
Sementara Abi tengah menyiapkan diri untuk ikut keacara pernikahan Arzen. Yah, pada akhirnya Abi mengalah juga setelah di bujuk oleh ibu negara dari pada urusanya panjangkan kalo sama ibu negara mah.
Sedangkan Umi menghampiri kamar putri kesayanganya. Umi sudah mengetuk pintu kamar Ipek, tertapi tidak ada jawaban, justru terdengar isakan dari dalam kamar.
"Sayang, Umi masuk yah?" tanya Umi akhirnya membuka pintu kamar Ipek yang kebetulan tidak di kunci sehingga Umi langsung masuk ke kamar Ipek. Sedangkan Ipek di dalam sanah sebenarnya sangat malas untuk diganggu, karena ia sudah tahu Uminya juga akan sama seperti Abi yang berusaha menasihati dirinya. Ipek bahkan bukan keberatan karena Abi menolak Clovis, Ipek hanya sedih karena ternyata Abinya tidak percaya lagi dengan dirinya di mana seharusnya Abi percaya dengan putrinya seperti dulu.
Umi menghampiri Ipek yang tengah menangis sedih, "Sayang, udahan dong nangisnya. Abi cuma terlalu takut kalo kamu di sakiti laki-laki sehingga Abi sampai berbuat seperti itu, percaya deh apa yang di lakukan Abi itu demi kebaikan kamu, Abi hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik," lirih Umi dengan mengelus rambut Ipek yang panjang dan lurus. Yah, Ipek memang kalo di dalam kamarnya tidak berhijab seperti sekarang ini di mana ia tidak berhijab.
"Maaf Umi, bisa tinggalkan Ipek seorang diri. Ipek ingin sendiri dulu. Ipek tidak mau menambah pikiran yang lain, Ipek cape dengan hidup ini. Bahkan sekarang kebahagiaan Ipek Abi ikut campur. Kenapa waktu itu Wahid tidak mengajak Ipek sekalian, biar Abi tidak lagi mengatur Ipek. Ipek sungguh cape Umi," tangis Ipek semakin pecah, manakala mengungkapkan dirinya yang merasa lelah menjalani hidup ini.
"Hust... kamu ngomong apa sih Ipek. Abi itu sayang ko sama kamu, bahkan terlalu sayangnya sampai beliau tidak mau kamu disakiti di mainkan oleh laki-laki lain sehingga Abi berbuat seperti itu, Abi nggak ada niatan untuk mengatur hidup kamu sayang. Beliau hanya ingin yang terbaik buat kamu," Umi mencoba menasihati putrinya yang tengah bersedih itu. Bahkan Umi lupa niatanya datang ke kamar Ipek agar putrinya bersiap karena sebentar lagi mereka akan menghadiri pernikahan Arzen dan Zawa yang akan di langsungkan satu jam lagi.
"Terserah apa kata Umi, karena memang Umi dan Abi sama sajah, cuma Ipek yang menjalani hidup ini sunggu lelah. Ipek tidak merasakan bahagia dengan semua ini. Ipek cape Umi. Tolong tinggalkan Ipek sendiri." Ipek lagi-lagi mengusir Uminya, karena ia benar-benar tidak mau diganggu. Bahkan Ipek merasakan menjalani hidup sekarang semua orang ikut campur dengan hidupnya bahkan keempat Abangnya semakin posesif selalu mengirimkan pesan agar tidak macam-macam dan lain sebagainya. Padahal tanpa diingatkan terus menerus sepanjang hari sepanjang jam dan sepanjang menit. Ipek juga tahu apa yang harus ia lakukan. Dia bukan cewek yang seperti dulu di mana dia akan mengejar-ngejar cowok sampai cara apapun di lakukannya. Ipek yang sekarang tidak akan melakukan itu.
