Beauty Clouds

Beauty Clouds
Sikap Aneh Rio



Tok.....Tok....Tok.....


Ody tampak ragu untuk mengetuk ruangan Rio. Hubungan yang kurang baik antar keduanya menjadi salah satu malasnya Ody berhubungan dengan Rio. Sifat angkuh dan sok berkuasa membuat Ody muak berlama-lama berurusan dengan laki-laki yang bersetatus sebagai suaminya itu, terlebih mulutnya kalo ngomong melebihi silet tajamnya. Sering Ody tersakiti dengan ucapan Rio, entah itu di sengaja atau tidak, tapi berhasil membuat hati Ody tersayat perih.


"Masuk.."


Terdengar sautan samar dari dalam, tapi Ody masih menata hatinya agar kuat menghadapi omongan Rio, yang mungkin saja akan menambah luka sakit hatinya. Setelah membaca doa berulang kali akhirnya Ody membuka pintu secara perlahan, dan masuk menghampir Rio yang tengah sibuk mengecek laporan-laporan dari setiap bagian rumah sakit.


" Sore Dok, maaf mengganggu saya akan mengantarkan pesanan Anda," ucap Ody dengan suara pelan."


Rio yang paham sekali dengan suara serak Ody langsung mengangkat wajahnya dan benar sajah Ody yang ada dihadapanya, wanita yang membuatnya semalam nggak bisa tidur, kini ada di hadapanya dan dalam keadaan sehat Wal'afiat, justru Rio malah harus meriang, karena terlalu khawatir dengan keadaan Ody .


"Gimana keadaanmu, dan tinggal di mana sekarang?" brondong Rio, entah pikiran dari mana tiba-tiba Rio menanyakan kabar Ody, bukanya menanyakan pesananya.


"Sa..saya sehat Dok, kalo masalah tinggal maaf saya nggak bisa sembarangan memberi tau di mana saya numpang berteduh dan beristirahat". ucap Ody dengan terbata kaget, kenapa Rio tiba-tiba seperti menghawatirkan dirinya.


"Ya, syukurlah kalo kamu sehat, dan tinggal di tempat yang nyaman setidaknya aku bisa memastikan kalo kamu baik-baik sajah." balas Rio.


"Iya terimakasih Dok, buat kepedulianya", ucap Ody dengan tulus. Sebenarnya Ody merasa aneh dengan sikap Rio, kenapa tiba-tiba ia begitu perhatian sedang kemarin dia seolah sangat senang kalo Ody pergi dari rumahnya.


"Ah,... ini Dok pesanan Anda," Ody menyodorkan paperbag yang ia pegang dari tadi.


" Oh, iya makasih yah," ucap Rio.


"Sama-sama." Ody pun pamit kembali melanjutkan pekerjaannya.


Begitu keluar dari ruangan Rio, Ody menarik nafas dalam-dalam dan mebuangnya perlahan, rasanya lega sekali. "Tumben Dokter Rio nggak jutek sama aku, biasa ngomong ajah nggak pernah, kena angin apa sekarang tumben-tumbenan nanyain aku. Ah,... jadi GR tar aku kalo diperhatiin Dokter Rio, bisa ajah padahal dia hanya basa-basi." Batin Ody berkecamuk memikirkan sikap Rio barusan yang rasanya sangat aneh.


Ody pun pamit ke sekertaris Azra untuk melanjutkan pekerjaanya.


"Bu Azra, kerjaan udah selesai, saya pamit yah!" ucap Ody berpamitan dengan Sekertaris Azra.


"Ok, makasih yah Dy." balas Azra sambil tersenyum.


"Sama-sama," Ody pun langsung menuju pantry, dan melanjutkan pekerjaan yang lainya.


***


Diruangan Dokter Intan...


Intah tengah melakukan panggilan dengan Arzen, untuk menanyakan pekerjaan sampingan untuk Ody.


" Zen, gimana buat pekerjaan yang tadi pagi aku chat," ucap Intan ketika telpon udah diangkat oleh Arzen.


" Waduh kayaknya cafe lagi pada sepi Tan, coba deh kamu tanya Clovis." saran Arzen.


"Yah gimana sih ko tanya Clovis, Ody kayaknya juga nggak bakal mau kerja di tempat usaha kaya Clovis punya (Club malam dan Bar)." balas Intan tidak setuju dengan saran Arzen.


"Kan kerja di tempat gituan juga nggak semuanya buruk Tan, tergantung dari kitanya. Banyak ko yang kerja di Bar atau Club milik Clovis tapi mereka bisa menjaga pergaulan tidak terbawa dengan lingkungan." ujar Arzen meyakinkan Intan.


