Beauty Clouds

Beauty Clouds
Undanga Dari Ody



Cukup lama Ody berbincang-bincang dengan Ipek dan juga Umi. Ody juga baru tahu kalo Ipek selama ini tinggal di ujung pulau jawa, untuk menuntut ilmu agama, di pesantren Abahnya. Lantas lah orang-orang mencari tidak ketemu memang kalo di pesantren tidak banyak keluar kan. Belum lokasi yang di ujung sulit orang untuk menemuinya.


Namun selama obrolan Ody belum tahu bahwa Arzen juga berada di tempat yang sama dengan Ipek menuntut Ilmu. Mereka membahas masih soal pribadi Ipek sehingga Ipek pun belum tahu kalo Zawa sudah bebas.


Di tengah-tengah obrolan mereka, Wahid bangun. Tentu pertama-tama Ipek memperkenalkan Ody.


"Sayang kamu udah bangun?" tanya Ipek sembari mengusap rambut Wahid.


Wahid mengangguk dengan lemah. "Jam berapa sekarang?" lirih Wahid.


"Jam empat. Kenapa?" tanya Ipek.


"Aku tidurnya lama lagi yah?" Wahid kembali bertanya dengan wajah sendih. Pasalnya ia tidak bisa mengontrol jam tidurnya.


"Enggak apa-apa. Lagian itu kata Dokter juga penyesuaian dan nanti kalo masih belanjut akan di priksa lagi. Kalo bisa dioprasi dokter akan operasi. tapi kalo tidak bisa semoga ini ladang pahala untuk Abang. Kan tidur itu ibadah. Semoga ini juga cara ibadah buat Abang." Ipek terlihat sangat sabar dan telaten mengurusi Wahid.


Ody yang melihat cara Ipek memperhatikan suaminya sangat bisa melihat kesungguhan cinta Ipek. Yah, Ipek memang sudah benar-benar mencintai Wahid. Namun sangat disayangkan ketika cinta tumbuh dan datang dengan sendirinya. Allah berikan ujian untuk mengetes ketaatan kedua insan itu. Wahid mengalami musibah ini semua. Di sini lah cinta Ipek kembali diuji.


"Oh iya Bang. Ipek mau kenalin ini Mba Ody, teman Ipak sudah sejak dulu. Teman sekaligus kakak bagi Ipek." Ipek mengenalkan Ody dengan berbisik pada Wahid karena memang Wahid yang berbicaranya masih sangat lemah sehingga Ipek harus mendekatkan telinganya ke dekat bibi suaminya.


Wahid mencoba menarik bibirnya. "Senang berkenalan dengan Anda." Wahid mencoba menyapa Ody dengan ramah dan senyum terkembang, walaupun samar.


"Sama-sama Mas. Lagian Ipek ini sudah saya anggap adik sendiri. Karena istri Mas ini sudah kaya pahlawan untuk saya. Tanpa ada Ipek entahlah nabis saya bagaimana. Dia selalu ada di saat saya membutuhkan bantuan. Dan saya sekarang ingin membalasnya dengan berada di samping dia disaat ia butuh." Ody pun mendekat kearah Ipek dan memeluknya. Jujur hatinya Ipek sangat terenyuh ia tidak menyangka bahwa Ody masih mengingat semuanya. Bahkan jasa-jasanya. Walaupun Ody istri dari anak pemilik rumah sakit, tetapi tidak sedikit pun ada kesombongan di dalam diri Ody, hal itu membuat Ipek sangat senang.


Ipek, Wahid dan Ody pun berbicara ringan. Sekedar saling menyapa terutama Wahid yang baru Ody kenal.


"Boleh, kalo Ipek mau. Abang terserah kamu. Tapi memang kalo Abang boleh kasih masukan kamu datang untuk menghibur diri sejenak dengan teman-teman kamu. Biar kamu nggak bosen di dalam kamar terus." Wahid pun lebih suka kalo Ipek datang karena ia bisa sedikit lupa dengan masalahnya.