"Ok Umi akan keluar, tapi kamu siap-siap dulu yah. Kita akan datang di acara pernikahan Arzen. Bukanya kamu tadi ingin menghadiri pernikahan sahabat terbaik kamu. Yuk kita datang sama-sama. Abi malah sudah siap-siap sekarang giliran kamu dan Umi siap-siap," ucap Umi dengan antusias berharap Ipek juga akan berubah dan kembali ceria.
Namun sepertinya Ipek benar-benar sudah tidak menginginkan datang menjadi saksi di acara ijab kabul Arzen.
"Enggak usah susah dan repot-repot Umi. Udah nggak usah hadir Ipek udah Ikhlas kok. Ipek nggak apa-apa nggak hadir pasti mereka tahu kok," balas Ipek dengan kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Ia sudah memutuskan lebih baik tidur di rumahnya dari pada datang justru perasaanya juga sudah tidak bersemangat dan sudah hilang rasanya.
"Sayang, maafin Umi, tapi untuk kali ini ayo kita datang biar orang lain tidak menduga keluarga kita terjadi dengan yang enggak-enggak, nanti malah keluarga kita di cap buruk sama yang lain karena nggak datang. Padahal Arzen dan keluarga kita cukup dekat." Umi kali ini menggunakan alasan yang agak keras agar Ipek mau kembali berfikir dan setidaknya mau datang.
Setelah di bujuk berkali-kali oleh Umi akhirnya Ipek mau bersiap. tetapi tetap hati Ipek sudah tidak sebahagia tadi hatinya sudah mendung. Bahkan wajah sembab sisa tangisnya tidak bisa Ipek sembunyikan dan suara serak karena sisa tangis juga masih terdengar dengan jelas.
Mereka pun akhirnya berangkat bersama, tetapi ketika Ipek sudah kecewa berat sehingga ia memilih diam. Sepanjang jalan tidak ada obrolan. Bukan Ipek melawan dan marah dengan Abinya, Ipek hanya cape setiap apa yang di bahas pasti titik ujung pembahasanya bakal berakhir di masalah Clovis. Ipek juga tidak memaksa ingin menikah dengan Clovis. Ia malah sudah memasrahkan hidupnya pada mereka yang punya wewenang atas dirinya, entah Abi atau Abang-abangnya. Ipek sudah tidak di berikan kebebasan untuk memilih sesuai kata hatinya, sehingga Ipek pasrahkan semua keputusanya pada Abi sajah.
Meskipun ia akan di jodohkan dengan laki-laki beristri Ipek tidak akan menolak kalo menurut Abinya itu yang terbaik. Bahkan Ipek sekarang tidak tahu bahagia itu yang seperti apa. Itu semua karena terlalu banyak orang-orang yang ikut campur dengan isi hatinya.
Sementara Ipek di dalam mobil masih dengan suasana dingin, di rumah Rio sudah terjadi ke panikan, pasalnya jam sudah mepet dengan acara ijab kabul, tapi Arzen bersikeras akan menunggu Ipek datang. Padahal sejak tadi nomor ponsel Ipek tidak bisa dihubingi. Memang Ipek tadi sejak bersitegang dengan keluarganya ia memutuskan mematikan sambungan teleponya, dan dia lupa menghidupkanya lagi.
"Tunggu lima belas menit lagi yah Yo, kalo Ipek nggak datang juga kita tetap berangkat kerumah Zawa. Mungkin memang Ipek nggak bisa datang karena ada urusan atau halangan lain," jawab Arzen dengan wajah nampak sedih, dan pandangan menuju ke jalan berharap Ipek datang. Akhirnya mereka pun mengikuti usulan Arzen.
Begitu pun di rumah Zawa sudah mulai panik pasalnya Arzen dan rombongan belum juga datang, Zawa pun mulain cemas apa gerangan yang terjadi dengan Arzen. Ia takut hal buruk terjadi pada calon suaminya yang tinggal menunggu beberapa jam lagi mereka akan sah menjadi pasangan suami istri.
