Beauty Clouds

Beauty Clouds
Sensitif...



Intan dan Ipek serta diikuti oleh clovis yang makin penasaran dengan rencana Intan pun mengekor seolah tidak mau jauh dari Intan dan Ipek karen Clovis curiga dengan rencana Intan yang memiliki keisengan sangat tinggi. Sehingga waspada itu sangat perlu. Clovis belum tahu kalo mereka akan menengok Zawa yang juga di rawat di rumah sakit in.


Pintu ruangan Zawa di buka dari depan, tentu sebelumnya Intan sudah mengetuknya. Di mana di dalam ruangan Zawa dan Arzen yang tengah menikmati sarapan pun secara serempak menatap kearah Intan dan dua pasangan pengantin baru.


"Dokter Zawa sakit apa? Maaf yah Ipek sama Clovis baru tahu tadi jadi baru jenguk dan  jenguk juga enggak bawa apa-apa, karena enggak tahu kalo dokter Zawa sedang sakit," ucap Ipek sembari berjalan ke arah Zawa yang berusaha makan meskipun dari wajahnya Zawa sangat tidak menikmati makananya.


 "Iya tidak apa-apa Pek, aku terima kasih yah karena kamu udah menyempatkan wakytu sibuk kamu buat jenguk aku," ucap Zawa, "Kalo sakit belum ketahuan, karena hasi lab dan pemeriksaan semuanya belum keluar, mungkin nanti aga siangan," imbuh Zawa mencoba tetap tenang meskipun dalam otaknya di penuhi rasa ketakutan bagai mana dengan hasil akhir pemeriksaanya. Di mana setelah ia terbangun, bagian perutnya seolah ada yang menganjal, dan itu cukup kesusahan untuk dia berjalan. Zawa takut kalo hal itu tandanya dalam rahimnya ada masalah atau ada gangguan dengan organ bagian perutnya.


"Loe pagi-pagi nemuin Intan kenapa Vis?" tanya Arzen yang duduk di depan Zawa sedangkaan Zawa sendiri duduk bersandar di sandaran ranjang dengan bantal di tumpuk tinggi. Intan tengah melakukan pemeriksaan pada Zawa di mana Zawa mengeluh sakit di bagian perutnya. Setelah Intan melakukan pemeriksaan yang setandar saja, meraba, dan memastikan kalo semuanya baik-baik saja.


"Abis antar Ipek periksa sama Intan. Alhamdulillah Ipek sudah hamil," ucap Clovis degan sepontan sehingga menggagalkan rencan Intan dan Ipek, karena ternyata Clovis sudah mengatakanya lebih dulu. Tidak hanya itu tampak Clovis seolah tengah menyombongkan kemampuanya yang bisa menghamili Ipek dengan cepat.


Wajah Arzen dan Zawa langsung di landa kesedihan terutama Zawa seolah hendak menangis dengan kabar bahagia yang Clovis sampaikan. Moodnya langsung hancur begitu tahu kalo Ipek suda hamil duluan sedangkan dirinya yang sudah lebih dulu menikan belum ada tanda-tanda hamil. Malah sekarang dia juga sakit lagi sehingga membuat Zawa semakin berkecil hati. Dia merebahkan tubuhnya yang lemas, tidak ada ucapan selamat dari bibir Zawa. Yah, Zawa iri dengan kabar gembira yang Clovis bawa, sehingga Clovis yang keceplosan dan niatnya memang mau pamer tetapi ternyata situasinya tidak bagus, Zawa dan Arzen sedang tidak baik-baik sajah moodnya.


"Wa, Zen gue minta maaf yah, jujur gue tidak ada niat buat bikin kalian tersinggung," ucap Clovis dengan mengatupkan kedua tanganya dan wajah yang sangat sedih, karena ia menyesali perbuatanya. "Apakah ini hukuman dan karma karena aku yang memilki niat pamer ya Allah," batin Clovis sangat merasa bersalah, terutama melihat wajah Zawa.


Sementara Ipek dan Intan terkekeh melihat ketakutan Clovis, rencanaya untuk menjahili Arzen dan Ipek memang gagal, karena Clovis yang keceplosan. Kurang komunikasi membuat rencananya gagal. Tetapi tenang Clovis sudah menggantikan rencana antara dirinya dan Ipek yang gagal itu.


