
Zawa keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar dan dengan tangan yang lihai menggosok rambutnya yang masih basah.
Sementara Arzen yang tengah duduk di pojokan sofa tengah menatap pemandangan luar yang ternyata ketika dilihat dari lantai dua rumah Zawa dan sudut yang pas nampak indah dan memanjakan mata. Arzen langsung menoleh kearah pintu kamar mandi ketika pintu itu terdengar di buka oleh orang yang tengah ada di dalamnya. Yah, orang itu adalah istri barunya yang baru di nikahi beberapa jam yang lalu.
Arzen yang berada di sofa dengan penempatan yang memang sedikit ke pojok tidak terlihat oleh Zawa. Sehingga wanita cantik itu tidak tahu kalo di dalam kamar itu sudah ada sepasang mata yang tengah memindai kearahnya dengan tatapan yang lapar.
"Aduh kenapa aku baru melihat dia selesai mandi malah jadi ingin meminta hak'ku sih," batin Arzen yang merasakan antenanya sudah gelisah ingin di manjakan oleh istri barunya. "Mana nanti ada resepsi lagi, kalo aku minta hak'ku sekarang kasihan Zawa pasti kecapean." Arzen terus bergumam sembari mencoba menahan perasaan liar agar tidak membuat antenanya terus menegang, dan membuatnya nyeri.
Ehemz... Arzen berdehem dengan keras sengaja agar Zawa sadar dan tahu bahwa suami barunya sudah ada di kamar mereka.
"Astagah, sayang kamu sudah lama ada di situ?" tanya Zawa dengan wajah memerah, karena malu sekarang ia harus berbagi kamar dengan orang lain dan orang itu adalah laki-laki yang selalu ia sebuat dalam doanya.
"Kenapa kaget gitu. Lagi pikirin apa hayo..." Arzen sengaja menggoda Zawa dan ia pun berjalan kearah Zawa.
"Setop!!! Zawa mau sholat dulu jangan dekat-dekat nanti batal," ucap Zawa dengan mengerakkan telapak tanganya untuk membuat Arzen setop dan tidak maju lagi kedepan dia.
"Berati kalo udah sholat boleh deket-deket," goda Arzen, yang menjadi candu melihat wajah Zawa yang sangat manis apabila malu-malu seperti ini.
Zawa hanya diam tidak membalas pertanyaan Arzen. "Ok, diam tandanya boleh. Kalo gitu tunggu aku mau bersih-bersih dulu kita sholat bareng dan setelah itu dekat-dekatan," pesana Arzen sebelum ia menghilang di telan pintu kamar mandi.
Zawa pun akhirnya menurut saja apa kata imamnya, ia gunakan waktu menunggu untuk menyiapkan perlengkapan untuk sholat sehingga nanti ketika Arzen sudah selesai bersih-bersih badan ia tidak harus menunggu lama langsung saja menjalankan empat rokaat kewajibanya dari Allah.
"Astagah..." Lagi-lagi Zawa dibuat kaget oleh Arzen yang justru keluar kamar madi dalam kondisi telanjang dada. Dan hanya handuk yang membelit tubuh bagian bawahnya. Walaupun badan Arzen tidak se'atletis teman-temanya yang rajin olahraga tetapi, Zawa sudah tergoda dengan pemandangan itu. Karena sempat sakit yang cukup lama sehingga badan Arzen lebih kurus dan tidak bisa berolahraga sehingga otot-ototnya tidak membentuk sobekan-sobekan yang membuat kaum hawa ternga nga.
"Sayang kenapa kamu nggak bawa baju ganti biar ganti di dalam sekalian," ucap Zawa yang sudah rapih dengan setelah mukena.
"Iya lupa habis tadi buru-buru pengin di deket kamu, jadi lupa deh kalo belum bawa baju. Nggak apa-apa sudah halal ini mau telanjang pun sudah tidak akan terjadi dosa," balas Arzen dengan santai memakai pakaianya di depan Zawa.
Zawa pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena malah ia yang malu ketika melihat Arzen yang dengan santai memakai pakaian dihadapanya.
Setelah Arzen selesai berpakaian kini mereka pun sholat berjamaah dengan khusu.
Setelah selesai sholat, Zawa mencium punggung tangan suaminya untuk kedua kalinya. Yang pertama adalah ketika tadi baru pertama kali mereka sah menjadi pasangan suami istri.
