Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kartu Saktinya Sultan



Tinggal kan Zawa dan Arzen yang sedang melow..


Ipek selama di rumah sakit selalu mengurus Clovis dengan sangat perhatian dari makanan Ipek dengan telaten menyuapinya dan juga untuk ke kamar mandi Ipek yang memapahnya. Namun, sudah dua kali ini Clovis bisa ke kamar mandi sendiri tanpa harus dipapah oleh Ipek.


Pagi hari menyapa dua insan yang saling kenal tetapi jarang terlibat obrolan, Ipek dan Clovis akan terlibat perbincangan seperlunya saja. Mungkin Clovis masih benci dengan Ipek, sehingga Ipek pun sungkan apabila harus memulai obrolan. Pukul sepuluh dokter datang memeriksa semua kesehatan Clovis, dan setelah memeriksa semuanya dokter mengizinkan Clovis hari ini pulang. Ipek pun sangat bersyukur selain kambar kepulanganya itu yang membuatnya gembira, tentu itu juga karena tandanya Clovis sudah sembuh dan tinggal melakukan rawat jalan. Dia juga tidak akan bersama Clovis lagi. Situasi menegangkan akan segera berlalu.


"Ibu Ipek, karena hari ini Bapa Clovis akan pulang, maka silahkan selesaikan Adminitrasi dulu yah dan menebus obat untuk Bapak Clovis'nya," ucap Suster sebelum pamit pergi dari kamar rawat Clovis.


"Baik Sus, Dok terima kasih untuk pelayananya yang sangat baik sehingga teman saya cepat sembuh," ucap Ipek dengan menunduk hormat.


"Sama-sama bu, semoga Bapak Clovis bisa segera sembuh total yah," balas Dokter, kemudian mereka keluar meninggalkan Ipek dan Clovis.


"E... Tuan saya menebus obat dulu yah," pamit Ipek.


"Tunggu Pek, kamu ambil karu ini buat bayar semua biyaya rumah sakit ini," ujar Clovis sembari memberikan kartu berwarna hitam yang hanya dimiliki oleh Sultan. Biasa disebut kartu saktinya para Sultan.


"Oh... tidak usah Tuan. Pakai punya saya sajah. Anggap sajah ini salam perpisahan dari saya." Ipek lagi-lagi menolak dan seolah menandakan bahwa ia akan pergi. Clovis pun tidak mau berdebat. Nanti ia akan menggantinya di rumah sajah. Mungkin kalo pakai kartu Ipek malu atau sungkan, tapi kalo pakai uang pasti tidak akan menolak.


Ipek meninggalkan Clovis dan pergi keluar menuju adminitrasi pembayaran dan Apotik untuk menebus obat Clovis.


Tidak lama Ipek kembali dengan menenteng sekantong obat-obatan dan keperluan untuk mengobati luka-luka Clovis. Menjelang sore suster datang dan melepas semua alat yang menempel di tubuh Clovis, berati saat itu juga Clovis diperbolekan pulang.


Clovis memang untuk sementara dianjurkan memakai kursi roda, karena ditakutkan lukanya kembali berdarah. Sehingga resiko terjadinya infeksi semakin besar. Seperti sekarang Clovis di bantu suster cantik berpindah ke kursi roda. Ipek hanya sebagai penonton.


"Terima kasih yah Sus," ucap Ipek dengan ramah sebelum ia dan Clovis bener-bener pulang.


"Sama-sama Bu, Pak. Semoga Bapak Clovis lekas sembuh yah," balas Suster dengan ramah.


Selanjutnya Ipek mendorong kursi roda ke palkiran rumah sakit, dengan sangat pelan dan berhati-hati.


"Ngomong-ngomong kita pulang naik apa Pek?" tanya Clovis yang ia juga tidak tau nasib mobilnya ada di mana. Karena kurangnya komunikasi selama bersama Ipek sehingga Clovis tidak tau apa sajah yang terjadi dengan dirinya dan mobilnya.


"Naik mobil Anda, Tuan. Itu mobil Anda sudah ada disitu," jawab Ipek dengan sangat lembut dan sabar. Tidak seperti Clovis kalo berbicara masih sajah ketus.


Clovis hanya membalas O... dengan samar. Dipikiranya berati ia harus menyetir dan dia pun yakin kuat untuk melakukanya karena menyetir tidak butuh tenaga yang berat bukan.


Dari kejauhan sudah terlihat kendaraan roda empat milik Clovis, di mana lagi-lagi mobilnya paling mewah diantara mobil yang lain. Ipek mendorong kursi roda dan mendudukan Clovis di kursi penumpang.


"Loh Pek, kenapa dikusi penumpang. Lalu siapa yang nyetir?" tanya Clovis heran.


"Anda masih sakit Tuan, nggak boleh menyetir dulu! Biar urusan mengemudi serahkan sama saya." Ipek membalas dengan percaya diri. Ia merapihkan kursi roda dan meletakanya di kursi belakang.


