Beauty Clouds

Beauty Clouds
Tangisan Zawa



Setelah Ipek dan Ody saling bercerita dan Ody memberikan semangat, tiba-tiba Intan dan Zawa datang mereka menghampir Ipek dan Ody.


"Pek kamu marah yah, gara-gara aku bikin pertanyaan buat Clovis kaya tadi. Maaf yah aku nggak ada niat apa-apa ko. Tadi cuma iseng ajah. Abisan Clovis liat kamu beda banget aku jadi penasaran dia itu perasaanya gimana setelah liat perubahan kamu. Aku minta maaf yah, kalo kamu nggak nyaman dengan pertanyaanku tadi," ucap Intan yang kini duduk di samping kiri Ipek, sementara Ody di samping kanan Ipek.


"Iya nggak apa-apa Dok, jujur Ipek tadi sedikit kurang nyaman. Mungkin kalian nggak tahu bagaimana Ipek bisa melupakan Clovis, sampai beberapa kali Ipek masuk rumah sakit karena kurang jaga setamina, terlalu lemah. Makanya Ipek nggak mau mengingat-ingat yang sudah-sudah dan juga Ipek sudah punya suami yang mana harus dijaga perasaanya. Ipek nggak mau ada salah paham di dalam rumah tangga Ipek," ucap Ipek yang mana dia tidak marah, hanya minta pengertian dari yang lain agar tidak salah mengartikan semuanya. Yang justru bisa merusak rumah tangganya, terlebih Ipek tengah fokus dengan kesembuhan suaminya.


"Iya maaf yah sayang." Intan memeluk Ipek dengan manja.


Mereka pun akhirnya melanjutkan obrolan khusus untuk cewe.


"Pek, aku boleh tanya nggak?" Zawa yang memang lebih banyak pendiam pun kefikiran beberapa ucapan temanya dulu. Apa salahnya kan dia coba tanya Ipek mengenai Arzen. Siapa tahu dia juga bisa bertemu Arzen. Semuanya sudah kumpul hanya Arzen yang belum ada tanda-tanda di mananya.


"Iya Wa, tanya ajah." Intan yang jawab, ya dia memang gitu anaknya, to the poin lebih disarankan pokoknya.


"Kira-kira kamu tahu di mana Arzen nggak sih? Kenapa dia ngehilang gitu. Aku pengin tahu di mana dia sekarang. Yang lain udah pada kumpul, cuma Arzen yang belum ada," lirih Zawa, sangat terlihat sekali kesedihan di wajahnya.


Sifat Ipek saat mendengar pertanyaan Zawa pun langsung berubah. Ia bingung harus jawab apa soalnya ia juga belum tahu bagai mana perasaan Arzen, mau atau tidak ia di ketahui keberadaanya. Pasalnya dulu Arzen pernah bilang bahwa ia malu bertemu Zawa.


"Pek... ko kayangnya kamu tahu sesuatu tentang Arzen. Apa jangan-jangan kalian saling tahu dimana kalian selama ini?" tanya Intan yang dia juga ikut penasaran dengan keberadaan Arzen. Tidak hanya Zawa yang merasa kehilangan dengan Arzen. Intan pun sama dia merasa kehilangan, karena Arzen adalah teman terbaik.


"Maaf Wa, Dok, aku nggak tau keberadaan Arzen," jawab Ipek singkat.


Namun justru Intan dan Zawa tidak percaya. Mereka sangat yakin bahwa Ipek mengetahui sesuatu dengan Arzen.


"Pek, Mba memang nggak begitu tahu dengan kamu, tapi kalau kamu tahu Arzen bilang saja sama Zawa. Dia pun masih sangat mengharapkan Arzen, semoga saja Arzen pun sama masih mengharapkan Zawa." Ody ikut menasihati Ipek agar ia berkata jujur, kalo memang ia tahu sesuatu tentang Arzen.


Ipek pun tidak langsung mengelak maupun meng'iyakan bahwa ia tahu keberadaan Arzen. Ipek justru tampak menimang sesuatu yang semuanya yakin bahwa Ipek tahu keberadaan Arzen.


"Pek, kamu tahu kan di mana Arzen?" tanya ulang Zawa yang kali ini matanya berkaca-kaca sebab ia sangat yakin Ipek tahu di mana Arzen. Ada rasa bahagia di hati Zawa, penantian yang selama ini ia tunggu-tunggu akhirnya akan berbuah manis. Doanya selama ini ternyata Allah kabulkan. Sunggu Zawa sangat berbunga-bunga hatinya.


