
Di mana Ipek dan Clovis tengah ngobrol, yang awalnya Ipek nolak. Karena terus-terusan di ajak pertanyaan oleh Clovis, jadi dia juga tidak sadar semakin lama ia ngobrol dengan Clovis.
*****
Rio masuk ke ruangan Wahid. Sebelumnya Wahid memberitahu pada perawat apabila Ipek mau masuk agar ditahan dulu, pasalnya ia akan membahas masalah pribadi.
"Assalamualaikum, barusan Ipek mengabari saya katanya, Mas Wahid ingin berbicara dengan saya?" tanya Rio dengan sangat sopan.
"Waallaikumsallam, ia Dok, panggil Wahid saja. Biar kita lebih akrab." Wahid dengan suara lirihnya meminta agar Rio memanggilnya sesuai dengan namanya, tanpa ada imbuhan Mas atau panggilan formal lainya.
"Baik lah, Wahid. Ngomong-ngomong ada yang bisa aku bantu." tanya Rio diselingi candaan, agar mereka memang terkesan akrab sungguhan.
"Maaf yah Dok, saya jadi merepotkan meminta Anda kesini, padahal pasti Anda sibuk. Tapi Anda menyempatkan waktu untuk mengunjungi saya," ucap Wahid sebagai pembukaan obrolan.
"Tidak apa-apa sibuknya aku masih bisa ditinggalkan. Apalagi untuk teman sendiri. Pasti akan aku sempatkan." Rio sudah curiga bahwa pembahasan yang Wahid maksud pasti bukan soal sakitnya. Dari yang Rio tangkap Wahid mungkin ingin mendengar cerita yang lain. Rio pun akan mencoba menjadi pendengar yang sejati dan kalo bisa netral.
"Gini Dok, saya tahu Anda dan Ipek sudah kenal lebih dulu. Alias Anda kenal Ipek sebelum saya mengenalnya. Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan Ipek, yang saya yakin Dokter mengetahui kisahnya. Tapi saya ingin Dokter memang netral, tidak memihak salah satu, entah saya sebagai suami Ipek atau orang lain bukan karena orang itu sebagai sahabat Anda.
Deg... jantung Rio berdetak lebih kencang mana kala mendenngar pertanyaan Wahid. "Kenapa Anda bertanya begitu Wahid? Apa yang kamu pikirkan tentang Ipek? tanya Rio yang merasa aneh dengan pertanyaan Wahid. Rio awalnya benar-benar mengira kalo Wahid memang akan membahas mengenai kesehatanya. Bukan masalah pribadi.
Wahid nampak mengatur nafasnya, bukan karena emosi atau pun marah dengan posisi semua ini, hanya saja ia bingung bagai mana caranya agar Rio mau bercerita mengenai Ipek dan laki-laki yang dulu di cintainya. Sehingga apabila ia berumur tidak lama setidaknya ada rasa tidak bersalah dan bisa meminta Ipek untuk kembali pada laki-laki itu.
"Dok, saya mohon berceritalah. Saya tidak akan marah atau pun cemburu. Anda tahu kesehatan saya bagaimana pasti. Berapa persen saya bisa bertahan hidup. Dan bagaiman kondisi saya nanti, apabila saya masih bisa hidup? Saya menikah dengan Ipek baru tiga bulan, dan saya langsung mendapatkan musibah ini. Saya ikhlas dan insyaalloh akan tabah menghadapinya, tapi saya nggak tega apabila melihat Ipek juga bersedih terus. Saya merasa bersalah membawa dia kedalam kesedihan ini. Walaupun Ipek tidak pernah mengeluh atau pun menunjukan muka sedihnya, tetapi saya tahu bahwa ia juga merasakan kesedihan itu. Saya hanya ingin memberikan kebahagiaan pada Ipek. Tolong mengerti berada di posisi saya Dok. Saya tidak meminta apa-apa, saya hanya ingin melihat Ipek bahagia. Apa laki-laki yang dari dulu di cintai oleh Ipek adalah Clovis?" tanya Wahid dengan penuh harap, agar Rio mau menjawab pertanyaanya.
Rio dari tadi diam saja ia berusaha menyimak apa yang Wahid katakan, terlebih suara Wahid yang tergolong sangat pelan sehingga butuh pendengaran yang tajam untuk mendengarkanya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan Wahid, andai hal itu terjadi pada aku. Sangat mungkin terjadi aku juga akan melakukan hal yang sama dengan kamu." Rio menarik nafas sejenak, ia akan menceritakan apa yang Wahid ingin dengar. "Mengenai siapa laki-laki yang Ipek sukai dulu? Benar apa kata kamu. Dia adalah Clovis. Yah, Clovis laki-laki yang Ipek cintai."
