Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kecurigaan Rio



"Mas Doni, Cindi," panggil Ody, yang mengenali mereka berdua. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu sejak lama, yaitu bertemu mantan tunanganya dan mantan sahabatnya yang telah menghianati dia.


"Ody," jawab mereka hampir bersamaan.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Cindi, sembari melihat-lihat disekeliling Ody. Sementara Doni diam mematung memperhatikan Ody, perasaan menyesal dan bersalah menghampiri Doni. Terlebih ia masih sangat mencintai Ody, hanya karena kesalahanya bermain api dengan Cindi, sehingga ia harus merelakan Ody, dan menyakitinya.


"Kebetulan kita ketemu disini, ada yang aku ingin bicarakan," balas Ody, tidak menjawab pertanyaan Cindi. "Mas Doni, dan kamu Cin, kita cari tempat ngobrol. Karena ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada kalian," ujar Ody dengan nada tegas dan tanpa bertele-tele.


"Disana sajah yank," ucap Rio sembari menunujuk salah satu cafe yang berada di mall tersebut. Lalu Rio pun menggandeng tangan Ody dengan mesra.


Doni dibelakang, memperhatikan Rio dan Ody tak berkedip, ada rasa cemburu yang membakar hatinya.


Cindi yang paham betul dengan sikap Doni, langsung mencubit pinggang suaminya itu. "Terus ajah diliatin sampe nggak kedip begitu," bisik Cindi dengan suara sepelan mungkin. Doni pun mengrejapkan kedua matanya, menyadarkan perasaanya, bahwa ia sudah memiliki seorang istri dan anak laki-laki yang harus ia jaga. Bukan memikirkan mantanya.


Akhirnya Doni mengikuti Ody dan Rio menuju cafe pilihan Rio, sementara Cindi pun dengan enggan akhirnya mengekor juga dibelakang mereka. Rio dan Ody duduk bersebelahan begitupun Cindi dan Doni duduk berhadap-hadapan dengan Rio dan Ody.


Rio mewakilkan semua memesan minim, sementara Ody sedari tadi menatap pasangan suami istri yang berada dihadapanya.


"Mas Doni, dimana Mas menyimpan surat tanah itu. Mas Doni tau kan gimana susahnya Ody mengumpulkan uang-uang itu, tapi kenapa sampai sekarang Mas seolah menghilang dari Ody dan ingin menguasai uang Ody?" tanya Ody dengan suara bergetar menahan tangis campur rasa kecewa di dadanya. Sudah lama Ody menginginkan momen pertemuan ini, sehingga ia bisa secara langsung meluapkan kekecewaanya dengan mantan tunanganya itu.


"Sebelumnya aku minta Maaf De, tapi Mas juga nggak tau ada di mana surat tanah tersebut. Andai Mas tau pasti Mas sudah kasihkan sama Bapa dan Ibu untuk segera menjual rumah itu, dan mengembalikan uang kamu," jawab Doni denga suara bergetar menahan perasaan bersalahnya.


"Bohong!!" geram Ody.


"Sebentar." Rio menyetop Ody yang akan menyangkal ucapa Doni. "Bang sepertinya Anda harus ganti panggilan Anda terhadap istri saya. Saya tidak terima apabila istri saya Anda panggil dengan sebutan De," Protes Rio dengan wajah dinginya menatap Doni.


Yah, Doni tanpa sadar masih menggunakan pangilan kesayanganya dulu ketika mereka menjalin hubungan.


Sementara Ody diam sajah, tentu merasa bangga karena Rio pun ikut keberatan dengan panggialan itu. Ody pun merasa hal yang sama dengan Rio, risih dengan panggilan kesayanganya itu.


"Maaf Bang, saya khilaf, dan tanpa sadar mengucapkan itu," jawab Doni merasa bersalah. Doni tentu kaget kapan Ody menikah dan dari mana ia bisa mendapatkan suami yang terlihat sangat menyayangi mantan tunanganya itu.


"Cih tanpa sadar, seharusnya Anda juga jaga dong, gimana perasaan istri Anda ketika mendengar suaminya masih memanggil 'M-A-N-T-A-N' tunanganya yang telah dihianati, dengan pangilan kesayangan kalian dulu," ucap Rio yang menekankan kata mantan disetiap hurufnya.


