
Clovis keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya terbungkus handuk berwarna abu-abu di bagian bawahnya. Tanganya dengan kuat menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil berwarna senada. Otot-otot ditanganya terliat dengan jelas, perut yang berbentuk roti sobek itu membuat Ipek sepersekian detik tergoda sebelum kesadaranya ia paksakan kembali sebelum semua kekacauan kembali terjadi.
"Kita jadi pulang sore ini kan Bang?" tanya Ipek memastikan di mana wanita itu tengah merapihkan pakaian miliknya dan suami.
"Abang ikut kemauan Ipek saja, kalo mau pulang sore ya pulang, tapi kalo mau seminggu lagi di hotel ini juga Abang ikuti, dan itu tandanya Abang akan menambah cuti Abang buat nemenin Neng di sini," goda Clovis, padahal ia tahu bahwa keputusan istrinya pasti meminta pulang di sore hari ini. Ipek sudah merengek sejak tadi siang ingin pulang kerumahnya. Tidak bebas itu yang jadi alasan Ipek tidak mau kenambah jadwal bulan madu sederhananya. Istrinya ingin di rumah di mana di sana keluarganya tengah berkumpul sehingga keramaian sudah mengisi di sebagain kepalanya. Bercanda dan bercerita dengan kisah-kisah satu sama lain pasti akan menjadi topik malam ini, di mana keluarganya sedang kumpul bersama, termasuk Abah dan Ambunya masih ada di rumah Abinya Ipek.
Raut wajah Ipek langsung berubah memasam ketika mendengar jawaban suaminya. "Jangan Bang, pokoknya kita pulang sore ini juga! Ipek pengin kumpul sama keluarga besar sebelum mereka pada pergi lagi dengan urusan masing-masing," jawab Ipek dengan nada pelan, tetapi tersirat dalam bahwa apa yang ia katakan tidak bisa di bantah. Nah kan lalu apa gunakan bertanya? Kalo jawabanya sudah jelas seperti itu? Itu lah wanita bertanya hanya sekedar mengetes kepekaan laki-laki termasuk pengarang cerita ini. Up, sedikit tersirat curhatan penulis....
Clovis terkekeh samar. Lalu ia meraih pakaian yang sudah disediakan istrinya di samping tempat tidur. Dengan tanpa rasa malu Clovis mengenakan pakaianya. Haduk yang sebelumnya ia gunakan untuk menutupi tubuh bagian bawahnya di buang ke atas sova dan dengan percaya diri mengunakan helai demi helai pakaian sampai lengkap. Ipek justru yang berada di depanya merasa malu sendiri. Menunduk adalah pilihan terbaik karena semuanya belum terbiasa, kalo sudah terbiasa mungkin ia pun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan suaminya.
"Kalo gitu kita pulang sore ini. Abang juga pengin mengakrabkan diri sama keluarga istri Abang, terutama Abang sama Abi, yang kayaknya masih belum seratus persen menerima Abang," Clovis berbicara sembari menyisir rambutnya yang masih setengah basah. Godaan berat memang ketika gejolak cinta sedang meggebu memiliki pasangan seperti Clovis, justru membuat isi otak Ipek tidak kondusif.
Obrolan diantara ia dan suaminya tidak sepenuhnya menyangkut di kepalanya, karena konsentrasinya sudah di kuasain oleh bayang-bayang kenik-matan saat saling menyatukan diri. "Astaga kenapa aku jadi lebih mesum dari suamiku," batin Ipek dengan mengeratkan kedua matanya terpecam secara paksa, agar fikiran kotor itu terbang menguai.
"Itu perasaan Abang saja, Abi itu pada kenyataanya paling melow dan tidak bisa bersikap dingin. Coba deh nanti kalo Abang sudah tinggal bareng pasti Abi bisa-bisa lebih perhatian pada Abang dari pada Ipek sendiri," terang Ipek agar Clovis tidak merasa canggung dengan Abi dan Abangnya. Romantis, perhatian dan lemah lembut sedikit melow, itu lah sifat Abi. Maka dari itu untuk sifat-sifat keras yang di tunjukan Abi sebelum pernikahanya dengan Clovis sedikit Ipek sangat tidak mempercayainya. Pikiran bahwa memang Abinya sedang merencanakan sesuatu sudah melintas di fikiran Ipek. Sampai semuanya terbongkar dan memang benar kalo Abinya sedang mempersiapkan kejutan yang manis, dan Umilah yang membocorkan semuanya. Romantis bukan? Sama anak saja seromantis itu bagaimana dengan pasangan. Itu sebabnya Umi dan Abi justru sering mengumbar kemesraanya di bandingkan Ammar dan istrinya yang biarpun sudah menikah cukup lama tertapi masih terlihat malu-malu.