Tepat di menit kesepuluh sebuah unit mobil mewah memasuki halaman rumah Arzen. Yah, itu adalah Ipek. Hati Arzen dan yang lainya mulai lega ketika Ipek turun dari mobil mewah itu. Walaupun sangat jelas bahwa wajah sembab Ipek masih terlihat dengan nyata.
"Zen, maaf yah aku telat. Ada sedikit problem tadi di rumah. Kalian jadi pada nungguin aku yah," ucap Ipek dengan ramah. Yang turun diikuti dengan Abi dan Umi yang wajahnya sama-sama tidak menunjukan keramahan terutama Abi.
Arzen pun setelah memberikan salam hormat pada Abi dan Umi memaklumi keterlambatan Ipek.
"Enggak apa-apa Pek, Arzen yang seharusnya minta maaf dan berterima kasih karena kalian mau menyempatkan waktu untuk hadir di acara Arzen. Kalo gitu yuk kita langsung saja soalnya waktunya makin mepet," ucap Arzen memberikode dengan yang lain juga agar segera bersiap dan menuju rumah Zawa.
Semuanya pun langsung mengikuti arahan Arzen kembali ke mobil masing-masing dan menuju ke rumah mempelai wanitanya.
Ipek pun kembali lagi naik mobil bersama Abi dan Uminya, ia sebenarnya ingin ikut mobil Intan saja yang pasti juga dia hanya menyetir seorang diri, tetapi Ipek tidak mau nanti Abinya salah paham lagi dan terjadi ketegangan lagi. Ipek yang sudah benar-benar lelah dengan jalan hidupnya hanya pasrah dan nurut sajah apa mau mereka.
Lagi di dalam mobil terjadi kebisuan bahkan Umi pun jadi merasa bersalah dengan Ipek yang lebih banyak membuang pandanganya menatap jalanan Ibukota.
"Ipek kenapa tadi nggak gabung dengan mobil teman-teman saja biar bisa saling bertukar cerita." Umi yang merasa bersalah dan juga Ipek yang nampak berbeda pun mencoba memulai obrolan agar Ipek tidak bersedih, atau setidaknya di dalam mobil tidak berasa di dalam kulkas. Dingin banget.
"Tidak usah Umi, biar Ipek sama kalian sajah. Di sini atau di sana sama sajah kok," jawab Ipek dengan nada yang pasrah. Umi pun bingung mau mencoba ngobrol apa lagi sementara Ipek juga selalu datar kalo diajak ngobrol.
Tidak hanya Ipek yang sedih, Clovis pun melihat wajah Ipek tadi dan reaksi orang tua Ipek yang tidak ada cerinya, ikut sedih. Tanpa harus dijelaskan dengan detail Clovis tahu bahwa Abi dan keluarga Ipek mungkin saja melarang Ipek datang keacara Arzen karena ada dirinya yang mengira bahwa Clovis akan menyakiti Ipek apabila mereka mengizinkan Ipek detang diacara Arzen. Yah, tanpa berkoar-koar Clovis tahu bahwa dirinya memang tidak direstui mendekati Ipek. Dari tatapan dan gerak tubuh Abi, dan ucapan mereka ketika di pondok Clovis sangat yakin bahwa memang dirinya bukan menantu idaman mereka.
Namun Clovis juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha tetap mencoba untuk memperjuangkan Ipek. Clovis justru semakin tertantang dalam hal ini bahwa ia pasti bisa menjadi Clovis yang memang layak untuk melindungi Ipek. Dan soal agama Clovis akui dirinya memang sangat payah dalam hal itu, tetapi bukan berarti tidak mau berusaha. clovis akan terus berusaha dan akan terus mencoba menjadi baik. Menjadi laki-laki yang bisa membahagiakan Ipek sampai akhir hayatnya.
Dia memang salah di masa lalu, tetapi Clovis ingin menebus semua kesalahanya dengan memberikan kebahagiaan yang abadi untuk Ipek di masa yang akan datang. Itu perinsif Clovis.