Beauty Clouds

Beauty Clouds
Gibah Secara Terang-Terangan



Arzen akan mengantarkan sahabatnya itu pulang ke apartemenya, tetapi....


"Gue malam ini ngenep di rumah loe, boleh nggak?" tanya Clovis tetapi pandanganya tidak berpaling, laki-laki yang sudah berumur berkepala tiga itu masih asik menatap ramainya jalanan ibukota.


Arzen menatap Clovis, dan tersenyum ringan. "Memang kenapa nggak boleh, alasan apa yang pantas aku gunakan untuk menolah sahabatku ingin menginap di rumahku. Bukankah itu justru kabar yang bahagia, aku bisa menghabiskan malam untuk bertukar cerita. Kamu sudah tahu kan kalo sudah berumah tangga, waktu nongkrong sangat sulit. Tetapi kalo nongkrong di rumah pasti Zawa tidak akan keberatan bukan," jawab Arzen dengan nada yang ceria, memang begitu bukan kalo sudah menikah biasanya istri akan cemburu kalo sering-sering nongkrong sama teman. Yah, agar Clovis tidak merasa tidak enak hati karena menginap di rumahnya juga sih.


Akhirnya Clovis pun memutuskan untuk menginap di rumah sahabatnya. Sekalian belajar agama lagi. Memang Arzen pun mengakui ilmunya masih sangat cetek, tetap penjelasan yang Arzen berikan sejauh ini sangat masuk akal sehingga Clovis nyaman belajar agama dengan Arzen. Selain bisa sharing cerita yang lain, belajar sama teman juga lebih enjoy.


Zawa yang memang udah biasa apabila tidur harus di peluk sama suaminya pun malam ini belum bisa tidur. Bu dokter masih nunggu chef Arzen pulang. Mereka memang menikah sudah tiga bulan tetapi Zawa belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Zawa sebagai dokter sepesialis tentang pembuahan pun sudah mengupayakan agar apa yang ia dan suaminya kerjakan cepat membuahkan hasil. Tetapi namanya juga belum rezeki sehingga di usia pernikahan tiga bulan mereka masih menikmati pacaran yang halal.


Zawa berlari dari lantai atas di mana kamarnya berada, dan di lantai bawah klinik tempatnya ptaktek, yang selalu ramai dengan ibu hamil yang kontrol atau calon momy yang akan program kehamilan. Itu semua tidak lepas karena Zawa orang yang ramah.


Clovis turun lebih dulu dan membiarkan Arzen turun belakangan, karena harus memalkirkan mobil Clovis dulu. Zawa yang sudah tidak sabar ingin memeluk suami tampan'nya.


Kreketttt... suara pintu yang Zawa buka dan dia tanpa melihat langsung merentangkan tanganya, menandakan ia ingin segera di peluk. Clovis pun yang tengah berdiri di depan pintu terkekeh. Melihat kelakuan istri sahabatnya. Mana bibirnya manyun-manyun kaya ikan Mujaer.


Arzen yang baru keluar dari mobil dan melihat Zawa bertingkah seperti itu dihadapan Clovis sontak langaung meneriakinya. "Sayang kamu salah orang, aku disini," pekik Arzen dengan suara sedikit di besarkan.


Zawa pun langsung membuka matanya, dan melihat Clovis juga malah merentangkan tanganya. Yah, Clovis berniat ingin mengerjai istri sahabatnya itu. Lucu juga kali yah kalo Zawa di peluk oleh dirinya, pasti Arzen ngamuk-ngamuk.


Iiihhhhhh... Zawa langsung bergidig geli dengan kelakuan Clovis dan memilih lari kearah Arzen dan langsung memeluk tubuh kekar suaminya. Dan tentu langsung nemplok seperti tokek nempel di dinding. Arzen sekarang berkat rajin nge GYM di tempat Aarav ia sudah memiliki tubuh yang kekar dan tentunya sudah kuat kalo nyonyah minta gendong seperti sekarang ini.


"Bikin iri ajah terus, nggak liat apa ada yang patah hati. Kayaknya gue salah datang deh. Mau nginep di rumah pengantin baru tambah galau gue," gerundel Clovis, sembari akan berbalik badan kembali ke apartemenya sepertinya pilihan yang tepat. Dari pada liat kebucinan pengantin baru yang bikin mata ternodai.


"Hey, sabar bro. Enggak usah baper ah. Yuk masuk!!" ucap Arzen yang udah menurunkan istrinya itu dan kini mereka berjalan bergandengan seolah akan menyebrang. Atau mala takut kalo istrinya hilang di ambil orang.


