
Arzen yang heran kenapa penumpang dari mobil Ipek tidak turun pun berusaha menghampiri mobil itu. Dengan berjalan tertatih dengan bantuan tongkat Arzen menghampiri mobil Ipek.
Arzen menggedor kaca jendela mobil. "Pek, ko nggak langsung turun?" ujar Arzen sembari mengetuk kaca jendela mobil. Pintu mobil bagian depan terbuka di mana yang pertama keluar adalah Chandra. Yah, Chandra sudah tidak tahan lagi dengan rasa kangenya pada Arzen
"Zen..." Chandra langsung memeluk Arzen, sedangkan Arzen kaget, tidak bisa berkata-kata lagi. Ia sangat heran kenapa bisa Chandra tau dirinya ada sini? Apa semua ini Ipek yang memberi tahukan bahwa dirinya bersembunyi di sini? Begitu kira-kira yang ada dalam fikiran Arzen.
Chandra masih memeluk Arzen sembari menepuk-nepuk punggungnya. Sementara Arzen pun akhirnya membalas rangkulan Chandra, meskipun masih dengan raut wajah kebingungan.
"Arzen, gue kangen banget sama loe kenapa loe ngilang gitu ajah. Loe melewatkan banyak kenangan indah diantar perjalanan persahabatan kita," ucap Chandra sembari memegang kedua bahu Arzen dan ia mengamati Arzen dari atas kepala hingga ujung kakinya. Sementar Arzen hanya menunduk dengan tatapan kesedihan. Dia benar-benar merasa kurang pantas berada diantara pertemanan mereka lagi.
Arzen minder, dengan kondisinya saat ini. Baik dari fisik maupun materi, yang dirinya tidak seperti dulu lagi. Dari usaha rumah kendaraan dan saldo yang tidak pernah surut, tetapi sekarang saldo di ATM'nya saja hanya tinggal beberapa juta bahkan sepertinya tidak ada sampai lima juta, itu dia kumpulkan dengan membantu memasak di pesantren ini dan beberapa bayaran dari yang lainya ketika Arzen di minta memasak di beberapa acara besar dan dia akan mendapatkan upah.
Zawa yang kini sudah mulai tenang pun menghapus air matanya, ia benar-benar sudah kangen dengan Arzen, ingin ia memeluk Arzen dan menciumnya. Namun sejak di dalam mobil Ipek udah memberikan arahan agar baik Zawa maupun Intan jangan terlibat kontak fisik dengan Arzen, terlebih ini diingkungan pesantren tidak baik di lihat oleh para santri dan santriwati. Walaupun mereka dipisahkan bagungan, tetapi sangat tidak dianjurkan untuk kontak fisik. Zawa dan Intan pun mengerti.
Brrruuukkk... suara pintu mobil yang dengan sengaja Ipek tutup dengan sangat keras. Yah, dia yang iseng dari orok ingin mengerjai Arzen bawa ada bidadari yang di rindukanya kini ada di belakang punggunya.
Benar saja ketika Arzen mendengar pintu mobil di tutup keras Arzen pun segera menoleh ke belakang.
Deg... jantung Arzen seolah berhenti berdetak. Kaget, itu yang Arzen rasakan ia sangat-sangat kaget dengan apa yang ia lihat ada di hadapanya.
Wanita yang ia sangat-sangat cintai dan dia masih mengira Zawa ada di dalam penjara tetap justru kali ini ada dihadapanya.
"Zawa... ka... kapan bebas?" tanya Arzen saking gugupnya ia tidak sedikit pun mengira bahwa akan bertemu Zawa secepat ini. Bahakan dalam sepertiga malamnya ia selalu berdoa agar suatu saat dipertemukan dengan Zawa, walaupun hanya sekali sebelum ia meninggal, dan melihat Zawa bahagia dengan kebebasanya. Arzen sudah mencoba menguatkan hatinya sampai beberapa tahun kedepan untuk tidak bertemu Zawa mencoba memendam rasa kangenya yang teramat dalam.
Namun ternyata Tuhan sangat berbaik hati, kini ia dipertemukan Zawa jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan. Arzen pikir Chandra datang sendirian hanya denga supir Ipek. Tidak terfikirkan sedikit pun bahwa di dalam mobil itu ada Zawa, Ipek dan Intan.
Zawa sama kaya Arzen yang tidak bisa menjawab pertanyaan Chandra. Baik Arzen maupun Zawa terlalu syok sehingga mereka tidak fokus dengan pertanyaan apa yang di lemparkan kepadanya.
