Beauty Clouds

Beauty Clouds
Pengantin Berdaster



Setelah ibu Dokter memanjakan suami barunya, mereka pun akhirnya istirahat bersama, dan saling berpelukan. Benar saja apa yang di katakan Zawa bahwa tidur berpelukan itu pules. Buktinya saking pulesnya sampai pintu digedor dari tadi tidak ada yang bangun.


"Zawa... Arzen... bangun ini udah jam tiga kita harus buru-buru ke hotel," Baik Rio, Chandra dan Aarav memanggil Arzen dan Zawa tidak ada yang bangun juga.


"Sayang... sayang kayaknya di luar ada yang gedor-gedor kamar kita deh," ucap Zawa yang menggoyangkan tubuh Arzen yang masih pulas tidurnya.


"Hemz.. kenapa sayang? Apa ada yang ganggu tidur kita?" tanya Arzen, mungkin ia lupa bahwa malam ini akan ada resepsi dan di luar sana teman-temanya tengah membangunkan dia yang tidur kaya kebo. Kalo tidak di bangunkan bagaimana bisa make up dalam waktu singkat. Kalo cowok masih mungkin saja bisa tetapi kalo cewek kan nggak mungkin.


"Itu sayang di depan ada yang ketok-ketok. Kamu ajah yang buka aku malu," jawab Zawa sembari terus menarik Arzen agar segera bangun dan melihat teman-temanya. Soalnya kalo Zawa yang keluar malu nanti di ceng-cengin sama teman-teman Arzen.


"Oh... ok... ok... kirain ada apa taunya cuma ada teman-teman aku ajah." Arzen pun turun sembari membenarkan sarungnya, yang tadinya sudah terlepas.


Kreeekkeettt... suara pintu di buka oleh Arzen dengan wajah polosnya dia keluar kamar, belum penampilanya yang acak-acakan.


"Loh kalian ngapain di sini?" tanya Arzen dengan wajah bingungnya.


"Ngapain-ngapain... bangunin loe dari subuh sampe duhur yang di bangunin kecapean abis nyangkul ladang baru. Molor apa tewas sih loe?" oceh Aarav.


"Angkut buru Yo, nungguin di beres-beres nanti undangan udah pada datang mantenya masih mandi." Chandra mengintruksi agar Aarav dan Rio menyeret Arzen yang bahkan masih pake sarung dan kaos putih polos yang tipis.


"Eh... itu bini gue masih di dalam," protes Arzen. Setidaknya kasih kesempatan buat ganti celana atau baju. Masa ia belum sikat gigi, cuci muka, sisiran. Terus pakaianya pun ya Tuhan, orang-orang bilang apa nanti mantenya datang pake sarung." Arzen terus merancau, tetapi baik Rio maupun Aarav tidak membiarkan Arzen lolos mereka langsung memasukan Arzen ke dalam mobil yang ternyata Clovis sudah siap di depan rumah Zawa untuk mengangkut Arzen ke gedung di mana diadakanya resepsi.


Benar saja di rumah itu sudah sepi, mungkin orang-orang rumah sudah pada ke gedung juga dan meninggalkan mantennya yang kelelahan.


"Dasar mentang-mentang udah punya yang panjang dan bisa bikin tegang, sampe-sampe lupa masih ada acara lagi," oceh Intan begitu masuk ke kamar Zawa.


"Apaan sih Tan, gue nggak ngapa-ngapain ko sama Arzen, cuma ngetes doang dikit tapi nggak sampe nyobain yang lebih. Udah cape duluan," bela Zawa sembari terkekeh dikit.


"Ngetas ngetes, udah jangan di bahas nanti malah gue pengin lagi. Ayo buruan waktu udah meet nih mau nanti loe terima tamu make up baru setengah jalan. Bibi atas merah bawa ijo.." Intan menari Zawa yang bahkan lagi-lagi penampilanya masih menggunakan daster rumahan.


"Astaga, Intan gue masih pake daster masa ia kegedung, pengantenya pake daster," protes Zawa yang tadi Arzen si tarik pake sarung ia terkekeh dan kini ia gantian pake daster dan pasti nanti orang-orang pada ngetawain dia.