"Kalo yang aku lihat, Clovis sekarang sangat jauh dengan Clovis yang dulu. Dari usaha pun dia sudah mulai berubah. Dari ucapan bahasa dan sikap dia banyak berubah. Untuk suka sama Ipek sepertinya ada, kalo dilihat dari gerak geriknya. Kita sesama laki-laki tahu manakala kita sedang jatuh cinta seperti apa tatapanya. Yah, itu yang aku lihat dari Clovis." ucap Rio, pasti Wahid tau lah apa yang di maksud oleh Rio.
"Dok apa Anda bisa bantu saya untuk bertemu dengan Clovis, tapi tanpa sepengetahuan Ipek. Saya ingin mengobrol empat mata dengan Clovis. Antara laki-laki yang mencintai satu wanita yang sama," ucap Wahid, dengan wajah memelasnya yang membuat Rio tidak tega setiap melihat Wahid dengan wajah seperti itu.
"Nanti akan aku cari waktunya yah, soalnya Clovis juga banyak kerjaan akhir-akhir ini. Jadi aku harus buat janji dulu agar tidak mengganggu pekerjaanya." Rio sengaja mengulur waktu agar dia bisa obrolkan dulu dengan yang lainya. Setidaknya saling diskusi. Tentu Rio juga takut salah mengambil keputusan terlebih ini masalah pribadi seseorang. Rio takut dengan kemarahn Ipek dan Clovis juga tentunya, apabila urusan pribadinya di ikut campuri oleh orang lain apabila hal ini sampai bocor ke orang lain.
"Terima kasih Dok, tapi kalo bisa jangan terlalu lama yah Dok. Soalnya saya merasa kesehatan saya juga semakin tidak baik-baik saja." Wahid kali ini akan mencoba membahas mengenai kesehatanya yang ia rasa sangat aneh. Bagi dia urusan pribadi sudah selesai kali ini tinggal berkonsultasi dengan kesehatanya.
"Loh, kenapa Anda berkata begitu Wahid, kamu harus semangat, kamu yakin bahwa kamu akan sembuh. Kasihan Ipek kalo kamu menyerah begitu saja." Rio tidak suka dengan ucapan Wahid yang aneh. Kenapa dia seolah berputus asa seperti itu, sedangkan Ipek sangat yakin kalo Wahid akan baik-baik saja. Bahkan Ipek sangat yakin kalo suaminya itu akan sembuh.
"Ini tujuan ke dua saya memanggil Anda. Saya ingin membicarakan mengenai kesehatan saya. Anda tentu tau resiko cidera syaraf yang saya alami. Kenapa saya merasa tubuh ini sudah tidak bisa merespon hal yang sensitif. Seperti jam tidur yang semakin tidak bisa kontrol. Dan juga soal bau, dan lain sebagainya perlahan fungsi panca indra di tubuhnya menghilang fungsinya, sehingga Wahid mengira kalo sakitnya semakin parah dan akan semakin kecil untuk sembuh.
"Kalo soal kesehatan Anda, nanti aku akan rundingkan dengan dokter yang menangani Anda yah. Karena memang ini juga tidak bisa sembarangan aku memutuskan suatu tindakan. Aku harus benar-benar tahu apa yang sekiranya menyebabkan ini semua."
"Baik Dok, terima kasih yah, sudah menjadi pendengar sejati saya. Padahal kita baru ketemu beberapa kali, tetapi entah mengapa saya nyaman dengan kalian semua. Itu karena kalian memang sangat baik. Termasuk Arzen pun sangat baik. Pantas saja Ipek nyaman berada di antara pertemanan kalian. Selain kompak kalian juga saling peduli," ujar Wahaid mengakui bahwa persahabatan diantara mereka memang sangat kompak.
"Kamu tahu tentang Arzen? Di mana sekarang Arzen?" tanya Rio yang memang belum tahu kalo rencananya Zawa akan mengunjungi Arzen dengan diantarkan oleh sopir mereka.
"Loh Dokter belun tahu, Zawa barusan udah di beritahu. Kalo mau nemuin Arzen tinggal bilang sama Ipek nanti sopir kita yang akan antarkan," jawab Wahid berkata apa adanya sesuai yang tadi ia dan Ipek sepakati.
"Jadi Zawa sudah tahu. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya satu persatu pertemanan kita akan lengkap lagi." Terlihat sekali kebahagiaan di wajah Rio. Wahid pun ikut senang bisa merasakan berada di tengah-tengah persahabatan yang saling mendukung dan melindungi. Wahid merasa sudah seperti teman lama dengan pertemanan mereka. Hal itu karena memang Rio dan yang lainya tidak membedakan dirinya walaupun dia hanya pasien yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah semua yang mengganjal di hati Wahid sudah di bicarakan dengan Rio kini Wahid tinggal menunggu Rio mengatur pertemuanya dengan Clovis. Sementara Rio akan secepatnya mengatur pertemuan antara Wahid dan Clovis, sesuai permintaan Wahid yang meminta di segerakan pertemuan itu.