
"Apa salah saya Tuan, kenapa Anda menyakiti saya," tanya Ipek, ia tau dari sorot mata Clovis tengah menahan kemarahanya.
"Tentu kamu salah, aku membayar gajih kamu untuk kerja, bukan malah bersantai dan mengobrol," bentak Clovis,.tepat di depan wajah Ipek.
Sebenarnya ini alasan Clovis sajah. Ia sudah lama mencari-cari alasan agar bisa memecat Ipek. Namun, setiap kesempatan itu ada Ipek selalu punya alasan sehingga Clovis kembali tidak bisa menyingkirkan Ipek.
"Aku hari ini sudah izin dan menganti rugi karena aku tidak masuk kerja," bela Ipek, tentu Ipek tidak terima atas perkataan Clovis yang menuduhnya bersantai, sedang dia untuk melakukan itu semua sudah membayar denda yang tidak sedikit.
"Cuih, sok kaya sekali kamu. Cuma pelayan rendahan sajah sok ganti rugi. Ganti rugi dengan apa? Dengan memberika servis di atas ranjang pada bawahanku sehingga mereka membiarkan kamu bebas malam ini dari pekerjaan kamu," tuduh Clovis dengan senyum devilnya.
"Jaga omongan Anda. Tuan Clovis yang terhomat saya memang seorang pelayan, tapi bukan pelayan hina yang mau menyerahkan keperawanan saya demi uang ataupun demi yang lainya. Camkan itu," sanggah Ipek, tentu ia tidak terima, dituduh menjadi wanita murahan seperti itu oleh Clovis.
"Halah, sok suci. Perawan mana ada perawan badanya sudah kaya ibu-ibu, melebar kemana-mana," ejek Clovis, dengan menatap sinis kearah Ipek.
"Salah kalo badan gedut. Memang ada yang bisa buktikan kalo badan gemuk sudah tidak perawan," sungut Ipek. Kesabaranya selalu terpancing ketika berhadapan dengan Clovis.
"Susah ngomong sama cewek idiot kaya loe. Selalu ingin menang sendiri. Lebih baik loe keluar dari kerjaan ini. Kehadiaran loe cuma bikin usaha gue sepi. Jadi gelandangan ajah loe sana, kerja juga cuma bikin rugi usaha orang." Clovis memecat Ipek dengan anggapan bahwa ia akan hidup susah setelah dipecah olehnya.
"Hahaha... beginikah cara bos besar memperlakukan bawahanya. Memecat dengan seenak jidat, tanpa mau tau penjelasan dari bawahan." Tawa Ipek pun pecah, dengan tujuan menyindir.
"Bebas dong gue mau pecat siapa sajah. Lagian loe disini terlalu sombong. Miskin, tetapi sombong, dan belagu." Clovis lagi-lagi melontarkan hinaan untuk Ipek.
"Baiklah kalo itu kemauan Anda, saya dengan senang hati akan keluar dari pekerjaan ini," ucap Ipek dengan santai. Ipek pun meninggalkan ruangan Clovis, membiarkan Clovis berbicara sendiri.
"Bagus, loe itu cuma biang masalah," dengus Clovis. Ia kesal karena baginya Ipek itu terlalu sombong dan menyusahkan.
Ipek pergi keloker, guna mengemasi barang-barangnya, sebelum ia benar-benar pergi. Tentu Ipek lebih dulu meminta teman yang sering membantunya, untuk mengawasi Clovis dan mengabarkan perkembanganya apabila ada berita yang penting.
Mungkin memang Clovis bukan jodohnya dan dia mulai saat ini barus belajar mengiklaskan kenyataan itu, meskipun hatinya sakit. Entah kapan Ipek bisa benar-benar lupa dari Clovis, pria pertama yang singgah di hatinya.
Ipek menatap tempat yang beberapa hari lalu dijadikan tempat untuk mengais rezekin. Tempat yang selalu dengan semangat ia tuju karena ada laki-laki yang ia cintai. Hanya agar bisa tetap melihat Clovis Ipek rela berpura-pura menjadi pelayan, dan tak jarang Ipek menahan cemburu dan sakit hati, ketika menyaksikan pria yang ia cintai bercumbu di depanya. Namun, kini perjuanganya harus ia akhiri.
Ipek menaiki motor metiknya dan kembali pulang kerumahnya. Tak ada lagi perjuangan tak ada lagi harapan untuk menjadi pendamping Clovis. Ia telah merelakannya semuanya hancur. Memang Ipek sudah menyiapka hatinya apabila waktu itu tiba dan Clovis masih tak bisa ia gapai, tetapi ia tak menyangka bahwa waktu itu lebih cepat dari perkiraanya.
***
Sementara di ruangan pribadinya, Clovis sangat murka dengan perlakuan Ipek. Baru kali ini ada wanita yang sangat berani padanya. Biasanya para wanita akan tunduk dan patuh setiap ucapanya. Tak pernah ada satu pun yang berani membatah ataupun membalikan kata-kata padanya. Ipek, hanya dia gadis yang dengan sombong selalu melawan setiap kata yang Clovis lontarkan.
"Liat sajah kamu Ipek, aku akan buat kamu menyesal sudah berurusan denganku. Hidupmu akan aku hancurkan," geram Clovis, sembari mengeratkan giginya, sehingga menimbulkan suara gemelutuk.
Di kepalanya muncul ide, Ia akan membuat sayembara siapa laki-laki yang berani membuktikan bahwa ia telah tidur dengan Ipek, dan mengambil keperawananya Clovis akan memberikan hadiah 1 milliar rupiah.
"Bukankah dia barusan mengaku masih perawan, kali ini akan aku buat hidupmu menderita. Dasar wanita sombong," batin Clovis, sembari tertawa sinis. "Siapa suruh kamu selalu membalas ucapanku. "Maka kini saatnya kamu menagisi semua perbuatanmu. Kalo perlu aku buat kamu gila, Ipek," imbuh Clovis, kemarahanya sudah sampai ujung kepala. Ia tidak lagi memperdulikan mental orang lain asalkan lawanya tumbang.
Itu lah sifat Clovis, dia bahkan tidak memiliki hati, untuk menghargai setiap perhatian yang Ipek berikan. Padahal Ipek selama ini sangat baik dan perhatian dengannya, walaupun berulang kali dihina, direndahian tetapi tak sekalipun Ipek sakit hati atau membalasnya.
"Pertarungan dimulai," gumam Clovis dengan seringai di wajahnya.
...****************...
#Jangan lupa Mampir ke novel othor yang satu lagi yah " Jangan Hina Kekuranganku" Ceritanya tak kalah seru loh..