
"Di mana Emly sekarang?" tanya Rio, laki-laki itu mencoba menekan kemarahanya dan juga akan mencoba membuka pintu maafnya meskipun Emly secara langsung belum meminta maaf padanya, tetapi dari penuturan dua sahabat dan papihnya memang Emly sudah ada niat untuk meminta maaf pada dirinya dan Ody. Hanya semuanya belum terlaksana semuanya sudah harus terjadi kejadian yang buruk ini. Benar kata Aarav dia juga marah dan kesal dengan Emly yang merahasikan kehamilanya, terlebih setelah tahu semuanya hanya karena materi. Pasti Aarav juga hatinya sangat sakit dengan penghinaan itu.
"Emly, ada di ruang VIP. Terima kasih karena kamu sudah berusaha menekan kemarahanmu untuk menemui Emly. Aku berharap masih ada kesempatan Emly di kasih umur panjang untuk menebus semua kesalahanya," ucap Aarav, hatinya terasa langsung lega. Padahal ia belum tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tetapi berkat Rio yang mau menemui Emly itu tandanya hatinya juga akan berusaha untuk memaafkan Emly.
"Loe pergilah dulu, gue mau coba ngomong sama Ody," ujar Rio. Dia ingin apabila memang Emly ingin bertemu dengan Meyra maka Ody juga wajib tahu. Dan mengizinkanya pula.
Aarav pun meninggalkan ruangan Chandra, hatinya tidak segelap tadi. Bahkan kini langkahnya pun tidak berat seperti tadi. Harapan terbesarnya ingin mempertemukan Meyra dengan ibu kandungnya, segera terwujud. Bahkan Aarav berjanji apabila Meyra diizinkan menemui Emly, ia tidak akan meminta lebih banyak kali. Semua hak atas Meyra ia serahkan pada Rio, ia akan berpasrah menyerahkan Meyra pada Rio dan Ody dan apabila diizinkan Aarav akan meminta sekali-kali ia juga diberikan hak untuk mengasuh Meyra, tetapi ia kembalikan sempuanya pada Rio dan Ody.
"Sudah difikirkan mateng-mateng kan? Jadi tidak akan menyesal. Lagian kalo kata aku, Emly udah berubah kok, tinggal kamu dan Ody membuka pintu maaf. Semuanya pasti akan indah dan damai," ujar Chandra, lelah juga melihat pertikaian di persahabatanya.
"Gue masih ada rasa trauman sama takut dia kembali punya otak jahat," bela Rio, memberitahukan apa alasanya masih enggan menemui Emly dari kemarin-kemarin.
"Jahat harus ada uang, terlebih dia sekarang sudah tidak normal, dan juga dia sudah tidak tajir kayak dulu. Mau bayar pake apa dia buat mulusin rencana jahatnya. Kalo gue tebak dia benar-benar menyesal," terang Chandra. Memang yang dikatakan Chandra ada benarnya juga.
"Gue harus bicara sama Ody dulu," balas Rio pasrah, tidak ada alasan untuk tidak memberi kesempatan berubah pada Emly.
"Yah memang itu paling penting. Kalian bicara lah, kalo aku tebak Ody sebagai ibu pasti tahu betul perasaan Emly saat ini, jadi sepertinya akan lebih gampang ketika berbicara dengan Ody dari pada dengan kamu," jawab Chandra di selingi kelakaran dari bibirnya. Yah memang biasanya apabila bersangkutan dengan anak, seorang ibu akan lebih bisa mengerti.
Rio pun setelah mendengar nasihat dari Chandra langsung beranjak pergi kembali ke kamar keluarganya yang masih menginap di rumah sakit, tetapi rencananya Ody sudah ingin pulang esok hari. Katanya sudah bosen di rumah sakit enggak bebas. Meskipun fasilitas mereka yang terbaik dari semua kamar. Bahkan ada wahana bermain untuk Meyra agar tidak bosan di dalam kamar itu, tetapi yang dirasakan Ody tetap bosan berada di kamar rumah sakit itu.
