
Arzen pun terus mengawasi sepanjang sudut ruangan, ia berharap ada Ipek. Bukanya nanti ada sesi foto lagi bersama dengan teman-temanya tetapi tidak ada Ipek rasanya sangat berbeda.
"Sayang kamu lihat Ipek nggak sih?" tanya Arzen sembari berbisik di telinga istrinya yang Masyaallah cantik sekali malam ini. Ini menurut penglihatan Arzen, Zawa malam ini terlalu sempurna, ciee...
"Hah, Ipek? (Zawa ikut mencari sosok sahabatnya itu, saking sibuk dan banyak tamu sehingga ia tidak sadar kalo Ipek tidak ada. awalnya Zawa mengira Ipek kumpul dengan keluarga atau teman-teman sesama di pesantren dulu, tetapi masa ia tidak terlihat dari tadi batang hidungnya) Tidak sayang, aku malah baru sadar kalo Ipek tidak ada," balas Zawa dengan jujur. Karena memang pada kenyataanya Zawa benar-benar baru tahu kalo Ipek tidak hadir di acara resepsi mereka.
Arzen semakin cemas manakala hari semakin malam, dan tamu undangan sudah ada yang pulang. Foto-foto bersama teman-temanya pun kembali di lakukan, tetapi benar kecemasan Arzen terbukti bahwa Ipek memang tidak hadir. Dan mereka pun berfoto hanya beberapa saja.
Arzen dan Zawa kembali melanjutkan resepsi sampai batas waktu yang sudah di jadwalkan. Sementara itu Ipek yang niatnya beristirahat, tetap sajah dirinya tidak bisa memejamkan matanya dengan sempurnya.
Bahkan fikiranya melalang buana ke tempat pesta Arzen dan Zawa.
"Pukul sembilan tamu udangan sudah mulai membubarkan diri ke rumah masing-masing. Dan Zawa pun memutuskan lagi-lagi kembali kekamar hotel lebih dulu karena badanya yang sudah pegel semua, kamar hotel yang memang teman-temanya sudah siapkan, padahal Zawa juga sultah otomatis ia juga mampu untuk menyewa hotel, tetapi lagi-lagi teman-temanya berdalih ini itu bonus atau kado pernikahan dari mereka.
Zawa di bantu Intan ke kamarnya membawa ekor gaun yang memang sedikit panjang sehingga Zawa bawanya sulit. Sedangankan bumil Ody sudah pulang lebih dulu, setelah berfoto-foto Ody dan Rio berpamitan lebih dahulu hal itu karena Meyra yang sudah mengantuk dan rewel lagi. Terlebih anak itu tidak bisa diam berlarian kesana kesini dengan tidak tahu lelah, untung pengasuh Meyra banyak, sehingga Ody bisa duduk dengan santai menikmati aneka hidangan yang lezat-lezat.
"Wa, imbalanya buat gue apa nanti. Gue udah baik banget sama loe, sampe baju ajah gue bawain macam gini," ucap Intan sembari menunjukan ujung gaun Zawa yang di angkat agar tidak jatuh ke lantai dan menyusahkan Zawa untuk bergerak.
"Astagah, kamu kenapa perhitungan sekali Intan. Sesama teman itu tidak boleh saling mencoba mencari keuntungan," jawab Zawa yang sangat tahu bahwa Intan hanya bercanda.
"Yeh... kan lumayam siapa tau saja dari keuntungan bersahabat gue bisa segera dapat jodoh gitu. Secara pembayaran atau semua yang gue lakukin nggak mau dong di bayar dengan uang maunya di bayar dengan jodoh," ujar Intan tetap usaha kan, siapa tahu habis Zawa dia yang nikah, udah nggak sabar Intan juga pengin tahu gimana rasanya jadi raja dan ratu sehari dan juga tentu ingin tahu bagaimana gerangan rasanya terjadi pembuahan pada manusia.
Setelah memasukan kode keamanan pintu kamar hotel terbuka, Intan pun yang lebih duluan tahu. "Wah romantis banget sih Wa, gue jadi pengin buru-buru merasakan apa yang akan loe rasakan," gerundel Intan dengan wajah dibikin sesedih mungkin. Gimana ceritanya umur dia paling tua tetapi kalo dengan Zawa hanya berbeda satu tahun tetap Intan lebih tua dari Zawa.