"Arzen... dia sehat dan baik-baik saja, dan untuk di mana-mananya aku belum berani mengatakanya. Aku tidak tahu dia mau atau tidak kondisinya di ketahui orang lain." Ipek pada akhirnya mengatakan keberadaan Arzen. Namun, yang membuat Zawa berkecil hati adalah Ipek tidak mau mengatakan keberadaan Arzen. Itu cukup membuat Zawa down. Zawa sangat berharap Ipek mau jujur dengan keberadaan Arzen. Karena bagaimana pun kondisi Arzen, Zawa akan terima.


"Kondisi Arzen? Memang kenapa dengan kondisi Arzen? Apa dia lagi tidak baik-baik saja?" tanya Intan yang ikut cemas dengan penuturan Ipek.


Sementara Zawa ia lebih banyak diam. Pasalnya ia bingung mau ngomong apa lagi.


"Ada sesuatu sebab yang aku tidak bisa katakan pada kalian karena aku belum tanya bagaimana Arzen mengizinkan tidak aku untuk berkata jujur pada kalian.


"A... ada kenapa?" tanya Ipek terbata dan heran.


"Aku boleh minta tolong. Kamu telpon dia, silahkan kalian ngomong apa ajah. Tapi izinin aku dengar suara Arzen, please." Aku mohon Pek. Aku mohon dengan sangat. Aku kangen banget dengan suara dia." Zawa sangat bersungguh-sungguh ingin Ipek menuruti kemauanya.


Ipek nampak berfikir sejenak. "Baik lah tapi telepon yah, soalnya Arzen nggak mau vidio call," ujar Ipek, yah memang di pesantren tidak di izinkan Vidio Call.


"Apa ajah yang penting aku dengar suara Arzen." Intan dan Ody begitu pun Zawa was-was manakala Ipek mulai akan menhubungi Arzen.


Ipek mulai mengambil ponselnya dan mendeal nomor Arzen.


Satu kali belum diangkat, dua kali juga belum. Ipek melihat jam di layar ponselnya. Sudah hampir jam sepuluh, apa mungkin Arzen udah tidur. Dia memang biasa tidur awal, karena pagi-pagi ia sudah bangun untuk sholat setelahnya dilanjutkan untuk menyiapkan sarapan buat para santri.


Karena kasihan dengan Zawa dan yang lain, akhirnya Ipek mencoba menghubungi Arzen lagi. "Mungkin saja yang ini di angkat," batin Ipek.


"Assalamualaikum... kenapa Pek, tumben malam-malam kamu telpon? Apa ada sesuatu sama Wahid?" tanya Arzen dengan cemas.


"Waalaikumdallam... Enggak, keadaan Wahid masih sama, seperti yang kemarin aku ceritain ke kamu. Aku hanya bosen nggak ada kerjaan di rumah sakit sendirian. Aku nggak ganggu kamu kan?" tanya Ipek, sementara kedua mata Ipek mengamati Zawa yang tengah tersedu ketika mendengar suara Arzen.


"Enggak lah, masa ganggu sih. Ngmong-ngomong apa nggak ada perubahan sesuatu yang menunjukan kodisi Wahid akan membaik?" tanya Arzen.


"Belum Zen. Masih kaya kemarin aku cerita ke kamu, dia masih tidur terus sekarang ajah masih tidur. Kamu gimana udah latihan jalan?" tanya Ipek, memancing agar Arzen mau bercerita kondisinya.


"Kamu yang sabar yah, pasti Allah mendengar doa-doa kita semua, untuk kesembuhan Wahid. Kalo aku mah, kamu nggak usah tanya lah. Nggak ada harapan kayaknya. Hasilnya belum bisa lepas dari tongkat, sakit banget kalo lepas dari tongkat. Kata dokter juga kalo di paksa malah bahaya, bisa lumpuh permanen," jawab Arzen. Sementara Zawa di depan sana menahan tangisnya tidak bisa lagi. Zawa menangis ketika mendengar cerita Arzen.


Ipek langsung bangkit dan membawa ponselnya keluar agar Arzen nggak ngedengar tangisan Zawa. Sementara team pria yang tadinya ada di taman langsung berlari masuk kedalam rumah ketika mendengar suara tangisan.


Intan, dan Ody langsung menenagkan Zawa.


"Tadi siapa Pek? Kamu di mana sih?" tanya Arzen heran kenapa seolah di tempat Ipek ramai sekali.


"Ini tadi ada keluarga pasien sebelah entah kenapa nangis kenceng banget. Aku lagi di luar kamar soalnya jadi sedikit ramai." Ipek pun mencari alasan agar Arzen percaya.


"Ya Allah maafkan aku berbohong sama kamu, Zen," batin Ipek.


Ipek pun setelah berbasa-basi akhirnya pamit pada Arzen, mematikan sambungan teleponya.