"Sebenarnya ini bukan urusan saya dan hak saya untuk ikut campur dengan masalah kalian ini, tapi berhubung istri T-E-R-C-I-N-T-A saya lagi mengandung buah cinta kami, dan tidak boleh terlalu setres. Jadi biar saya yang mewakilkan istri saya untuk meminta hak istri saya, yang seharusnya sudah Anda kembalikan dari beberapa bulan yang lalu," cecar Rio seolah ingin memanas-manasi Doni. Rio dengan sengaja menekan kata tercinta. Tentu dari tatapan matanya sajah Rio sudah paham betul bahwa Doni masih sangat mencintai Ody. Namun Rio juga bisa melihat, dari tatapan Cindi yang sangat tidak suka dengan Ody. Sehingga Rio lebih curiga dengan gerak gerik Cindi yang seolah menyimpan banyak kebohongan.


Ody hanya duduk bersandar di samping Rio, karena tugasnya sudah diambil alih oleh suaminya itu, sehingga ia tidak terlalu harus emosi untuk meluapkan kekecewaanya. Ody berusaha bersikap santai dan tenang. Tanganya pun tak lepas mengusap-usap perutnya untuk menenangkan buah hatinya. Yang seolaha tau kondisi sedang kurang menyenangkan, sehingga sejak tadi sang baby bergerak aktif di dalam perut bundanya.


"Iya Bang, tapi saya benar-benar minta maaf dan berkata jujur bahwa, saya sudah mencari kemana pun surat tanah tersebut. Namun, sampai sekarang kami belum menemukanya. Bukan saya tidak mau mengembalikan hak Ody. Aku pun kasihan dengan dia, aku tau betul gimana susahnya mengumpulkan rupiah di negara orang. Sumpah aku pun sangat ingin secepatknya menyelesaikan masalah ini." Doni dengan yakin dan bergetar mencoba meyakinkan Rio.


"Lalu rencana kalian apa, sepertinya kalian justru santai sajah dan seolah lepas tangan dengan kasus ini," balas Rio terus mencecar pertanyaan kepada Doni.


"Kami masih terus mencari surat tanah tersebut," jawab Doni lesu, sementara ia sendiri sudah tau jawabanya bahwa surat itu telah hilang entah dimana.


"Cari kemana? Apa Anda sudah periksa orang-orang terdekat Anda?" tanya Rio lagi dengan melirik kearah Cindi. Kebetulan Cindi yang saat itu juga akan melihat kearah Rio sehingga bertemu pandangan, dan dengan tiba-tiba Cindi memutus pandanganya seolah menyembunyikan kegugupanya. Dari sikap Cindi barusan Rio sangat yakin bahwa ada campur tangan Cindi dihilangnya surat tanah Doni.


Rio tentu tau mana orang yang berbuat curang dengan orang yang berkata jujur. Pengalamanya berbisnis dan banyak bertemu dengan orang-orang penting banyak mengajarkan dia memilih calon infestor yang jujur dan yang tidak.


"Keluarga saya nggak mungkin melakukan itu semua bang, justru orang tua kami pun ikut malu, dengan kasus kami," Doni semakin murung dengan jawabanya, dia sangat tidak ada muka lagi dihadapan Ody.


"Kalo orang tua Anda tidak mungkin, gimana dengan istri Anda? Apa dia juga tidak pantas Anda curigai?" tanya Rio dengan nada menyindir dan tatapan kembali mengamati gerak-gerik Cindi.


Benar sajah Cindi semakin gelisah, ketika mendengar Rio menyebut namanya dalam obrolaan dengan Doni.


"Sial nih orang, sepertinya dia mencurigai aku, umpat Cindi di dalam hatinya. "Aku harus hati-hati dengan suami Ody ini, sepertinya dia bukan orang sembarangan." imbuh Cindi sembari diam-diam mengamati Rio.


...****************...


Sembari menunggu rencana Cindi untuk mengelak tuduhan Rio, yuk teman-teman mampir ke karya bestie Author namanya ka Tita Dewahasta judul karyanya "Kembali Kemasa SMA" seru yah dari judulnya ajah sudah menyenangkan sekali ketika ada kesempatan buat kembali ke masa paling menyenangkan itu...


Kuy kepoin langsung cari dilaman pencarian, dan baca tekan fav, like dan comen...