Beauty Clouds

Beauty Clouds
Ikatan Darah



Di saat bunda dan papahnya sedang sama-sama merasakan sakit luar biasa karena adiknya akan lahiran. Meyra yang sebelumnya tengah terlelap dalam tidurnya pun terbangun. Kedua matanya di gerakan mengawasi dengan jeli segala penjuru. Meskipun kesadaranya belum sepenuhnya pulih, gadis kecil itu masih mencoba mengingat memorynya sebelum ia tiba-tiba merasa sangat mengantuk dan terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Namun ketakutanya kembali menghampirinya. Ketakutanya benar terjadi, ketika ia terlelap tidur papah dan bundanya tidak ada. Anak kecil menginjak usia empat tahun itu pun kembali menangis histeris, sembari memanggil papah dan bundanya.


"Hua...Hua...Hua... Papah, bunda, Mey takut," jeritnya.


Kedua keluarga yang masih bersitegang di depan kamar Meyra pun kaget ketika mendengar tangisan kencang Meyra. Mereka pun tergopoh secara bersamaan seolah tengah berlomba untuk paling dulu sampai ke ranjang Meyra. Namun anak kecil itu semakin menjadi dalam tangisnya ketika melihat bukan papah dan bundanya yang masuk. Meyra semakin menjadi nangis bahkan tanganya yang terhubung telang inpus ia gerak-gerakan sebagai tanda bahwa ia tidak mau di dekati oleh mereka. Yang ia inginkan hanya papah dan bundanya.


"Enggak mau... Jangan dekat-dekat May! May mau sama papah sama bunda," bentak Meyra tubuhnya yang awalnya duduk diatas bed pasien empuk nan besar itu langsung beranjak dan mencoba turun sehingga jarum yang menghubungkan ke selang infus menusuk di lengan sebelah kirinya terlepas. Seolah tidak memiliki rasa sakit walaupun darah menetes dari luka bekas jarum yang di telepas dengan paksa. Bocah kecil itu tetap menangis berjalan mencari papah dan bundanya. Keempat orang paruh baya yang masing-masing merasa kakek dan omanya tidak bisa melarang, sebab baru berjalan mendekat saja tangisan Meyra semakin menjadi, siapa pun yang melihat bocah kecil itu menangis seperti itu akan iba dengan keadaanya, mencari kedua orang tuanya tanpa tahu harus kemana. Lorong rumah sakit Meyra telusuri masih dengan tangisan yang pilu. Tuan Hartono dan Erwin maupun pasanganya masing-masing tidak ada yang bisa berbuat banyak sebab baru melihat orang lain saja Meyra akan semakin kencang menangisnya.


Aarav yang baru sajah dari luar untuk urusan pengecekan alat medis menggatikan Rio pun, samar-samar mendengar suara tangisan anak kecil yang sangat mengiris hatinya. Ia sangat hafal dengan suara itu. Aarav mencari sumber suara itu. Benar saja kecemasanya, Meyra yang tengah menangis, Aarav tanpa berpikir panjang langsung mendekat ke arah anak yang tengah menangis dengan pilu itu. Aneh sungguh aneh, Meyra tidak merasa takut dengan Aarav justu ia nampak memelankan volume tangisanya seolah ia menemukan pelindungan yang baru selain papah dan bundanya. Keempat orang paruh baya yang mengintip dari dalam kamar Meyra pun mengelus dada lega. Mereka tidak berani mendekat karena apabila mendekat Mey akan menjerit-jerit sembari mengerak-gerakan tanganya yang masih mengeluarkan darah bekas jarum infus yang di tariknya paksa. Tuan Hartono pun yang awalnya akan memimta bantuan dokter untuk memberi obat penenang, tidak jadi melakukanya. Ponsel yang sudah ada di genggamanya dan siap melakukan penggilan, ia masukan kembali ke dalam saku celananya karena melihat pemandangan yang sangat kontras dengan apa yang tadi terjadi.


"Dady, Mey takut. Papah dan Bunda pergi tinggalin May," ucap anak kecil itu sembari masih terisak.


Aarav langsung menghambur memeluk tubuh anak angkatnya yang masih lemah, diangkatnya tubuh anak kecil itu. Betapa kagetnya Aarav ketika melihat ada banyak darah menetes di atas lantai lorong rumah sakit. Aarav mencari sumber darah itu. Matanya tertuju ke tangan Meyra yang mengeluarkan darah, Aarav meraih tangan Meyra dan menutup luka kecil tetapi dalam itu dengan sapu tanganya agar tidak mengeluarkan darah lagi. Meyra pun langsung menunjukan perubahanya, tangisnya perlahan-lahan berhenti dan kepalanya yang bersandar di pundak Aarav seolah tempat itu paling nyaman buat Meyra.


Aarav berjalan menuju kamar Meyra. Dia melihat ada dua pasang suami istri paruh baya yang sangat ia kenal. Namun begitu Aarav melihat pasangan Erwin dan Liana wajahnya berubah kaget. Apabila ada keluarga Erwin itu berati ada kemungkinan Emly sudah berani keluar dari persembunyianya. Begitu pikir Aarav.


