Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kedatangan Tamu



Ipek di dalam kamarnya merasa lega, karena ternyata kemarahan Ody tidak sampai menimbulkan perang dunia ke tiga.


"Huh... akhirnya Mba Ody nggak sampe ngamuk-ngamuk, paling kuping ajah ini panas," kekeh Ipek sembari mengusap kuping sebelah kirinya. "Ternyata sebegitunya Mba Ody peduliin aku, gimana kalo nanti aku tiba-tiba ninggalin Mba Ody yah," batin Ipek seorang diri, ada rasa berat ketika nanti ia akan meninggalkan sahabatnya itu.


****


Seminggu telah berlalu, dan kini vidio yang Ipek minta, sudah jadi. Kini Tama sengaja datang ke rumah Ipek untuk memperlihatkan hasil kerjanya, dan mendapatkan penilaian dari bosnya.


"Sayang, di bawah ada Tama, katanya pengin ketemu sama kamu." Umi memanggil Ipek yang tengah menonton drakor (Drama Korea) kesayanganya.


"Oh iya Mi, nih Ipek siap-siap. Nanti langsung turun. Bilangin sama Tama tunggu sebentar yah," ucap Ipek sembari bergegas merapihkan rambut dan pakeannya yang lusuh karena terlalu lama rebahan.


"Nak Tama, Ipeknya lagi siap-siap dulu, biasa anak itu mah kalo di rumah penampilanya kaya gembel," ucap Umi sembari berbisik siapa tau Ipek mendengarnya kan jadi berabeh, ngamook nanti dia dikatain gembel.


"Oh nggak apa-apa Umi, lagian Tama juga lagi nggak ada kerjaan. Jadi santai ajah."


"Ngomong-ngomong mau minum apa biar Umi buatkan?" tanya Umi dengan lembut.


"Apa ajah Umi," jawab Tama dengan singkat, nggak enak juga kan kalo riquest minuman, nanti dikira tamunya ngelunjak, alias nggak tau diri.


"Baiklah Umi buatkan minuman dulu yah." Umi pun meninggalkan Tama di ruang tamu, sementara beliau menyiapkan minuman buat tamu putrinya.


"Nunggu lama yah Ma?" tanya Ipek yang baru sajah datang dengan penampilan lebih rapih.


"Enggak, baru ajah datang, ngomong-ngomong Zain sama Yan kemana? Kaya nggak pernah kelihatan?" tanya Tama yang memang mereka itu sebenarnya teman sekolah Abang Ipek yaitu sikembar Zain sama Zayan.


"Oh... mereka kan ngurus bisnis yang diluar negri. Denga kata lain mereka berdua di ekspor keluar negri jadi jarang pulang ke Indo," kekeh Ipek, "Kalo Bang Amar sudah nikah, tidak tinggal disini lagi. Dan Bang Maher biasa sibuk kerja," jawab Ipek dengan menekuk jari-jarinya menghitung Abangnya yang berjumlah empat orang.


"Oh.. pantes sepi banget perasaan rumah, berati yang tinggal disini kamu sama Maher ajah nih?" tanya Tama kepo.


"Iya... sama Umi sama Abi berempat," imbuh Ipek, dengan logat bercandanya.


"Eh kalo itu mah udah pasti kan ini rumah mereka," kelakar Tama.


"Nah, tuh Ipek udah datang," ucap Umi sembari menyuguhkan minuman dan beberapa cemilan buat suguhan Tamu Ipek.


"Yah Mi, ko minumanya cuma satu," protes Ipek, yang melihat Uminya membawa minuman hanya satu gelas.


"Yeh, emangnya kamu tamu. Ambil sendiri lah," ledek Umi, mengajarkan anaknya biar mandiri.


"Yah, kirain. Sekali-kali Mi," cicit Ipek sembari memanyunkan bibirnya.


"Nggak ambil sendiri! Udah gede jangan dibiasain males sama ogohan." Umi memang begitu mengajarkanya selalu mandiri.


"Ya udah entar dulu yah Ma, aku ambil menum dulu." Ipek meninggalkan Tama bersama Umi dulu untuk mengambil minuman buatnya sendiri.


"Nak Tama, Umi juga masuk dulu yah, ada kerjaan dikit," ucap Umi sembari mengundurkan diri.


"Iya Min, silahkan," balas Tama dengan ramah.


