Beauty Clouds

Beauty Clouds
Menolak



"Wahid, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu berbicara aneh sekali. Aku tidak mau membuat kesepakatan gila ini. Kamu suaminya Ipek, kamu yang lebih berhak membahagiakan Ipek! Bukan aku Wahid. Bukanya berdosa apabila merebut yang bukan miliknya," ucap Clovis, ia tidak mau Wahid berputus asa. Clovis hanya mau bahwa Wahid memiliki semangat untuk hidup, yang bisa sajah penyemangatnya adalah kebahagiaan Ipek.


"Tolong, aku tidak pernah merasa kamu merebut Ipek dari aku, aku yang dengan suka rela mengiklaskan istri aku untuk kamu, karena aku tidak bisa membahagiakan dia," lirih Wahid, sangat berharap bahwa Clovis mau menerima apa yang jadi keinginanya, yang mungkin itu juga keinginan terakhir dari Wahid.


"Terus kamu mengira Ipek tidak bahagia bersama kamu? Kamu salah Wahid, dia bahagia bersama kamu. Justru kalo kamu melakukan hal seperti ini dia akan merasa sakit, dan sedih. Aku yakin Ipek bukanya bahagia dengan keputusanmu, tetapi sedih. Lebih baik kamu fokus dengan kesehatanmu, berusahalah untuk sembuh agar Ipek bisa bahagia. Karena kebahagiaanya saat ini adalah kesembuhan kamu. Dia akan bahagia apabila kamu berhasil menunjukan perjuangan dan pengorbananmu dengan kesembuhan dan kalian bahagia dalam ikatan pernikahan, tanpa ada orang ketika. Aku masuk pada pernikahan kamu justru Ipek akan sedih percaya lah. Mengenai siapa jodoh aku biarkan Tuhan yang memilih buat aku. Aku tidak mau ada campur tangan atau setingan dan lain sebagainya. Kalo memang aku berjodoh dengan Ipek biarkan takdir yang bekerja." Clovis dengan tegas menolak keinginan Wahid. Buka Clovis tidak tahu diri, tetapi ia juga mempertimbangkan perasaan Ipek. Cukup dulu ia yang menyakiti Ipek, sekarang jangan diulang lagi. Itu perinsip Clovis. Bukan juga Clovis terlalu sombong tidak mau menerima Ipek atau bagai mana, tetapi Clovis juga tau andai Ipek tahu ia mendekatinya karena permintaan Wahid dan perjanjian konyol dengan suaminya pasti Ipek juga sedih. Clovis tidak ingin bahagia diatas kesedihan siapa pun baik Ipek maupun Wahid.


Clovis kali ini sudah berpasrah bahwa ia sudah sangat basarah dengan jodohnya, kalo memang jodohnya bukan Ipek, ia akan Berusah menerima. Dia tidak ingin berambisi mengejar cinta satu wanita sampai lupa dengan norma-norma memilih padangan yang baik. Apalagi sampai menyakiti hati seseorang. Itu tidak akan mungkin terjadi.


Wahid pun hanya diam, dia tahu keputusanya salah. Dia berfikir bahwa Clovis akan mau membahagiakan istrinya. Ternyata dia memang tidak seharusnya meminta wasiat seperti itu. Benar kata Clovis andai Ipek mengetahuinya, ia pasti akan sakit dan merasa Wahid tidak menghargai perasaanya. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku melakukan hal seperti ini, aku sangat bingung bagai mana caranya agar Ipek bahagia. Aku takut justru ketika mebiarkan Ipek tetap disampingku, ia tidak bahagia, dia tidak mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Maka dari itu aku meminta kamu untuk kembali mengejar Ipek. Tetapi benar kata kamu, pasti Ipek andai tahu hal ini justru merasa tidak dihargai," lirih Wahid, kepalanya semakin berdenyut dengan masalah ini. Baru kali ini ia merasakan sakit yang teramat menyiksa sampai ia beberapa kali mencoba memejamkan matanya agar sakitnya hilang.


