Beauty Clouds

Beauty Clouds
Nasihat Ambu dan Abah



Tidak menunggu waktu lama, kini pintu kamar hotel Arzen dan Zawa, di ketuk dan teryata pelayan hotel yang hendak mengantarkan pesanan makan mereka.


Kini Arzen dan Zawa pun tengah menikmati makanan yang mereka pesan. "Sepertinya kamu benar-benar lapar sampe nggak sadar makanya belepotan." Arzen mengelap pinggir bibir Zawa yang ada saus yang menempel, dengan jempolnya dan lalu Arzen menji-lat jempol yang ia gunakan untuk mengelap sisa saus tadi.


"Ih... kamu jorok sayang," protes Zawa padahal kan kalo mau di piring masih banyak kenapa milih yang nempel di bibir padahal juga kalo minta Zawa tidak akan nolak untuk memberikanya. Zawa akan dengan suka rela membagi makanan itu. Dasar Arzen ajah yang cari gara-gara....


"Yang dari bibir lebih enak apalagi kalo langsung, pasti rasanya beda," balas Arzen dengan santai. Ia tengah asik menatap Zawa yang masih asik mengunyah. Sementara Arzen sudah kenyang, dan sudah menghentikan makanya.


Zawa pun berusaha tetap cuek, perutnya masih lapar sehingga mulutnya belum mau berhenti mengunyah.


"Kayaknya ini makan sengaja di lambat-lambatin buat ngulur waktu, ingat sayang malam ini adalah tugas pertama kamu, jadi jangan pura-pura lupa," ujar Arzen sembari mengecup pipi Zawa, dan dia akan lebih dulu mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur yang banyak kelopak mawar bertebaran dengan bentuk love yang indah.


"Astagah, Arzen tahu kayaknya kalo aku lagi ngulur waktu," batin Zawa, sedetik kemudian ia lebih cepat mengunyanya. Ia ingat nasihat Abah dan Ambu. Bahkan seorang istri tidak boleh malu-malu di hadapan suami dan juga tidak boleh menolak kemauan suami. "Aduh... ingat surga Zawa... surga," ucap Zawa sembari hendak bersiap-siap melayani Arzen.


*****


Di lain tempat, Rio dan Ody nampaknya tidak mau kalah dengan Arzen sebagai pengantin baru, ia pun malam ini saling mem*askan.


"Tapi jangan kenceng-kenceng yah sayang, kasihan dedeknya udah cape seharian, masa papah juga mau ditengok lagi," ucap Ody mengingatkan suaminya. Bermainlah dengan pelan yang penting aman.


"Iya Bun, Papah tau kok, kalo ada si kecil ini mah pasti Papah nggak berani kecang-kencang kasihan sama Bunda juga," balas Rio. Sembari memberikan sentuhan yang membuat lupa pada Meyra. Yah, demi kelancaran malam ini Meyra tidur di kamarnya sendiri bersama sustternya yang sekarang bertugas menjaga Meyra. Karena Ody yang kehamilanya semakin besar dan tidak bisa terlalu mengawasi Meyra sehingga Rio mempekerjakan sustter khusus untuk menjaga Meyra. Namun tetap Ody apabila sikecil tidak manja akan menjaga Meyra dan sustter hanya mengawasi Meyra.


Sesuai dengan janjinya bahwa ia akan bermain dengan pelan karena Ody dan Babynya sudah cape seharian mengahadiri acara Arzen, yah walaupun Ody hanya duduk dan makan tetapi itu untuk ibu hamil sudah sangat luar biasa lelah. Rio terus bekerja di bawah sana tidak akan berhenti sebelum mencapai p*ncak, dia tidak mau kalah dengan Arzen. Bahkan di kala Arzen masih makan malam untuk persiapan energi Rio justru sedang berpacu menuju puncak.


Walaupun tengah hamil dan kehamilanya yang sekarang termasuk yang sensitif, tetapi Ody masih bisa tetap memberikan kewajibanya untuk memenuhi kebutuhan batin suaminya.