Tidak lama Ipek kembali dengan minuman segarnya. "Gimana Ma, udah selesai," tanya Ipek dengan suara kecilnya.


"Boleh, Umi udah pergi kan?" tanya Ipek, tentu takut kalo Uminya masih ada dan tau vidio itu dikira benaran bisa-bisa Ipek dicoret dari kartu keluarga lagi.


"Udah pergi, tadi sih bilang ada kerjaan," jawab Tama menirukan perkataan Mamih.


Ipek pun dengan tidak sabar meraih ponsel Tama, dan mulai memutar vidio HS yang Tama bikin.


"Astagah Tama, mata gue ternodai," pekik Ipek sembari mem'pause vidionya dan menutup matanya dengan sebelah tangan kirinya.


"Haha ya kan gitu emang kalo vidio HS, biar lebih natural dan seolah memang diambil dari CCTV yang sengaha diambil dari sudut ruangan.


"Sumpah Tama, andai vidio ini sampe tersebar mam'pus gue disidang satu kabupaten dan siap-siap dicoret dari KK keluarga gue," keluh Ipek dengan menggeleng-gelengakan kepalanya.


"Jadi gimana nggak jadi dilanjuti rencana loe? Masalah kalo tersebar gampang Pek, kita tinggal jelasin bahwa vidio itu hanya editan," ujar Tama meyakinkan Ipek.


"Lanjut lah, gue udah ngeluarin banyak uang buat vidio ginian doang," dengus Ipek, "Tapi loe janji, bantuin gue jelasin semuanya kalo terjadi masalah nanti," pinta Ipek pada Tama.


"Iya-iya dari awal juga gue udah bilang iya bantu, berati gue bantu sampai akhir dong, gue nggak akan lari dari tanggung jawab Pek, ingat itu," balas Tama dengan yakin.


Ipek pun melanjutkan melihat vidio rekayasa itu dan untuk keseluruhan Ipek sangat puas dengan hasil kerja Tama, karena dari vidio itu sama sekali tidak terlihat cacat editanya benar-benar mulus sehingga sangat sama dengan vidio asli yang sengaja diambil dari kamera yang diletakan dari sudut ruangan.


"Ok, kerja loe memang nggak pernah diragukan lagi, selalu perfect," ucap Ipek sembari menunjukan jari jempolnya sebagai tanda kepuasan dengan kerja Tama.


Ipek pun meminta vidio dikirim k ponselnya karena ia akan mengirim ke Arzen, agar dia segera menunjukan pada Clovis bahwa Arzen lah pemenang dari sayembara itu, dan orang-orang yang mengejar-ngejar Ipek untuk memenangkan sayembara sudah berhenti.


"Rasanya gue udah nggak sabar pengin keluar rumah, jalan-jalan dan telaktir Sami sesuai janji gue," gumam Ipek sembari membayangkan ia berbelanja ria dengan bebas tanpa ada lagi orang-orang suruhan Clovis yang ngintilin dia.


Setelah urusan selesai Tama pun pamit undur diri dan Ipek pun langsung kembali ke kamarnya guna menghubungi Arzen.


" Zen vidio udah ada sama gue mau langsung dikirim atau gimana?" Begitu kira-kira pesan yang Ipek kirim untuk Arzen.


Kebetulan disebrang sana Arzen tengah memainkan ponselnya karena ia juga tengah bertukar kabar dengan sang ayang, Zawa.


Begitu Arzen memaca WA dari Ipek ia pun langsung membalasnya.


"Boleh Pek, makin cepat urusanya makin bagus," balas Arzen.


Ipek yang membaca pesan dari Arzen pun langsung mengirimkan vidio rekayasa HS mereka.


Arzen pun membuka vidio itu ketika sudah masuk diponselnya.


"Gila ini vidio kenapa jadi gini banget, perasaan kemarin pegang-pegang ajah enggak deh," gerutu Arzen yang telah selesai melihat vidio itu. Ini sih si Tama jago edit banget sampe kelihatan natural dan asli.


Arzen pun langsung mengambil poselnya dan berkirim persan pada Clovis.


"Nanti malam gue ke apartemen loe, siapkan sisa pembayan yang lima ratus juta, cash!!" Arzen tanpa basa basi langsung pada tujuanya.


Arzen pun tersenyum, membayangkan ia akan mendapatkan uang kembali, dengan nominal yang besar.