
"Papah... Papah kenapa?' tanya Meyra yang melihat Papahnya masih ketiduran dan terhubung selang infus di tangan kirinya, sama kaya Meyra.
"Iya ampun Dok, ini Rio kenapa?" tanya Mamih yang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka memang belum tahu kalo Ody sudah melahirkan, itu semua terfokus dengan tangisan Meyra.
"Dokter Rio pingsa Tuan, Nyonyah. Pingsan karena kecapean juga," jelas dokter yang menangani Rio.
Papih dan mamih saling berpandangan heran kenapa anaknya bisa pingsan. "Lalu Ody gimana?" tanya Mamih mencemaskan menantunya yang hendak melahirkan, sebenarnya Mamih tadi mau menemani Ody ketika melahirkan, tetapi Rio yang mencegahnya, katanya mamih dan papih menemani Meyra sajah Ody akan baik-baik saja, tetapi kali ini mamih mencemaskan Ody, mana Rio pingsan lagi.
"Ibu Ody sudah melahirkan, dan sebentar lagi juga akan di bawa keruangan ini Nhonyah, agar mereka beristirahat bareng dengan nona cantik Meyra," jelas dokter sebelum meninggalkan keluarga yang tengah berbahagia itu.
"Dad, Mey mau bobo bareng papah," lirih Meyra akhirnya dia mau turun juga dari pangkuan Aarav. Dengan sangat hati-hati Aarav pun menurunkan Meyra tidur di samping Rio yang masih pulas tertidur itu. Tanpa terasa hati Aarav sakit ketika melihat Meyra lebih memilih bersama Rio. Bukanya hal itu sudah biasa, Meyra memang sehari-hari lebih dekat dengan Ody dan Rio, tetapi kenapa sekarang Aarav hatinya sakit, setelah mengetahui fakta bahwa anak yang diangkat Rio adalah darah dagingnya.
"Aku harus melakukan tes DnA untuk memastikan bahwa Mey memang buah hatiku, bukan aku tidak percaya tetapi agar semuanya terbuka dengan terang benderang, sehingga tidak ada lagi keraguan untuk semuanya," batain Aarav, laki-laki itu akan melakukan test DnA tetapi tentunya secara diam-diam.
****
Sementara Ody di ruangan bersalin masih di bersihkan dan mendapatkan penanganyan paska melahirkan, untuk memastikan semuanya bersih.
Setelahnya dipastikan aman, Ody di pindahkan menyusul Rio dan Meyra, mereka akan dirawat mengumpul dalam ruangan yang sama.
"Dok anak saya mana?" tanya Ody dengan badan setelah lemasnya, tadi ia banyak membuang tenaga sehingga saat ini ia merasakan sedikit lemas, dan hebatnya Ody masih bisa melalui semuanya dengan sangat sabar dan tidak mengeluh. sementara suaminya saja sudah pingsan.
"Di loe enggak pingsan nyusul Rio?" tanya Intan sudah jelas tujuanya pasti meledek. Bukanya menjawab pertanyaan Ody, dia malah meledek suaminya.
"Emang Mas Rio pingsan yah Tan?" tanya Ody balik, pasal Ody tidak tahu persis apa yang tadi terjadi.
"Lah, menurut kamu Rio itu tewas, ya pingsan lah," jawab Intan sedikit terkekeh, kini mereka mengobrol sembari berjalan menuju ruangan Meyra dan Rio berada.
"Kok bisa pingsan kenapa Dok?" tanya Ody lagi, ia takut kalo-kalo suaminya sakit, masa keluarganya semua sakit, pikir Ody.
"Itu karena suami kamu lemah," bisik Intan, sembari terkekeh ringan. Ody mendengus tidak suka dengan candaan Intan. "Enak sajah ngatai Rio lemah, dia kuat kok bahkan sampai tiga ron'de," dengus Ody di dalam hatinya, suaminya tidak lemah hanya pasti kacapean karena dia dari pagi belum beristirahat dan langsung menemani Ody melahirkan itu sudah jelas sangat melelahkan, terlebih Rio juga merasakan sakit perut yang sama dengan Ody.
"Dok, ngomong-ngomong anak saya di mana dan dia cewek apa cowok?" tanya Ody ulang, bahkan sampai sekarang dia belum tahu jenis kelamin anaknya itu, cewek atau cowok kah.
