
Tanpa terasa satu bulan telah berlalu. Namun, sakit kepala yang Rio alami masih setia menyapanya setiap pagi menjelang. Rencananya Rio akan melakukan cek ke luar negri, karena rasa penasaran selalu menghantuinya, kenapa ia merasakan sakit kepala yang tak kunjung membaik.
Selama satu bulan ini hubungan Ody dan Rio makin membaik, karena setiap pagi Ody rutin mengunjungi rumah Rio untuk memijat kepala Rio. Aneh tapi nyata, sakit kepala Rio hanya akan sembuh setelah Ody pijat.
Intan yang mendengar kabar sakitnya Rio pun mulai curiga. selama Ody tinggal denganya sudah satu bulan, tetapi Intan tidak merasa selama satu bulan ini Ody mengalami haid. Yang mana seharusnya kalo Ody tidak hamil ia akan kedatangan tamu bulanan.
"Dy, gue perhatiin loe selama tinggal di rumah gue, belum pernah datang bulan yah?" tanya Intan ketika mereka sedang sarapan.
Ody yang mendapat pertanyaan dari Intan pun kaget. "Benar juga kata dokter Intan, selama satu kejadian malam itu aku belum datang bulan." batin Ody, mulai cemas dengan kondisinya.
"I...iya Dok, bahkan hampir dua bulan ini aku nggak kedatangan tamu bulanan, tapi memang dari dulu haid aku nggak pasti ko Dok," ucap Ody, memang pada kenyataanya kadang Ody mengalami keterlambatan haid.
"Kamu sekarang mau ke rumah Rio?" tanya Intan.
"Iya Dok, seperti biasa jadwal rutin," balas Ody membenarkan pertanyaan Intan. "Tapi lusa Dokter Rio akan, melakukan cek ke negara S Dok, katanya di negara tersebut alatnya lebih canggih, sehingga Dokter Rio akan coba untuk cek up ke negara tersebut." jelas Ody, menceritakan Rencana Rio.
"Kamu tolong sampaikan sama Rio, nggak usah pergi jauh-jauh untuk cek kesehatanya. Aku tau jawaban dari sakit yang dia alami." tutur Intan, agar Ody menyampaikan omonganya pada Rio.
" Lalu untuk kamu setelah dari rumah Rio nanti kamu ke ruanganku temui aku, ada sesuatu yang harus aku pastikan." ucap Intan dengan wajah seriuz.
"Kenapa sih Dok, aku jadi penasaran," ujar Ody merasa ada sesuatu dengan dirinya.
"Ada, nanti loe juga bakal tau, gue harus pastiin dulu biar semuanya jelas." ujar Intan nggak mau gegabah dengan tebakanya, ia harus memastikan bahwa tebakanya benar setelah semuanya ia cek.
"Ya udah deh, sabar Ody sabar." gumam Ody yang masih bisa didengar oleh Ipek dan Intan.
Berhubung ojek yang Ody pesan sudah datang, Ody pamit berangkat lebih dulu.
Ipek yang dari tadi menyimak obrolan Intan dan Ody, tentunya penasaran dengan maksud Intan.
"Dok,...maksud dokter apa sih?" tanya Ipek kepo, dengan nada berbisik.
"Kepo deh." jawab Intan meledek Ipek.
"Kebiasaan deh, seriuz ini....penasaran tau," rajuk Ipek agar Intan mau membocorkan tebakanya.
"Biarin biar lebih seru, kalian berdua penasaran," balas Intan kekeh.
"Sebenarnya Dokter Intan curiga kan kalo Mba Ody hamil." tebak Ipek dengan berbisik pelan.
"Ya begitu, tapi nampaknya Ody nggak sadar bahwa ia hamil. Makanya nanti aku mau cek dia. Biar lebih pasti." ucap Intan.
"Sebenarnya Ipek juga aga curiga sih, tapi kan Ipek mah nggak tau pasti ciri-ciri orang hamil, jadi diam ajah, tapi sekarang sedikit lagi terungkap rasa penasaran Ipek." ujar Ipek, setidaknya akan tau sebentar lagi rasa penasaranya.
"Iya..,tapi kamu diam dulu yah, biar entar ada bukti yang menguatkan baru kita bicarakan dengan Ody dan Rio." pinta Intan agar Ipek bisa bekerja sama denganya.
" Siap Dok," balas Ipek dengan semangat, sembari menunjukan jarinya membentuk simbol OK.
Setelah Ipek dan Intan bergosip ria. Kini saatnya Ipek yang berangkat mengais rezeki. Setelah berpamitan dengan Intan, Ipek pun berangkat dengan menggunakan motor metic kesayanganya.
****
Sementara di rumah Rio, Ody yang baru sajah datang, setelah berbasa basi dengan pak Yono dan mbok Karti, langsung menuju ke kamar Rio. Semenjak satu bulan ini Ody sudah biasa keluar masuk kamar Rio, seperti pagi ini Ody masuk ke kamar Rio, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ody udah tau Rio pasti tengah menunggunya.
