
Tangan kekar memeluk pinggang Zawa dari balik tubuhnya. Zawa yang sedang memasak pun kaget dan mencoba membalikan badanya. Namun buru-buru orang yang berada di belakangnya menghalau agar Zawa tetap fokus dengan masakanya.
Yah, Zawa sudah bisa tebak bahwa orang yang ada dibelakangnya adalah Arzen, suaminya. Harum tubuhnya dan tangan yang ia sudah sangat hafal karena hampir setiap malam tangan itu selalu memeluknya ketika hendak tidur. Deru nafas yang harum nan memburu sudah bisa di tebak bahwa suaminya sedang mode manja.
"Tumbun pulang cepet?" tanya Zawa yang merasakan bahwa Arzen tengah menyadarkan kepalanya di pundak bagian belakangnya. Berat sih dan menghalangi ia masak, tapi Zawa ikhlas karena hal itu justru membuatnya romantis. Kapan lagi Arzen akan manja gitu, kalo enggak di kamar.
"Kangen sama kamu Baby," lirih Arzen sembari mencium tenkuk bagian belakang istrinya itu
Zawa hanya tersenyum dan membiarkan Arzen melakukan apa saja, toh paling yang liat Bibi, sang asisten rumah tangga yang sudah sangat hafal kebucinan majikanya itu.
"Masak apa? Kok wangi banget jadi enggak sabar pengin makan, laper." Arzen melepasakn pelukanya di pinggang Zawa, suaminya itu kini malah duduk di kursi dan menjadi penonton Zawa yang sedang memasak itu.
"Sayur sop, sama sambel terus goreng ikan ajah. Kamu enggak masalah kan makan kaya gini?" tanya Zawa biarpun ia tahu suaminya itu tidak akan mempermasalahkanya, terbukti selama ini Arzen tidak pernah protes apapun yang Zawa olah.
"Apapun masakan kamu, aku pasti tidak akan bisa menolaknya. Selain masakanya yang sudah jauh lebih enak kamu juga pandai tahu makanan apa kesukaanku," ujar Arzen. Padahal kalo di bilang masakan Zawa jauh dari lezat, malahan Arzen olahanya lebih bisa diandalkan, tetapi laki-laki itu tahu bagai mana caranya membahagiakan istri. Arzen selalu memuji hasil masakan Zawa.
Rasa sukur sudah sangat Arzen rasakan di mana Zawa sebenarnya dari dulu bukan orang yang pandai memasak dan lain sebagainya, tetapi berkat kegigihan dan keinginanya untuk memberikan olahan ala dirinya untuk suami tercinta. Zawa pun sedikit demi sedikit belajar dari bibi dan tentu chef Arzen juga ikut andil dalam menawarkan resep produk olahanya. Awal-awal olahan Zawa jangan ditanya lagi rasanya kaya apa, karena sudah pasti tidak karuan antara kebayakan garam dan terlalu pedas bahkan gula terlalu banyak pun pernah sehingga seolah Arzen tengah menikmati nasi dengan menu kolak.
Namun sekarang Zawa sudah bisa meracik bumbu dengan sedikit sempurna, dan juga sudah bisa mengukur garam maupun gula sehingga tidak lagi terlalu asin dan manis.
"Iya karena aku sayang sama kamu, kata orang kalo sayang selain bisa memanjakan di atas kasur, juga bisa memanjakan perut suami," jawab Zawa dengan kerlingan matanya yang genit, sehingga membuat Arzen pun tertawa renyah.
Dua pasangan yang masih mengklaim mereka adalah pengantin baru pun saling menikmati keromantisan ala kebucinan mereka, kali ini dapur menjadi sasaran tempatnya.
*****
Ipek dan uminya sejak siang menjelang sore di sibukan dengan urusan dapur, yah sang istri sholehah juga ingin bisa masak, meskipun masakanya tetap tidak jelas. Ipek dari jaman dulu kala tidak pernah bisa menginjak dapur. Wanita itu akan selalu mengacaukanya. Seolah yang namanya dapur selalu memusuhinya sehingga tidak pernah berhasil ipek di tempat itu.