"Tapi nanti kalo Ipek datang bagai mana dengan Abang? Apa Abang nggak keberatan dan tidak apa-apa kalo di rumah sakit hanya dengan Bibi atau suster, soalnya kata Mba Ody acaranya habis magrib dan mungkin pulangnya akan malam." Ipek memberi tahu pada Wahid agar mempertimbangkan kembali niatanya.


"Iya, enggak apa-apa, sekali kali kamu butuh hiburan. pergilah." Wahid mencoba tersenyum. Ipek pun tambah sayang dengan suaminya selain pandai agama, Wahid juga baik tidak pernah berkata-kata kurang mengenakan untuk Ipek dan juga Wahid sangat pengertian untuk hal apa pun.


Setelah mendapat isi dari Wahid agar Ipek besok mengunjungi acara empat bulanan Ody. Ody pun pamit karena memang waktu juga sudah hampir magrib sehingga kasian Rio kelamaan mengasuh Mayra.


Lagian awalnya Ody datang ke tempat kerja suaminya itu sebentar saja, tetapi justru kali ini sampai magrib belum pulang juga. Malahan jadi pulang bareng sama suaminya. Padahal di rumahnya tengah sibuk mempersiapkan semuanya untuk besok.


Untung ada mamih yang bisa bantu semua urusan jadi beres. Kak Lunara sudah pulang ke negri sebrang, karena memang suaminya berasal dari negri tersebut.


Di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Ody menceritakan bagaimana kondi suami Ipek yang sangat memprihatinkan. "Mas kamu udah pernah liat kondisi suami Ipek belum?" tanya Ody, dengan wajah sedih.


"Kalo lihat secara langsung belum, hanya membaca rekam medisnya. Sepertinya sangat parah cideranya," jawab Rio apa adanya. Apabila dengan Ody Rio bisa bercerita lebih bebas, berbeda dengan Ipek. Takut Ipek sedih, dan putus asa. Karena dalam kasus seperti ini bukan hanya mental pasien yang harus di jaga mental orang terdekatnya pun perlu dijaga.


"Kasihan banget Mas. Kata Ipek tadinya suaminya kalo ngomong nggak lancar setelah komunikasi lumayan lacar. Justru sekarang suaminya itu bawaanya tidur terus sehari bisa lebih dari belasan jam untuk tidur. Bangun hanya sebentar habis itu tidur lagi. Tadi saja Ody kesana lagi tidur dan kata Ipek itu sudah tidur sejak pagi bangun jam empat. Sepertinya suaminya nggak sadar kalo dia tidur terlalu lama Mas. Apa kalo kaya gitu ada kemungkinan sembuh Mas?" Ody kasihan dengan Ipek yang terlihat sangat lelah dan juga kesedihan benar-benar terlihat dari Ipek yang sekarang. Berbeda dengan yang dulu selalu ceria. Sekarang malah nampak sangat murung.


"Iya kalo dilihat dari cederanya, memang sangat berat dan juga sepertinya akan sulit untuk normal sayang. Maka dari itu kamu juga harus dukung Ipek, disaat seperti ini dia akan sensitif dan sangat butuh dukungan dari sahabat-sahabatnya terlebih kamu yang Mas liat kalian dari dulu terbilang dekat. Hibur Ipek karena pasti dokter juga sudah memberitahu kemungkinan terburuk." Rio yang memang sudah membaca rekam medisnya pasti tahu bagai mana kemungkinan kesembuhan suami Ipek, dokter hanya berusaha dan semuanya akan kembali pada kehendak Tuhan.


"Iya Mas pasti. Makanya tadi Ody juga undang Ipek di acara empat bulananya kehamilan anak kita. Biar dia berkumpul sejenak dengan kita, dan melupakan setidaknya sedikit cobaan di kehidupanya."


"Iya Mas sih dukung banget kalo kaya gitu. Semoga dia bisa ceria lagi." Rio pun tidak keberatan dengan usul Ody. "Hanya saya bagaimana dengan Ipek dan Clovis kalo bertemu nanti. Semoga saja Clovis tidak membuat masalah lagi," batin Rio dan Ody hampir berdoa dengan doa yang sama.