Bukan hanya Aarav yang kaget ketika melihat Erwin, pasangan suami istri itu pun kaget ketika melihat Aarav. Hanya Erwin dan Liana yang tahu kenapa Meyra bisa merasa nyaman ketika berada digendongan Meyra. Hal itu karena Meyra yang memang darah daging Aarav. Erwin mengamati Aarav dengan sangat jeli, seolah satu inci dari tubuh dan penampilanya ia amati. Aarav sadar bahwa papih dan mamih Emly tengah mengamatinya tetapi ia bersikap santai. Dulu bahkan Aarav sudah pernah mencoba mendatangi keluarga Emly dengan tujuan untuk meminta izin bertanggung jawab atas perbuatanya, tetapi tidak sedikit pun niat baiknya disambut. Bahkan untuk menemuinya pun tidak mau. Sehingga Aarav pulang dengan keadaan hati yang kecewa.


Hanya karena perbedaan materi dia tidak diberitahu keadaan Emly yang sedang mengandung anaknya. Aarav tahu bahwa Emly hamil setelah Zawa bercerita ketika di dalam penjara, itu tandanya Emly saat arav tahu kebenaranya, sudah tengah menanti kelahiran buah hatinya. Terlambat memang, tetapi Aarav tetap mencoba untuk bertanggung jawab dengan menemui orang tuanya.


Namun baru di kesempatan ini Aarav bertemu dengan orang tua Emly dan itu tandanya kejadian itu hampir menginjak empat tahu. Aarav kecewa dengan penolakan orang tuan Emly yang memilih merahasiakan kehamilan putrinya dari pada menuntut pertanggung jawaban dari Aarav, hanya karena setatus sosial Aarav yang tidak memiliki limpahan materi. Zawa yang mengatakan demikian, karena saat itu Zawa satu-satunya teman Emly yang selalu ada dari usia kandunganya satu bulan sampai penghiantan Emly membuat hubungan persahabatan itu menjadi memanas. Mungkin andai tidak ada wanita sebaik Zawa, Emly sudah menggugurkan anaknya itu. Itu sebabnya Aarav pada saat Arzen menikah memberikan modal pernikahan paling besar nominalnya dibandingkan yang lainya. Satu miliar Aarav beri cuma-cuma untuk kado pernikahan Aarav dan Zawa. Meskipun Aarav belum tahu kondisi anaknya ada di mana tetapi di tetap merasa wajib mengganti kebaikan hati wanita sebaik Zawa.


Cukup lama Erwin dan Aarav beradu pandang. Sebelum Hartono memaksa Aarav menghentikan tatapan kaget karena keberadaan Erwin. "Rav, kamu duduk di ranjang biar papih panggil dokter buat memasang kembali selang infus Mey," ucap Hartono dengan kecemasan yang masih tersisa, untung ada Aarav yang bisa menenangkan Meyra kalo tidak jalan satu-satunya adalah suntikan penenang yang jelas-jelas kurang bagus untuk anak seusia Meyra dan lagi sebelumnya Meyra sudah diberi obat penenang itu untuk mengembalikan setaminanya.


Aarav mengikuti apa yang pemilik rumah sakit katakan tanpa menurunkan Meyra, dan juga anak itu yang tidak mau turun dari gendongan dadynya yang hangat, ikatan darah Aarav yang mengalir kental ditubuh Mey sehingga nuraninya bisa merasakan kehangatan itu. Bahkan Aarav bergerak untuk membenarkan posisi nyaman Mey saja anak itu langsung merangkul dengan kencang. Mungkin mengira bahwa Aarav akan meninggalkanya. "Mey mau bobo sini?" tanya Aarav dengan suara sangat lembut.


Anak usia empat tahun itu menggeleng dalam dekap'an dada hangat Dadynya.


"Ok kalo Mey tidak mau, Dady akan tetap gendong Mey. Dady akan temanin Mey terus, jadi Mey jangan nangis lagi yah." Aarav menepuk-nepuk bokong anak angkatnya itu dan sepertinya cara itu membuat Meyra nyaman. Anak itu diam menikmati apa yang Aarav lakukan. Sampai dokter datang dan mencoba membersihkan darah yang mengering di pergelangan tangan Mey sampai telapak tangannya.


"Dady sakit," ringis Meyra dengan isakan tangis, tetapi tidak sekeras tadi.


"Iya sayang, tahan yah cantik, ada Dady di sini bakal temanin Mey, nanti sakit Mey pindah ke Dady yah. Biar Dady saja yang sakit," hibur Aarav menengkan Meyra yang menangis dengan sangat sedih. Suaranya berat dan mulai serak. Aarav pun ikut berkaca-kaca ketika mendengar tangisan anaknya itu. Semua yang ada diruangan itu tidak kuat mendengar anak perempuan dengan wajah cantik itu menangis sangat pilu.


Butuh waktu cukup lama untuk memasang selang infus di tangan Meyra karena memang Mey yang sering menjerit ketika jarum menusuk kulitnya membuat mereka harus berhati-hati untuk melakukan pemasangan selang infus itu.


Sementara Emly sejak tadi di rumahnya juga dadanya tiba-tiba sakit, perasaanya tidak enak dan bahkan ia selalu gelisah. Memikirkan bagai mana orang tuanya menghadapi keluarga Rio. Emly takut terjadi sesuatu dengan kedua orang tuanya.


Emly ingin menghubungi papih atau mamihnya untuk menanyakan keadaanya, tetapi takut situasinya tidak tepat. Terlebih kepergian orang tuanya sudah lebih dari tiga jam. Waktu yang cukup lama untuk sebuah pertemuan bukan? Emly pun di dalam kamarnya mendorong korsi rodanya bolak-balik. Perasaan tidak tenang membuat ia tidak bisa diam, dan berfikir positif.