
Ody sangat sedih ketika mendengar cerita Zawa. Ia pikir hanya hidup'nya yang sangat menderita ternyata Zawa lebih menderitan tidak diinginkan oleh orang tua kandungnya dan di buang sewaktu masih bayi.
Tidak hanya Ody, Intan pun sama merasa iba dengan nasib Zawa.
"Sabar yah Wa, semoga kejadian ini bisa membuat kita makin dewasa, dan tidak akan mudah percaya dengan siapa pun." Intan mengusap tangan Zawa yang saat itu masih bergenggaman dengan tangan Ody.
Hati Zawa terenyuh ternyata Intan dan Ody yang notabenya adalah orang luar baru ia kenal tetapi sangat peduli, sementara Emly yang teman semenjak SMA malah tega mengorbankan dirinya.
"Terima kasih Tan, Ody. Aku membantu Emly hanya kasihan dengan nasib anaknya. Aku tidak mau ada anaknya yang bernasib sama seperti aku, dibuang oleh orang tua kandungnya. Bisa dibilang nasib aku bagus ada yang mau mengadopsi dengan kasih sayang, membiyayai aku kuliah hingga menjadi dokter. Namun sekarang keluarga angkatku kecewa dan mereka tidak mau menganggapku anak lagi. aku sangat sakit membayangkanya. Aku belum bisa membahagiakan mereka." Isak tangis kembali terdengar dari bibir mungil Zawa.
"Nanti apabila kamu bebas, kamu bisa memperbaiki hubungan itu, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membebaskan kamu. Aku berjanji akan mencoba berbicara pada suamiku agar mencabut tuntutan itu."Ody sangat yakin Rio akan kembali menuruti perkataanya.
"Terima kasih Ody. Aku sangat berhutang budi pada kalian."
Setelah berbicara, dan Ody berjanji akan membantu Zawa untuk bebas. Karena jam besuk sudah habis kini Ody pun kembali pulang.
"Dok, kasihan banget yah nasib Zawa, ternyata dia anak yang tidak diinginkan, pasti selama ini dia dipenjara sangat menderita." Ody masih terus memikirkan nasib Zawa.
"Iya Dy, aku pun baru tahu bahwa dia itu hanya anak adopsi. Aku pikir dia itu dari keluarga yang lengkap. Ternyata keluarganya adalah keluarga angkat. Pantas dia mau berkorban demi bayi Emly, mungkin dia tidak mau anak Emly bernasib seperti dia." Intan sangat memaklumi kondiasi Zawa. Sepanjang perjalanan Ody dan Intan saling bertukar cerita masih membahas Zawa dan Emly.
Tanpa terasa kini Ody dan Intan sudah ada di rumah Rio. Ody hendak turun...
"Dy... Ody... tunggu dulu, nanti kalo Om sama yang lain tanya mana barang yang diambil kamu jawab apa?" Intan baru ingat mereka tidak membawa apa-apa.
"Astagah ( Ody menepuk jidatnya ) Aku baru ingat Dok, kita alasan apa lagi," bisik Ody, yang mana ia juga lupa dengan barangnya.
"Kita jujur ajah kali, makin cepat makin baik kan, kasih juga Zawa kalo dilama-lamain. Dia sudah pengin menghirup kebebasan," usul Intan pada Ody agar mereka berbicara terus terang sajah.
"Ya sudah aku juga setuju Dok, lebih cepat lebih baik."
Mereka pun langsung turun bersama dan ternyata sudah mulai banyak tamu yang berdatangan. Kebetulan Baby Mayra tengah bobo di kamar bersama Papahnya sementara Papih dan Mamih tengah menyambut para tamu undangan yang akan mengadakan pengajian. Kak Luna dengan dua putrinya tengah bersiap.
"Dy loe ada kerudung kan, gue pinjem yah," bisik Intan.
"Ada, nanti aku ambil dulu."Ody hendak mengambil kerudung untuk Intan dan dirinya sendiri.
"Mam, Pap, Ody kedalam kamar dulu yah." Ody pamit dulu kepada mertuanya.
"Iya sayang, Rio juga tadi katanya mau numpang istirahat di kamar atas sekalian jagain Baby Mayra," balas Mamih agar Ody tidak marah ketika melihat Rio ada di kamarnya.
"Iya nggak apa-apa Mam," balas Ody denga singkat, ya mau gimana lagi udah tidur di kamarnya.