Pintu di buka dengan perlahan. Pemandangan tidak jauh berbeda dengan tadi ketika ia akan pergi ke ruangan Chandra. Di mana Meyra selalu asik bermain dengan Cus, bahkan kamar ini di rancang dengan banyaknya mainan. Sementara Ody tengah menimang si Boy.
"Hay baby Boy kamu udah bangun, cariin papah yah," ucap Rio menyapa si Boy yang tadi waktu Rio pergi ia masih pulas tertidur.
"Iya papah, Boy mau main sama kaka tapi tadi kakak malah, jadi aku tidak di ajak main." Ody menirikan suara anak-anak menjawab pertanyaan Rio buat anaknya.
"Bukan tidak boleh papah, cuma ini mainan anak cewek. Adik bayi kan cowok jadi kalo cowok tidak boleh main boneka," adu Meyra sama papahnya mungkin takut kalo Rio akan memarahinya.
"Iya sayang kalo cowok mainya bola yah." Rio berusaha menengahi karena melihat Meyra yang nampak sedih mengira Rio akan membela adiknya. Lagian tadi itu Ody hanya mengisengi Meyra, rasanya sudah lama tidak menggoda sang kakak. Meyra kali ini benar-benar menurut dia lebih banyak mengalah buat adiknya. Bahkan apabila Ody meminta bantuan pada Cus untuk mengambilkan ini itu. Meyra akan menawarkan dirinya ingin membantu mengambilkan benda lain yang Ody butuhkan juga.
"Adik bayi belum mandi," ujar Meyra, sembari menunjuk adiknya itu. Yah biasanya Meyra akan mandi bareng sama adiknya. Mey di mandikan Cus dan adiknya oleh bundanya.
"Cus tolong bujuk Mey mandi yah," titah Rio dengan nada lembutnya agar Meyra juga paham perintah papahnya.
"Baik Tuan."
Ody agak sedikit heran dengan Rio. "Kenapa sih sayang, kok kamu kayaknya cemas banget gitu. Kayak lagi banyak fikiran deh kamu," ucap Ody heran.
"Sayang kita harus bicara," Rio menuntun Ody ke sova agar mereka bisa lebih nyaman untuk mengobrolnya. Si Boy pun seolah anak bayi itu tahu memberi waktu pada papah dan bundanya untuk mengobrol bersama.
"Ada apa sih Mas? Kok aku jadi deg-degan gini yah," ucap Ody dengan memegangi dadanya. Sementara sang kakak Mey sedang mandi bersama pengasuhnya.
Rio nampak gugup, dan beberapa terlihat helaian nafas panjang dari papahnya Meyra itu.
"Mas... kalo ada apa-apa itu di bicarain agar bisa dapat solusinya. Kalo di pendam sendiri malah semakin sesak," ujar Ody padahal ia sudah tidak sabar lagi ingin mendengar apa sebenarnya yang akan suaminya bicarakan.
"Emly sudah kembali, dan selama ini dia ingin beremu dengan kita untuk meminta maaf, tetapi Mas dan Papih melarang karena takut kamu masih marah dengan dia, tetapi kali ini kondisi Emly memburuk, apa kamu mau memaafkan dia?" tanya Rio suaranya lirih dan bergetar, takut kalo Ody akan marah dan mengingat semua kejahatan Emly.
Ody memang sempat terkejut dengan ucapan Rio itu, dan sempat tertegun untuk beberapa saat. "Dia sakit?" tanya Ody pandanganya seolah kosong tetapi ia mendengar dan tahu apa yang terjadi.
Rio mengangguk, sebagai jawabanya.
"Sakit apa?" Boleh Ody ketemu dengan dia. Ody ingin berbicara dengan dia," ujar Ody, entah mereka akan membicarakan apa tetapi seolah ucapan Ody penuh emosi.
"Emly kembali koma."
Seketika Ody langsung menatap Rio dengan tatapan penuh tanya. Rio tidak bisa menjawab arti tatapan Ody, karena dirinya juga tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa Emly.