Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kebisuan Yang Melanda



Aarav menunggu dengan cemas di luar ruangan Tuan Hartono. Yah ia setelah mencari tahu kemana perginya Emly dan keluarga yang ternyata ada di ruangan pemilik rumah sakit. Cukup lama Aarav menunggu di luar ruangan. Laki-laki satu anak itu akan mencoba memberanikan diri untuk mengajak Emly berbicara bersama.


Pintu ruangan di buka, pertama yang ia lihat Emly yang duduk di atas kursi roda itu dan Liana yang mendorongnya di belakang, sementar Erwin keluar belakangan mungkin berbasa basi lebih dulu dengan temanya, Hartono.


Wajah Emly dan Liana tidak setegang tadi, ketika Aarav bertemu mereka di dalam lift. Meskipun di wajah Emly terlihat gurata kesedihan dan tebakan Aarav pasti tadi di dalam sana Emly sempat menangis.


Ehemm... deheman Aarav berhasil menghentikan langkah satu keluarga itu. Erwin dan Liana membalikan badan ke arah Aarav, tidak kalah ketinggalan Emly pun kepo dengan orang yang mengagetkan mereka. Emly tahu bahwa arti dehemanya hanya untuk menyapa.


Emly tersentak kaget ketika melihat Aaravlah yang berdehem. Tangan-tanganya memberikan respon kurang baik, telapak tangan mulai memgeluarkan keringat dingin. Jujur Emly belum siap bertemu Aarav apalagi sampai terlibat obrolan.


"Siang Om, tante, apa boleh saya berbicara sebentar dengan Emly," ucap Aarav dengan sopan. Yah dia sudah tidak terlalu tegang. Sehingga bisa menekan emosinya dan mencoba akan berbicara dengan Emly, banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan dengan Emly.


Erwin dan Liana saling bertatapan seolah mereka saling bertanya. Ini bagamana?"


Aarav masih menunggu jawaban dari mereka, sementara Emly menggelengkan kepalanya dengan pelan sebagai tanda ia belum mau berbicara dengan Aarav, tetapi justru bibirnya kaku seolah tidak bisa berucap, untuk menolaknya.


"Mau membahas hal apa?" tanya Erwin, ada rasa cemas takut putrinya kenapa-kenapa dan lebih Emly juga tidak bisa membela diri ketika Aarav mungkin saja berbuat yang tidak mengenakan.


"Saya tidak akan mencelakai anak Anda Om, Tan, terlebih dia ibu dari anak saya," jawab Aarav, sikapnya santai dan ia juga seolah tahu apa yang di cemaskan oleh Erwin dan Liana.


Mereka bertiga kaget, ternyata Aarav sudah tahu bahwa Emly memang hamil anaknya.


"Apa jaminanya kalo anak saya tidak akan terluka sama kamu?" tanya Erwin setidaknya ada yang bisa ia jamin apabila anaknya kenapa-kenapa, terlebih Emly anak satu-satunya dan anak kesayangan pula.


Aarav meraih dompetnya, dan mengambil kartu namanya, lalu ia menyodorkan kearah Erwin. "Ini kartu nama saya, kalo anak Anda pulang dalam kondisi terluka atau justru kehilang satu anggota tubuhnya, silahkan Anda hubungi polisi dan meminta menangkap aku," ujar Aarav gayanya tetap santai dan tidak mudah terprovokasi, bagianya wajah Erwin memiliki kecemasan seperti itu.


Erwin mengambil kartu nama yang Aarav julurkan, dan menatap istrinya, Liana. Liana pun mengangguk, yah mungkin ini saatnya untuk Aarav dan Emly saling terbuka, toh memang mereka memang harus berbicara sendiri. Berbicara empat mata untuk membicadakan sesuatu yang mengganjal diantara Mereka.


"Kembalikan Emly sebelum jam empat sore," ujar Erwin, itu tandanya dia mengizinkan agar Emly berbicara dengan Aarav. Berhubung obrolan mereka pasti tidak akan sebentar sehingga Erwin memberi waktu untuk mereka berbicara. Dan lagi Liana dan Erwin tahu bahwa Aarav tidak akan berbuat macam-macam.


