
"Ih Abi ini bagaimana mau bantuin Arzen nggak sih?" tanya Ipek sembari manyunkan bibirnya, menandakan sama Abinya bahwa dirinya itu tengah merajuk.
Abi terkekeh melihat anak perempuanya yang paling di sayang seperti itu. "Iya dong, pasti Abi bantuin kok, tapi lagi mikir dulu ini mau bantu apa?" Abi memegangi kepalanya seolah ia tengah berfikir keras.
"Udah tinggal Abi kasih modal Arzen, minta ia buka usaha sesuai kemampuan dia, setelah itu untung dibagi dua. Kan gampang, masa Abi orang kaya raya tapi tidak bisa mengatur semuanya," dengus Ipek kesal, sebab sepertinya Abinya bukan bingung menentukan pilihan usaha apa, melainkan Abi tengah mengerjai Ipek.
"Ya udah gini saja nanti biar Abi yang bicara langsung sama Arzen. Biar Abi tahu dia mau usaha apa." Akhirnya jalan tengahnya seperti itu.
"Ya ampun Abi, keputusanya segampang itu, tapi bikin Ipek lama banget ngerayu Abinya. Memang Abi kayaknya sengaja kan mau ngerjai anaknya." Ipek bersungut seolah marah dengan Abi.
"Heheh... abisan Abi itu benar-benar kangen sama Tuan Putri. Apa nanti Ipek nggak mau pulang lagi ke rumah Abi di Jakarta? Apa nggak pengin tidur lagi di kamar kesayangan Ipek. Abi kangen banget kalo pagi ada suara kebawelan kamu sayang." Abi tentu mencari cara terus agar Ipek mau tinggal di rumah megahnya.
"Iya sayang, Umi sebenarnya juga sangat kangen dengan suasana kamu. Kamu tahukan Abang Amar sudah menikah dan rumahnya udah tidak sama kita lagi. Malah jaraknya juga lumayan jauh dari rumah kita. Abang Maher juga kesepian. Dia sangat kehilangan teman berantemnya. Si kembar Zain sama Zayan di luar negri pulang juga banyakan ke rumah Abah untuk menemui kamu. Rasanya pengin kalo kamu sudah menikah tinggalnya di rumah Abi. Tapi Nak Wahid pasti keberatan pastikan dia juga sudah mempersiapkan semuanya untuk kamu." Umi memcurahkan rasa kesepianya dengan Ipek.
Ipek hanya mendengarkan, sebenarnya ia juga tentu kasihan dengan Abi dan Uminya tapi mau bagaimana lagi. Terlebih kalo sudah menikah ia akan lebih mengikuti suaminya.
"Nanti Ipek akan izin sama suami Ipek, untuk tinggal di rumah Umi dan Abi. Semoga saja suami Ipek tidak keberatan."
"Amin," jawab Umi dan Abi secara bersamaan.
"Udah istirahat dulu nanti sore keluarga Nak wahid akan datang ke sini, dan kamu akan menyapa sama calon suami dengan vidio call biar nanti tidak merasa membeli kucing dalam karung. Kalo tidak tahu gimana wajah dan fisiknya. Semoga Nak Wahid adalah jodoh kamu, bisa membimbing kamu menjadi istri yang solehah yah sayang." Umi yang selalu menjadi si tegar, namun disaat anaknya hendak dilamar dengan yang lain melow juga.
"Amin Mi, Umi dan Abi jangan khawatir Ipek akan selalu sering mengunjungi kalian kok." Ipek mendekat ke arah Umi dan Abinya lalu merangkulnya.
Mereka pun menikmati kopi buatan Umi dan juga singkong goreng, khas pedesaan, tapi sangat terasa hangat dan cocok di makan untuk sarapan disaat cuaca dingin.
****
Sore harinya kondisi pesantren Abah ramai banyak tamu yang berdatangan. Yah, karena sore ini adalah acara lamaran untuk Ipek. Arzen pun nampak diatara kerumunan itu. Hal itu karena Ipek yang meminta agar Arzen juga menjadi saksi untuk perjalanan cinta Ipek. Arzen bahkan masih tidak menyangka bahwa pada akhirnya Ipek menerima lamaran dari orang yang belum ia kenal.