"Wa... ngomong-ngomong enak nggak kawin?" tanya Intan basa basi, udah jelas jawabanya enak makanya banyak yang ketagihan. Bahkan banyak yang menghalalkan segala cara untuk melakukanya dan juga rela membayar mahal agar bisa menikmati apa yang orang-orang sebut surga dunia itu.


"Boro-boro gue kan udah bilang, kalo gue belum di gere-pe sama suami gue gimana mau tahu enak apa enggaknya," jawab Zawa dengan jutek.


"Lah, tadi bukanya loe udah tempur terus kecapean sampe bisa telat begini," ucap Intan sembari menaik turunkan alisnya menandakan ia ingin mendengar ceritanya.


"Belum Intan... Tadi cuma ngetes dikit sengatanya gimana, ternyata kuat lah," kelakar Zawa.


"Udah tau ukuranya dong. Gede nggak kira-kira berapa CM," goda Intan tau lah sesama profesi yang setiap hari ngurusin reproduksi pada manusia pasti udah bukan hal tabu ketika membahas masalah sepeti itu. Dari umuran diameter dan panjang menjadi bahan candaan mereka. Pasti kaya Intan bertanya seperti itu bukan pengin tahu yang murni ingin tahu, hanya sebatas candaan dan mereka sudah biasa baik sesama profesi maupun pasien pasti selalu ada candaan yang tidak membuat tegang.


"Yang pasti bikin merem sama melek, dan pasti ketagihan. Jadi nggak sabar pengin cepat-cepet malam." Zawa membayangkan ketika malam tiba, tetapi baru juga akan mulai membayangkan tetapi...


Buk... Intan menimpuk pundak Zawa. "Setop jangan di bayangin, otak polos gue langsung ternoda," ucap Intan, yang berpura-pura polos panahal dia suhu.


"Cuih na'jis banget gue gomong sama loe. Suhu kaya gini masih bilang polos. Gue seleding pake panci baru nyaho."


Dan mereka pun tertawa bersama, tetapi sedetik kemudian Intan murung.


"Yah kok perasaan cepet banget sih sampai gedungnya. Padahal gue pengin denger cerita loe tadi ngetes sengatan antena suami loe gimana, biar gue belajar gitu. Yah biar nanti giliran pratek nggak malu-malun masa dokter perkembang biakan malah payah soal beginian." Intan masih saja membahas masalah antene.


Buuukkk... kali ini Zawa yang memukul pundak Intan "Bisa diem nggak loe Tan. Urusan gituan besok kalo gue udah praktek gue ceritain deh. Ngiler-ngiler loe denger cerita gue." Zawa pun berjalan lebih cepat lagi dan meninggalkan Intan dibelakang yang masih terkekeh dengan sikap Zawa yang di kira sudah tidak memiliki malu ternyata temanya masih punya malu juga.Intan pun menyusul Zawa.


Setelah melewati waktu yang cukup lama dan membuat badan sedikit encok Zawa pun sudah selesai di make up begitu pun Arzen. Mereka kini bersiap menemui para tamu undangan yang ternyata sudah banyak menunggun. Malam ini adalah malah pesta bagi Zawa dan Arzen di mana mereka adalah raja dan ratu.


Tidak hanya itu pasangan penganin baru itu pun sangat bangga dan kagum atas pesta kejutan yang di persiapkan oleh teman-temannya. Yang begitu mewah dan sempurna. Arzen sampai tidak menyangka bahwa ia akan medapatkan kejutan dan kado pernikahan semanis ini dari teman-temanya.


Namun Arzen seperti kehilangan satu temanya. "Ipek? Kemana Ipek?" batin Arzen yang memang tidak melihat Ipek di acara kedua ini padahal Ipek juga ikut andil dalam mempersiapkan kejutan ini. Termasuk warga dan keluarga besat pesantren Abah Husen pada datang semua itu adalah kado yang sangat Arzen kagumi karena Ipek mau memeberi kejutan yang sangat luar biasa buat dirinya. Namun kenapa malah Ipek tidak hadir di acara yang ia buat sesempurna ini.


"Apa terjadi sesuatu dengan Ipek yah?" batin Arzen menjadi tidak tenang memikirkan sahabatnya itu.