
Ipek mendorong korsi rota Arzen ke arah taman.
"Ada apa sih Pek? Aku jadi deg-degan deh?" tanya Arzen, begitu ia dan Ipek sudah sampain di taman, yang di sana juga terdapat kolam ikan, cukup untuk menenangkan fikiran, bahkan ketika dulu Ipek berada di masa tersulitnya sering menyendiri di sini, tetapi sekarang Ipek sudah berusaha bangkit dan akan terus berusaha menghapus nama Clovis, meskipun tidak secara langsung.
"Ya kalo nggak deg-degan mati dong Arzen," kelakar Ipek, seperti biasa kalo bicara dengan'nya tidak akan bisa serius.
"Aku serius Pek, jangan bercanda terus napa, seriusnya. Bawaanya aku deg-degan berasa mau di lamar juga," ucap Arzen dengan menatap lurus kearah depan.
"Di lamar sama siap?" tanya Ipek tidak tau maksud dari omongan Arzen.
"Tuh..." Arzen memanyunkan bibir bawahnya. Ipek lalu melihat kearah samping.
"Itu mah Abi. Kayaknya memang kamu mau di lamar oleh Abi, tapi bukan buat aku melainkan buat Abang aku. Abang Mahes," bisik ipek dengan terkekeh geli.
Hal itu berhasil membuat kedua biji mata Arzen seolah hendak meloncat.
"Gila, kamu Pek. Masa iya pedang sama pedang nggak boleh itu, dosa." Arzen memang tau bahwa Ipek hanya bercanda seperti biasa-biasanya hanya saja sekalinya bercanda ngeri banget dosanya.
"Hayo kalian lagi ngomomgin Abi yah?" Abi begitu sampai langsung duduk di sampig Ipek. Sementara Arzen yang masih di korsi roda duduk di depan Ipek dan Abi.
"Ini Bi, katanya Arzen juga mau dicariin jodoh sama Abi." Ipek justru menambah rumit urusan.
"Ipek!!! Hust..." Arzen membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Iya gitu Bi, katanya Arzen malu mau ngomong sama Abi." Ipek malah makin senang ngegodain Arzen.
Arzen tidak tahu bahwa dirinya hanya menjadi korban keisengan Ipek dan Abinya. Padahal anak dan bapak itu sebelas dua belas isengnya.
"Kenapa mesti malu, biar nanti Abi carikan mau yang lulusan Kairo juga. Pasti mau lah mereka, kalo calon imamnya kaya Nak Arzen, calon ustad yang bisa mimpin rumah tangga dengan baik." Abi seolah menerima usulan Ipek.
"Bukan Bi, ini itu Ipek ngerjain Arzen, Bi. Padahap Arzen nggak ngomong apa-apa kok, dasar ajah dia ini jail banget," dengus Arzen, mengira Bahwa Ipek dan Abi memang benar-benar akan mencarika jodoh untuknya.
"Oh jadi Nak Arzen ngira anak Abi jail, bohong gitu? Wah ini si namanya menjatuhkan anak kesayangan Abi. Urusanya sama Abi, nggak bisa ditolerin." Abi justru semakin mengerjain Arzen. Sedangkan Ipek dibalik punggung kekar Abi terkekeh.
"Bukan Bi, bukan gitu maksud Arzen." Wajah Arzen berubah seketika itu juga, ia mengira bahwa kedua anak dan bapak itu memang kecewa dengan ucapan Arzen.
"Pek bantuin," bisik Arzen, tentu Abi mendengar. Ipek yang tidak tahan menahan tawa pun akhirnya tertawa renyah juga.
Arzen sontak bengong, dirinya bagai orang bodoh, yang tidak tau bahwa ia tengah di prank.
"Jadi ini?..." Arzen tidak melanjutkan kata-katnya hanya membuang nafas kasar. "Oh..." dengus Arzen baru tahu dari mana sifat jahil Ipek berasal, pasti dari Abinya yang sama-sama satu circle.
"Ini karena ide si Tuan Putri, Abi hanya mengikut saja. Jadi kalo mau marah dipersilahkan." Abi mendorong pundak Ipek.
"Ih apaan sih Bi, kita udah sepakat dosa di bagi rata yah. Jadi jangan lempar batu sembunyi tangan dong. Tanggung jawab!!" Ipek balas mendorong pundak Abi.
"Udah sayang, kasian tuh liat Arzen kebingungan, nanti dia." Abi meminta Ipek untuk menghentikan candaanya.
"Iya Abi, ini Ipek juga udahan dan mau langsung bahaa ketopik kita memanggil Arzen."
Deg!!!... Arzen seolah jantungnya kembali berhenti berdetak. Arzen kembali berfikir ini kembali Prank atau memang ada benar-benar hal yang penting yang akan Ipek dan Abi sampaikan.