Benar sajah dugaan Ody Rio sudah duduk bersandar di atas kasur empuknya. Rio tengah menopang kepalanya dengan batal agar tegak, entah sejak kapan Rio terbangun, yang pasti setiap pagi Rio terbangun karena sakit di kepalanya yang tiba-tiba datang, dan itu berhasil mengganggu tidur lelapnya.
"Pagi Dok," sapa Ody, ketika membuka pintu kamar Rio.
"Hemzzzzz...." balas Rio dengan gumaman.
Ody masuk dan membuka gorden dan jendela, seperti biasa agar udara segar pagi masuk, menggantika udara di dalam kamar.
Lalu Ody duduk pinggir ranjang Rio, meluruskan kaki mulusnya lalu diletakanya bantal di atas pahanya sebagai alas kepala Rio.
Rio pun langsung merebahkan kepalanya, dengan mata terpejam.
Ody memulai memijit dengan lembut.
"Dok,...." panggi lirih Ody.
"Hemzzz..." lagi-lagi hanya deheman yang Rio jawab.
"Apa lusa Anda akan tetap melakukan cek up ke negara S?" tanya Ody memastikan.
"Iya, kenapa?" jawab singkat Rio, dengan mata masih terpejam.
Rio yang kaget pun langsung bangun.
"Aduh...." pekik Ody, dan Rio bersamaan. Ketika Rio tiba-tiba bangun sehingga mengakibatkan kepala Rio dan Ody beradu.
Ody mengusap dahinya yang merah karena ulah Rio, begitu pun Rio melakukan hal yang sama.
"Sakit?" tanya Rio ketika melihat Ody meringis sambil mengusap-usap dahinya.
"Iya,....." jawab Ody tanpa menolek ke Rio.
"Lagian kenapa Anda tiba-tiba bangun?" ucap Ody masih dengan mengusap-usap dahinya.
"Kaget,......" jawab Rio, "Maaf yah," ujar Rio, entah sadar atau tidak Rio mengucapkan maaf pada Ody yang sebelumnya tidak pernah Rio ucapkan, biarpun melakukan kesalahan.
"Sini aku liat," lirih Rio sembari mengangkat wajah Ody, yang sedari tadi menunduk.
"Eng...Engga usah tuan," ucap Ody gugup karena pelakuan Rio. "Ini nggak apa-apa ko," jawab Ody dengan muka memerah.
"Ayo lanjut mijitnya," titah Ody, ia mencoba menghilangak kegugupanya.
Rio pasrah mengikuti saran Ody. Meletakan kepalanya diatas bantal yang berada di panguan Ody.
Namun, kali ini Rio tidak memejamkan matanya. Justru Rio memperhatikan wajah Ody yang memerah serta hiasan sedikit benjol didahi Ody.
"Tuan kenapa Anda senyum-senyum gitu." ucap Ody yang terganggu kosentrasinya karena ulah Rio.
"Muka kamu lucu banget." jawab Rio sembari tertawa jail.
"Lucu kenapa?" tanya Ody merasa nggak PD karena ucapan Rio. Ody pun berkali-kali mengusap wajahnya.
Rio yang melihat tingkah Ody, makin dibuat tertawa.
"Tuan, kalo Anda masih meledek, saya nggak jadi mijit nih." rajuk Ody, entah keberanian dari mana Ody berkata demikian.
"Iya...iya Maaf," tahan Rio, agar Ody tetap memijitnya.
"Ya udah Anda merem, kalo nggak natapnya kesanah," tunjuk Ody kearah lain, agar Rio tak menatap wajahnya.
"Iya merem nih." ucap Rio pasrah.
Ody melanjutkan pijitanya dengan lega setelah Rio memjamkan matanya.
"Dy,... tadi mau ngomog apa lanjut dong!" pinta Rio penasaran dengan lanjutan obrolan mereka barusan...
"Yang mana?" tanya Ody pura-pura lupa...
"Ihzzzz....yang barusan kalo Intan tau penyebab sakitku." ujar Rio mengingatkan Ody.
"Nggak tau ah lupa." sungut Ody, nampaknya Ody masih kesal dengan keusilan Rio.
"Wah sudah berani merajuk yah." ucap Rio jail.
"Lupa yah kalo aku siapa." ujar Rio, agar Ody berhenti merajuk.
"Abisan Anda ngeledek mulu," cibir Ody masih dengan muka dibiki cemberut.
Nah loh bambang Rio, Ody merajuk kan...
***Cara menggagalkan pembenci: Tersenyum, maafkan, lupakan dia, dan teruskanlah melangkah melanjutkan kehidupanmu yang lebih baik***
...****************...
#Terimakasih buat yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah.
Like✅
comen✅
vote✅
beri hadiah ✅
dan tekan❤✅