Intan masih menikmati derama yang membuaat dia lupa rencana awal untuk memberikan hasil dari pemeriksaan Zawa yang sebenarnya sudah keluar, dan Intan juga Ipek sudah tahu dari pemeriksaan yang Zawa jalani.


"Udah Enggak apa-papa Vis, memang Tuhan lebih percaya sama kalian lebih dulu untuk mendapatkan Baby, kabar bahagia ini. Selamat yah, dan doakan agar kami juga cepat menyusul kalian," ucap Arzen yang mencoba tetap tenang dan menerima jalan takdir yang Tuhan berikan pada dirinya. Arzen juga mengekus-elus tangan Zawa ajah tidak sedih lagi.


"Iya terima kasih, tapi sekali lagi gue minta maaf yang, sungguh gue tidak ada niatan buat bikin kalian sedih," balas Clovis masih belum tenang karena Zawa masih terlihat sangat murung. Ipek pun memberi kode pada Intan agar dia mengambil alih tugasnya.


"Wa, jangan sedih yah, semua ini pasti akan segera terlewati, kamu harus yakin kalo kamu itu pasti bakal hamil,"ujar Intan kali ini dia berbicara sangat lembut denga Zawa tidak seperti bisanya yang selalu sensi ketika bertemu teman berantemnya.


"Tapi, aku rasanya semakin kesini kesempatan itu semakin kecil kesempatan itu Tan," lirh Zawa dengan air mata yang menetes, Zawa memang benar-benar sangat melow dan sensitif sekarang. Dulu Zawa selalu semangat dan ceria tapi sekarang dia lebih melow dan gampang tersinggung.


"Mau lihat hasil tesnya enggak?" tanya Intan sembari menunjukan amplop yang berisi hasil tes kesehatan Zawa.


Zawa melirik ke amplop putin yang Intan julurkan. Tidak langsung mengambilnya tadi dia sangat menunggu hasil itu agar segera datang, tetapi setelah hasil pemeriksaanya datang Zawa justru tidak ingin tahu hasilnya. Wanita itu belum siap mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya. Hatinya melow di saat ia marah sama Emly dan sekarang dia juga harus mencoba kuat dan tabah untuk menerima nasib buruk yang mungkin saja terjadi pada dirinya.


Arzen pun ketika melihat Zawa terisak, padahal belum mebaca hasilnya langsung memeluk tubuh lemah istrinya dan memberikan suntikan semangat pada Zawa.


"Ingat Allah yah jangan nyerah, jangan putus asa. Aku akan tetap sayang kamu bagaimanapun keadaan kamu," bisik Arzen, hal itu tambah membuat Zawa terisak. Clovis sendiri semakin di buat ketakutan. Dia bingung harus minta maaf gimana lagi sedangkan, melihat Zawa kaya gitu membuat hatinya ikut sakit. Niatnya memberikan kabar bahagia malah membuat Zawa di landa kesedihan.


Cukup lama Arzen dan Zawa terisak, setelah Zawa bisa mengontrol perasaanya Arzen pun melepaskan pelukanya dan mencoba menenangkan perasaan istrinya lagi.


"Kalian lebih baik buka hasil pemeriksaanya dulu deh Wa, Zen. Gue lama-lama enggak tega kalo liat Zawa melow begini terus, dengan opini dia yang jelek banget," ucap Intan sembari memberikan amplop itu ke pada Arzen, agar Arzen yang membukanya karena kalo Zawa yang membuka yang ada nanti pingsan lagi.


Arzen mengambil amplop dari tangan Intan. "Kita buka bareng-bareng yah?" ucap Arzen suaranya masih sangat lembut. Dan Zawa yang masih terisak dengan sekali-kali tersenggal pun mengangguk lemah. Siap tidak siap dia harus tahu hasilnya, begitu kira-kira pikiran Arzen.


Sembelum membuka amplop tersebut Arzen pun membaca basmalah agar hasilnya bagus. Begitupun Zawa, sama membaca doa agar hasil dari pemeriksaanya adalah kabar gembira bukan kabar sedih yang membuat ia melow-melow dari tadi.