
"Loh kok malah Arzen ngomong gitu, aduh apa Arzen juga marah yah dengan sikap aku. Padahal aku hanya ingin dirayu sama Arzen ajah, kok malah dia jadi marah," ujar Zawa mulai panik.
Zawa membuka selimutnya dengan perlahan dan menoleh ke arah Arzen yang tengah tidur memunggungi dirinya. Zawa kira Arzen tengah marah, tetapi tanpa Zawa sadari Arzen tengah tertawa puas di dalam hatinya sebab tahu bahwa Zawa sudah mulai cemas dan akan merayu dirinya.
"Yank, kamu marah yah?" tanya Zawa dengan berhati-hati agar Arzen tidak tersinggung untuk kedua kalinya.
Arzen masih melajutkan dramanya. Ia masih diam pura-pura tidur. "Sayang tadi Ambu bilang katanya kalo istri yang menawarkan lebih dulu, untuk berhubungan suami istri pahalanya lebih gede loh. Yuk kita mulai malam ini. Kamu mau gaya apa? Eh... kan aku lupa belum tau gaya apa ajah. Maklum aku kan masih polos," rayu Zawa yang udah mulai cemas kalo Arzen marah sungguhan. Kan tidak lucu kalo ada kata cerai di malam pertama karena tidak dapat jatah....
Arzen terkekeh halus sembari tetap diam. Rasanya jadi ketagihan untuk mengerjai istrinya itu. Namun Zawa yang di belakang tahu apabila Arzen tengah terkekeh.
"Huhz... ternyata cuma pura-pura marah ajah toh kirain marah beneran," ucap Zawa, tetapi ia tidak mau membalasnya lagi nanti yang ada waktunya habis hanya untuk balas membalas.
"Yah, tidak ada salahnya mengikuti apa saran dari Ambu, agar pahalanya dobel-dobel bahkan sampai luber," batin Zawa membayangkan dirinya menjadi istri yang nakal. Tangan halus dan mungil Zawa masuk ke dalam selimut dan mengelus bagian bawah perut Arzen.
Berrrggg... Arzen langsung bergidig mere-mang dan bulu-bulu halus ditubuhnya langsung berdiri. Ok, Zawa ingin melihat segimana pertahanan Arzen. Tangan Zawa bergerak dengan halus di bawah sana memancing pertahanan Arzen.
Arzen yang tidak kuat dengan godaan dari Zawa langsung berbalik dan menin'dih tubuh Zawa. "Bener-bener ingin dihukum yah, bu dokter?" tanya Arzen dengan nafas sudah memburu.
Dan Zawa dengan wajah tersenyum jahil mengangguk dengan semangat.
"Wah bu dokter satu ini memang tidak ada takut-takutnya malah nantangin," ucap Arzen semakin tertantang.
Namun, Arzen senang dengan kenakalan Zawa yang menurutnya sangat langka, karena di mana sebagian wanita akan malu-malu dan pasrah sajah dengan apa yang suaminya lakukan.
Cup, lagi Zawa memulai lebih dulu mengecup bibir tebal milik Arzen. Arzen pun tidak lagi menunggu kode-kode yang lain. Ia langsung mengarahkan bib/rnya dan menyatukan dengan bib*r Zawa. Perlahan tetapi pasti, keduanya saling menikmati benda keny-al itu dan saling membelit lidahnya, mengabsen setiap barisan gigi yang rapih seolah tidak ingin satu gigi pun terlewat dari absensinya.
Darah keduanya sudah saling memburu dan sangat beruntung Arzen memiliki istri dokter Spog yang tentu sudah pandai dengan urusan teori dan tingal praktik mengikuti insting dan teori yang dia ajari.
Zawa membuka kaos oblong milik suaminya dan juga semua pakaian yang melekat di tubuh keduanya.
Telan-jang, yah kini mereka sudah tidak mengenakan sehelai benang pun. Pemanasan demi pemanasan keduanya lakukan dengan sangat lihai dan membuat pasangan terbuai tidak sabar ingin melanjutkan ketahapan selanjutnya.
"Sayang buruan," rengek Zawa yang merasakan sudah tidak tahan hanya permainan menggunakan jemari.
Arzen pun tersenyum dengan puas. Yah, memang ini yang ia tunggu-tunggu Arzen ingin membuat Zawa meminta lebih dulu untuk memulai permainan.
"Baik lah bu dokter, Anda yang meminta jadi jangan menangis dan jangan meringik meminta berhenti kalo belum sampai selesai," ancam Arzen dengan menatap dalam.
Zawa pun mengangguk dengan semangat dan langsung mengambil posisi siap untuk Arzen memulai permainan. Arzen yang memang sudah lebih berpengalaman dibidang ini, langsung melakukan tugasnya. Antena yang memang sudah tegang dan keras langsung Arzen gunakan dan tes kemampuanya apakah kekuatanya masih sama dengan yang dulu atau lebih baik atau malahan berkurang.