Begitu pun dengan Zawa ia melakukan hal yang sama dengan Arzen. Memejamkam mata menikmati dekapan hangat dan menenangkan didalam pelukan suaminya. Di dalam hatinya ia berkali-kali mengucapkan syukur karena bisa dipersatukan oleh laki-laki yang sangat ia cintai.
"Coba kalo nanti sore nggak ada resepsi kita bisa lebih dari ini," ucap Arzen yang dengan sekuat tenaga menahan has-ratnya agar tidak kelepasan.
Sudah bertahun-tahun puasa dan ada kesempatan berbuka tetapi masih memikirkan akibatnya. Soalnya sudah pasti tidak aka pernah ada selesainya akan mau dan mau lagi. Yang di takutkan malah mengecewakan teman-temanya yang sudah susah payah mengatur semunya dan juga membuang uang yang tidak sedikit.
"Hehe tahan yah sayang, kita istirahat dulu yuk, badan aku pada pegel, betis dan tumitnya pegel juga padahal baru berdiri beberapa jam. Gimana nanti kalo resepsi mana belum tahu tamunya yang datang kira-kira banyak atau tidak.
"Ya udah yuk, apa mau dipijit?" tanya Arzen sembari menunggu istrinya merapihkan perlengkapan sholatnya.
"Tidak usah sayang, lagian kamu juga pasti cape lah. Terus kaki kamu gimana masih sakit atau udah sembuh benar-benar sembuh.?" tanya balik Zawa yang takut kalo kaki suaminya masih sakit.
"Enggak apa-apa, sini aku pijit sekalian belajar mijit istri. Jadi nanti kalo kamu cape aku bisa pijit. Kalo kaki aku udah benar-benar sembuh ko jadi kamu nggak usah khawatir," ucap Arzen sembari menarik Zawa agar segera duduk dikasur. Arzen yang kakinya masih tahap pemulihan, sehingga tidak ada adegan gendong-gendongan dulu takutnya nanti malah kambuh lagi kalo gendong Zawa. Jadi othor udah bilangin jangan macam-macam, semuanya demi kesembuhan Arzen.
Zawa pun akhirnya nurut duduk dipinggir kasur, tetapi tetap ia tidak mau kalo di pijat oleh suaminya, di samping kasihan karena pasti Arzen yang cape juga Zawa sudah cape dan mengantuk sehingga ingin tidur saja. Tidur berpelukan dengan suaminya pasti akan sangat menyenangkan.
"Kita tidur ajah yah sayang kayaknya kalo tidur di peluk kamu bakal nyenyak dan bangun pasti lebih fresh," rayu Zawa sembari membuat gambar didada Arzen yang masih terlihat sangat kokoh. Arzen yang sejak tadi berjuang untuk tidak tergoda pun rasanya mustahil bisa menahanya apabila godaanya sangat indah seperti ini.
Buuukkk... Arzen pun mulai menindih tubuh jenjang istrinya. Pertama ia memadang wajah Zawa yang tidak pernah bosan untuk di pandangnya. Zawa pun tidak melakukan perlawanan ia pun sama memandang wajah tampan Arzen yang berhasil mengetuk hatinya dan selama tiga tahun lebih berhasil menjadi nomor satu dihatinya. Keduanya pun saling pandang dengan mesra. Arzen menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah Zawa.sehingga kini wajah cantiknya tidak ada yang menghalangi lagi.
Cup... satu kecupan berhasil mendarat di bibir Arzen, dan Zawa yang memulai duluan. Kelamaan nunggu Arzen bergerak dia terlalu fokus dengan wajahnya sampai tidak sadar bibirnya sudah kering ingin di basahi.
Arzen pun terkejut dengan keberanian istrinya. Dia fikir Zawa akan malu-malu tetapi sepertinya dia tipe yang sangat pandai memanjakan suami.
Cup... cup... cup... tiga kali Arzen membalas ciuman bibir Zawa. "Balasan karena udah berani start duluan," kekeh Arzen dan mereka pun saling tertawa dan berpelukan.
"Sayang ini?" Zawa yang merasa terganggu dengan benda keras yang menghalanginya ketika berpelukan pun memegangnya dan memainkanya.
"Aduh Zawa, kamu bener-bener bukan pandai teori tetapi juga praktek," lirih Arzen sembari memjamkan kedua kelopak matanya menikmati bu dokter yang tengah praktik memanjakan suami.
#Nah loh kira-kira apa yang dilakukan Zawa sampe bambang Arzen merem-merem begitu.🙈