Namun Zawa tinggal mendekati hitungan jam akan jebol juga pertahananya, tetap Intan jangankan menikah dan dapat jodoh kekasih saja masih entah ada di mana. Masih mencari di tumpuka jerami. Ody sudah menikah bahkan mau memiliki dua ekor. Ipe si bunggsu pun sudah menikah. Walaupun belum berhasil di je-*** ga-wangnya tetapi yang tahu soal masih segel hanya Ipek seorang. Semua orang mengira Ipek dan almarhum Wahid sudah bertempur termasuk orang tua masing-masing.
"Sabar sayang, pasti nanti jodoh kamu datang. Mungkin Allah sedang memilihkan yang terbaik buat kamu," jawab Zawa mencoba menghibur Intan agar tidak merasa menjadi perawan tua.
Sebenarnya Intan santai dan tidak terlalu cemas dengan apa yang namanya jodoh dan menikah. Hanya Intan cape dengan orang tuanya dan sodara bahkan teman-teman ibunya yang sering bertanya sepontan. "Intan kapan nikah? Yang lain udah punya anak ini loh, itu loh... sehingga membuat isi kepala Intan mendidih.
"Ya udah gue mau pulang dulu deh, pusing lama-lama gue liat kamar loe. Iri gue pengin nyicipin juga tidur di kamar kaya gini." Intan pun beranjak dari duduknya dan segera akan pergi.
Buuukkkk... sebuah bantal sofa melayang tepat kena wajah Zawa. "Ngomong lagi, bukan bantal saja yang melayang, tapi ini sofa juga melayang yah Wa," sungut Intan.
Hahahaha.... sementara Zawa justru tertawa dengan renyah, puas banget sudah ngerjain Intan. Namun Intan sudah keluar dari kamarnya dengan bersungut-sungut.
"Loh, kenapa Tan, kok ngoceh-ngoceh terus?" tanya Arzen yang kebetulan berpapasan dengan Zawa di depan pintu kamar hotel yang akan menjadi saksi bisu keganasan Arzen dan Zawa.
"Gue kesel banget sama istri loe, masa di ngejek gue," oceh Intan mencoba ngadu degan sahabatnya Arzen.
"Iya kesel, dari wajah loe udah kelihatan banget kok kalo loe lagi kesel tapi keselnya soal apa?" tanya Arzen dengan lembut.
"Ah udah lah malas gue setiap inget si Zawa bawan gue jadi emosi," elak Intan padahal kalo ia berkata jujur dan terus terang otomatis Arzen juga pasti bisa menertawakanya.
Arzen pun hendak berkata lagi, tetapi keburu di setop oleh Intan. "Setop, enggak usah ngomong lagi. Gue cuma mau pesan. Bikin Zawa memohon ampun, karena dia tadi sudah menghina burung loe. Katanya burung loe kecil," ucap Intan dengan membuat simbol kecil dari jari jempol dan telunjuk yang disipitkan.
Sontak sajah Arzen kaget dengan ucapan Intan. Sedangkan Intan langsung kabur. "Hahaha... rasain pembalasan aku. Nikmati pembalasan aku lewat Arzen. Dan kamu Arzen semoga kamu bisa diandalkan," ucap Intan sembari terus terkekeh dengan berjalan santai. Intan astagah kejahilanmu membuat Zawa keenakan tau nantinya....
Sedangkan Arzen kaget, "Masa iya Zawa bilang gitu, tadi siang sudah di cek. Kata dia ukuranya nggak kecil, bahkan dia sampe kagum dengan ukuran antena gue, kenapa bilang sama Intan beda," batin Arzen. "Ok kalo gitu aku akan buktikan biar kecil yang penting sengatanya membuat kamu nggak bisa tidur sayang." Arzen pun tersenyum dengan jahil dan segera membuka pintu kamarnya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, begitu Arzen masuk ternyata Zawa tengah berusaha membuka Zipper di gaunya yang kelihatanya sangat kesusahan.
Zawa menoleh ketika pintu kamar terbuka dan kebetulan suaminya masuk, sehingga ia bisa meminta bantuan pada Arzen.
"Eh sayang kebetulan kamu udah datang. Aku mau minta bantuan, kamu bukakan zipper ini," ucap Zawa sembari menunjuk bagian punggungnya.
Glekkkk... Arzen menelan ludahnya baru saja ia masuk dan hendak melancarkan aksi hukuman untuk Zawa, tetapi imanya langsung di uji dengan kelakuan Bu dokter.
"Zawa, oh Zawa mari kita bersenang-senang malam ini," batin Arzen sembari berjalan mendekati Istrinya dan hendak membuka Retsleting di gaun bagian belakangnya.