Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kembali ke Ibukota



Setelah mandi dan berolahraga pagi. Kini Ody sudah selesai menyiapkan sarapan paginya. sedangkan Rio kembali tidur, mungkin kelelahan berolahraga.


satu hari telah berlalu kini saatnya Rio, Ody dan juga Hendra kembali ke ibu kota. Setelah kemarin seharian mereka gunakan untuk beberes dan merapihkan rumah peninggal orang tuanya. Sebelum berangkat ke Jakarta lebih dulu Ody menitipkan rumahnya kepada mamang agar selalu membersihkan dan merawat rumah peninggalan orang tuanya.


"Ayo Dy," ajak Rio dengan lembut.


"Eh... ayo." balas Ody kaget, karena melamun menatap rumah penuh kenangan.


Perjalanan panjang telah mereka lewati kini mereka sudah sampai di rumah Rio, disambut Mbok Karti dan Pak Yono.


"Kamu untuk sementara tinggal disini dulu yah Ndra. Nanti kalo apartemen sudah ada yang membersihkan, kamu baru boleh pindah ke apartemen Mas." ucap Rio ketika mereka baru sampai di depan rumah.


"Hendra mah terserah Mas ajah." balas Hendra pasrah.


"Sekalian nunggu apartemen siap di tempati, kamu gunakan waktu buat memilih kampus buat melanjutkan kuliah kamu yang tertunda. Betul kata Mbamu kamu harus jadi orang yang berhasil. Maka kuliah yang benar, wujudkan cita-citamu. Mas dengar kamu ambil kedokteran, kalo udah lulus kamu kan bisa bantu Mas di rumah sakit." cucit Rio dengan serius.


"Iya Mas, Hendra pasti tidak akan mengecewakan Mas Rio dan Mba Ody." ucap Hendra dengan bersungguh-sungguh.


Walaupun pada awalnya Hendra tidak menyukai Rio, tetapi karena kesungguhan dan cinta yang Rio tunjukan buat Ody kini Hendra pun menyetujui pernikahan kakanya. Yang paling penting saat ini adalah kebahagiaan kakanya.


Ya udah kamu istirahat dulu yah, itu kamar kamu sudah Mbok Karti rapihkan ko." ucap Rio sembari menunjukan kamar tamu yang berada di lantai bawah.


Setelah Hendra pamit ke kamarnya, kini Ody dan Rio pun menyusul ke kamarnya di lantai atas.


"Kamu istirahat dulu yah, perjalanan yang panjang pasti sangat melelahkan." ucap Rio sembari menuntun Ody kepembaringan yang empuk.


"Iya Mas, rasanya badan pada pegel." rengek Ody yang ia rasakan badanya pada ngilu. "Kalo gitu nanti kita cek up ke Intan yah. Biar dia periksa kandungan kamu, kemarin kamu juga sempat kram kan." usul Rio dengan mengusap perut Ody dengan mesra.


Ody hanya mengangguk, tidak menolak permintaan suaminya.


"Mas nanti kalo selesai cek up boleh nggak aku ke tempat kerja Ipek, ke bar Clovis. Rasanya aku kangen banget sama Ipek, biasanya dia yan selalu menemaniku." pinta Ody dengan mimik wajah yang memelas.


"Ya udah kalo itu kemauan kamu, siapa tau itu kemauan utun, kalo nggak diturutin malah ngiler lagi nantinya." ledek Rio dengan mencubit pipi tirus Ody.


Sementara Ody beristirahat, Rio disibukan dengan pekerjaanya. Sebelumnya Rio membuat jadwal dengan Intan untuk memeriksa kandungan Ody.


"Mbok ..." panggil Rio mencari asisten rumah tangganya.


"Iya, tuan ada yang bisa Mbok bantu." tanya Mbok Karti dengan menghampiri majikanya.


"E... nanti apabila Ody sudah bangun bilang bahwa saya pergi ke rumah sakit, dan Ody diminta datang kerumah sakit, nanti ada sopir yang ngejemput. Bilang bahwa saya tunggu di rumah sakit." ucap Rio memberikan pesan untuk istrinya.


"Baik Dok, nanti Mbok Karti sampaikan pesan Dokter buat Neng Ody." jawab Mbok Karti dengan sopan.