"Masuk yuk, Abah sama Ambu sudah menunggu di dalam. Apalagi Abah sudah nggak tahan ingin memberikan wejangan buat Arzen sama Zawa," kekeh Ipek yang berhasil membuat Arzen curiga pasalnya ia sangat tahu bagaimana sifat jahil Ipek. Arzen masih sangat ingat bagaimana dirinya diospek oleh Abinya Ipek, dan Ipek. Mereka bekerja sama saling mengerjai Arzen. "Apa Ipek akan kembali ngerjain aku," batin Arzen, sembari melirik Ipek penuh selidik.
Baik Intan dan Zawa sebenarnya ingin meluapkan rasa kangenya sama Arzen, tetapi karena nasihat-nasihat Ipek yang dikatakan sebelum turun dari mobil, mereka pun berusaha dengan sangat dan teramat untuk tidak saling terlibat kontak fisik. Arzen dan Chandra berjalan lebih depan.
Betapa sakitnya hati Zawa ketika melihat Arzen berjalan tertatih. Zawa berjanji akan selalu ada di samping Arzen, bagaimana pun keadaanya. Tanpa sadar air mata Zawa kembali jatuh manakala melihat Arzen yang berjalan tertaih dengan sebuah tongkat. Meskipun Arzen sudah terbiasa sehingga tidak merasakan sakit, ataupun kesulitan. Tetapi bagi Zawa itu sangat menyiksa batinya. Dadanya sangat sesak sejak tadi menahan tangis. Tenggorokanya tercekik ingin Zawa menangis dengan keras dan memeluk tubuh ringkih itu. Tubuh yang tiga tahun lalu terlihat kekar dan penuh dengan otot yang keras karena Arzen yang selalu meluangkan waktu untuk berolahraga, rutin mengunjungi GYM untuk membentuk otot-ototnya. Kini tubuh kurusnya bersembunyi di balik baju koko yang terlihat kebesaran dan warnanya pun sudah nampak pudar.
Ipek yang tau kesedihan Zawa pun kembali mengusap punggung Zawa dan mencoba menenangkan Zawa, agar jangan bersedih terus. Kasihan juga dengan Arzen yang justru sedih melihat Zawa yang melow terus. Bagaimana pun ini semua bukan kemauan Arzen ini takdir dari Tuhan dan Arzen hanya bertugas untuk menjalaninya dengan ikhlas sampai Allah mengatakan kamu lulus menjalankan ujian dariku, sekarang kalian berbahagia lah.
Benar yang dikatakan Ipek, Abah dan Ambu sudah menunggu semua tamunya di ruang tamu. Bahkan Arzen melihat bukan hanya Abah dan Ambu saja yang menyambut Ipek dan temanya. Melainkan semua anggota besar keluarga Ipek dan sebagian besar pengurus pesantren juga hadir di sana.
Arzen jadi panas dingin kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Abah dan mereka semua. "Kenapa perasaan aku jadi nggak enak gini yah, aku jadi ingat acara pertunangan Ipek yang mana orang yang hadir adalah orang-orang yang hampir sembilan puluh persen sama, bedanya diacara pertunangan Ipek lebih banyak karena ada keluarga Wahid juga disana.
Setelah Ipek mengenalkan satu per satu teman yang ia bawa dari Jakarta. Ipek dan temanya pun duduk di sofa yang bersebrangan dengan Arzen.
Abah menatap tajam pandanganya pada Arzen yang setelah tahu bahwa Abah menatapnya, Arzen pun menunduk tidak berani menatap Abah.
"Nak Arzen gimana perasaaanya ketemu dengan Neng Zawa? Senang?" tanya Abah dengan suara beratnya.
Arzen mengangguk. "Senang Bah," jawab Arzen singkat.
"Ini senengnya, seneng ajah atau seneng banget, bisa ketemu sama Neng Zawa?" tanya ulang Abah yang sebenarnya niatnya sudah jelas bercanda.
Namun berbeda dengan Arzen yang justru tubuhnya semakin dingin dan tegang mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari Abah. Yang lain ketika melihat kecemasan di diri Arzen justru terkekeh ringan. Yah, hal itu menambah Arzen semakin gerogi dan ingin menghilang dari ruangan itu. " Ya Allah kenapa aku berasa seperti Napi yang tengah dihakimi kesalahanya. Tatapan dari mereka seolah menguliti tubuhku," gumam Arzen sembari kembali menunduk, tidak bisa berlama-lama menatap tatapan orang-orang yang memperhatikanya dengan tajam.