Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kecemasan Meyra



Huhuhuhu...huhuhu... Meyra pagi-pagi sudah menangis. "Enggak mau! Mey mau sama Papah dan Bunda," teriak Meyra, entah apa sebabnya Meyra menjadi seperti itu bahkan di sentuh sama pengasuhnya pun tidak mau.


"Ya udah kalo gitu Cus (Panggilan pengasuh Meyra) panggil Papah sama Bunda Mey yah, tapi Mey harus janji tidak boleh menangis lagi. Kalo mau jadi kakak itu tidak boleh menangis, kan gitu kata May juga," bujuk pengasuhnya, agar Meyra tidak menangis ketika ditinggal dirinya hendak membangunkan Rio dan Ody. Pasalnya Meyra tidak mau di sentuh oleh pengasuhnya jadi mau tidak mau pengasuhnya harus meninggalkan Mey di kamar sendirian, sementara pengasuhnya itu akan ke kamar majikanya.


Meyra mengangguk sembari masih tersenggal isakan sedih, karena sisa tangisanya.


"Kenapa Cus?" tanya Rio, sembari mengosok-gosok matanya yang masih mengantuk itu.


"Itu Pak, Meyra menangis terus, tidak mau di pegang sama saya," adu pengasuh Meyra pada Rio.


Rio menyipitkan matanya heran, tumben amat Meyra menangis sepagi ini. Terus juga tidak mau dengan pengasuhnya. Sementara biasanya Meyra sangat lengket dengan Cusnya itu. Ody yang mendengar kegaduhan pun ikut bangun dan mencoba menghampiri Rio dengan perut buncitnya yang bahkan untuk berjalan saja sudah terlihat sangat kesusahan.


"Ada apa ini Mas? Kok pagi-pagi sudah rame?" tanya Ody sembari mengelus-elus perut buncitnya.


"Meyra menangis sayang, dan katanya malah tidak mau di pegang sama Cus," jawab Rio.


"Kalau tidak mau di pegang Cus. Apa jqngan-jangan Mey sakit Mas?" tanya Ody dengan cemas.


Rio pun langsung bergegas ke kamar Meyra, begitu Ody menduga kalo Meyra sakit. Tidak mau ketinggalan Ody pun dengan langkah yang sudah mulai kesusahan mengekor di belakang suaminya untuk menemui putri pertamanya. Memastikan apa yang sekiranya terjadi pada Meyra apakah benar sakit atau hanya bermimpi saja mengingat ini masih terlalu pagi untuk anak sekecil Meyra bangun.


Benar saja ketika Rio masuk Meyra masih terisak dengan sangat sedih. Rio langsung mempercepat langkahnya dan memeluk putrinya itu. "Sayang, kamu kenapa? Kenapa Mey nangis kaya gini?" tanya Rio mungkin saja Meyra mau bercerita dengan Papahnya. Rio memeriksa kening Meyra, tetapi tidak demam, mungkin Meyra hanya bermimpi buruk, seperti itu kira-kira dugaan Rio.


"Papah, Mey mau sama Papah dan Bunda saja, Mey tidak mau dengan yang lain," isak Meyra yang terdengar sangat mengiris hati Rio. Bahkan mata Rio sampai berkaca-kaca ketika mendengar permintaan Meyra.


Tidak lama Ody masuk kekamar Meyra. Ibu hamil itu heran ketika melihat Meyra menangis dengan sangat sedih dan wajah Rio juga begitu sedih. "Ini ada apa sayang?" tanya Ody dengan suara setengah berbisik, sementara tangan kananya ia gunakan untuk mengelus punggung anak perempuanya.


"Mey mau sama papah dan bunda. Tidak mau dengan siapa pun!" rancau Meyra dengan suara sangat mengiba. Baik Ody maupun Rio saling melemparkan pandangan sehingga pandangan mereka bertemu dan seolah bertanya ada apa gerangan dengan anak mereka.


Ody melempar pandangan ke arah pengasuh Meyra. "Cus, apa semalam Meyra menonton sesuatu atau mendengarkan kata-kata yang aneh?" tanya Ody. Mungkin saja bukan, kalo Meyra menontoh film dan dia terbawa sampai ke alam mimpinya, sehingga Meyra seolah menjadi ketakutan akan dipisahkan dengan orang tuanya. Atau justru ada yang tanpa sadar mengucapkan seluk beluk siapa sebenarnya dirinya, sehingga membuat Meyra ketakutan akan dipisahkan dari keluarganya saat ini dan diambil oleh keluarga kandungnya.


"Tidak Bu, Meyra semalam seperti biasa setelah belajar bermain boneka sebentar lalu tidur," jawab pengasuh Meyra dengan berkata apa adanya tanpa di kurang atupun ditambahkan.


