
Setelah Clovis belajar sholat malam dengan Arzen kini ia mengikuti saran dari Arzen meminta Ipek di sepertiga malam. Cara terakhir yang bisa Clovis lakukan sebelum janur kuning melengkung, dan juga usaha yang Clovis bisa usahakan untuk mengambil hati sang pemilik sesungguhnya. Barangkali sesuai yang Arzen ajarkan. Apabila ingin memdapatkan hambanya maka dekati dulu penciptanya.
Kini Clovis bukan lagi Clovis yang dulu yang sering nungkrong dengan orang-orang yang pergaulanya tidak pernah terarahkan. Namun Clovis yang sekarang justru berteman dan berkumpul dengan orang-orang yang banyak memberikan motifasi dan sering mengikuti pengajian. Dan dia pun kini sudah iklas dengan keputusan Abi dan bener-benar sudah memasrahkan semua jalan jodohnya pada Allah.
Di tempat yang berbeda hari ini adalah hari pertunangan Ipek dan Eric, tetapi karena Umi dan Ipek yang tidak setuju dengan acara perjodohan itu Ipek memutuskan tidak menemui calon suminya itu. Bukan karena tidak sopan dan lain sebagainya tetapi karena Ipek sudah lelah berontak dengan keputusan Abi. Di dalam kamar Umi dan Ipek saling bertukar cerita sajah dan Itu mereka habiskan untuk saling bercerita. Sampai tamu pada keluar dan Umi akan mencoba berbicara lagi dengan Abi.
"Sayang, sepertinya tamu Abi kamu sudah pada pulang. Umi mau coba ngomong sekali lagi sama Abi kamu, barangkali dengan usaha sekali lagi sifat Abi kamu bakal luluh," ucap Umi sama putrinya yang sejak tadi tampak murung dan pucat.
Ipek hanya mengangguk dengan sedih. "Iya Umi, tapi kalo nanti Umi juga tidak berhasil bernegosiasi dengan Abi gimana? Apa itu tandanya Ipek akan tetap menikah dengan laki-laki pilihan Abi. Apa itu tandanya Ipek benar-benar tidak dikasih kebahagiaan sama Abi?" tanya Ipek dengan wajah penuh kesedihan.
"Hey kamu jangan bicara seperti itu sayang, kita tidak boleh menyerah yah, kita harus berusaha dengan bersungguh-sungguh semuanya pasti akan dapat solusinya yah. Pasti akan ada jalan, dan kita tidak boleh menyerah, ok. Kalo gitu Umi pamit dulu yah sayang. Semoga Umi nanti membawa kabar bahagia yah." Umi pun langsung bergegas akan menemui suaminya. Dan tentunya dengan harapan yang besar agar suaminya bisa luluh hatinya.
"Baik Mi, terima kasih yah Umi sudah berusaha mengerti perasaan Ipek. Dan mau cape-cape dan susah payah membujuk Abi demi kebahagiaan Ipek. Semoga Abi mau mendengar nasihat Umi Yah," jawab Ipek sebelum Umi benar-benar pergi.
Ipek di dalam kamarnya hanya bisa berdoa dengan bersungguh-sungguh agar usaha Umi membuahkan hasil yang muaskan dan tentunya tidak membuat kekecewaan seperti biasa-biasanya.
Umi pun sama dalam hatinya tidak ada henti-hentinya berdoa, agar usahanya bisa membuahkan hasil tidak membuat kecewa untuk kesekian kalinya. Namun, apabila kali ini Umi gagal lagi untuk berbicara baik-baik dengan suaminya itu. Maka Umi jalan terakhirnya akan meminta bantuan dengan Abah, dan Ambu. Umi tahu bahwa keputusan ini hanyalah keputusan suaminya saja. Bahkan Abah dan Ambu, Umi yakin tidak tahu dengan rencana Abi itu.
Umi menghampiri Abi yang tengah menonton acara televisi seorang diri. "Bi, Umi mau berbicara sekali lagi, tolong Bi kali ini Abi dengarkan apa yang Umi bicarakan. Semua demi putri kita. Abi kalo sakiti Ipek seperti ini secara terus menerus bukan hanya Ipek yang sakit dan, tetapi Umi yang sudah melahirkan Ipek juga sakit Bi, Umi merasa Abi itu seperti memaksakan keinginan Abi tetapi tanpa Abi sadari. Abi sudah menyakiti Ipek dan Umi, wanita yang sudah melahirkan Ipek." Umi terisak sedih, baru kali ini Umi pun merasakan rasa yang sesedih ini. Baru kali ini Umi berbicara dengan laki-laki yang sudah tiga puluh tahun lebih memperistri dirinya dengan menangis sedih. Padahal biasanya mereka adalah pasangan yang romantis bahkan dulu banyak yang iri dengan perlakuan Abi terhadap Umi, tetapi kali ini Abi justru membuat wanita yang digadang-gadang paling dicintainya menangis haru.
"Umi, sebenarnya Abi tidak mau membocorkan rencana ini sama Umi, tapi biar nggak berlarut dan salah paham terus menerus baiklah Abi akan mengatakan kenapa Abi tetap bersikeras dengan rencana Abi dan membiarkan kalian bersedih. Jujur hati Abi pun sama sakit melihat kalian seperti ini. Namun apa salahnya Abi mengetes kekuatan cinta mereka. Apakah Clovis benar-benar sayang dengan Ipek atau hanya terobsesi karena sekarang Ipek sudah cantik dan memiliki badan yang bagus. Bukan Ipek yang dulu lagi, yang jelek dan gendut." Abi lalu mendekat kearah Umi dan membisikan sesuatu ketelinga Umi dan tentu Umi langsung melebarkan kedua bola matanya kaget sekaget-kagetnya. Karena suaminya memiliki ide gila itu.
"Abi kenapa Abi sampai memiliki ide konyol seperti ini. Ini bukan alasan Abi saja kan karena ingin Umi tidak marah lagi dan tidak tidur di kamar Ipek lagi kan?" tanya Umi dengan suara menyelidik dan tentu tidak percaya begitu saja apa yang Abi katakan.
"Buat apa Abi bohong Umi. Apa Abi terlihat berbohong dengan semua yang Abi katakan barusan?" tanya Abi dengan serius.
"Siapa saja yang tahu rencana Abi?" tanya Umi dengan nada penuh kecewa.
"Semuanya," jawab Abi dengan sedikit rasa takut karena Umi yang sangat terlihat kecewa.
"Anak laki-laki kita tahu dengan rencana Abi?" tanya Umi lagi, dengan penuh selidik.
Abi hanya mengangguk dengan lemah dan pasrah. sementara Umi langsung membaca sholawat berkali-kali karena merasa dipermainkan oleh suaminya itu.