
Di rumah Rio.
Ody bangun tidur lebih awal seperti biasa ia akan menjalankan sholat subuh, dan setelah itu akan membantu Mbok Karti.
"Pagi Mbok," sapa Ody dengan muka cerianya.
"Pagi Neng," balas Mbok Karti singkat.
"Mbok, Ody pengin bantuin Mbok, tapi bantuin apa yah?" tanya Ody bingung.
"Neng Ody udah izin belum mau bantuin Mbok, takutnya tuan Rio nggak ngizinin lagi. Nanti malah semuanya kena omel," saran Mbok Karti karena memang ia takut Rio ngomel.
"Nggak Mbok, masa ngomel, kan Ody mah bantuinya juga yang ringan-ringan ajah." jawab Ody nggak mau nyerah.
"Ya udah deh terserah, nanti kalo dokter Rio marah, Mbok nggak ikut campur yah." ujar Mbok Karti pasrah.
"Iya-iya santai ajah." balas Ody dengan senyum riang di wajahnya.
Ody pun mulai membatu Mbok Karti memasak, terlebih masakan Ody saat masih jadi asisten rumah tangga Rio, selalu dipuji kelezatanya oleh Rio dan Arzen.
Hari ini Ody ingin memasak sendiri buat Rio, barangkali Rio suka dan mengizinkanya untuk masak di rumah Rio lagi, jadi ia tak harus suntuk tinggal di rumah ini.
****
Sementara itu Rio yang tadi masih tertidur dengan damai, kini sudah terbangun.
"Loh aku dimana?" gumam Rio lirih dia belum sadar bahwa ia tidur dikamar Ody. "Ody!!!" teriak Rio, ia baru sadar bahwa semalam ia tidur di kamar Ody.
"Astagah, kebiasaan deh," pekik Ody ketika mendengar Rio berteriak.
Ody yang kebetulan baru selesai masak, bergegas naik, ia harus segera menemui Rio, sebelum Rio kembali berteriak.
Ody membuka pintu kamarnya secara perlahan.
"Kenapa Anda berteriak tuan?" tanya Ody ketika baru masuk ke kamarnya.
"Kenapa aku bisa tidur di kamar kamu? Apa semalam kita tidur satu ranjang?" tanya Rio dengan panik.
"Bukankah semalam Anda yang datang ke kamar saya, dan meminta saya memijit Anda, tapi malah Anda tertidur di kamar saya. Kalo harus membangunkan Anda saya nggak enak dan juga nggak tega, jadi saya biarkan Anda tidur di sini. Anda tenang sajah tuan, saya tidak tidur satu ranjang dengan Anda. Saya tidur di bawah menggunakan kasur lantai," jelas Ody, sembari memunjuk kasur lantai yang sudah ia rapihkan.
"Oh syukurlah," ucap Rio lega, setidaknya ia tidak tidur satu ranjang.
"Anda tenang sajah tuan, saya masih hapal isi perjanjian pernikahan, jadi saya nggak akan melanggar, saya takut apabila melanggar saya dihukum oleh Anda." ujar Ody sembari menunduk, hatinya tercubit apabila mengingat perjanjian pernikahan yang sudah ia tanda tangani.
Rio yang mendengar perjanjian nikah pun, merasa bersalah, terlebih di hatinya sudah ada rasa nyaman bila berdekatan dengan Ody. Namun, karena perjanjian pernikahan yang ia buat Ody terpaksa menjaga jarak denganya.
"Nanti kekamarku yah, biasa kerjaan pagi hari." ucap Rio mengakhiri obrolanya, karena merasa bersalah, akhirnya ia memilih mengakhir obrolanya.
Rio bangun, dan pergi ke kamarnya, sedangkan Ody merapihkan tempat tidur terlebih dahulu, baru menyusul Rio ke kamar.
Ody masuk ke kamar Rio, tak lupa sebelumnya mengetuk pintu kamarnya. Ody melihat Rio tengah menyandarkan kepalanya di bantal empuk dan memejamkan matanya, serta tangan yang mencoba memijit kepalanya. Bukan karena ia merasa pusing, tetapi karena memikirkan nasib perjanjian nikahnya. Rio udah mulai nyaman dengan Ody. Yang menjadi pikiran Rio juga diperjanjian nikah kebutuhan anak selama hamil dan melahirkan dibebabkan ke Ody. Pasti akan memberatkan Ody. Rio ingin mengambil alih semua kebutuhan anaknya dan ia yang akan tanggung. Terlebih setelah tau Ody tidak membeli susu buat ibu hamil yang sangat dianjurkan Intan agat nutrisi anaknya terpenuhi. Ketika Rio bertanya, kenapa tidak membeli susu buat janinya. Jawaban Ody berhasil mengiris hati Rio. Ody mengaku belum memiliki uang untuk memberi semua kebutuhanya. Karena uang-uangnya sudah terlanjur dikirimkan kekampung, dan uang yang tersisa kemarin telah digunakan untuk biyaya rumah sakit dan menebus obat serta vitamin buat dirinya. Sebenarnya Intan dan Ipek sudah menawarkan bantuan, tetapi Ody menolak. Tidak enak juga mereka yang selalu membantu Ody, sedangkan Ody tidak pernah membantu mereka. Jadi Ody lebih baik memakai uang yang ada untuk semua kebutuhanya.
