
"Dok, Anda di minta masuk kembali ke dalam. Abang kembali kritis," ucap Ipek dengan suara yang sangat lirih dan jalan yang seolah akan jatuh.
Rio seketika itu langsung, masuk lagi keruangan Clovis.
"Kenapa Pek? tanya Intan begitu Ipek keluar dengan lesu. Intan pun dengan sigap menahan Ipek agar tidak jatuh.
Ipek hanya bisa diam mematung, ia tidak lagi menangis dan tidak lagi bahagia, Ipek masih kefikiran dengan apa yang Wahid katakan, sampai-sampai Ipek tidak tahu bahwa Intan tengah bertanya padanya. Kini yang ada di otaknya hanya permintaan Wahid, apa maksud dari permintaan suaminya.
Cukup lama dokter berada di dalam sana, sementara Ipek, Intan dan Zawa masih setia menunggu di luar. Padahal mereka dari siang belum makan apa pun. Begitu pun dengan Arzen dan Clovis mereka belum ada yang makan dari siang.
"Zen, aku mau nemuin teman-teman di ruangan Wahid kamu mau ikut atau bagaimana?" tanya Clovis pada Arzen setelah sholat isya, di mana Clovis melihatnya jadi tertarik dan ingin belajar juga dengan agama yang ia anut, tetapi malah ia tidak pernah menjalankan kewajiban itu.
"Ikut ajah Vis, aku pun ingin lihat bagaimana kondisi Wahid," jawab Arzen sembari bersiap akan berdiri, dan Clovis dengan sigap membantunya.
"Zen, nanti tolong ajarin aku tentang islam yah, sungguh aku sangat buta dengan agama sendiri. Bahkan bacaan sholat saja aku lupa," lirih Clovis dengan wajah memelas.
Arzen yang mendengarnya pun senang ternyata memang Clovis sudah banyak berubah, tidak lagi seperti yang dulu selalu marah-marah tidak jelas. Tidak hanya itu, Clovis juga selalu merendahkan orang lain. Namun Clovis yang sekarang sangat berbeda sehingga Arzen senang melihatnya.
Clovis dan Arzen akhirnya menemui ke tiga temanya di depan ruangan Wahid. Tidak ada obrolan di sana pasalnya memang situasi yang sangat mencekam.
Di tengah kebisua tiba-tiba salah satu dokter keluar, Bukan Rio karena Rio di dalam sanah tengah duduk di lantai dengan lemas, begitupu Chandra tengah ada urusan dengan yang lain.
Ipek yang sudah menduga dokter membawa kabar buruk pun sudah tidak ada semangat, ia duduk sajah disaat yang lain berdiri menghampiri dokter, dan benar sajah dokter itu mengabarkan bahwa Wahid sudah tidak bisa tertolong. Tadi adalah benar-benar permintaan terakhir suaminya.
Ipek yang mendengar pun langsung jatuh pingsan untung ada Zawa yang masih siaga di samping Ipek. Seketika itu juga terjadi kepanikan manakala Ipek pingsan. Padahal dari tadi ia sudah menyiapkan hal terburuk yang sekiranya ia akan hadapi, dengan kondisi suaminya. Sebab ketika Ipek memgang tangan Wahid pun sudah dingin, dan untuk berbicara pun sudah sulit, tetapi malah ia tetap saja Ipek tidak sanggup mendengar kabar tersebut.
Clovis yang ada di sana langsung membopong Ipek, di ikuti Zawa di belakangnya, ruangan Rio yang tidak terlalu jauh dari sana pun menjadi tujuan untuk Ipek beristirahat. Zawa memanggil dokter yang bisa memeriksa Ipek.
Clovis masih teringat pesan Wahid di mana ia menitipkan Ipek untuk dia, tetapi Clovis juga ragu pasalnya ia takut tidak bisa membahgiakan Ipek. Berbeda ketika Ipek bersama dengan Wahid.
"Wa kamu tolong jaga Ipek yah aku, mau nengok Wahid dan bantu mengurus semuanya," ucap Clovis sebelum meninggalkan Ipek berdua dengan Zawa.
Chndra dan dokter yang lain melepas semua alat-alat yang menempel di tubuh Wahid, dia memang belum terlalu kenal dengan Wahid, tetapi kepergianya sangat-sangat membuat ia terpukul. Sementara Arzen sibuk dengan telepon genggamnya memberika kabar ke Abah dan keluarga Wahid bahwa Wahid telah berpulang, tidak lupa Arzen pun memberika kabar untuk Abi dan Uminya Ipek. Mereka semua akan mempersiapkan makam Wahid yang rencananya akan di makamkan di kampung halamanya.
