Beauty Clouds

Beauty Clouds
Meriang



Setelah hampir semalaman tiga cogan mengobrol, dan di jam setelah sholat subuh baru mereka pada tidur. Entah apa saja yang mereka bahas sehingga sampai pagi menyapa, mereka bergadang untuk saling bertukar bercerita.


Pukul lima pagi dua insan yang malam tadi jaling berbagi kehangatan, Arzen yang biasa bagun pagi dan menjalankan sholat subuh pun lebih dulu bangun dari pada Zawa. Ia tahu Zawa masih lelah tetapi menjalankan kewajiban untuk sholat lebih penting sehingga Arzen pun membangunkan istrinya yang masih meringkuk di bawah selimut tebalnya dengan keadaan masih polos tanpa busana.


"Sayang... bangun yuk, kita bersih-bersih badan dulu dan sholat subuh nanti malah nggak kebagian waktu sholat subuh lagi." Arzen terus membangukan Zawa dan menggoyangkan badanya dan karena tidak kunjung bangun juga, Arzen pun menggunakan jurus terakhir menc*um dan melu'mat bibir tipis Zawa. Benar saja dengan cara itu Bu dokter pun akhirnya bangun.


Zawa menggeliatkan tubuhnya dan mulai membuka kedua matanya. "Astagah," pekik Zawa ketika melihat wajah Arzen tepat berada di hadapanya.


"Sayang kenapa kamu ada dihadapan aku? Terus ini jam berapa?" tanya Zawa masih mencoba mengumpulkan nyawanya.


"Jam lima, bangun yuk, mandi dan kita sholat subuh," ajak Arzen dengan membantu Zawa untuk duduk dan bangun lalu mandi bersama saja biar menghemat waktu.


"Sepagi ini?" tanya Zawa yang tidak pernah bangun sepagi ini apalagi untuk mandi. "Dingin sayang," protes Zawa.


"Ya memang begitu Bu dokter, namanya juga sholat subuh ya bangunya dan bersih-bersih sepagi ini. Kalo siangan namanya sholat Duha, udah yuk kalo nanti kesiangan malah pahalanya sedikit," rayu Arzen agar Bu dokter bisa menjadi makmum yang baik.


"Zawa pun akhirnya mengikuti nasihat Arzen, dan bangun hendak membersihkan diri dan sholat subuh bersama suaminya.


"Aduh... duh...duh... sakit," ringis Zawa ketika ia akan melagkah tetapi merasakan nyeri di bagian sensitifnya. Zawa kembali duduk di bibir ranjang.


"Kenapa?" tanya Arzen dengan cemas, terlebih melihat wajah Zawa yang terus meringis seolah benar-benar sangat sakit dibagian bawahnya.


"Sakit sayang, sakit sekali ininya (Zawa menunjuk bagian kema'luanya)


"Terus bisa ditahan nggak?" tanya Arzen kasihan sih melihatnya gara-gara keganasanya, Zawa harus kesakit begitu. Eh... tapi Bu dokter juga nggak kapah ganas sih....


"Kalo nggak sholat dosa yah sayang?" tanya Zawa dengan wajah sedihnya.


"Iya dosa, tapi kalo memang sakit ya udah kamu istirahat dulu ajah nanti kita periksa atau gimana biar cepat sembuh," ucap Arzen sembari meminta Zawa untuk kembali berbaring karena memang badan istrinya juga terasa hangat, sementara dirinya akan memberisihkan diri dan menjalankan kewajibanya.


Zawa memperhatikan suaminya yang terlihat semakin tampan dengan setelan koko, peci dan sarungnya. "Ternyata aku beruntung banget dapat suami yang bisa membimbing aku ke jalan yang lebih baik lagi," batin Zawa terus memperhatikan Arzen yang tengah sholat.


Setelah sholat dan melafalkan doa, Arzen berjalan mendekati Zawa. Dan mengusap perut rata Zawa dia duduk di samping istrinya dengan mengusap-usap perutnya, padahal yang sakit bukan perutnya. lah kalo yang diusah itunya bangun nanti semuanya kacau, sulit buat nidurkanya lagi....


Sedangkan Zawa tidak tidur tetapi ia cukup memejamkan matanya menikmati usapan lembut dari Arzen.


"Sakit banget yah?" tanya Arzen yang melihat Zawa seolah masih menahan rasa sakit.


"Mau dipanggilkan dokter atau beli obat apa gitu?" tanya Arzen lagi, dia mana tahu hal seperti itu. "Apa aku lihat dulu gimana parahnya luka di bagian sana?" tanya Arzen lagi, bingung juga ia mengatakanya.


Seketika itu Zawa membuka matanya dengan lebar, dan mengatupkan kedua tanganya di bagian depan menutupi kema-luanya menandakan agar Arzen jangan macam-macam. Enak saja mau liat-liat nanti minta nambah lagi berabe, sedang baru dua permainan sajah rasan nyerinya seolah b*bir bawanya bengkak dan pegal yang bikin badan meriang, belum Zawa membayangkan gimana sakitnya nanti kalo mau buang air kecil. "Jangan macam-macam yah sayang. Lebih baik kamu telpon Intan ceritakan kondisi aku, dia pasti tahu obat dan salap apa yang harus ia bawa buat ngobatin luka ini," lirih Zawa, dengan tangan masih waspada takut Arzen tetap mengintipnya.