Ody yakin anaknya akan tumbuh sehat meskipun tidak meminum susu yang Intan sarankan. Orang jaman dulu sajah tidak pernah minum susu dan lain-lain, tapi anaknya sehat-sehat, itu pikiran Ody.
"Karena sudah terbiasa dengan pekerjaan rutinya, Ody langsung menuju keranjang Rio dan meluruskan kakinya lalu menyimpan bantal di atas pahanya. Namun, tiba-tiba Rio diam, padahal sebelum-sebelumnya Rio akan langsung meletakan kepalanya di pangkuan Ody.
"Tuan ayo katanya mau dipijit," lirih Ody.
Rio yang baru sadar bahwa Ody sudah ada di kamarnya, ia meletakan kepalanya dipangkuan Ody.
"Kalo saya terserah Anda sajah tuan, saya akan ikut apapun itu aturan yang Anda buat." jawab Ody dengan pasrah, bukankah memang dari awal suara Ody pun tidak pernah didengarkan. Jadi Ody memilih ikutin sajah seperti air mengalir.
"Kalo gitu nanti pulang kerja aku akan panggil pengacaraku buat datang dan memperbarui surat perjanjian itu." ujar Rio kini ia udah lebih tenang, setidaknya Ody setuju untuk merubah isi perjanjian pernikahanya. Bahkan kalo perlu Rio akan meniadakan surat perjanjian tertulis dan hanya akan mengadakan perjanjian antar lisan sajah.
Setelah selesai memijit Rio, kini Ody kembali membantu Mbok Karti.
"Ody, mana Mbok?" tanya Rio ketika ia akan sarapan, tetapi tidak melihat Ody di dapur.
"Lagi di taman belakang tuan, katanya pengin ngerapihin taman." jawab Mbok Karti.
"Tolong panggil Mbok suruh kesini," titah Rio, ia tau pasti Ody belum sarapan.
Mbok Karti memanggil Ody yang tengah merapihkan taman belakang.
Ody pun nurut sajah ketika Rio memanggilnya.
Rio melihat Ody yang baru masuk dengan keringat di keningnya. "Dari mana ajah sampe keringetan gitu?" tanya Rio dengan sedikit cemas.
"Lagi ngerapihin taman belakang, banyak daun kering dan rumput liar, makanya aku rapihkan. Sengaja sekalian berjemur biar lebih sehat." jawab Ody polos.
"Ayo sini, belum sarapankan." Rio menunjuk salah satu kursi di depanya.
Ody masih diam kenapa sekarang Rio makin perhatian, itu membuat Ody jadi makin bingung.
"Ayo,.... bengong lagi," ujar Rio yang melihat Ody malah bengong.
"Oh, saya bersihkan tangan saya dulu tuan," ucap Ody sembari menunjukan tanganya yang kotor.
Setelah membersihkan tanganya Ody menuju meja makan.
"Ini kamu yang masak?" tanya Rio, ketika Ody baru duduk dan hendak mengambil makananya. Rio hapal betul masakan Ody.
"Iya, nggak enak yah tuan?" tanya Ody takutnya Rio nggak suka dia yang masak.
"Enak, masakanmu dari dulu sampai sekarang selalu enak," puji Rio. Memang pada kenyataanya begitu masak Ody selalu enak.
"Tuan, apa saya boleh bekerja kembali di tempat Clovis?" tanya Ody meskipun ragu tetapi Ody sangat membutuhkan pekerjaan itu. Makannya ketika ada kesempatan untuk merundingkanya Ody tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Selama ini kamu kerja di tempat Clovis?" tanya Rio, kenapa ia baru tau kalo Ody juga bekerja di tempat sahabatnya.
"Iya tuan, selama hampir 2 bulan ini aku bekerja di bar milik Clovis yang ada di jalan S." terang Ody dengan jujur.
Namun, justru nampaknya Rio tidak menyukai kejujuran Ody. Rio menyudahi sarapanya dan hendak pergi ke rumah sakit.
"Tuan apa, saya membuat Anda marah?" tanya Ody kaget ketika Rio tiba-tiba meninggalkan sarapanya, dan juga raut wajah Rio berubah masam. Padahal sebelumnya Rio sangat ramah.
Rio tidak menjawab pertanyaan Ody. Dia meninggalkan Ody begitu sajah. Ody termenung dengan perasaan bersalahnya, dan juga sejuta pertanyaan kenapa Rio tiba-tiba berubah?
"Huh..... lagi-lagi ngambek." gumam Ody dalam hati.
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤
# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤
Follow yuk ig Othor: Onasih_Abilcake🙏