Proses pemandian jenazah akan dilakukan di rumah sakit ini.
Di ruangan Rio. Ipek yang sudah hampir setengah jam pingsan pun kini sudah mulai sadar, ia mengrejapkan kedua matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang cukup membuat kepalanya kembali pening.
"Pek kamu sudah sadar?" tanya Zawa yang langsung menghampiri Ipek.
"Wa, Abang benaran sudah sembuh yah?" lirih Ipek dengan mata berkaca-kaca ia berusaha untuk bangun dari tidurnya, Zawa dengan sigap membantu Ipek untuk bangun.
"Iya Pek, suami kamu udah sembuh. Kamu yang sabar yah, pasti kamu bisa ko, kamu pasti bisa melewati ini semua." Zawa tidaklupa memberika semangat untuk Ipek. Ia memeluk Ipek, Zawa yang tidak begitu kenal dengan suaminya Ipek pun ikut merasakan duka kepergian Wahid, lalu bagaimana Ipek yang menjadi orang terdekatnya. Orang yang selama hampir satu bulan ini mengurus Wahid. Pasti sangat kehilangan.
"Wa, aku pengin ketemu sama Abang." Ipek berusaha untuk turun, dan lagi-lagi Zawa membantunya, dan mereka pun akhirnya menuju kamar jenazah yang mana di sana Wahid akan di mandikan setelah Abi dan Umi datang. Tangis pun pecah ketika Ipek datang. Sehingga yang ada di sana pun tidak kuat untuk melihatnya, dan kembali ikut meneteskan air matanya.
"Abi, Ipek boleh ikut memandikan Abang untuk yang terakhir kalinya?" tanya Ipek dengan wajah yang penuh harap agar Abinya mengizikan.
Abi yang tidak tega menolak keinginan Ipek pun mengizikna putrinya untuk memandikan suaminya untuk terakhir kalinya. Dan Abi hanya mendampingi dan memberi tahukan cara-cara yang benar untuk memandikan jenazah, yah meskipun ada petugas yang biasa memandikan jenazah tetapi Ipek ingin melakukanya sendiri. Memandikan jenazah suaminya untuk yang terakhir kalinya. Di mana selama Wahid sakit Ipek pun dengan telaten membersihkan tubuhnya setiap hari.
Ipek merasakan sesak, dan air matanya lagi-lagi jatuh. Padahal Abi sudah berpesan agar Ipek jangan menangis, apabila ingin memandikan jenasah suaminya tetapu tetap sajah rasa duka itu selalu menyelimutinya manakala melihat laki-laki yang di cintainya sudah terbujur kaku.
"Abang, Ipek ikhlas melepas Abang untuk perpulang, dan Ipek akan selalu sayang dengan Abang. Ipek tidak menyangka bahwa tadi adalah pertemuan terakhir kita. Maafkan Ipek karena telah mengecewakan Abang. Ipek bukan tidak mau menjalankan wasiat Abang, Ipek hanya ingin Abang fokus dulu dengan kesehatan Abang. Tapi ternyata itu adalah ke inginan terakhir Abang. Ipek akan mencoba menerima apa yang menjadi keinginan Abang," bisik Ipek di telinga Wahid.
"Semoga kita ketemu di surganya Allah yah Bang, tunggu Ipek, semoga kita bisa berjodoh lagi di akherat." Ipek kebali berbisik. Ada rasa sedih dan menyesal ketika dia belum bisa memberikan kewajibanya dulu. Kenapa dulu dia tidak memberikan haknya Wahid sebagai suaminya padahal Ipek dulu juga ada rasa menginginkanya untuk memanjakan suaminya seperti suami istri yang lain, tetapi karena malu dan lain sebagainya ia menunda sampai Wahid kembali dari kerjaanya. Ipek menyesal karena belum bisa memberikan nafkah bantin yang sudah menjadi hak Wahid. Kenapa tidak ia berikan sebelum Wahid pergi kelur negri. Setidaknya andai ia memberikan haknya Wahid, mungkin sajah penyesalanya tidak sedalam ini. Kali ini ia benar-benar menyesal ketika membiarkan suaminya kembali ke pemilik kehidupan tanpa mendapatkan haknya sebagi suami. "Maafkan Ipek Abang, Maaf karena Ipek telah lalai dan tidak menjalankan kewajiban sebagai istri," lirih Ipek kembali sembari memberikan ciuman terakhirnya untuk suami tercinta.
#Udah yang jangan ada request kematian lagi, Othor ga sanggup nulisnya. Mewek kalo nulis yang kaya gini...hikhikhik
Selamat membaca, tinggal nulis yang happy-happy, tantangan nulis yang nyesek udah terlewati....