"Baiklah kalo gitu, aku akan telpon Intan dan minta buat dia periksa kamu." Arzen akhirnya mengikuti saran Zawa ia menelepon sahabatnya untuk mengobati istrinya.


Sementara di lain tempat Intan yang memang kelelahan setelah membantu acara Zawa dan Arzen sampai selesai. Intan masih tidur dengan nyenyak di bawah selimut tebalnya. Saking nyenyaknya sampai ponselnya berdering tiga kali ia tidak mendengarnya juga. Hingga pangilan ke empat Intan baru mendengarnya.


"Aduh... siapa sih masih pagi udah telpon-telpon nggak tau apa masih ngantuk, masih cape, pengin tidur sampe siang..." Intan berteriak menandakan bahwa ia sangat kesal karena ada yang mengganggunya.


Walaupun Intan kesal dan marah-marah tetapi ia masih tetap mengangkat telponya dengan bersungut, terlebih setelah tahu bahwa yang menelepon adalah pengantin baru.


"Haduh... pasti ini mau bikin susah lagi," rutuk Intan, sedikit Intan bisa tebah ada apa gerangan Arzen pagi-pagi buka udah telpon dia. Yah, bagi Intan pukul enam pagi tentu masih pagi-pagi buta karena ia biasa bangun pukul tujuh itu pun sudah sangat pagi.


[Apa? Mau bikin susah apa lagi?] Begitu telpon di sambung Intan langsung bersungut, karena tahu gara-gara bersemangat buat menabur benih pasti Zawa sekarang membutuhkan bantuanya.


[Assallamualaikum, salam dulu Ukhti, kalo angkat telpon, jangan dibiasain jelek ah,] rayu Arzen biar Intan jangan marah-marah, yah tentu Arzen tahu kalo Intan marah gara-gara ia ganggu tidurnya.


[Walaikumsallam, ada apa buruan ngomong! Sepuluh detik nggak ngomong aku tutup teleponya] Bu dokter satu ini sepertinya mau PMS sehingga bawaanya emosi terus.


Arzen terkekeh, tetapi semenit kemudian ia menceritakan apa tujuanya dia menelepon dan tentunya meminta Intan untuk mengobati Zawa yang meriang karena luka di bagian **** *'nya, karena terlalu bersemangat mengarap ladang sampe nggak inget kalo ini pertama kali. Yang penting cangkul terus....


[Aduh Arzen, kalian itu main gimana sih, kenapa bisa sampai terjadi kasus kaya gini. Zawa lagi, dia kan dokter, dokter masalah perANUan lagih seharusnya dia tahu gimana cara bermain yang aman biar nggak terjadi luka. Gemes aku sama Zawa pengin aku jambak tuh kupingnya] Intan mengomel dan karena omelanya kini dia ngantuknya bahkan sudah terbang entah ke mana.


"Wah kamu belum ngerasain Tan, bahkan kalo lagi ngerasain enak mana bikir cara aman atau tidak, yang penting naik-naik terus sampe puncang. Kita buktikan sajah nanti dia kalo lagi malam pertama apa bisa ngerem pake cara aman, atau malah dia nanti lebih parah dari istriku," batin Arzen tidak sabar ingin tahu bu dokter satu ini ketika malam pertama gimana. Kelakuanya saja bar-bar pasti di atas kasur lebih bar-bar lagi. Malahan bisa-bisa saling tikung biar cepas garis finish.


[Iya gimana Tan, kalo enak mah mana mikir gituan, hajar terus. Buruan yah kesini kasian Zawa meriang dan nggak bisa berjalan sakit di bagian bawahnya dan sepertinya benkak,] ucap Arzen sengaja menceritakan kondisi Zawa yang separah itu biar Intan cepat datang ke kamar hotelnya.


Zawa membuang nafas kasar, tetapi tetap saja ia tidak bisa membiarkan pasien menahan sakit, terlebih pasienya adalah teman berantemnya. Kalo Zawa sakit nanti nggak ada temen berantem nggak asik.


[Ok-ok gue kesana,] jawab Intan menyanggupi kemauan Arzen. Intan pun bergegas menyimbakan selimutnya padahal tubuhnya menolak untuk bangun, Masih pengin bermanja-manja diatas kasur empuknya. Intan membersihkan tubuhnya lebih dulu, tidak mandai hanya menggosok gigi dan cuci muka. Tidak hanya itu Intan juga membawa obat, salap dan peralatan lain yang bisa membuat Zawa sembuh.


Bahkan Intan sudah mempersiapkan nasihat-nasihat untuk dokter Zawa, pidato panjang sudah Intan siapkan untuk menasihati pasangan baru itu. Yah, karena malam perda'rah mereka Intan juga yang harus repot pagi-pagi dapat pasien korban kekerasan s*ksual oleh suaminya.


#Siap-siap Zawa, kuping aman kan...