Walaupun Abah bilang bahwa calon suaminya adalah teman kecil Ipek dan sudah mencintai Ipek sudah sejak lama. Sudah beberapa kali juga melamar Ipek, tetapi Ipek tidak begitu hafal dengan calon suaminya.
Hari ini Ipek terlihat sangat cantik, memang pada kenyataanya Ipek gadis yang cantik dan setelah bersolek ia semakin terlihat cantik. Arzen bahkan sangat kaget, tercengang dengan Ipek yang sekarang, sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Arzen bahkan sangat penasaran dengan reaksi Clovis apabila melihat Ipek dengan penampilan yang sekarang. Dengan tubuh putih, langsing, wajah teduh dan pakaian syari. Laki-laki mana yang tidak bergetar dengan perubahan Ipek. Terlebih hatinya pun sangat baik.
Acara penyambutan di mulai, satu persatu acara di mulai tibalah dengan pengenalan calon. Acara yang sejak tadi Ipek tunggu-tunggu ia tentu sangat penasaran dengan calon suaminya seperti apa gerangan calon suaminya.
Hati Ipek bergemuruh manakala sampai di tahap pengenalan, bahkan ia beberapa kali menunduk malu ketika, sampai di tahap itu, dan mereka saling menyapa, saling melempar pertanyaan.
Anggap ajah ini Aa Nur Wahid yang tengah bahagia menatap pujaan hatinya. Kalian bisa bayangkan bagaimana bahagianya Wahid ketika lamaranya diterima oleh Ipek dan kini tinggal menunggu untuk melangsungkan pernikahan.
Sementara Ipek yang sudah melihat wajah calon suami lumayan tampan bahkan tidak lebih buruk dari cinta pertamanya, Clovis. Ipek pun setuju dengan perjodohan ini.
Anggap saja ini Ipek, yang mengenakan cadar karena mereka belum hallal.
Setelah Ipek setuju dan semuanya pun setuju maka untuk pernikahan akan jatuh di satu bulan lagi tepatnya setelah Wahid pulang ke Indonesia.
Mereka pun pada setuju dengan keputusan Orang tua Ipek dan wahid.
Arzen pun ikut senang ketika melihat Ipek senang juga. Setelah Semua tamu dari keluarga Wahid pulang kini Ipek menemui Arzen guna berbicara niat Abi yang ingin mengajaknya berunding mengenai usaha untuk Arzen.
Arzen yang saat itu akan kembali ke kamarnya di panggil oleh Ipek.
"Zen, tunggu ada yang pengin aku bicarakan." Ipek menghampiri Arzen.
Arzen yang mendengar suara Ipek memanggil dirinya pun menghentikan kursi rodanya dan berbalik menunggu Ipek yang datang menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Arzen dengan mengeryitkan dahinya.
"Ada yang pengin di bicarakan, kesana yuk." Ipek mendorong kursi roda Arzen agar menepi kearah taman yang ada di ujung pesantren. Memang taman itu lebih terlihat sejuk dan bagus.
"Ngomong-ngomong selamat yah untuk tunanganya. Semoga dilancarkan niat baik kalian dan menjadi pasangan yang berbaghagia sampai maut yang hanya bisa memisahkan kalian." Arzen hanya bisa mendoakan Ipek. Satu-satunya teman yang tidak membedakan dia sama sekali. Bahkan diacara lamaran dan keluarga lainya Ipek selalu meminta Arzen menjadi saksinya.
"Sama-sama, kamu juga semoga segera menyusul yah. Mendapatkan jodoh yang benar-benar sesuai dengan yang kamu inginkan." Ipek berharap bahwa Arzen akan berjodoh dengan Zawa.
"Amin," jawab Arzen pasrah biarkan jalan jodohnya Allah yang tentukan. Yang terpenting saat ini adalah dengan kesembuhanya dan bagaimana cara ia memiliki pekerjaan agar tidak bergantung terus pada orang lain. Terutama Ipek dan keluarganya.