"Dasar bucin kelas kerupt*r," ucap Clovis menatap jijih dengan kelakuan Zawa dan Arzen. "Ngapain juga di rumah saja harus gandeng-gandengan segala. Emang ada yang mau ambil tuh bini," dumel Clovis dengan masih menatap jengah kelakuan Zawa dan Arzen.


Clovis pun memilih rebahan di sofa menatap langit-langit rumah sahabatnya. Siapa tahu ia bisa tertidur dan melupakan apa yang terjadi dengan dirinya. Rasanya hari ini adalah hari paling buruk untuk Clovis. "Apa dulu Ipek perjuanganya untuk dapatin aku sesulit ini yah? Sampai-sampai aku rasa untuk dapatin restu dari keluarganya sebegitu sulit. Masa ia aku harus nikah lari sama dia," batin Clovis sembari memejamkan kedua bola matanya. Sembari kedua telinganya menangkap suara-suara Arzen dan Zawa yang tengah ngegibahin dirinya.


"Di tolak," jawab Arzen sembari meletakan jari jempolnya di depan bibirnya, mengasih kode agar bicaranya jangan kenceng-kenceng. Nanti yang digibahin kedengeran.


"Hah... Seiuz? Ko bisa, Ipek kan cinta banget sama dia. Kita cewek sayang bisa lihat sorotan matanya yang bilang kalo dia juga cinta dan ada harapan untuk hidup berumah tangga dengan Clovis?" tanya Zawa dengan suara yang tidak bisa di pelankan lagi.


"Zawa... kalo mau gibah, di mana-mana pas orang yang di gibahinya nggak ada. Nah kamu malah percaya diri banget ngoceh kenceng, yang digibahinya ada di depan mata. Dosa tau nggak." Clovis dengan mata tertutup menegur Zawa dan Arzen, yah biarpun sebenernya di nggak masalah sih teman-teman yang lainya tahu dengan kondisi dia yang kena tolak mentah-mentah sama Abi'nya Ipek.


Namun Clovis berusaha menerima keputusanya, mungkin memang Tuhan masih ingin menguji ke imananya. Mungkin Tuhan masih takut kalo di mudahkan jalanya sekarang dia malah jatuhnya kufur nikmat. Dan tidak mau lagi belajar ilmu agama yang lain. Karena tujuanya sudah tercapai. Itu yang Ustadz Yusuf dan Arzen katanya.


Hehehe... Zawa terkekeh dengar ucapan Clovis, tapi tak ayal pergosipanya di lanjutkan juga sayang kalo nggak dilanjutkan. Udah setengah jalan juga.


"Ya bisa, Abi'nya ngejodohin Ipek sama anak teman sahabat Abi'nya. Mana anaknya dari ilmu agama sepertinya sangat jauh dibandingkan sahabat kita. Jadi dia galau lah," ucap Arzen dengan melirik ke arah Clovis yang tengah tertidur nyenyak, mungkin tertidur, atau pura-pura tidur, pasalnya tidak terdengar lagi suaranya.


"Ya Allah... ini seriuz sayang, Ipek dijodohkan lagi. Kalian ketemu sama Ipek nggak?" tanya Zawa, dia yang cewek saja sangat tahu betul gimana sakitnya Clovis, pasti sangat hancur perjuanganganya setelah sekian lama nunggu malah dengan cewek yang diincarnya mau dijodohkan dengan orang lain.


Arzen mengeleng lemah, dan seketika itu juga Zawa menyipitkan matanya. "Jadi nggak ketemu Ipek'nya juga?" tanya Zawa lagi dengan suara yang sedikit di buat lebih pelan.


"Abinya sepertinya melarang Ipek untuk ketemu Clovis dan kita-kita. Minggu depan akan diadakan lamaran dan acara pernikahanya secepatnya juga," ucap Arzen menceritakan apa yang ia tahu dari hasil keputusan Abi'nya Ipek.


Zawa kali ini benar-benar kaget bahkan kedua bola matanya seolah akan meloncat saking kaget dengan cerita suaminya. Zawa melihat ke arah Clovis dengan iba. Yah, Clovis memang pernah memperlakukan buruk terhadap Ipek tapi kenapa seolah keluarga Ipek menghakimi Clovis yang sudah memutuskan berubah. Harusnya keluarga Ipek memberikan kesempatan untuk Clovis membuktikan niatnya dan perubahanya, jangan malah di hakimi balik. Padahal keluarga Ipek tergolong dari orang-orang yang paham agama, seharusnya tahu gimana caranya memperlakukan orang yang sudah memutuskan bertobat, dan mau memperbaiki diri. Itu yang ada dalam fikiran Zawa sangat miris dengan nasib Clovis.


Allah mencintai orang yang bertaubat. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Q.S Al-Baqarah 2:22)