Jujur tampang Clovis menegang dan pucat. Ia takut kalo Ipek tidak bisa mengemudikan mobilnya. Tentu karena pengoprasian mobil mewanya cukup berbeda dengan mobil manual lainya. "Aduh kira-kira Ipek bisa nggak bawa mobil ini," gumam Clovis dalam hati. Ia ingin protes, tetapi takut menyinggung perasaan Ipek, tapi ia juga takut kalo mobilnya kenapa-kenapa dan juga mereka yang celakan kan lebih bahaya.


"Ah... iya," Clovis kaget, karena saking paniknya mobilnya lecet ia sampai lupa kalo sabuk pengaman belum terpakai.


"Kamu yakin Pek, bisa bawa mobil ini? Kalo tidak bisa, biar aku ajah yang nyupirnya." Nampaknya Clovis masih meragukan kemampuan Ipek. Padahal tanpa Clovis tau mobil-mobil mewah kaya gini udah jadi makanan Ipek. Secara mobil-mobil Abangnya yang rata-rata mobil mewah semua. Sehingga Ipek bisa memakainya kapan sajah asal dia mau.


"Anda tidak usah cemas Tuan, selain saya bekerja sebagai OG(office girl) di rumah sakit milik dokter Rio, pembantu dan pelayan di bar Anda, saya juga pernah bekerja sebagi sopir. Hidup saya keras jadi memaksa saya untuk banting tulang," jawan Ipek dengan nada sindirian. Ipek tau bahwa Clovis secara tidak langsung tengah meremehkanya.


Tidak butuh berlama-lama Ipek pun mulai mejalankan mobil mewah Clovis dengan mahir dan terasa nyaman dengan caranya mengemudi tidak ugal-ugalan sehingga luka Clovis tidak terasa sakit.


Clovis salut dengan Ipek yang seolah serba bisa, tetapi tidak sombong. "Siapa sebenarnya Ipek kenapa aku tidak begitu yakin kalo dia itu orang tidak mampu," batin Clovis yang tanpa sadar sejak tadi memperhatika terus kearah Ipek.


"Tuan bisa Anda arahkan saya harus mengantar Anda kemana?" ucap Ipek tetap fokus pada jalanan, sedangkan ia tahu sejak tadi Clovis memandangnya tanpa kedip.


"Ah... itu... ke apartemen A yang ada di jalan C," jawab Clovis dengan terbata, kaget karena ia ketahuan memandangi Ipek.


Lagi, Ipek terlihat sangat paham dengan seluk belum apartemen mewah yang Clovis tinggali. Hal itu menambah kebingungan Clovis. "Fix Ipek bukan dari golongan orang kurang mampu," batin Clovis merasa semua identitas Ipek hanya palsu.


Biarpun Ipek paham tengah diperhatikan oleh Clovis, tetapi Ipek mencoba tetap tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menurukan korsi roda dan memapah Clovis untuk berpindah, lalu Ipek dengan telaten memindakan barang yang penting ke dalam tas besar dan menggantungkanya di samping korsi roda. Dengan cekatan tetapi tetap hati-hati Ipek mendorong Clovis sampai pada unit yang Clovis sudah sebutkan.


"Kode keamananya Tuan?" Ipek bertanya kode keamanan pintu apartemen Clovis.


Clovis pun mengetik kode keamanan diponselnya. Lalu Ipek melihat dan mengdeal satu persatu angka, sampai pintu berhasil terbuka.


Ipek mendorong masuk ke dalam apartemen Clovis. Rapih! Itu kesan Ipek pertama memasuki hunian lelaki yang ia cintai.


"Tuan apa kamar Anda ada di lantai atas?" tanya Ipek asal tebak sih, tetapi dari tata peletakanya sepertinya begitu.


"Iya, biar aku jalan sajah, kalo pake korsi roda susah naiknya," ucap Clovis, ia hendak bangun tetapi di cegah oleh Ipek.


"Saya papah sajah Tuan! Lagi Ipek memapah tubuh berat Clovis, kembali dipapah oleh Ipek dengan sedikit kesusahan dan tersenggal akhirnya sampai juga di kamar yang rapih dan luas.


"Pek tadi tagihan rumah sakit berapa biar aku ganti cash sajah," ucap Clovis tidak enak apabila dibayar menggunakan uang Ipek.


"Oh tagihan ada disitu tuan." Ipek menunjuk kantong obat-obatan yang terdapat kuitansi pembayaran.


Setelah membaca tagihannya Clovis mengambil uang di nakas samping tempat tidurnya dan menyerahkan pada Ipek, tiga pulu juta.


"Ini ganti biyaya rumah sakit dan juga upah kamu sudah merawat saya." Clovis menyerahkan tiga ikat uang warna merah, yang totalnya tiga puluh juta.


Ipek teriris hatinya, ketika kebaikanya hanya dihargai karena uang, tetap Ipek tetap menerima pemberian uang dari Clovis dan ia berjanji tidak akan memakainya.


"Terimak kasih Tuan, atas kemurahatian Anda. Lebih baik Anda istirahat Tuan. Biar saya siapkan makanan buat Anda." Ipek turun kebawah untuk menyiapkan makanan untuk Clovis. Sementara Clovis merebahkan tubuhnya hendak beristirahat. Kira-kira makanan apa yang Ipek masak mengingat dia ajah nggak jago masak....