Selanjutnya Ody dan Intan naik ke atas. Intan sekalian masuk ke kamar Ody karena memang Ody yang memintanya agar masuk sekalian nemanin Ody. Dia masih gerogi apabila hanya berduaan dengan Rio.
Kini Ody yang diikuti oleh Intan sudah masuk ke dalam kamar. Ody terharu pasalnya Rio tengah tidur dengan memeluk Mayra. Rupanya Rio memang sangat menyayangi anak itu. Ody jadi kembali teringat Angel. Namun, buru-buru ia tepis ingatan itu, ia sudah berjanji akan menyayangi Mayra dengan sepenuh hati jadi tidak ada alasan untuk mengandai-andai.
"Buruan cari baju sama kerudungnya, jangan liatin suami mulu, nanti malah pengin lagi. Kamu masih belum boleh hubungan tau." Intan berbisik di telinga Ody yang justru mengagetkan Ody.
"Dokter pilih saja mau pake baju dan kerudung yang mana." Ody meminta Intan mecari sendiri pakeian yang diinginkanya. Pasalnya Ody tidak tau selera Intan. Kini Ody dan Intan sudah mengenakan pakean yang lebih tertutup dan memakai hijab.
"Dy, kamu cantik banget pake hijab. Coba deh kamu pake hijab pasti Rio bakal makin sayang tuh," goda Intan.
"Sebenernya pengin sih Dok, terlebih akhir-akhir ini Tuhan baik banget sama aku. Aku masih terus dilindungi sama Allah, dan sampai detik ini masih di kasih nikmat yang luar biasa. Nanti aku akan pelan-pelan nutup aurat pengin bener-bener istiqomah." Ody kembali menginggat rencananya beberapa hari lalu yang ingin menutup aurat.
"Amin, mudah-mudahan kamu istiqomah yah."
Kini Intan dan Ody sudah siap, tetapi si cantik Mayra masih pulas dalam pelukan Rio.
"Gimana Dok, mau di bangunin apa gimana?" tanya Ody ragu.
"Bangunin ajah, kan acara juga sebentar lagi, nanti malah telat acaranya." Intan memberikan saran pada Ody.
Ody pun menurut sajah.
"Mas... Mas... bangun acara sudah mau di mulai." Ody menepuk-nepuk pundak Rio, tetapi justru yang lebih dulu bangun si cantik. Mayra mulai menggeliatkan tubuhnya menandakan ia sudah bangun.
Setelah Ody cukup lama mencoba membangukan suaminya, akhirnya Rio bangun juga, dan ia kaget melihat Ody dengan penampilan barunya. Mengenakan hijab membuat Rio tidak berkedit.
"Mas bangun, di bawah sudah banyak tamu yang datang, sebentar lagi akan diadakan acara pengajianya." Ody yang melihat Rio diam dengan menatapnya. Membuat Ody malu.
Rio pun tersadar dan akan langsung turun ke bawah di mana kamarnya kini berada. Rio baru sadar ternyata di kamar Ody juga ada Intan. Untuk tadi nggak macam-macam. Kalo curi-curi yang aneh-aneh bisa kena tangkap penjaganya Ody.
Sementar Ody langsung membawa Mayra untuk di mandikan dan di pakaikan baju terbaiknya. Mayra pun nampaknya sangat senang di rumah barunya, terbukti bayi itu tidak rewel. Mayra memang bayi yang baik dia tidak rewel dan jarang menangis. Paling kalo menangis jika Ody telat ngasih ASI sementara Mayra sudah kelaparan.
Setelah Mayra cantik, akhirnya Ody yang tengah menggendong Mayra beserta Intan yang selalu berada di samping Ody bak penjaga turun dan ikut berhambur dengan para tamu undangan yang akan melakukan pengajian untuk syukuran Mayra.
Ody dan Rio beserta Mayra di minta duduk berdekatan. Ody pun mengikuti sajah, sedangkan jantung Rio mulai tidak bisa berdetak normal. Sedangkan Ody terlihat lebih bisa mengontrol sikapnya. Berbeda dengan Rio yang sangat terlihat tidak baik-baik saja berdekatan dengan Ody.
...****************...
Sambil nunggu Ody berbicara pada Papih dan Rio yuk mampir kenovel karya besty othor namanya As Cempreng. Wajib pake banget mampir yah, jangan lupa tekan fav, Like, comen dan bawa bunga dan kopi satu keranjang buat yang mau KENCAN KONTRAK...