"Yah umi, itu bisa nanti ajah, sekarang Ipek pengin bantu Umi memasak. Ipek kan juga pengin bisa kaya umi jago masak dan rasanya selalu Lezat," rengek Ipek tidak mau mengikuti saran dari uminya, anak perempuanya itu tetap ingin di dapur ikut memasak dengan uminya, meskipun sudah dua kali Ipek menggosongkan masakan umi.
Ehem... Suara deheman terdengar dari belakang umi dan anak yang berdebat ringan, karena Ipek yang ingin tetap ikut memasak dan Umi justru kebalikanya, tidak ingin anaknya ngerepotin di dapur. Bukan Umi terlalu memanjakan anaknya itu. Tetapi Umi sudah tidak memiliki stok sabar untuk mengajari Ipek yang sangat payah soal urusan dapur.
"Kenapa kok rame banget?" tanya Clovis sembari menekuk lengan kemejanya dan hendak bersiap membantu mertuanya masak. Yah Clovis dari tadi mendengarkan perdebatan antar Ipek dan uminya itu.
"Ipek pengin bantu Umi masak Bang, tapi Umi terus-terusan minta Ipek ke kamar ajah buat nonton drama korea atau membaca novel, padahal kan Ipek juga ingin bisa memasak masakan sepesial buat Abang dan semuanya," adu Ipek dengan wajah mengibanya. Berharap Clovis akan membelanya.
"Abang tidak pernah minta Ipek bisa masak, dan kalo memang tidak bisa memasak Abang akan tetap sayang dengan Ipek kok. Biar sekarang Abang saja yang bantu Umi masak, anggap saja Ipek yang melakukanya," ujar Clovis sembari mengambil alih masakan yang gosong dan menggantinya dengan masakan yang baru.
"Abang bisa masak?" tanya Ipek heran.
"Tidak jago, tapi masih bisa diandalkan kalo cuma aduk-aduk ajah," jawab Clovis dengan santai.
Setelah merundingkan menu masakan dengan umi mertuanya Clovis pun mulai menumis bumbu yang umi sudah meraciknya. Gerakan tanganya terlihat lebih luwes dari pada istrinya, Ipek yang masih takut untuk berdekatan dengan kompor dan minyak. Ipek pun terkesima dengan suaminya yang ternyata memiliki segudang bakat. Otot-otot tangan ketika mengaduk-aduk masakan dihadapanya sangat membuat otak Ipek tidak kondusif, ia malah membayangkan kejadian setiap malam yang mereka lalui. "Aduh, kayalnya gue ketularan gesreknya sama Zawa," batin Ipek sembari menggerak-gerakan kepalanya dan menutup matanya dengan kuat agar fikiran kotornya pergi. Mungkin dia lupa bahwa dirinya dulu lebih gearek dari Zawa.
"Ehem... Ini apa-apaan yah kenapa dapur jadi rame gini sedang apa emang?" tanya Abi dengan nada dinginya, yah Abi ini kalo ada Clovis masih sok gayanya dingin-dingin tapi peduli.
"Eh Abi, ini Umi lagi masak sama menantu Umi, ternyata lebih bisa diandalkan menantu Umi untuk masak dari pada anak kesayanganga Abi itu. Lihat dua masakan Umi dibuat hitam legam getu." Umi tidak mau kalah mengadu juga pada suaminya gimana kesalnya masakanya di kacaukan oleh anak kesayangan Abi itu.
"Ih Umi kok ngomongnya gitu, namanya juga lagi belajar wajar dong Umi kalo gagal," bela Ipek, sementara Clovis masih sibuk dengan masakanya. Bahkan ia juga nampak mengiris bawang dan cabai untuk pelengkap masakan. Yah Clovis akan menambahkan menu andalanya kebetulan tadi melihat kepiting. Laki-laki bertubuh atletis itu ternyata pandai mengolah kepiting, kali ini ia akan mengolah menjadi kepiting bumbu saus padang.
"Iya Umi, kalo orang belajar jangan galak-galak nanti malah anak Abi ngambek, susah bujuknya," u
jar Abi sengaja ingin menunjukan pada Clovis bahwa Ipek adalah anak kesayanganya jadi jangan macam-macam. Namun nampaknya Clovis yang sedang fokus dengan masakanya tidak begitu fokus dengan perdebatan di belakangnya.