
Setelah semuanya berjalan dengan lancar kini Ipek pun pulang. Sesampainya di rumah dia membuka ponselnya yang sengaja ia tinggal dan betapa kagetnya dia kalo ternyata Ody sudah puluhan kali meneleponya dari kemarin sore Ody mengubungi Ipek dan sampai saat ini belum juga Ipek angkat.
"Mam'pus aku pasti Mba Ody bakal marah besar gara-gara telponya aku abaikan. Lagian kenapa gue bisa lupa nggak cek ponsel yang buat komunikasi dengan Mba Ody." Ipek tak henti-hentinya merutuki kecerobohanya.
Sementara di rumah Ody dari kemarin Sore Ody sudah marah-marah tidak jelas, hampir semua kena omel, karena telponya nggak diangkat oleh Ipek, tetapi yang kena omel hampir semua seisi rumah, bahkan ponsel sendiri pun termasuk korbanya.
"Tuh kan Mas, pasti Ipek kenapa-napa, ini semua karena kamu. Aku itu curiga sama Clovis, jangan-jangan Ipek diculik Clovis lalu di....." Ody sendiri tidak bisa membayangkan hal buruk terjadi pada Ipek, dia terlalu khawatir kalo sesuatu terjadi sama Ipek.
"Sayang kamu jangan berpikiran buruk terus, kamu harus jaga pikiran kamu jangan setres. Kasian anak kita didalam sini pusing dengerin kamu ngomel terus," ujar Rio yang justru membuat Ody semakin kesal.
"Massss... bisa nggak jangan mancing-mancing terus. Aku itu lagi bingung mau cari Ipek gimana, mana nggak tau alamat rumahnya lagi," runtuk Ody, mengutuk kebodohanya kenapa ia tidak meminta alamat Ipek dari dulu.
"Abis Mas juga bingung sayang, kaya gini salah gitu salah."
"Apa kita lapor polisi ajah yah Mas?" tanya Ody mulai putus asa mencari informasi keberadaan Ipek gimana lagi.
"Sayang, lapor polisi itu nggak segampang itu, kita harus tau kronologi hilangnya Ipek. Lagian belum tentu Ipek itu hilang seprti yang kamu cemaskan. Bisa jadi Ipek sibuk dan nggak sempat melihat ponselnya." Rio mulai putus asa gimana caranya menenangkan istrinya, ia mencemaskan kondisi buah hatinya juga kalo Ody terus-terusan panik kaya gini.
"Iya juga sih, abisan aku itu bingung mesti nyari Ipek gimana lagi. Biasanya itu dia nggak begini, dia juga sering duluan chat aku, menanyakan kabar dan lain-lain. Sekarang justru dia susah dihubungi siapa yang nggak cemas coba," keluh Ody.
"Ya udah kamu terus coba hubungi ajah, tapi jangan terlalu keseringan juga dijeda biar kamu nggak terlalu panik, atau kita mau jalan-jalan malam dulu biar kamu nggak terlalu kefikiran dengan kabar Ipek?" tanya Rio, menawarkan agar Ody mencari udara segar di luar rumah.
Ody hanya menggeleng lemah, sembari terus menatap layar ponselnya. Berharap Ipek menghubunginya untuk memberikan alasan kenapa ia mengabaikan panggilan darinya. Rasanya diujung bibirnya sudah berjajar pertanyaan yang siap dia keluarkan ketika Ipek tiba-tiba menelepon dirinya.
Sementara ditempat lain Ipek tengah bingung mesti menyiapkan jawaban apa untuk alasan ia tidak mengangkat telpon dari Ody.
"Aduh gimana ini, aku mensti cari alasan apa, lagian kenapa kamu bodoh banget Ipek, bukanya kamu cek tuh HP malah fokus sama satu urusan." Ipek tak henti-henti merutuki kebodohanya. Sembari terus mondar mandir Ipek mencari ide, serta mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Ody.
"Bissmillahirohmannirohim." Pada akhirnya Ipek memberanikan diri untuk menghubungi Ody. Tentu Ipek sangat tau pasti Ody sangat mencemaskan kabar darinya. "Panas kuping nggak masalah, itu tandanya Mba Ody sangat sanyang padaku."
" Hallohhh.... Ipekkkk.... kamu kemana ajah kamu tau nggak Mba itu udah kaya orang gila nungguin kamu angkat telpon, hampir nggak bisa tidur semalaman karena mencemaskan kamu?" Teriak Ody ketika Ipek baru sajah menekan nomornya.
Disebrang telpon Rio pun sampai terlonjak kaget, ketika istrinya berteriak memberondong Ipek dengan bermacam pertanyaan. Rio mengusap telinganya, dia hanya tersenyum membayangkan gimana telinga Ipek apakah masih aman atau sudah konslet.