"Mas Wahid tidak salah, kamu terlalu sayang dengan Ipek sehingga kamu takut kalo Ipek disisi kamu tidak bahagia. Sedangkan misi kamu adalah membahagiakan Ipek. Sah-sah saja kamu meminta sepeti ini terhadap aku. Dan kalo aku mau pun aku bisa memanfaatkan ini untuk merebut kembali cinta Ipek toh sepertinya rasa yang dulu masih ada tertinggal aku hanya butuh usaha sedikit untuk mencari cara menarik perhatian Ipek, tetapi aku tidak mau memanfaatkan kesempatan itu karena jatuhnya seolah memaksa. Bukan jalan yang Allah garis kan. Aku ingin menjalaninya karena Allah yang menggariskanya dan menuntun aku dengan jodoh yang ia kasih. Aku harap Mas Wahid tau maksud aku." Clovis kembali menjelaskan maksudnya menolak permintaan Clovis.


Rio pun dari sebrang sana memperhatikan jawaban dan keputusan Clovis. Rio akui Clovis yang sekarang sangat jauh dengan yang dulu, jawabanya pun bijak tidak egois dan ia sudah bisa memikirkan dampak-dampak buruk ketika ia memerima permintaan Wahid. Rio saja awalnya mendengar permintaan Wahid ada sedikit bahagia dan ada harapan bahwa Ipek dan Clovis akan menjalani pasangan kekasih, sehingga persahabatan mereka akan semakin ramai.


Namun begitu Rio mendengar jawaban Clovis ia tidak lagi menginginkan hal itu, benar kata Clovis pasti Ipek sedih, takutnya malah justru ia menjalaninya karena terpaksa Sehingga tidak ada lagi bahagia. Kasihan nanti justru bukan kebahagiaan yang di dapat dan malah tekanan yang Ipek rasakan.


"Kalo begitu aku tidak akan memaksa kamu untuk mau menikah dengan Ipek. Aku akan ikuti apa yang kamu katakan, memang jodoh dari tuhan adalah yang terbaik. Tetapi aku akan terus bedoa semoga kamu adalah jodoh selanjutnya buat Ipek, menggantikan aku yang mungkin saja tidak akan bisa menemaninya sampai tua nanti." Wahid kali ini suaranya semakin lemah, ia beberapa kali memejamkan matanya cukup lama karena sakit dikepalanya semakin menjadi-jadi.


Clovis yang awalnya akan menjawab lagi ucapan Wahid, juga mengurungkan niatnya karena ia melihat Wahid sepertinya tidak baik-baik saja.


Seketika ruangan Wahid menjadi ramai. Karena ternyata tidak lama Wahid pingsan.


Umi pun yang melihat ada kegaduhan di ruangan menantunya mencoba berjalan lebih cepat lagi.


"Ada apa dengan Wahid?" tanya Umi pada perawat yang tengah berdiri dengan cemas diambang pintu.


"Itu Mi, Pak Wahid pingsan, katanya mengeluh sakit kepala tetap malah jadi pingsan. Sekarang tengah di tangani oleh dokter." Suster pun dengan tangan dan tubuh bergetar menjawb pertanyaan Umi.


Umi pun heran, "Perasaan tadi baik-baik saja kondisi mantu saya Sus," ujar Umi mencoba untuk masuk.


Suster pun tidak bisa menjawab apa-apa karena memang ia pun tidak tahu apa yang terjadi dengan Wahid.


Sementara Rio membantu penanganan Wahid, Clovis balik ke ruangan Rio, ia tidak tega melihat Wahid yang langsung kritis. Clovis syok, semua ucapan Wahid masih terekam jelas di dalam ingatanya.


"Apa ini pertanda bahwa apa yang Wahid katakan tadi adalah wasiat atau apa ya Tuhan." Clovis menjambak rambutnya. Ada rasa penyesalan kenapa ia tadi menolak permintaan Wahid, sehingga terjadi kepanikan ini. Sungguh sangat membuat Clovis merasa bersalah.


"Bagaimana kalo umur Wahid tidak panjang lagi," batin Clovis, dengan perasaan semakin di hantui rasa bersalah. "Apakah Ipek akan marah kalo tahu suaminya seperti ini karena ulah aku," lirih Clovis merasa Semua yang terjadi karena ulahnya.