"Bunda," pekik Meyra ketika ranjang Ody sampai di ruangan mereka. Wajah ceria jelas terlihat dari senyum Meyra yang mengembang dengan sempurna. Anak itu sekarang sudah tidak sedih lagi karena ada papah dan bundanya, bahkan Aarav malah kali ini di abaikan. Seolah sudah tidak di butuhkan lagi karena ada ayah dan bundanya di sini.
Ody membalas senyum anaknya dengan sangat hangat, padahal ia baru meninggalkan anak cantik nan bawel itu hanya beberapa jam saja, tetapi rasa-rasanya sudah sangat kangen.
"Bunda, tangan Bunda samaan sama tangan Papah dan Mey," celoteh Meyra riang sembari mengangkat tanganya yang ada selang infusnya sama dengan Papahnya yang masih tertidur pulas dan bundanya yang sekarang ada di samping Meyra. Karena satu keluarga itu sekarang berada di Bed yang sama. Dengan ukuran bed pasien super jumbo itu.
"Iya sayang, kakak tadi rewel enggak bunda dan papah pergi?" tanya Ody sembari mengelus rambut anaknya yang lembut itu.
"Rewel Bunda, Kakak nangis telus ininya lepas kelual dalah banyak. Telus kakak cali-cali bunda sama papah enggak ada. Kakak Mey telus nangis," adunya dengan bibir monyong-monyong dan suara yang masih belum sempurna ketika mengucapkan huruf R.
"Aduh kok, nangis sih, kan kakak sekarang udah besar bahkan Mey udah benaran jadi kakak loh, dedenya udah lahiran. Udah enggak ada nih di perut bunda," ucap Ody antusias memberi tahu anaknya kalo adik bayinya yang sering ia ajah bicara di dalam perut bundanya udah enggak ada.
"Waw... Dedenya sudah enggak ada yah Bun? Oma, Opa(sedang berbicara dengan Intan) Dady. Pelut bunda sudah tidak ada dedenya," ucap Meyra dengan suara memenuhi ruangan itu. Kesedihanya sudah tidak ada, bahkan kali ini sudah baikan dengan opa dan omanya. Di mana beberapa jam yang lalu di dekatin oma dan opanya saja sudah menjerit seolah ketakutan dan melihat hantu.
Namun sekarang malah dia yang mengajak opa dan omanya baikan lebih dulu, anak kecil memang seperti itu. Sebentar berkelahi sebentar baikan seolah tidak ada kata marah bagi mereka.
"Iya sayang kan adik Mey udah lahiran. Sekarang Mey tidak boleh rewel lagi yah. Nanti Mey sama Cus dulu kalo bunda sedang sama dede bayi, tidak boleh berebut bunda sama papah soalnya kan itu bunda sama papahnya bareng-bareng sama adik bayinya." Omanya menasihati cucunya walaupun pada kenyataanya sebagian kecil nasihat omanya yang Mey bisa ingat dengan betul, sisanya akan terlupakan.
"Iya Oma, kakak Mey tidak akan nakal dan rewel lagi. Tapi dede bayinya di mana Oma?" tanya Meyra dengan sedih.
"Dede bayinya masih dihangatkan dulu nanti kalo sudah sehat betul di bawa sini kok sama Tante Intan," jelas mamih, memang anak Ody masih dalam tahap penanganganan dan belum diizinkan untuk berkumpul bersama Ody.
"Anak Ody baik-baik ajah kan Mih? Tidak ada yang berbahaya?" tanya Ody, wajahnya yang sebelumnya ceria berubah menjadi murung.
"Baik sayang. Baik banget malah cuma untuk beberapa saat belum boleh dibawa kesini. Nanti kalo kondisinya udah kuat juga kumpul sama kalian kok," jawab mamih menenangkan mantunya. Tetapi memang keadaanya bayinya sehat kok, tidak ada kendala apa-apa.
"Syukur lah, tapi ngomong-ngomong cewek atau cowok mih anak Ody?" tanya Ody sembari berbisik, takutnya Intan dengar dan tidak diizinkan mamih memberi tahu jenis kelamin anaknya. Ody tahu bahwa mertuanya sudah pada tahu jenis kelamin anaknya Ody bahkan Aarav juga tahu pasalnya orang-orang itu sejak tadi mengobrol dengan Intan tidak mungkin kalo mamih dan papih juga masih dirahasiakan jenis kelamin buah hatinya itu.
"Kalo itu masih rahasia sayang pokoknya kamu dan Rio nanti akan tahu kalo anak kamu ada di sini," terang mamih, ternyata jawabanya sama saja dengan yang Intan katakan. Padahal Ody sangat ingin tahu anaknya saat ini cewek atau cowok.