" Ody sampai di rumah sakit langsung menuju ruanganya, hari ini ada meating sehingga ia harus datang kerumah sakit, agar tau kekurangan rumah sakitnya, dan bisa menaikan pelayanan sehingga bnyak yang menggunakan rumah sakit keluarga Rio.


Sore hari Ody terbangun, "Kemana Rio?" Ody bertanya pada diri sendiri. Ia menajamkan pandangan dan pendengaranya barangkali Rio bersembunyi. Karena Ody tidak melihat Rio ia pun memutuskan untuk turun, mungkin sajah Rio ada di bawah pikir Ody.


"Mbok.....," panggil Ody dengan suara seraknya ditambah ia baru bangun tidur makin serak dan berat banget dong.


"Iya Neng, jawab Mbok Karti menghampiri Ody.


"Dokter Rio barusan nitip pesan katanya mau kerja ke rumah sakit. Nanti neng Ody suruh nyusul buat periksa ke dokter Intan." jawab Mbok Karti menyampaikan apa yang Rio pesankan.


"Oh, makasih yah Mbok, oh iya adik saya belum bangun yah Mbok?" tanya Ody lagi.


"Belum Neng, dari tadi belum keluar kamar." balas Mbok Karti, yang belum melihat Hendra keluar dari kamarnya.


Ody hanya menggangguk, lalu pamit dengan Mbok Karti untuk kembali ke kamarnya pastinya untuk berkemas hendak menemui Intan dan dilanjut dengan bertemu dengan Ipek.


Setelah rapi Ody pamit dengan Mbok Karti dan juga pada Hendra bahwa ia akan kerumah sakit untuk memeriksakan kandunganya.


Tidak memakan waktu lama Ody kini sudah ada didepan rumah sakit, ia menyempatkan menyapa pamanya yang kebetulan bertugas di lantai bawah. Setelah menyapa paman dan melepaskan rasa kangennya kini Ody menghubungi Rio bahwa ia sudah ada di rumah sakit.


"Hallo sayang.." sapa Rio dengan mesra dari sebrang telfon begitu telpon tersambung.


"Mas, Ody udah ada di depan rumah sakit, langsung masuk apa nunggu di depan ruangan praktik dokter Intan?" tanya Ody.


"Tunggu di ruangan pratik Intan ajah, Mas sama Intan langsung turun." jawan Rio sebelum mematikan telponya.


Rio merapihkan pekerjaanya, lalu menuju ruangan Intan. Rio masuk keruangan Intan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Tan, Ody udah ada dibawa, loe priksa sekarang." ucap Rio dengan enteng memerintah Intan.


"Iya bos," jawab Intan jengah. Intan pun mengikuti Rio keruang parakteknya.


Dikursi tinggu terlihat Ody yang tengah menunggu.


"Udah lama Dy?" tanya Intan, sembari cepika cepiki melepas rasa kangenya.


" Belum Dok, baru beberapa menit ko." jawab Ody dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Yuk masuk, ada keluahan apa memang?" tanya Intan begitu sudah duduk.


"Kemarin sempat kram, gue hanya ingin memastikan bahwa semuanya sehat-sehat sajah." jawab Rio mewakilkan Ody untuk menjawab.


Intan mengerenyitkan dahinya heran. " Ini kalian sudah baikan, nggak lagi jadi kucing dan anjing?" tanya Intan dengan heran, ia lebih fokus ngomongin hubungan mereka dari pada dengan topik kontrolnya.


"Gue minta loe buat periksa Ody, buka ngepoin hubungan gue." jawab Rio ketus.


"Nah gitu dong akur, suami istri itu saling mengisi bukan musuhan terus." cicit Intan, yang mendapat plototan mata dari Rio. "Iya gue priksa nih. Ayok Dy gue cek biar Bapak negara nggak ngomel melulu." ajak Intan sembari melirik Rio.


Ody mengikuti Intan, merebahkan badanya di bed pemeriksaan. Intan mulai memeriksa kandungan Ody, diikuti Rio yang juga ingin tau perkembanga buah hatinya.


"Semoga semuanya sehat-sehat sajah." doa Rio dalam hati.


...****************...


#Buat teman-teman yuk mampir di novel othor yang ke dua "Jangan Hina Kekuranganku" Ceritanya ga kalah seru loh...