap bahwa Intan berkata tidak.
Intan menunduk dan tidak bisa menjawab.
"Dok, apakah diamnya Anda adalah jawaban dari iya?" Ody terus menekah Intan.
Intan mengangguk dengan lemah.
Tangisan kembali terjadi, kali ini Ody benar-benar menjerit manakala ketakutanya menjadi kenyataan. Intan terus memeluk Ody dan menguatkanya.
"Sayang, sabar yah. Semua ini pasti ada hikmahnya. Alloh tidak mungkin memberikan cobaan yang diluar batas kemampuan umatnya." Intan selalu membisikan kata-kata yang menguatkan untuk Ody.
"Apa aku terlalu buruk untuk menjadi seorang ibu Dok? Sampai-sampai Tuhan tidak percaya menitipkan anak padaku?" tanya Ody dengan suara sangat lemah.
"Bukan terlalu buruk sayang. Kamu jangan berfikiran seperti itu. Tuhan pasti sangat sayang sama anak anak kamu, dan ingat anak kamu sudah ada di surga." Intan sangat bingung ketika Ody bertanya begitu. Ia takut salah jawab, sehingga membuat Ody semakin terpuruk.
"Aku mau berpisah dengan Rio Dok. Aku sudah nggak kuat kalo harus hidup dengan dia. Penikahanku terjadi karena kehadiran anakku dan sekarang anak itu sudah berada di surga jadi aku mau kita pisah. Tolong bantu aku untuk lepas dari Rio." Ody memohon pada Intan dengan sangat bersungguh-sungguh.
"Ody kamu juga harus tau kondisi Rio sekarang seperti apa. Kamu jangan gegabah. Rio juga batinya tertekan. Dia jauh lebih bersedih, dia merasa bersalah dan dihantui oleh bayang-bayang penyesalan. Bukan aku berpikak pada Rio. Namun kondisi saat ini sedang tidak memungkinkan untuk membahas ini. Ody dan Intan saling menguatkan.