"Ya udah aku tanya Clovis dulu ajah." akhirnya Intan melakukan panggilan grup agar Clovis bisa ikut masuk kepercakapan mereka.


"Ada apa nih, tumben Tuan Putri menelefon gue?" tanya Clovis, merasa aneh tumben Intan menghubunginya.


Memang sebenarnya mereka sudah berteman lama, tapi Intan tidak begitu sering ikut dengan tongkrongan mereka, hanya sekali-kali Intan bertegur sapa. Selain karena Intan memang perempuan, ia juga nggak begitu tertarik dengan obrolan para cogan kalo kumpul.


"Wih suatu kebanggan besar ini, ngomong-ngomong kerjaan buat siapa? Jelas bukan buat loe kan Tan?" tanya Clovis penasaran, secara nggak mungkin kalo Intan yang akan kerja.


"Ya engga lah, masa buat gue, kerjaan gue ajah udah numpuk, mana mungkin bisa ngerjain kerjaan yang lain. Buat Ody, ada ga?" balas Intan jutek.


"Lah bukannya dia udah kerja di rumah Rio?" tanya Arzen dan Clovis heran.


"Dipecat sama bestie kalian, bahkan sekarang Ody juga tinggal di rumah gue, gara-gara Rio sialan udah nggak butuhin tenaganya main lempar ajah. Gemez banget gue sebenernya sama Rio, tapi kalo gue labrak, tar dia tau kalo Ody tinggal di rumah gue, kalo gue diemin nglunjak banget tuh bocah." crocos Intan, menahan emosinya .


"Emang gue juga nggak setuju sama sikap Rio," imbuh Arzen, setuju dengan omongan Intan.


"Ya loe udah pastiin belum Ody mau kerja di tempat gue, kalo udah pasti dia mau entar gampang gue bisa atur dia buat kerja paruh waktu. Buat Ody ajah kan kerjaanya?" tanya Clovis memastikan.


Intan yang tau kalau Ipek juga menyimpan rasa dengan Clovis, tumbuh sifat usilnya untuk menyatukan keduanya, setidaknya memberi kesempatan Ipek untuk pendekatan dengan clovis, Intan tersenyum jail ketika membayangkan ide konyolnya.


"Kalo buat dua orang bisa kan?" tanya Intan.


"Ko berdua?" tanya balik Clovis.


"Iya soalnya kalo Ody doang entar yang satunya iri." ujar Intan dengan senyum geli di wajahnya.


"Satunya siapa?" tanya Arzen kepo.


"Ipek, kan mereka bestie, nih lagian Ipek itu kemana-mana selalu sama Ody, sekalian buat melindungi Ody gitu." pinta Intan untuk menutupi rencana sebenarnya.


"Ya udah deh, loe tanya yang pasti ajah Tan, mereka mau nggak buat kerja di tempat gue, kalo mereka mau, entar gue usahain kasih kerjaan buat mereka. Inget gue lakuin ini demi loe yah Tan, loe jangan mikir macam-macam, sebenernya malas gue kalo ada Ipek, cuma karena kasian dengan Ody gue terpaksa terima dia juga." ucap Clovis mengeluarkan unek-uneknya.


"Iya iya santai ajah sih, lagian kenapa sih sama Ipek, dia itu anaknya seru abis loh, terus baik lagi." bela Intan dengan semangat, karena tau betul Ipek seperti apa.


"Terserah loe ajah deh, perasaaan gue tetep sama dia cewek yang nyebelin abis." sungut Clovis.


"Ati-ati loh Clo, kalo benci itu tar bisa jadi cinta." ledek Arzen, tentu sajah berhasil membuat mata Clovis melotot.


"Bener tuh Zen, biasanya yang benci malah dia yang nanti bakal ngejar-ngejar cinta loh." imbuh Intan sengaja mengompor-ngompori Clovis.


"Udah kan ini perbicangan kalian, kalo udah gue tutup nih, sibuk gue banyak kerjaan, nggak kaya kalian yang asik nyindirin orang mulu." omel Clovis dengan nada sinis.


"Wih pengusaha beda yah, sibuk terus," cicit Arzen.


"Ya udah, gue juga mau kerja, banyak pasien." balas Intan nggak mau kalah .


"Lah gue doang kayaknya nih yang pengangguran nggak ada kerjaan." ujar Arzen merendah .


Mereka pun akhirnyamemutuskan sambungan telfon masing-masing.


Intan nanti sepulang kerja akan membicarakan kerjaan ini dengan Ody dan Ipek, mudah-mudahan mereka mau menerima kerjaan ini.


***Ketika kita menolong orang lain sebenarnya kita sedang menolong diri kita sendiri. Percayalah, Tuhan akan membalas kebaikanmu dengan yang lebih indah.***


...****************...


#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah ❤