Ody kembali terdiam, justru kecemasan menghinggap di hati Ody ketika berulang kali mendengar putrinya mengucapkan kata-kata yang sama. Rio kali ini menggendong dan menimang Meyra mungkin dengan begitu putrinya akan kembali tertidur, tetapi biarpun sudah cukup lama Rio melakukanya tetap Meyra tidak kunjung kembali tertidur. Bahkan Meyra merancau terus dengan kata-kata yang bahkan sepertinya sudah puluhan kali Meyra mengucapkanya itu.


"Tapi dari semalam Mey memang tampak beda Bu, murung dan ketika tidur gelisah. Cus pikir Mey sakit, tapi pas di cek suhu tubuhnya normal. Terus puncaknya tadi pukul tiga tiba-tiba Mey bangun menangis mencari Bapak dan Ibu. Cus mau gendong ajah Mey menjerit tidak mau di sentuh sama saya Bu," adu pengasuh Meyra yang memang sejak semalam menemukan kejanggalan di diri anak asuhnya itu.


Ody diam sembari mengerakan kepalanya naik turun, nampak mengamati Rio yang tengah berusaha menenangkan putrinya itu. Sementara Ody duduk di samping tempat tidur Meyra, dan pengasuh Meyra pun berdiri sama dengan Ody diam saja tetapi di dalam fikiranya berperang memikirkan apa sekiranya penyebab Meyra yang cemas, dan gelisah seperti itu.


Dari pukul tiga sampai matahari sudah muncul dengan malu-malu Meyra tidak mau lepas dari Rio dan Ody. Hal itu membuat suami istri itu heran. Mereka awalnya mengira, semalam Meyra ketakutan karena bermimpi sesuatu dan akan kembali ceria seperti biasanya, tetapi dugaan Rio dan Ody salah. Meyra malah semakin menjadi-jadi ketakutanya. Bahkan untuk mandi makan benar-benar tidak mau disentuh atau di gantikan oleh pengasuhnya Ody dan Rio yang harus melakukanya.


"Enggak! May enggak mau sama Cus, Mey mau sama papah dan bunda," teriak Meyra ketika ada pengasuhnya padahal pengasuhnya hanya menyiapkan pakaian yang akan di pakai Meyra. Sementara mandi dan lain sebagainya Rio yang melakukan tugasnya. Ternyata bukan hanya dengan pengasuhnya yang tidak mau dan menjerit histeris ketika melihat pengasuhnya. Dengan asisten rumah tangga pun sama ketika Meyra melihat Bibi yang akan merapihkan kamarnya. Meyra pun menjerit mengulang kata yang sama. Mengira bahwa Bibi akan menggantikan tugas orang tuanya.


"Mas, Mey kenapa sih ya? Ody jadi cemas takut nanti ada apa-apa dengan Meyra," tanya Ody sama Rio yang mana suaminya sudah kelihatan sangat lelah karena menjaga Meyra. Bayangkan dari jam tiga Rio terus menimang Meyra dan Meyra sama sekali tidak mau dengan yang lain. Di serahkan sama Ody juga tidak mungkin, di mana istrinya juga untuk berjalan kesusahan karena perutnya yang sudah membesar. Apalagi harus di tambah repotnya mengurus Meyra yang sedang tantrum seperti ini.


"Kita nanti tanya pelan-pelan yah sayang kalo Mey sudah sedikit tenang. Saat ini Mey kelihatanya masih ketakutan dengan orang lain. Jadi kita usahakan Mey jangan ketemu dengan orang lain dulu, hanya sama kita berdua saja. Biarkan dia tenang dulu ajah. Terus bunda juga jangan panik. Bawa santai saja. Takutnya Meyra rewel juga karena Bunda yang panik," bisik Rio sembari tanganya mengelus-elus rambut hitam Ody.


Ody pun mengangguk, ia berusah menghilangkan kecemasanya dan berusaha berkomunikasi ringan dengan Meyra dengan menawarkan permainan dan bermain bersama. Atau menbaca, dan menonton TV. Awalnya Meyra tidak mau dan hanya mau di gendong saja, tetapi karena kerja keras Ody, sedikit-sedikit putrinya mau bermain meskipun Rio harus ada dibelakangnya terus menggenggam tanganya. Apabila Rio bergerak sedikit saja, Meyra akan langsung bangun dan seolah ketakutan kalo papahnya akan pergi. Begitupun sama Ody ketika Ody kekamar mandi untuk buang air kecil atau keperluan yang lainya Meyra harus ikut masuk ke kamar mandi dan memastikan Bundanya tidak pergi.


Mey kamu kenapa?