
Arzen dan Zawa sudah sampai di rumah sakit Hartono, mereka langsung memasuki ruang rawat Ody. Meskipun di dalam hati keduanya masih di penuhi dengan pertanyaan yang mengganjal, tetapi baik Zawa maupun Arzen tetap bersikap biasa saja.
"Hay Boy," sapa Zawa begitu masuk ke kamar Ody di sana hanya ada pasangan suami istri yang baru di karuniai bayi laki-laki yang sangat tampan. Meyra masih belum di ambil dari kamar Emly dan Cus juga menemani Meyra di ruangan itu,di takutkan Meyra pengin sesuatu sehingga Cus bisa bantu Aarav menjaga Meyra.
Bayi laki-laki itu seolah tahu bahwa ada tante cantik dan om ganteng, sehingga seolah bayi yang baru lahir dua hari itu mencari sumber suara, dan matanya pun seolah tengah mencari siapa yang menyapanya barusan. Bayi yang dari tadi siang tidur dan selalu tidak mau di ganggu. Bayi tampan itu hanya bangun ketika lapar dan haus setelah merasa kenyang, maka dia akan kembali pulas tertidur, tetapi ketika malam menyapa bayi ini seolah mengajak bunda dan papah nya untuk bermain.
Zawa yang memang sangat menyukai anak-anak dan dia juga sudah sangat menginginkan seorang anak tumbuh di rahimnya, tentu ketika melihat gaya si boy yang seolah menunjukan ketampanannya ia langsung gemas dan bahkan lupa dengan apa tujuannya ke rumah sakit ini. Zawa bahkan lupa bahwa sejak di perjalanan dia di landa oleh kecemasan.
Setelah meminta izin pada Ody, Zawa pun menggendong si boy dan menimangnya. "Sayang kapan sih punya yang kaya gini," ucap Zawa sembari terus menimang bayi yang masih merah itu.
"Jangan dianggap beban Wa, santai ajah. Nanti juga kalian pasti dapat mainan yang kaya gitu kok," sela Ody ketika Arzen hendak menjawab pertanyaan Zawa, dengan jawaban yang hampir sama dengan Ody.
Zawa memang akhir-akhir ini lebih baper, bahkan beberapa hari ini ia tidak mau membuka praktik. Jadwal pratiknya dia di ganti dengan doktor lain. Hal itu karena dia seolah merasa iri dengan banyaknya ibu-ibu yang dalam kondisi hamil datang untuk memeriksa kandungannya. Zawa yang dari beberapa bulan yang lalu selalu merasa ada yang kurang dengan dirinya karena tidak juga kunjung hamil sehingga merasa semakin terpojokan.
"Iya, harusnya gitu Dy, tapi gimana yah rasanya hari itu tidak bisa dinasihati selalu saja ada rasa yang mengganjal. Padahal Arzen juga tidak pernah menuntut aku supaya buru-buru hamil. Tapi malah semakin Arzen bersikap santai dan menerima kekurangan ku, aku malah semakin di buat bersalah," balas Zawa baru kali ini ia bisa mencurhatkan apa yang ada dalam hatinya ketika bercurhat dengan Ody.
Arzen pun menarik tubuh Zawa kedalam pelukanya. Hanya itu yang Arzen bisa lakukan karena ia juga tidak tahu kecemasan Zawa sebagai mana sehingga demi menjaga mood Zawa, Arzen memberikan suntikan semangat dengan cara memeluk istrinya itu.
*****
"Eh, ngomong-ngomong kamu telpon kami, dan minta datang kerumah sakit ada apa? Bikin aku kefikiran ajah, takut ada hal-hal yang buruk." ujar Arzen, mencoba mengalihkan apa yang Zawa bahas agar dia juga lupa soal urusan buah hati. Arzen sih menganggapnya ini hanya karena Zawa mau datang bulan mungkin, sehingga bawaanya uring-uringan terus.
"Oh iya, maaf gara-gara si Boy aku juga lupa kalo kalian panggil kami kesini pasti ada kabar yang ingin di sampaikan kan?" tanya Zawa juga dan menyerahkan Boy ke Ody, karena sebertinya bayi itu sudah mulai kehausan sehingga membutuhkan asupan ASI.
"Kayaknya kabar yang bakal kita sampaikan kurang enak Wa, Zen, tapi gimana lagi, ini menyangkut nyawa dan juga masa depan seseorang," ucap Rio, nafasnya langsung terlihat berat ketika akan membahas Emly pada Zawa, dan Arzen, Rio takut kalo Zawa pasti masih sangat marah dengan penghianatan Emly.
"Buka ini buka tentang kesehatan kamu maupun Zawa, semua hasil pemeriksaan kalian sesuai dengan yang kalian baca kemarin-kemarin. Ini tentang Emly," ucap Rio. Gimana pun reaksi Arzen dan Zawa, Rio harus segera mengatakan yang sesungguhnya. Pasti kaget dan marah untuk pertama kali ada dan sama seperti dirinya ketika mendengar nama wanita yang paling jahat yang pernah ia kenal.
Benar saja Zawa pun wajahnya langsung merah padam, dan juga Arzen yang terlihat menegang wajahnya.
"Emly, dia udah ketemu sama kamu Yo?" tanya Arzen dengan suara beratnya. Mewakilkan pertanyaan dari Zawa itu.
Rio mengangguk dengan berat, yah memang pada kenyataanya Rio sudah bertemu dengan Emly. Sementara Ody yang barusan selesai memberikan asi pada buah hatinya, dan kini si boy sudah aman alias tertidur.
Ody ikut bergabung dengan Rio dan pasangan suami istri itu.
"Aku pun sudah ketemu dengan Emly," jawab Ody ikut nimbrung dengan obrolan mereka. Justru wajah Ody seolah terlihat seperti biasa-biasa saja.
Zawa terkejud dengan apa yang Ody sampaikan, bahkan ketika melihat expresi wajah Ody yang seolah biasa-biasa saja.
"Kamu sudah memaafkan Emly, Dy? Kok kayaknya kamu santai banget dengan semua ini? Apa dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dari semua pelakuanya? Kalo aku jadi kamu pasti aku tidak akan dengan mudah memaafkan dia," ucap Zawa pandanganya di buang menandakan bahwa ia memang masih menyimpan sakit hati pada Emly.
"Dia tidak mendapatkan hukuman seperti orang-orang, di mana bersalah mendapatkan hukuman penjara dan sangsi sosial, tetapi bagi aku hukuman yang Tuhan berikan buat Emly sudah sangat-sangat menjadi sebaik-baiknya hukuman dari kejahatan yang ia perbuat sih." Rio kali ini yang menjawab pertanyaan Zawa.
"Tapi kayaknya hukuman yang dia terima tetap tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan sama aku deh, sudah banyak banget kecurangan dia sama aku. Sampai-sampai aku bingung mau memaafkan kejahatan dia dari mana dulu," ujar Zawa. Memang biasanya ketika ada hal yang bikin kecewa, yang paling dekat yang sangat sulit untuk memberikan maaf, seperti Zawa ini, dia mungkin terlalu kecewa sehinga berat rasanya untuk memaafkan Emly.
"Kondisi Emly yang membuat kita memaafkan dia, meakipun di belum secara langsung meminta maaf sama kami," jawab Rio. Sontak membuat Aarav dan Zawa kaget.
"Kalian baik banget sih, orang belum minta maaf kalian sudah memaafkan duluan. Apa Emly masih egois dan tidak mau meminta maaf pada kalian?" tanya Zawa nada suaranya meninggi menandakan bahwa dia masih bisa menerima keputusan Ody dan Rio.