Ah... jangan menerka-nerka lebih baik buktikan sajah. Lagi pula sepertinya bu dokter sudah sangat siap menerima huja'man yang akan Arzen lakukan.
Sekali gagal, di mana arahan sudah tepat, tetapi ternyata meleset dan percobaan kedua pun masih sama. Arzen menarik nafas dalam seolah mengumpulkan tenaga dan setrategi agar ia bisa berhasil menaklukan pertahanan Zawa.
Aihhhh... Zawa meringis ketika pertahananya bisa Arzen robohkan. "Sudah siap sayang, ingat kalo sakit atau merasa tidak nyaman bilang saja, aku tidak akan memaksa," bisik Arzen sembari menggoda Zawa.
Dengan semangat Zawa pun membalas ucapan Arzen dengan anggukan.
Arzen setelah melihat Zawa lagi-lagi sudah siap pun dengan perlahan mulai mengatur ritme yang teratur sampai pada istrinya yang awalnya meringis dan memejamkan matanya, kini sepertinya sudah bisa menikmati permainan.
Sehingga Arzen mempercepat ritmenya dan terus semakin capat ketika Zawa justru terlihat sangat menikmatinya. Tanpa sadar karena permainan yang sangat menyenangkan sehingga peluh sudah membasahi seluruh tubuh terutama Arzen yang di permainan pertama mendominasi sebagai pemimpinya.
"Hmzz... sayang aku mau... mau sam-pai," lirih Zawa dengan terbata....
"Tahan sebentar yah, kita bersamaan, aku juga sebentar lagi akan sampai kli-masks...
Dengan sentuhan yang semakin kuat Arzen kembali berpacu dengan kegiatanya yang seolah tidak ada rasa cape....
Hemmmzzz... Zawa nampaknya sudah tidak tahan untuk menahan lebih lama lahi sehingga ia lebih dulu mencapai finish...
Aaahhh... Arzen pun nyusul garis finish...
Dua sejoli yang pagi tadi baru saja sah menyandang sebagai suami istri kali ini tengah terkulai dengan lemas di atas kasur yang empuk dan noda merah sebagi tanda bahwa Zawa memang masih pera-wan pun terdapat di seprai yang berwarna putih. Kelopak mawar yang beberapa jam lalu ditata dengan apik kini sudah berserakan berantakan memenuhi kamar hotel mereka.
Arzen lagi-lagi melafalkan doa yang Abah ajarkan agar kerja kerasnya seger membuahkan hasil dan menjadikan calon putra putri yang soleh dan solehah.
Arzen menarik tubuh po-los istrinya membawa ke dalam dekapanya. Benar yang dikatakan Arzen bahwa Zawa tidak memohon ampun, Zawa benar-benar dokter yang pandai dalam teori dan praktek. Beruntung Arzen ketika di luar Zawa adalah gadis yang pendiam dan kalem tidak terlihat sama sekali sisi liarnya. Namun ketika di atas ranjang dia adalah wanita yang aktif.
"Terima kasih sayang, kamu memang dokter yang bisa diandalkan," bisik Arzen di balik telinga Zawa sehingga tubuh Zawa kembali mere-mang menandakan dia kembali menginginkan penyatuan.
"Sama-sama sayang, tapi kayaknya aku.... (Zawa sengaja menggantung ucapanya)
"Kenapa sayang bilang ajah, ada yang sakit, atau rasa aneh yang lain?" tanya Arzen dengan cemas.
Zawa menggeleng dengan lemah, "Bukan, tapi aku mau lagi...." Zawa segera menyembunyikan wajahnya yang nampak malu-malu dibalik dada bidang Arzen.
Arzen pun tertawa renyah. "Ok, kita gas lagi. Jangan kasih kendor tapi kamu yang pimpin yah, tenanga aku udah hampir habis," goda Arzen apakah Zawa mau memimpin atau justru malu.
"Boleh, tapi nanti ajarin yah, soalnya masih belum pandai," balas Zawa tetapi wajahnya masih enggan untuk di tunjukan ke Arzen, ah... mungkin dia masih malu-malu.
"Ok bu dokter, tapi ikutin insting saja Dok, pasti dokter bisa karena dokter adalah orang yang berpengalaman," kekeh Arzen, ia ingin tahu segimana liarnya istrinya di atas pembaringan.
Apakah dia benar-benar bisa memu-askan suaminya atau justru dia akan menyerah di tengah permainan. Arzen jadi tidak sabar memulai ron'de ke duanya.
#Go Zawa buktikan sama Arzen, kalo kamu pasti bisa, masa bu dokter kalah sama pasienya....