Dua pasang suami istri itu pun meninggalkan Emly, bibir wanita yang kini ada di atas kursi roda ingin sekali berteriak agar mereka tahu bahwa Emly tidak ingin berbicara dulu dengan laki-laki yang telah menghamilinya. Emly bingung mau bicara apa nanti, rasanya masih ada malu dan kesal juga. Karena ia berfikir karena Aaravlah dirinya jadi dirundung masalah.


Aarav mendorong kursi roda Emly, tidak ada obrolan di antara mereka. Entah Aarav mau membawa Emly kemana. Emly hanya pasrah. Lorong rumah sakit mereka telusuri hingga kepalkiran. Sebuah mobil dengan harga yang cukup fantastis berbunyi ketika remot yang Aarav nyalama. Mereka masih di landa kebisuan. Tidak ada sapaan sebagai pembuka pertemuan atau sapaan basa-basi.


Aarav pun masih mengikuti sampai kapan Emly akan berkata. Yah, laki-laki itu tahu bahwa Emly sedang marah, tetapi marah dalam hal apa? Bukankah kalo mau marah seharusnya dirinya yang ia tidak beri tahu bahwa ia hamil. Justru menyembunyikan kehamilanya dari Aarav. Apa sebegitu takut miskinya dia apabila Aarav bertanggung jawab dengan dirinya. Dia bukan laki-laki malas yang tidak mau mencari nafkah untuk keluarganya, ia laki-laki yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya dengan layak.


Aarav menghentikan mobilnya di depan lestoran yang cukup mewah, bahkan untuk Aarav yang hanya seorang asisten makan di lestoran itu bisa-bisa gajihnya langsung habis. Aarav kembali mengeluarkan korsi roda dan menatanya dengan rapi. Langkah yang sama dengan tadi ia lakukan ke Emly kali ini sedikit berhati-hati karena Emly sempat meringis mengeluarkan erangan mungkin ada bagian yang ia rasa nyeri.


"Kenapa?" tanya Aarav, begitu Emly berhasil duduk dengan sempurna di atas kursi rodanya. Dan wajahnya masih terlihat sisa ringisan yang mungkin memang sangat menyakitkan itu.


"Biasa, masih sedikit ngilu dipinggul," jawab Emly dengan suara lirihnya, canggung dan malu mungkin yang ia rasakan sedangkan Aarav sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Emly kenapa ia bisa sampai seperti ini.


Suara korsi roda yang beradu dengan jalanan yang sedikit bergelombang mengiringi langkah mereka. Satu meja yang berada di pojokan menari perhatian Aarav, tempat yang nyaman buat sekedar bercerita.


"Nanti kalo sakit bilang saja," ucap Aarav sebelum mengangkat Emly untuk berpindah korsi. Emly pun hanya mengangguk lemah. Memang kakinya kadang tidak bisa diajak kompromi masih sering terasa nyeri di pangkal pahanya. Namun Emly yang tahu kondisi keuangan keluarganya memilih menahanya sendiri. Dan kali ini malah kambuh di saat yang kurang tepat. Di hadapan Aarav kakinya kembali merasakan nyeri yang beberapa hari lalu ia rasakan juga.


Pelayan wanita dengan sangat ramah menanyakan menu apa saja yang ingin mereka pesan. Aarav menyebutkan menu yang ia sukai dari lestoran ini.


"Kamu mau pesan apa Emly?" tanya Aarav dengan nada yang cukup dingin. Emly yang tengah menunduk sembari memijat pelan kaki yang ia rasakan pun terkejut dengan pertanyaan Aarav.


"Sa... Samakan saja dengan kamu," jawab Emly sembari terbata, karena kaget.


Setelah palayan mencatat menu yang di pesan Aarav dia pamit dan berlalu menuju dapur.


"Masih sakit?" tanya Aarav suaranya sedikit melunak, Aarav bukan anak kemarin sore yang tidak tahu bahwa Emly sedang merasakan sesuatu.


...****************...


Bestie othor punya karya baru lagi, ayo dong mampir karya othor, ketik fav like dan komen....


beri mawar dan kopi. Iklan juga boleh.