"Jadi gini Nak Arzen, Abi nemuin Nak Arzen itu bukan karena mau ngasih jodoh atah apa. Abi cuma mau nyampain niat buat ajah Nak Arzen buka bisnis bersama. Kemarin Ipek cerita bahwa Nak Arzen penah buka usah cafe dan juga Nak Arzen ini jago mengolah anekan masakan. Sebenarnya Abi ini pengusaha lestoran loh, tapi malah tidak jago untuk masak. Kali ini pengin ajah Nak Arzen untuk bekerja sama tapi Abi cuma bantu modal dan bantu ide dikit-dikit, sementara untuk menjalankan bisnisnya Nak Arzen yang atur. Gimana tertarik nggak?" tanya Abi hanya berbasa basi sebab udah tahu pasti Arzen mau.
Arzen melirik ke arah Ipek ia tahu betul bahwa ini pasti ide Ipek. Namun Ipek justru membuang pandangan ke lain arah, yang mana ia justru pura-pura tidak tahu.
"Kalo Arzen pasti mau banget Bi, tapi apa nanti Arzen bisa untuk ngejalaninya sedangkan untuk membuka usaha dibutuhkan fisik yang mendukung, Arzen hanya begini adanya fisiknya juga.... Bahkan entah sampai kapan Arzen mengenakan korsi roda," ucap Arzen yang sedikit minder dengan kondisi fisiknya kini.
"Abi yakin kamu itu bisa, lagian kamu itu orang yang kuat dan pantang menyerah. Jadi pasti bisa mengatur semuanya. Tenang nanti kalo Ipek diizinkan oleh suaminya Abi akan minta dia untuk bantuin usaha pertama Abi dan Kamu. Kamu mau kan? Jangan kecewain kepercayaan Abi, karena ketika Abi percaya sama kamu itu tandanya kamu memang layak untuk di kasih amanah itu."
Arzen kembali terdiam, ia masih msncoba memikirkan apa yang Abi katakan. Ketakutanya cuma satu, takut kalo ia merugi dan mengakibatkan Abi kecewa.
"Percaya pada kemampuanmu Zen, kamu pasti bisa." Ipek kembali ke mode serius dan mencoba meyakinkan Arzen juga.
"Kalo memang Abi percaya dengan Arzen dengan rasa bersyukur yang teramat lebih, Arzen akan coba menjalankan amanah Abi. Semoga Arzen tidak mengecewakan Abi." Arzen akhirnya menerima saran Abi, dan karena Arzen sudah mau menjalani bisnis bersama, sehingga tanahnya tidak jadi dijual.
"Nah kaya gitu dong, jangan berkecil hati. Lagian kan cedera di kaki kamu bukan permanen, masih ada kesempatan untuk sembuh jadi harus semangat jangam mengeluh, dan berputus asa. Tunjukan kalo kamu bisa kebali bangkit." Abi sangat senang karenq Arsen mau untuk memulai usah denganya.
Sebenarnya Abi tidak terlalu berharap memiliki omset yang besar dari bisnis dengan Arzen, bukan karean Abi tidak yakin dengan kemampuan Arzen, tetapi itu semua karena memang Abi murni ingin membantu Arzen untuk kembali memiliki pekerjaan.
Abi pasti tau gimana rasa menjadi laki-laki matang tanpa ada pekerjaan, terlebih ia bukan karena malas untuk bekerja, tetapi karena keadaan yang memaksanya kehilangan mata pencaharianya. Arzen yang rela menghabiskan tabunganya untuk ibunya yang butuh pengobatan dan juga ia rela tidak bekerja demi merawat ibunya. Sudah menunjukan bawa Arzen adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Sehingga Abi tidak ragu membantu Arzen.
"Terima kasih yah Abi, Ipek. Saya sampe tidak bisa ngomong apa-apa saking senengnya," ucap Arzen dengan tercekat kaget.
"Iya sama-sama, kamu yang semangat yah." Abi menepuk punggung Arzen sebelum dirinya pergi kembali ke dalam rumah Abah.
Kini tinggal Ipek dan Arzen.
"Terima kasih yah Pek, aku tahu ini pasti cara kamu agar aku memiliki pekerjaan. Aku nggak tau kenapa kamu bisa baik banget sama aku Pek."Arzen sangat terharu dengan kebaikan Ipek.
"Iya sama-sama. Udah ah jangan melou, dan aku ngelakuin ini semua karena kamu memang pantas untuk mendapatkanya Arzen." Ipek juga tidak bisa lepas begitu saja dengan usahanya karena memang Ia juga merasa bahwa Arzen selama ini sangat baik denganya.
Kini Ipek pun akan menghantar Arzen kekakamarnya untuk istirahat.
"Kamu kalo cape atqu ada keluhan apa-apa bilang ajah sama Nuel atau Nando biar di bantu menyampaikan pada kami." Sebelum pamit kembali ke rumah Abah Ipek tidak lupa agar Arzen berbicara apabila merasakan tidak beres dengan kesehatanya.
"Baik Tuan putri," jawab Arzen dengan diselingi candaan.
Setelah itu Ipek kembali ke kamarnya ia sebenarnya masih ada kebimbangan di dalam hatinya. Apakan Wahid adalah jodonya atau justru dari Wahid ia akan kembali merasakan kehilangan. Ipek pun berjanji tidak akan menaruh hatinya pada calon suaminya dulu, hal itu ia lakukan untuk mencegah sakit hati kembali, apabila ternyata Wahit tidak sebaik dengan yang keluarganya katakan.