"Iya juga sih, Abang juga melihat begitu," bela Clovis, tubuh kekarnya dibanting ke atas kasur yang empuk, lalu berguling memeluk pinggang ramping istrinya yang duduk di tepian ranjang, dengan tangan masih bergerak dengan cekatan merapihkan satu per satu pakaian yang kotor dan masih belum terpakai di dalam koper masing-masing.
Obrolan di selingi dengan kebucinan khas pasangan pengantin baru pun berlanjut sampai sore dan Clovis serta Ipek akhirnya meninggalkan hotel yang sudah menjadi saksi bisu perjalanan awal mereka merenggut manisnya madu pernikahan. Mereka tidak akan lupa dengan kamar nomor seratus yang menjadi saksi bagai mana per'kasanya Clovis menaklukan pertahanan kepera-wanan Ipek. Dalam hati keduanya berjanji akan kembali menginap di kamar ini untuk mengulang penyatuan panas mereka.
Arzen dan Zawa yang juga masih menginap di hotel yang sama, mereka juga merencanakan kepulanganya di sore ini hanya saja lebih duluan Clovis dan Ipek untuk check outnya. Aktifitas yang padat sudah memberi alarm pada Arzen dan Zawa bawa esok pagi sudah harus kembali mencari lembaran rupiah.
"Ingat, kamu di rumah hati-hati yah sayang. Jangan melakukan aktifitas yang berbahaya, apa yang tadi mamih katakan kamu harus ingat yah." Mamih sebelum benar-benar meninggalkan Emly di rumah seorang diri pun mewanti-wanti anaknya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Iya mamih, Emly kan sudah janji akan menjadi anak yang manis, jadi mamih nggak usah khawatir sama Emly." Senyuman yang Emly berikan sudah menjadi jawaban yang kuat bahwa ia tidak akan berbuat nekad lagi.
"Baik lah kalo gitu mamih dan papih pamit yah. Papih janji tidak akan lama-lama di rumah Rio begitu urusan sudah selesai papih akan segera pulang. Agar kamu tidak kesepian," pamit Papih sebelum benar-benar pergi meninggalkan Emly di rumah seorang diri. Yah, sejak keluarganya mengalami krisis ekonomi yang hebat, orang tua Emly juga memutuskan tidak menggunakan jasa asisiten rumah tangga lagi, hal itu tentu sudah menjadi pertimbangan sangat amat matang. Menghemat, menjadi alasan utamanya.
"Mih, Papih sudah tidak sabar mau ketemu dengan cucu kita," ujar papih dengan wajah berbinar gembira, membayangkan wajah cantik cucunya. Sampai-sampai semalaman papih tidak bisa tidur dengan nyenyak karena akan bertemu dengan cucunya untuk pertama kalinya.
Mamih tersenyum bahagia ketika melihat suaminya sebegitu antusiasanya untuk bertemu cucunya, bahagia di wajah papih tidak bisa di sembunyikan lagi. Cucunya yang dulu di minta untuk di gugurkan dan bahkan di buang seperti anak kucing, kini justru menjadi sumber bahagia yang besar di masa-masa menuju usia senjanya.
Doa yang selalu dilantunkan dengan harapan besar bahwa sekiranya Tuhan berbaik hati mengambulkan keinginan Mamih, di mana suaminya suatu saat menyadari setiap kesalahan yang di perbuat. Lambat laun doanya mamih terkabul. Mamih memang wanita yang tidak bisa melawan kala itu. Apa yang menjadi kehendak suaminya tidak bisa dibantah sehingga walaupun hatinya sebagai seorang ibu teriris ketika menyaksikan cucunya di bawa pergi oleh Mbok Zuha dengan tujuan entah kemana. Namun mamih tidak bisa berbuat apa-apa selain untaian doa untuk cucunya dan juga untuk suaminya agar menyadari kesalahanya. Dan Tuhan memang tidak pernah tidur doa yang tulus membuahkan hasil yang nyata.
...****************...
Sembari nunggu kelanjutan kisah Rio dan teman-temanya, beserta pasanganya masing-masing. Yuk mampir ke karya bestie othor, kisahnya pasti menarik untuk di ikuti, jangan lupa sebelum baca tekan fav, tinggalkan jejak dan komen sebagai dukungan buat othornya yah.
Selamat membaca...