"Ah... sayang kayaknya kamu kekencengan deh, itu dedenya sampe nendang," ucap Ody yang justru so-do-kan dari suaminya di balas tendangan dari anaknya.


"Haha... Baby terganggu yah, bentar yah sayang tanggung nih, papah udah mau sam...pai... Uh..."lengkuhan panjang terdengar dari Rio yang baru saja sampai di puncak kenik-matannya. Begitu pun Ody begitu Rio semakin cepat memom-panya rasa yang aneh dan selalu membuat ketagihan sudah melambai-lambai dan benar saja dirinya juga mencapai ke nikma-tanya bersama dengan Rio.


"Kenapa mau lagi?" tanya Rio menggoda Ody. Dan Ody pun menggeleng dengan pelan andai bukan karena ada baby di perutnya yang harus dijaga. Ody ingin menganggukan kepalanya, dan berkata "Mau"...


...****************...


Zawa sudah merapihkan makananya dan dia pun akan menjalankan kewajibanya. Ia sudah siap untuk melayani suaminya. Karena kata Ambu jaminannya surga apalagi kalo suami sampai tersenyum bahagia dia akan menghadirkan surga di rumah tangganya.


"Loh, kok udah tidur," ujar Zawa ketika di berbalik dan akan menuju ranjang. "Berati nggak jadi belah duren dong?" lirih Zawa dengan wajah sedihnya. Padahal ia sudah siap dan sudah yakin akan memberikan pelayanan terbaiknya untuk suaminya tetapi malah, Arzen sudah tidur dengan pulas. Bahkan terdengar dekuran halus dari Arzen.


Zawa pun naik keranjang dengan pelahan, ia belum ingin tidur terlebih baru makan dan itu tidak bagus untuk pencernaannya. Zawa bersandar dan menatap Arzen yang sangat tampan dan bulu mata yang lebat. Zawa mendet ke arah Arzen merapihkan selimut agar suaminya tidak dingin karena suhu di kamarnya aga terasa dingin.


"Kenapa udah tidur sih, katanya tadi mau nungguin sampai selesai makan. Ini udah selesai malah kamu udah tidur," ucap Zawa sembari mengelus pipi Arzen.


Ah... pekik Zawa ketika jari-jarinya tiba-tiba digigit oleh Arzen.


Buuukkkk... Zawa memukul tangan Arzen yang terkekeh karena melihat wajah istrinya yang kaget. "Kamu belum tidur?" tanya Zawa yang mengira Arzen sudah tidur.


"Mana bisa tidur sedangkan istri aku belum melaksanakan tugasnya. Kamu nggak tau nih adik aku ajah masih bangun kaya gini." Arzen membuka selimutnya yang memang adiknya udah bangun. Menantang Zawa untuk menunjukan kepiawaianya memanjakan suami. Bukan hanya teori yang pandai tetapi praktek juga harus dibarengin agar tidak diketawakan oleh para pasienya yang lebih pandai praktek dari pada teori.


"Kirain udah lupa," jawab Zawa asal yang pura-pura tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


"Sayang... kamu udah bangunin aku masa mau ditinggal begitu saja, sakit tau kalo nggak dikeluarin," rengek Arzen sembari menarik selimut Zawa. Namun Zawa malah semakin memperkuat selimutnya, agar tahu gimana idenya Arzen apakah pasrah ikut tidur atau justru menggunakan jurus merayu agar Zawa mau memberikan kewajibanya. Itu yang ada difikiran Zawa, ingin mengetes segimana usaha Arzen.


"Baiklah kalo kamu nggak mau nggak apa-apa mungkin kamu cape, tapi kata Ambu dan Abah istri yang dengan sengaja menolak kemauan suami dosa hukumya" ucap Arzen yang tahu bahwa Zawa hanya mengetesnya. Dan dia pun akan gunakan cara yang sama. "Hihihi... kita buktikan Zawa aku apa kamu yang kalah dan menawarkan surga duluan," batin Arzen dengan merebahkan tubuhnya di kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal mengikuti langkah istrinya.


#Hayoh Zawa bambang Arzen merajuk tuh....