Kembali ke Ipek!! Tentu ketika ia pertama kali mengangkat telponya langsung menjauhan handphonya dari telinga. Menyelamatkan telinganya dari kerusakan,hehehe ..., Ipek mengusap-usap telinganya panas.
"Hehe iya maaf Mba, aku dari kemarin ada urusan, jadi nggak sempat liat HP dan ini baru sempat cek HP, kaget juga kenapa banyak sekali telpon dari mba Ody?" Ipek nggak tau harus jawab apa, jadi sepontan apa yang ada di kepalanya ia ucapkan.
"Aku mencemaskan kamu Pek, kamu nggak apa-apa kan? Kamu nggak diapa-apain sama Clovis kan?" tanya Ody mulai mengecil volume suaranya.
"Pek ko diam." Ody tidak sabar dengan jawaban Ipek.
"Ipek baik-baik ajah ko Mba. Kenapa Mba Ody sampai menuduh Clovis akan mencelakai aku?" tanya Ipek balik, tentu ia juga penasaran dari mana Ody tau rencana Clovis, padahal ia sudah berusaha menutupinya agar Ody tidak cemas dan panik seperti sekarang ini.
"Enggak dari siapa-siapa hanya menduga ajah, dan juga orang yang mungkin sajah bisa melakukan semua itu hanya Clovis," jawab Ody dengan masih mencurigai Clovis.
"Ternyata hanya dugaan sajah, tetapi dugaan Mba Ody tepat juga, berati aku memang harus berhati-hati dengan Clovis. Jangan sampai rencanaku ini malah membuat ia semakin menjadi kegilaanya." Ipek kembali bermonolog di dalam hatinya.
"Oh, kirain Mba mengetahui rencana Clovis untuk mencelakai aku. Mba nggak usah terlalu cemas sama aku. Ipek baik-baik ajah ko. Kebetulan beberapa hari ini Ipek nggak ada keluar rumah jadi aman. Lagian yang harus dicemasin ity kondisi Mba Ody, nggak boleh terlalu panik yah bumil, kasian ponakan Ipek nanti itu setres," ujar Ipek sembari merubah suaranya menyerupai anak bayi.
"Ya udah kalo kamu baik-baik ajah Mba udah lega. Mba mau bobo dulu semalam tidurnya nggak nyenyak banget gara-gara kefikiran kamu terus," Ody pun mengakhir pangilanya setelah Ipek mengucapkan salam perpisahanya.
"Gimana yank, Ipek baik-baik ajah kan, sesuai apa yang Mas bilang?" tanya Rio memastikan, padahal dia juga dari tadi sudah menguping pembicaraan Ody dan Ipek.
"Iya Mas, ternyata dia lagi sibuk dengan kerjaanya, sehingga nggak sempet angkat telpon. Aku udah hampir gila gara-gara mencemaskan tuh anak." Ody akhirnya bisa bernafas lega dan berbicara dengan halus lagi. Tidak seperti beberapa jam yang lalu, setiap ada yang mencoba bertanya atau menenangkan, dia sudah langsung jawab dengan jutek.
"Yeh, kalo udah lega, berati Mas boleh dong nengok dede. Semalan udah libur masa sekarang libur lagi." Rio mencoba merayu Ody agar mau melepaskan stresnya dengan yang happy-happy.
"Tapi aku masih cape banget loh Mas, pengin istirahat dulu," elak Ody, sebenarnya dia juga nggak tega nolak keinginan suaminya. Namun bagai mana lagi badanya benar-benar cape saat ini hanya pengin istirahat.
"Ya udah, kamu istirah dulu ajah. Mas nggak maksa ko, yang penting kamu dan anak kita sehat ajah Mas udah bersyukur." Rio mencoba mengerti alasan Ody. Toh masih ada hari-hari lain asalkan istrinya sehat dia bisa melakukanya kapan sajah.
"Makasih yah Mas. Besok pagi deh dikasih bonus kalo badanya sudah enakan." Ody tentu tidak tega.
"Awas loh kalo bohong," kekeh Rio dengan mengecup kening istrinya dan membiarkanya tidur disampingnya, sementara dirinya sendiri masih mengecek laporan pekerjaan yang belum selesai ia kerjakan.
Yeh besok pagi Rio dapat sarapan sepesial dari neng Ody...
...****************...
Teman-teman jangan lupa mampir juga yah ke novel karya bestie author nih kenalin namanya ka Zafa...
Yuk langsung kepoin ketik judulnya dilaman pencarian, " Sahabat Jadi Nikah" terus teman tekan fav biar nggak ketinggalan kelanjutan ceritanya yang keren, dan tinggalkan jejak ketik like dan komen...